Selasa, 26 November 2013

Cemburu

Aku sulit mengerti kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ada di dekatnya.
Aku tidak habis pikir, atau entah aku cemburu…

Setiap hari ada saja perhatianku padanya. Tidak adakah sesuatu yang membuatku merasa ada yang perlu dikerjakan selain memikirkannya?
Aku yang cepat mengambil keputusan terlalu gegabah dan membuatmu kecewa..
Dua hari lalu, seseorang mengetuk pintu dan mengatakan ‘ini maksudnya apa? this is ending?’ dan dia terhenyak saat aku membalik badan dan menutup pintu kembali.
Bulan menyaksikan itu, kemudian hening sampai hari ini..
Selalu aku dengar berita bahagia darinya, mulai rumor tentang dia menjalani kasih dengan gadis yang cantik sampai bahagia dan hampir dijodohkan dengan gadis manis yang orang tuanya menjadi pengusaha sukses.
Aku tidak masalah dengan hal itu sampai aku menemukan sesuatu yang lain saat dia jalan 10 langkah di depanku dengan menggandeng tangan seseorang seakan tak mau lepas.
Saat ini aku menyesal dan ingin kembali di hari itu. Aku tak mau kalau di hari kemudian aku tak bisa melihatnya dan tak pantas merindukannya..
Tangan indah itu menggandeng lengannya yang terlihat cocok dari sini. Temanku, Windi, sudah mengingatkanku sejak tadi untuk berhenti mengikutinya, tapi entah kenapa aku terus mengikuti kemana arah wanita itu menggandeng tangannya dan berharap dia melepaskannya segera. Dua menit setelah aku sadar tak mungkin terlepas, aku berjalan berlawanan arah dan kembali pulang diantar Windi.
Pagi ini aku terlambat, mataku benar-benar ingin tertutup, kantukku tak terbendung setelah semalam tak bisa aku pejamkan mata ini untuk beristirahat sejenak. Windi, aku sempat melihat wajahnya khawatir saat aku terbangun dari tidurku di ruang kesehatan dan pandanganku terlihat bingung.
“Kamu tadi lari-lari, terus bilang pengen tidur, untung pak Wahyu gak masuk, aku anter kesini deh.” Katanya.
Aku tersenyum, tapi dia masih khawatir, aku tau dia mengkhawatirkan aku dari kejadian semalam.
Di kantin pada jam istirahat ini aku akhirnya dapat kesadaran juga setelah tidur hampir 3 jam di ruangan serba putih tadi. Dari tempatku duduk, kira-kira empat bangku dari sini, aku lihat laki-laki yang mengetuk pintu rumahku waktu itu sedang bersama teman-temannya dengan canda tawa mereka seperti biasa. Masih ada tanya, ‘mudahnya aku dilupakan?’ hah.. aku memang yang bersalah. Aku sendiri yang bersikap seolah-olah itu akhir.
Tapi, senyummu dari sini saja sudah membuat aku sadar kenapa wanita-wanita itu selalu ingin dekat dengan laki-laki seperti kamu…
Laki-laki di kantin tadi, laki-laki yang dengan senyumnya membuat wanita ingin dekat itu berdiri dan bersandar pada pintu mobilnya. Seragam putih abunya membuatnya terlihat lebih berwarna bukan hanya dari senyumnya, ‘Dida!’ sapa temannya yang langsung melambaikan tangan tanda ia akan pulang mendahului Dida yang dibalas Dida dengan senyum dan lagi-lagi aku berpikir ingin memiliki senyum itu lagi.
Dida menundukkan wajah sesekali dan melirik ke arah pintu masuk sekolah, seakan menunggu seseorang keluar dari situ, dan benar saja ada yang menghampirinya. Kulihat senyumnya yang manis mengikuti kedatangan wanta itu, tapi sedikit tersirat kecewa.
Sayangnya aku melihat ekspresinya ini hanya dari kejauhan, tepatnya dari arah luar gerbang sekolah…
Esoknya masih seperti kemarin, aku masih ingin melihat Dida, sosok yang selalu senyum dihadapanku, membuatku bahagia tapi aku mengecewakannya karena suatu hal bernama ‘cemburu’. Selama aku bersama Dida, aku benar-benar merasa apa itu arti bahagia, apa itu arti bersama, tapi tidak aku bawa rasa terima atas itu karena kesan yang terlihat di mataku itu semua bukan atas dasar sayangnya. Aku yakin itu setelah melihat dia selalu tersenyum juga di hadapan wanita lain.
Mobil yang akan menjemputku tiba sekitar 40 menit lagi, hah.. sudah bosan aku menantikannya. Sudah lima menit aku menunggu, ’35 menit lagi’ pikirku. Saat-saat menunggu ini terusik saat aku sadar ada yang memperhatikanku dari jauh, mata itu tak lepas memandangiku sejak tadi, seperti menunggu, tapi aku tak menghiraukannya karena malu dan tau itu Dida.
Melihatku dari jauh mungkin tak memuaskannya, akhirnya ia mulai bergerak mendekatiku. Aku benar-benar terusik, tak nyaman dan ingin sekali bergerak menjauh, tapi perasaan mencegah dan aku diam.
“Mau pulang sama aku?” sapanya, lagi-lagi dengan senyum.
“Iya” jawabku singkat.
Dida sedikit menunduk, mungkin ia sadar saat ini aku tak nyaman lagi berada di dekatnya. Saat ini rasanya mungkin seperti cermin yang kupandangi setiap sore yang ada bayangan senja di alam sebrang yang dia tampilkan itu, berambang, tidak jelas dimana tapi itu bukan disini.
Sudah sepuluh menit sejak aku menjawab ‘iya, kami tidak mengatakan satu katapun sampai akhirnya Dida membuka pembicaraan dengan bertanya,
“Masih mau nunggu? atau pulang bareng aku?” kali ini ekspresinya datar.
“Nunggu” jawabku yang masih memikirkan ego.
Kaget aku saat Dida tiba-tiba menggenggam tanganku dan membawaku yang terpaksa mengikuti langkahnya.
Di halaman belakang sekolah, dia menghentikan langkahnya, dia sedikit menundukan wajah lagi, mungkin malu atau ragu atau juga sedang memikirkan awal pembicaraan yang baik denganku. Aku yang melihat wajahnya yang menunduk dengan ekspresi wajahnya yang seperti itu, tak mau lagi menahan untuk tak bicara ‘kenapa’. Dida kembali menemukan nada bicara dan percaya dirinya untuk bicara.
“Setiap hari aku harus khawatir sama kamu, tapi aku baru tau kenapa, dan aku disini mau minta maaf, selain maaf belum ada yang bisa aku bilang lagi”
“Memang aku juga yang berlebihan”
“Jadi?”
“Aku juga minta maaf”
Ekspresi wajah Dida berubah bahagia setelah mendengar kalimat terakhir yang aku katakan.
Seketika aku berpikir, Dida tidak pernah ingin aku jauh dariku.
Tapi Dida tidak lagi menampakkan wajah khawatirnya walaupun aku pergi mulai berjalan meninggalkannya. Mungkin itu berarti dia yakin aku juga masih merasakan hal yang sama dengannya.
Istirahat hari ini terasa sangat ringan dari kemarin, aku benar-benar merasa ini istirahat yang paling istimewa walaupun aku sadar hanya beberapa menit saja luang waktu untuk sejenak bersantai ini.
Dari sini aku melihat Dida dengan ekspresi bahagianya setelah memasukkan bola ke ring. Dida tidak lagi tersenyum dengan sedikit corak wajah tak bahagia, aku yakin setelah ini Dida akan kembali pada ekspresinya saat dia bersamaku.
Tapi aku lupa, wanita yang pernah digandengnya, siapa?
Sampai Windi mengingatkan aku tentang itu dilorong sekolah saat kami berjalan menuju pulang.
Aku menghela nafas dan mengingatnya lagi…
Hah, aku tidak percaya, bahagiaku terusik lagi.
Baru beberapa menit lalu aku mendengar Windi mengingatkanku akan hal itu, aku lihat Dida tersenyum di depan wanita yang waktu itu kulihat sedang menggandeng tangannya.
Hari ini aku tersadar lagi dan pergi menjauh tanpa berani menatap Dida lagi.
Setelah hari yang membuatku bungkam lagi itu, tidak pernah ada lagi kontak mata ataupun komunikasi antara Dida dan aku. Tapi ekspresinya tidak lagi seperti gundah. Wajahnya kali ini tetap bahagia seperti setelah mendengar aku meminta maaf padanya, seolah tidak ada lagi yang perlu dicemaskannya dan aku baik-baik saja.
Aku berpikir lagi, ini bukan berarti dia bahagia karena aku memaafkanya atau karena aku meminta maaf padanya, tapi ini karena ada sesuatu yang lebih membahagiakan dari itu.
Aku takut, takut sekali, takutku belum terbayar bahkan sekalipun aku mendengar aku lulus dari ujian nasional.
Hari ini, sudah dua bulan setelah hari-hari yang mengambang itu. Sudah kuduga Dida memang tidak lagi mau aku menjadi khawatirnya. Semua khawatirnya tentangku, membatasinya untuk bebas. Aku sadari itu setelah aku tak lagi melihatnya sampai hari ini.
Aku tak tau dimana dia, apa kabarnya saat ini, apa yang sedang dia lakukan, bahkan Windi yang selalu mudah mendapat info pun masih belum tau dimana Dida.
Tapi aku yakin Dida bahagia, karena terakhir kali aku melihatnya begitu.
Dida tidak lagi di sampingku, Dida tidak tahu ada dimana, tapi aku masih ditemani bayang-bayangnya. Malam ini aku ada janji dengan Windi setelah dia mengirim pesan singkat yang isinya membuatku penasaran untuk datang ke tempat kami biasa bersantai, cafe dekat taman kota ini.
Dalam perjalananku ke cafe itu, aku melihat wanita yang digandengnya waktu itu yang sampai saat ini membuatku cemburu. Wanita yang dengan wajah menunggu, bersandar di kursi taman kota.
Sejenak aku berpikir, wanita itu ada disini, Dida pasti disini juga. Sedang berpikir seperti itu, Dida datang dan menghampirinya. Seperti sebelumnya Dida tersenyum duduk di dekatnya dengan kemudian memasang wajah sedih dan menenangkan wanita di sampingnya.
Aku tau ada masalah yang membuat Dida memasang wajah itu. Aku memang selalu tak berpikir panjang, malah semakin ingin mendekat dan mengetahui isi pembicaraan mereka, tapi kemdian aku diingatakn Windi lagi dengan pesan singkatnya yang membuat handphone ku bergetar.
Kembali aku menuju cafe di dekat taman kota ini.
Aku benar-benar malu, aku gugup, kali ini aku diluar kendali, aku ingin menangis, Windi kemudian menenangkanku setelah sebelumnya ia mengatakan,
“Dida itu punya sepupu dan wanita yang sama Dida itu pacar sepupunya”
Aku menyesal dengan ucapanku dikala rintik hujan membasahi Aku dan Dida di tengah lapangan basket hari itu, aku tau aku kalah dengan emosi yang terbungkus cemburu sampai Dida seperti mematung setelah aku melepas satu tangannya yang memegang pundakku yang kemudian berucap “Dida, kita putus” setelah itu dengan mata berkaca aku meninggalkan Dida.
Dida, aku menyesal, aku ingin hari itu kembali, hari dimana rintik hujan itu beramai-ramai menghentikan aku tuk berucap hal yang menghentikan kebersamaan kita. Sekarang aku yang berekspresi mematung menggantikan Dida di hari itu. Tapi aku yakin penyesalan ini tidak akan mengembalikan senyummu seperti saat maafku terucap atau bahkan seperti saat kita bersama.
Haha, sudah sampai dimana kita? Jika ini sandiwara, sudah sampai di episode berapakah?
Yang jelas, aku berpikir, sepertinya ini episode terakhir dari kepastian hubunganku dengan Dida.
Aku di fakultas seni, dan Dida di Fakultas Kedokteran. Aku baru tahu itu setelah dua bulan kami ada di Universitas yang sama.
Masih saja ada yang menggangguku, tentang apa kabarnya senyum Dida itu?
Apakah sudah dimiliki wanita lain?
Hari ini aku di rumah, ditinggal mama dan papa yang terbang ke Bali untuk bisnis dan berlibur.
Dua hari ini aku tidak mengisi waktu dengan kuliahku sampai Windi pun lelah mengingatkanku untuk berhati-hati dengan kehadiranku karena kuis minggu depan.
Acara televisi hari ini tidak ada yang menghibur, bahkan lawakan yang dulu hanya dengan melihat pemerannya saja sudah membuatku tertawa tidak lagi ada daya tariknya. Mataku hanya tertarik melihat acara televisi yang kupindah-pindah sampai teralihkan aku sejenak karena pintu rumah yang diketuk dengan cukup keras. Kakak memang selalu seperti itu kalau pintu rumah terkunci.
“Hai” sapa orang dibalik pintu saat aku membukakan pintu untuknya.
Kupikir kakaku yang setiap malam baru pulang berolahraga untuk membuat badannya berotot itu kala mama bertanya kenapa malam-malam, tapi ini sosok lain.
“Dida?” tanyaku heran yang kusembunyikan perasaan bahagia di kedalaman hati.
“Apa kabar?” tanyanya yang masih selalu didampingi dengan senyumnya.
“Kenapa kesini?”
“Haha, gak bisa tahan kangen lagi”
Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas aku tau, dia sedang berusaha menjelaskan perasaannya padaku melalu kata-kata yang dengan hati-hati dipasangkannya untuk menjadi kalimat yang baik kudengar sehingga aku tak menutup pintu lagi seperti malam itu.
“Aku boleh masuk?”
“Disini aja”
Aku takut jika aku dan Dida berpindah dari tempat saat kami memulai bicara, akan canggung untuk memulai pembicaraan lagi, terlebih lagi itu di dalam rumahku, di ruang tamu yang pastinya aku harus duduk didekatnya berhadapan atau di sampingnya.
Dida meyakinkan aku dengan senyumnya kemudian memegang tanganku, menarikku ke dalam dan duduk.
“Ganti baju, aku tunggu!” perintahnya dan aku turuti.
Aku masih mengutamakan egoisku, tak mau Dida berpikir aku berpenampilan baik hanya untuk membahagiakannya. Sepuluh menit dia menunggu. Aku menghadiahinya penampilan sederhanaku saja, tidak sesederhana dipandangannya karena wajahnya kemudian tersenyum menyambut aku hadir kembali di hadapannya tanpa mengenakan pakaian santai untuk di rumah lagi.
Aku digandengnya, jari-jariku digenggam erat jari tangannya, membuatku yakin ini Dida yang masih sayang aku.
Aku digandengnya sampai di halaman dekat rumah. Di halaman ini dulu dia pernah memintaku menjadi seseorang dengan sebutan ‘kekasih’ untuknya, “Aku gak punya bahasa yang lebih manis, tapi God never know that i love you, ah sorry, God ever know that i love you” katanya dulu.
Kujawab “yes, I never know, but in the end I ever know and I love you too”
Dan Dida mengulangi hari itu dengan kata yang lebih manis.
“Sorry, sebenernya malu, tapi, haha.. I LOVE YOU again”
Aku tak bisa menjawabnya kali ini, ucapannya terlalu manis, aku hanya tersenyum, membuka jalan kemabali menuju kebersamaan dengan Dida, dan aku yakinkan, aku tak mau lagi melepasnya hanya karena cemburu…
Sepotong ingatan yang kujadikan memory terindah tanpa resiko yang akan membuatnya kembali biru…
Cerpen Karangan: Nanda Utamidewi

Sabtu, 02 November 2013

TAKUT JATUH CINTA

TAKUT JATUH CINTA
Karya Nur Faida

Pasti kalian sudah bisa nebak jalan cerita inikan! Begini waktu aku kelas 2 SMP aku tak tahu kenapa dan kebodohanku bisa – bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu dia memiliki wajah tampan dengan kulit yang putih mulus , hidung mancung dan bibir yang seksi. Dulu diriku mengira dia juga menyukainya tapi nyatanya tidak.aku sangat bodoh sekali karena waktu itu aku yang tak punya malu malah menembaknya, tolol bangetkan aku. Semenjak itu mataku terbuka lebar bahwa aku tak pentas menyukai seorang cowok seperti itu ditambah kepopulerennya sekolah , aku sadar tiada orang yang menyukaiku karena gimana tidak aku itu orangnya pesek,kulitku hitam ditambah ku jerawatan lagi tapi itu waktuku masih SMP. Tak pernah lagi ku berharap dan memberikan hatiku pada seseorang karena takutku yang hanya ada di otakku sekarang hanya 1 “MEMBANGGAKAN ORANGTUAKU”

O iya, sebelumnya kuperkenalkan diriku dulu yah. Aku bernama Mimi Niamin dengan kulit putih dan muka yang bersih tanpa jerawat. sekarang ku kelas 2 di suatu sekolah SMA di Bandung. Aku sebenarnya tinggal di Makassar tetapi aku pindah rumah karena Ayahku dan Ibuku udah cerai , aku ikut sama Ayahku maka akupun tinggal di Bandung sedangkan ibuku tinggal di rumah mamanya di Makassar bersama adik laki – lakiku yang sekarang berumur 12 tahun. Aku pindah bertepatan setelah hal memalukan itu. Pasti semua teman – temanku mengira aku pindah sekolah karena kejadian itu tetapi itu tidak benar walau begitu aku sedikit senang bercampur sedih karena disisi lain aku bisa kabur dari kejadian itu tetapi disisi lainnya keluargaku sudah hancur. Tapi ada hal yang membuatku senang karena ibu tiriku itu ternyata sangat baik , dia selalu mau mendengar curhatanku walau begitu aku lebih sayang ibu kandungku dan hari ini aku ingin minta izin sama ibu tiriku dan ayah bahwa aku ingin tinggal di rumah nenekku. sebenarnya Ayahku melarangku karena takut nanti terjadi apa –apa padaku tapi aku bersikeras karena sudah lebih 3 tahun aku tidak pernah bertemu ibuku jadi ayahkupun mengizikanku tinggal di Makassar walau hanya 2 minggu.,
Takut Jatuh Cinta
^In Makassar^
“Wahh..! Makassar sudah berubah nih”ujarku yang sudah berada di luar bandara Hassanudin sambil memegang tas besar.

Kulihat Taksi tidak jauh dari aku , maka akupun melangkah kakiku menuju taksi itu dan tidak butuh 10 langkah aku sudah sampai disana.
“Mau naik taksi dek.!”tanyax padaku maka akupun tersenyum simpul sambil mengangguk menandakan bahwa aku memang ingin naik taksi , pak sopir pun mengambil tasku dan menyimpannya di bagasi lalu akupun masuk ke dalam Taxi, di dalam Taxi pak sopir itu bertanya padaku “Mau kemana dek?” akupun menajwab sambil tersenyum “ Jalan Sunu”jawabku singkat dan Taxi pun meluncur menuju kesana.
Akupun sampai di mana rumah nenekku berada, dimana ibuku dan adikku tinggal tak lupa aku membayar biaya Taxi dulu.
“Ini mas uangnya , kembaliannya di ambil saja”ujarku lalu menuju ke rumah nenekku.

Di depan ruma nenekku aku langsung saja mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan tak butuh waktu lama pintu itu terbuka.
“Rudi!”ujarku kaget sambil membulatkan mataku karena yang membukakan pintu itu sosok cowok Cinta pertamaku,Kenapa ini! Kenapa dia berada di rumah nenekku. Astaga , ini sungguh menyebalkan sekali. Rasanya kepalaku puyeng bener karena saat melihat Rudi aku jadi teringat kejadian itu, ingin rasanya ku kabur mendapati Rudi berada di rumah nenekku tetapi ku terlalu kangen sama Ibuku dan Adikku jadi nggak jadi deh.
Rudi juga tak kalah kagetnya melihatku berada di sini “Mimi!”

Hening tak ada yang berbicara tapi itu tak berlangsung lama karena adikku Didi memecahkan kehinangan itu di balik pintu “Kak Rudi , siapa yang....”belum selesai Didi bicara sambil memegang cemilan dan dia mendapatkan aku berada di depan pintu , Didipun sontak memelukku karena gimana tidak? 3 tahun we...! ehrr.. pastilah adikku kangen denganku.
“Kakak, kenapa kakak baru datang. Aku sungguh sangat kangen sama kakak”ujarnya kegirangan melihatku berada disini
“Maaf yah Didi”pintaku sambil melihat kedepan dimana berada Rudi yang sedang memperhatikanku dengan reaksi yang sulit ku tebak
“Kak , ayo masuk! O iya , kakak masih kenalkan Rudi teman kelas kakak waktu SMP”ujarnya meyuruhku masuk sambil bertanya padaku
“Yah”ujarku sangat singkat dan dingin.

^Flashback^
Di dalam kelas yang masih ada banyak sisiwa
“Mimi,lohh pikir ulang dulu deh! Gue takut loh napa – napa”ujar Rini sahabatku khawatir denganku
“Rin , ku sudah tidak tahan”ujarku sambil menitikkan air mata
“Tapi Mimi , loh taukan Rudi itu. Ku mohon jangan lakukan itu !jangan gegabah Mi. Aku takut sekali”ujarnya menyuruhku mempertimbangkan bahwa aku akan menembak Rudi
“Kamu tak perlu khawatir Rin, gue nggak gak apa – apa kok!”ucapku lalu menuju ke Pintu kelas dimana Rudi berada
“Rudi , jujur aku sangat menyukaimu!”ujarku saat keluar main dimana Rudi yang baru saja mau keluar ke kelas dengan Nino sahabatnya. Sungguh aku tidak tahan sekali menyimpan perasaanku lebih 2 tahun
“Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Buang – buang tuh perasaan loh. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah”ujar Rudi dengan kalimat pedas padaku sambil memasang muka jijit. Di dalam kelasku semuanya ribut karena kelakuanku.
Aku tak menyangka apa yang dikatakannya itu , air mataku pecah akupun langsung keluar dari kelas disusul Rini mengekorku.Ku sekarang berada di belakang Lab Bahasa Indonesia sambil menangis dan terus menangis dan Rinipun mengahmpiriku “Mi, gue kan udah bilang. Ku mohon berhentilah menangis , jangan hanya karena cowok seperti dia kau jadi seperti ini. Masih banyak kok cowok di dunia ini!”selanya padaku sambil memelukku menyuruhku menghentikan tangisanku tetapi bukannya tangisanku berhenti tapi aku lebih menangis lagi.
“Mi , gue mohon jangan menangis!”pintanya padaku yang tak henti – hentinya menangis “Ren, makasih yah kau selalu membantuku di dalam suka dan duka”ujarku menghentikan tangisanku dan Renipun tersenyum mengembang “Itulah gunanya sahabat Mimi”
***

Aku duduk di ruang tamu , bisa kulihat Rudi meminta izin pada Didi untuk pulang.
“Di , gue pulang dulu yah. Nggak enak nih ada kakak loh”ujar Rudi pada adikku dengan memegang kaset bola
“baiklah kalo gitu , aku mengerti kok maksud kakak”ujarnya
“Okayy, gue duluan dulu yah.”ujar Rudi permisi sama Didi

Didi menemani Rudi pulang sampai di depan rumah dan tak lama kemudian Didipun kembali di susul ibuku yang baru pulang dari pasar.
“Ibu...!aku kangen banget sama ibu”ujarku dan langsung berdiri dari tempat dudukku
“Mimi...!”ujar ibu kegirangan dan langsung menuju ke aku lalu memelukku
Aku begitu senang sekali bisa bertemu ibuku begitupula dengan adikku. Ku lihat ibu mengalami perubahan dengan dirinya. Wajah ibu berubah menjadi pucat dan keriput dan adikku berubah menjadi anak remaja yang gagah dan tampan.

Didi membawakan barangku ke kamar tamu dan aku mengekor mengikutinya. Di dalam kamar ku hempaskan diriku di tempat tidur dan adikku duduk di sampingku.
“Di , kenapa Rudi tadi disini?”ujarku bertanya penasaran
“Tadi aku sama kak Rudi lagi main Playstasion kak. kenapa kakak nanya – nanya?”jawab Didi dan bertanya padaku
“ tidak apa – apa kok”ujarku takut karena nanti adikku curiga padaku
Keesokan harinya aku olahraga pagi di taman kota Makassar sebenarnya adikku mau menemaniku tapi karena hari ini dia sekolah jadi Didi tidak bisa.

Di taman , ku berlari pagi mengelilingi taman sambil membawa tas ransel berisi Leptop dan saat asyik – asyiknya aku berlari ada seorang cowok yang menabrakku dari depan memakai baju putih abu – abu dengan 5 buku tulis dipegangnya terjatuh.
“Maaf, gue nggak nggak sengaja”ujar cowok itu tapi aku tak melihat mukanya dengan jelas lalu diapun mengambil bukunya yang terjatuh “aku kok yang salah. Sini aku bantu”ujarku dan akupun membantunya mengambil bukunya yang terjatuh dan tak sengaja mataku dengan cowok itu bertemu dan akupun tahu siapa cowok itu.
“Rudi!”ujarku kaget karena aku bertemu lagi dengan Rudi. Mengapa ini terjadi lagi? Bisa gila aku lama – lama karena bertemu terus dengan Rudi. Semenjak Rudi menolakku aku jadih trauma untuk menyukai seseorang sampai sekarang dan entah kenapa sekarang perasaan cintaku pada Rudi kembali lagi. Ini sungguh sangat menyebalkan -__- aku pun berlari dengan cekatan sambil menitikkan air mata meninggalkan Rudi yang juga kaget melihatku bertemu denganku lagi.

Ku berlari secepatnya karena ketakutan , setiap kali ku lihat Rudi kalimat itu terbayang – bayang di otakku “Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah” kalimat pedas yang di dengar oleh semua temanku di kelas. Rasanya sakit banget saat menginggat itu.
“Mimi, maafin gue soal dulu! Gue mohon Mi”teriak Rudi memohon sambil berlari mengejarku
Akupun mempercepat lariku dan kebetulan saat itu aku melihat mobil pete – pete, aku langsung saja masuk dalam mobil itu dan menyuruhnya cepat jalan.
Mobil pete – pete itu berjalan, air mataku berjatuhan terus menerus membasahi pipiku yang agak putih. Diriku sekarang memang udah berubah , aku jadi putih dan mukaku sekarang sudah tidak ada jerawat lagi itu semenjak ibu tiriku selalu membawaku kepertawatan kulit jadi aku menjadi lebih cantik.

Di dalam mobil pete – pete ku baru sadar kalau penumpangnya hanya aku bersama seorang cowok yang pakaian sekolahnya mirip dengan Rudi.
“Mimi..!loh Mimikan”ujarnya bertanya padaku
“Yah..”jawabku dan saat itu ku perhatikan muka cowok itu dan menghentikan tangisanku. Disitu aku baru sadar bahwa cowok itu adalah Nino sahabat Rudi.
“hai Nino”ujarku menyapa dan bukannya membalas sapaanku tapi Nino malah bertanya “Mi , loh napa menangis! Apa karena Rudi . tadi gue lihat koh kamu sama Rudi berlari – larian”
Saat dia katakan itu , aku menangis lagi.Jantungku sesak banget , rasanya kepalaku puyeng benar dan belum sempat ku jawab pertanyaannya aku langsung jatuh pingsan.

^Rumah Nenek^
Mataku terbuka sedikit – demi sedikit di atas ranjang tidurku. Kulihat Rudi menitikkan air mata berada di sampingku dan saat dia melihatku mataku sudah terbuka diapun tersenyum senang melihatku.
“Mi, loh udah sadar”gumam Rudi padaku
“Kenapa loh ada disini. Loh keluar sana. Gue benci sama loh”teriak diriku yang kesal sekali.
“Mi, gue minta”belum sempat Rudi selesai aku langsung mem berontak dan lebih keras berteriak “Gue bilang loh keluar!”
Mamaku dan adikku begitupula dengan nenekku menyuruhku tenang tapi ku lebih memberontak dan saat Rudi keluar dari kamarku ditemani Didi akupun tenang. aku memang orang tidak baik , tapi ku tak bisa melupakan semuanya. Hatiku sakit sekali, sulit ku maafkan Rudi.

Satu minggu kemudian , aku duduk sendiri di taman memperhatikan mobil maupun motor berlalu lalang ditemani burung – burung berkicaun dan pohon – pohon yang menari – nari memberi semangat diriku. Aku yang terlalu fokus memperhatikan keindahan taman tidak sadar bahwa Rudi sudah berada di sampingku.
“Mimi”ujar Rudi yang membuatku kaget mendengar perkataanya, sontak saja ku berdiri dan bersiap untuk lari tapi tanganku ditahan olehnya dan Rudi langsung memelukku “Mi , gue mohon maafin gue. Loh tau smenjak kejadian itu gue baru sadar kalo gue itu mencintai lohh, saat tiada loh , gue tidak bisa menyukai siapapun. Hidup gue rasanya nggak berarti, Hanya loh yang ada di hati gue. Gue mohon maafin gue Mi , gue memang udah terlambat tapi bisakah kau mendengarkannya”
“Loh bohong Rudi, loh pasti suka gue setelah melihatku sekarangkan”ujarku tak percaya mendengar perkataannya “Gue nggak bohong, tatap mata gue. Tatap...?”ujarnya menyuruhku menatap matanya , akupun menatap matanya dan kulihat tiada tanda kebohongan darinya.
“Mi , maafin gue yah. Gue sayang banget sama loh. Jangan lagi menghindar dai gue, ku mohon! Dulu dan sekarang tiada bedanya loh. Gue tetap sayang loh gimanapun dirimu. Gue suka lohh dari dalam diriloh bukan diluar loh”ujarnya yang membuatku menitikkan air mata.
“Yah, gue juga sayang sama loh”ujarku
Hariku penuh dengan tawa yang indah tiada lagi kesedihan semenjak Rudi berada di sampingku. Cinta pertamaku itulah menjadi cinta terakhirku. Aku sangat menyayanginya, perasaanku yang sudah ku pendam 6 tahun tidak sia – sia.
RUDI.. I LOVE YOU:)

SEBATAS RASA UNTUK KITA

SEBATAS RASA UNTUK KITA
Karya Najla Putri Mawaddah
Ingin ku berlari jauh
Namun aku tak mampu
Bersembunyi darimu
Selaluku tepis bayanganmu
Tapi luka semakin menganga dalam kalbu
Kubiarkan semua apa adanya
Meski ku semakin larut dalam harapan hampa
Aku tunggu ketulusanmu
Walau harus selamanya
Aku memendam rindu. . .

Mungkin itulah sebuah curahan hatiku ini, yang dilanda kesedihan karena cinta. Padahal ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Namun, cintaku aneh. Mencintai dia, yang mempunyai saudara kembar yang membenciku. Ya, sosok yang aku cintai itu mempunyai saudara kembar. Namanya Angga dan Anggi. Anggalah yang aku cintai. Dia telah berhasil menarik hati ini, untuk mencintainya. Sedangkan Anggi. Huft, dari tatapannya aja, aku sudah bisa menilai, kalau dia membenciku. Entah aku sendiri juga nggak tau, apa salahku.
Sebatas Rasa Untuk Kita

Angin berhembus, menerpa wajahku dan menusuk tubuhku yang dibalut jilbab. Aku terus terduduk di rumput, sambil menatap gunung yang menjulang tinggi dari kejauhan mataku.
Pikiranku teringat pada kenangan masa SMP dulu.

Sampai di perpus. . .
“Nil? Loe dicariin orang tuh!” lapor Icha, sahabatku.
“Siapa?” tanyaku cuek.
“Hmm… siapa ya?” Icha pura-pura mikir, sambil menggodaku. Aku mengangkat satu alis.
Icha melihat sesuatu. “Sama dia!” tunjuk Icha pada Angga, yang baru menginjakkan kaki di perpus. Aku bengong. Benarkah yang dikatakan Icha ini? Angga menatapku sambil tersenyum. Hatiku entah mengapa, jadi cenat-cenut. Akhir-akhir ini, semenjak sering bertemu Angga selalu perhatian dan rajin ke perpus. Aku cuek, tidak mengubris. Toh pekerjaanku sebagai anggota perpus, masih menumpuk.
“Aku bantuin ya?” tawar Angga, dengan senyum tulus. Ia sedikit salting.
Tak kuat menahan senyum, akhirnya aku tersenyum juga buat dia. “Up to you.” Jawabku.

Dan benar saja. Angga membantuku. Ia tata rapih buku-buku yang berantakkan. Aku tersenyum melihatnya.
“Cie… cie…” goda Faris. Sahabat Angga. Aku dan Angga masa bodo. Memang persamaan kita disekolah itu, sama-sama cuek. Namun, walau Angga cuek, tapi banyak saja cewek-cewek yang mendekatinya.
Aku tersadar, sambil tersenyum mengingat itu. Mataku tetap menatap pemandangan gunung di kejauhan. Pikiranku kembali teringat kenangan masa SMP.

Waktu itu, aku sakit di sekolah. Perutku sakit dan kepalaku terasa pusing. Akhirnya aku dibawa ke ruang uks, dirawat oleh anak PMR kelas delapan. Tiba-tiba datang salah satu anak PMR, bernama Sufi.
“Kak, dapat surat nih!” katanya sedikit menggoda.
“Dari siapa?” tanyaku. Keningku berkerut bingung.
“Sufi udah janji, sama orangnya, nggak bakal ngasih tau namanya ke kakak. Maaf ya kak!” terangnya.
Aku heran, namun langsung kubuka saja surat itu, dengan perasaan campur aduk.

Mengenalmu
Anugerah dalam hidupku
Memilikimu
Itu yang selalu ku harapkan
Membiarkanmu berlalu
Tanpa sepatah kata pun
Yang terucap dari bibirku
Adalah suatu kebodohan dihidupku
Karena telat bagiku menyadari
Kau sangat berarti di dalam hidupku
Hanya secercah penyesalan
Yang bisa ku rasakan
Disaat ku kehilanganmu
Dan menyadarinya…
Semoga kamu cepat sembuh…
Keningku berkerut lagi membaca surat itu. Namun aku terharu dengan kata-kata di surat ini. Aku menatap kearah jendela yang tidak tertutup gorden. Tiba-tiba sosok yang aku rindukan selama seminggu ini, muncul. Angga. Ya, dia sedang berjalan disitu. Mataku menatapnya, hingga dia menoleh dan menatapku. Tatapan yang sulit untuk dilukiskan. Aku gugup. Segera saja, ku tundukkan kepalaku. Dan sekarang aku merasa ia telah pergi. Hari-hari ini juga, aku merasa dia menjauh dan menghindariku. Setiap bertemu, dia selalu melempar pandangan kearah lain. Dia juga sudah jarang ke perpus. Ada apa ini? Kenapa dia berubah seperti itu?

Tapi, setiap aku kenapa-napa, dia masih menunjukkan sikap perhatiannya. Seperti aku sakit sekarang. Dia menghampiriku dan ikut membawaku ke UKS. Setelah itu, ia pergi entah kemana. Aku tertidur di UKS. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang. Aku merasakan gerak-geriknya.
“Nggak tega juga, melihat kamu sakit begini. Kamu tau, aku memang cowok nggak jentel. Bertemu kamu aja, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku harap kamu cepat sembuh ya. Aku bawakan sesuatu buat kamu!” Ucap seseorang itu, terdengar seperti suara cowok. Dia menyentuh keningku, dan langsung beranjak pergi. Mataku terbuka sedikit. Sungguh aku kaget. Aku tak menyangka. Ku kucek-kucek lagi penglihatanku. Namun itu nyata. Sosok itu adalah Anggi. Cirri-ciri fisiknyalah yang membuat ku yakin. Tatapanku beralih pada meja yang ada disampingku. Ada kantong plastik yang berisi makanan. Aku jadi bingung dibuatnya.
Hari-hari itu, kulalui dengan sebuah kebingungan. Namun, tiba-tiba aku tertampar oleh sebuah luka. Aku mendengar dari sahabatku, Angga sudah punya pacar. Sakit rasanya. Dari situ, entah ada rasa kecewa yang mendalam, hingga membuatku berniat untuk melupakannya dan melupakan rasa yang dulu memenuhi hatiku.
***

“Ukhti, Nila?” panggil adik kelasku, Zahra.
Aku menoleh ke asal suara. Seketika pikiranku buyar. “Madza?” tanyaku.
“Ukhti, mudifah!” jawabnya memberitahu.

Aku heran. Baru seminggu kemarin aku dijenguk, tapi sekarang di jenguk lagi. Ada apa gerangan? Ya. Aku memang melanjutkan studyku di sebuah Pondok Pesantren. Semua itu, dengan niat menuntut ilmu dengan mengharap ridho Allah dan untuk membahagiakan orang tuaku. Walau telah lama ditambah jauh. Tapi, tetap saja sebuah kenangan masa SMP masih teringat dibenakku.
“Oh, na’am. Syukron, Zahra!” balasku.

Zahra tersenyum. Aku segera bangun dari duduk. “Mudifah, aina?” tanyaku lagi.
“Masyroh.” Jawabnya.
Ternyata aku di jenguk di trimbun. Dengan langkah cepat, kuhampiri keluargaku disana.
***

Di samping kanan, dekat saung. Ada sebuah mobil. Tapi bukan mobil, yang biasa di pakai keluargaku. Mobil itu, merek kijang innova silver, bukan avanza silver.
“Nila!” panggil ayahku.
Aku tersenyum. “Ayah?” ku hampiri ayah dan mamaku. Ku cium punggung tangan mereka dan pipi mereka. “Kok cepat banget mudifahnya?” tanyaku, yang sedari tadi, keheranan.
“Ada yang mau bertemu kamu, sayang!” terang mamaku, sambil tersenyum misterius.
Keningku berkerut bingung. “Man, ma?”

Pintu mobil terbuka. Lalu keluarlah sosok Ibu dan Bapak paruh baya. Aku langsung mencium punggung tangan mereka. Mereka tersenyum ramah padaku.
“Kamu cantik sekali, nak!” puji sosok Ibu paruh baya itu.

Aku hanya bisa tersenyum. “Terima kasih, Bu!”
“Bu, Pak! Lebih baik kita duduk disini dulu, sambil menunggu Nila dan Angga berbicara.” Jelas ayahku, yang dibalas langsung dengan anggukkan mereka berdua.
Aku kaget bukan main, mendengar perkataan ayahku tadi.

Hah? Angga? Apakah aku salah dengar? Angga ada disini? Jadi, Ibu bapak ini, orang tuanya Angga… dan … Anggi?
“Assalammualaikum!” sapa Angga, yang baru keluar dari mobil.

Aku makin kaget, ketika Angga sudah ada dihadapanku. Satu tahun lebih kita tidak bertemu. Kini, kita bertemu di suasana berbeda. Angga terlihat lebih dewasa, memakai celana jeans hitam, dengan kemeja biru dongker.
“Wa… waalaikum salam.” Balasku gugup, sambil menunduk memainkan ujung kerudungku.
Angga tersenyum. “Kamu kaget ya, dengan kedatanganku ini. Aku ngerti kok. Karena suatu sebab, aku dan orang tuaku menemuimu disini.” Terangnya.
Aku mendongak. “Untuk apa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Anggi.” Jawabnya singkat, namun mampu membuatku bagai tersengat aliran listrik.
***

Malu juga, berbicara dengan Angga di depan santri-santri yang juga sedang di jenguk oleh orang tuanya. Banyak yang ingin tau, sekedar bolak-balik, dan menatap. Aku risih. Lalu Angga mengajakku untuk bergabung dengan orang tua kita. Aku masih tertegun. Rasanya seperti mimpi Angga ada disini.
“Kamu kaget ya Nak, kami datang kesini?” ucap ayahnya Angga ramah. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.
“Sayang, kali ini mama sama ayah, mengizinkan kamu untuk pulang.” Ucap ayahku.
“Pulang? Lho, memangnya kenapa, Yah?” tanyaku heran.
“Kami sama-sama sudah mengerti soal ini. Ini soal rasa, nak! Kamu sudah menanjak dewasa sekarang. Angga pun begitu. Wajar jika misalnya kamu sedikit berkorban untuk orang yang menyayangimu!” terang mamaku.
Sumpah. Aku benar-benar nggak mengerti dengan perkataan mama ini. Tanpa disuruh, mamanya Angga menjelaskan. Dan penjelasan ini, mampu membuatku menitikkan air mata.
***

Di rumah sakit, didalam kamar cempaka dua. Mataku terpaku pada satu titik. Anggi. Sosok yang dulu terlihat kuat, dewasa, dan ceria. Kini menjadi sebaliknya. Gerimis juga hati ini melihatnya.
“Kanker darah yang dideritanya, sudah stadium lanjut. Dokter hampir pasrah dengan kondisinya ini yang semakin parah. Kamu tau, dia selalu mengigau menyebut namamu.” Terang Angga, yang duduk di seberangku. Kini, mataku berani menatapnya, walau sebentar. Mataku kembali menatap Anggi yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit.
“Benarkah yang dikatakan kamu ini, Angga? Sejujurnya, aku merasa Anggi membenciku.” Terangku.

Angga menggeleng kuat. “Tidak, Nil! Itu nggak benar. Anggi sebenarnya menyukaimu! Dia menyayangimu. Hanya saja, dia tidak tau, harus bagaimana menunjukkannya.”
Benarkah yang dikatakan Angga ini, Ya Allah! Ucapan Angga begitu meyakinkan. Tiba-tiba, jari jemari Anggi bergerak. Aku terkejut, namun lega.
“Nil… Nila…” lirih Anggi membuatku terkejut.
“Aku, disini Gi!” ucapku.

Mata Anggi melirik ke arahku. Ia tersenyum tulus. Hatiku bergetar. Ku balas senyuman itu. “Ma… ma… afkan… ak… ku…”
“Maaf? Untuk apa? Bagiku, kamu nggak pernah salah!” balasku, bingung.
“Ma… af. Jika se… la… ma… i… ni. Aku, mendiamimu! A… ku, men…yanyangimu, Nil!”

Hah? Anggi? Apa yang kamu katakan ini? Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku membisu.
“Wa… lau, ter… lambat ta… pi a…ku lega, Nil! Ma… ka… sih, u… dah mau nengok a… ku! Hhh…”
Grafik pendetak jantung, yang tadinya naik turun, kini berubah lurus beraturan. Itu adalah tanda, bahwa Anggi…
Ya Allah, aku mohon, izinkan Aku untuk melihat senyumannya lebih lama lagi! Aku mohon, kembalikan lagi nafas hidupnya, Tuhan!
Aku menangis. Baru kali ini, aku merasakan kehilangan. Walau sudah lama tak bertemu, Anggi tetap menjadi sebagian dari kisahku di masa SMP dulu. Ya Allah, ku mohon bahagiakanlah Dia di sisi-Mu!
***

Ku berjongkok di dekat pusara bernisan Anggi. Air mataku membulir. Disampingku, ada Angga yang dengan setia menemani. Kini tinggallah kami berdua yang menemani Anggi di rumah barunya.
“Kenapa kamu ninggalin aku, Gi! Kita belum lama berbicara, tapi kenapa kamu udah langsung ninggalin aku begitu saja. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih sama kamu waktu di UKS itu! Tapi aku selalu berdoa buat kamu, supaya kamu bahagia disana!” Ku elus lembut nisan Anggi. Aku masih terisak.
“Nil… kita pulang yuk?” ajak Angga, yang sedari tadi diam saja melihatku terisak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Kamu baik-baik disini ya, Gi! Kita harus pulang. Kita akan selalu berdoa untukmu!” ucap Angga. Suaranya terdengar berat.
***

“Nil?” panggil Angga dari belakang.
Sedari tadi, di perjalanan pulang, aku memang berjalan membelakangi Angga. Langkahku terhenti, ketika mendengar dia memanggilku. Aku menoleh. Kini tinggal jarak kira-kira sekitar satu meter yang membatasi kami.
“Ada apa?” tanyaku.
“Masih ingatkah kamu, dengan surat yang aku titipkan sama Sufi?”
Aku mengangguk. Sedikit terkejut mendengarnya. “Jadi, surat itu darimu?” tebakku, walau sangat yakin.

Angga mengangguk kuat. Ia terduduk di bangku yang ada di sampingnya. Kepalanya tertunduk. “Sudah lama, aku mencintaimu, Nil!” meluncurlah juga sebuah kalimat yang Angga pendam selama hampir dua tahun ini. Aku kaget bukan main. Tak menyangka, ternyata sosok yang mengajari aku jatuh cinta, juga mencintaiku.
“Maaf jika aku lancang dan baru mengatakannya sama kamu. Waktu itu, aku bimbang. Karena aku harus memilih diantara dua pilihan. Anggi yang semakin parah, atau cintaku. Aku sudah tau sejak lama, kalau Anggi menyukaimu. Walau dia tidak pernah melihatkannya. Buku diarynyalah yang memberitahuku. Disaat itu juga, aku mengalah. Kesembuhan Anggi dan kebahagiaan Anggilah yang aku utamakan, dari pada cintaku!” Terang Angga panjang lebar.

Aku terperangah mendengar penjelasan itu. “Lalu, kenapa kamu melampiaskannya dengan pacaran?” tanyaku akhirnya.
“Selama ini, aku tidak pernah pacaran, Nil! Tika hanyalah teman. Nggak lebih. Semua itu hanyalah gossip biasa.”
“Lalu, apa maumu sekarang?”
“Kejujuranmu.”
“Aku juga mencintaimu, Ga!” balasku akhirnya. Angga menatapku. Ia tersenyum mengembang. “Tapi aku nggak mau, cinta ini membawaku dalam kemaksiatan dan kesesatan.” Lanjutku.

Angga paham. “Sudah lama, aku memahamimu, Nil! Aku mencintaimu, karena Allah!”
“Dan karena Allah-lah, aku ingin tidak menjalin hubungan special denganmu!”
“Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Hati ni, untuk kamu!”

Aku terharu mendengarnya.
“Lalu bagaimana dengan cinta ini?” lanjut Angga.
“Kita tunggu sampai waktunya tiba. Aku yakin, kalau kita jodoh, pasti Allah akan mempersatukan kita.” Jawabku yakin.
Angga tersenyum dan mengangguk yakin. Kami percaya. Pasti, jika Allah berkehendak kami jodoh, kami akan disatukan. Dan pasti Allah akan selalu menuntun hati kami. Ya Allah, mungkin seperti inilah SEBATAS RASA UNTUK KITA!

Selasa, 17 September 2013

Sebaiknya Aku Mengerti

Hari ini hari selasa, tepatnya hari jadiku dengan Karel. Aku sudah menjalani hubungan ini selama 1 tahun. “Hai Sya” sapa Noni sahabatku. “Hai Non” ucapku dengan nada bahagia. “Ciye ciye hari ini anniv nih” ujar Noni mencubit pinggangku. “Hehe.. Iya nih, tapi Karel belum kelihatan juga sampai sekarang” ucapku kecewa. “Sabar aja kali Sya”. “Iya deh”.
Tak lama dari itu, Karel datang kepadaku, dan langsung mengambil posisi duduk di sebelahku. “Happy anniv ya Sya” ucap Karel memelukku. Kali ini Karel memelukku dengan pelukkan yang sedikit berbeda. Entah, aku tak tau mengapa. “Fasya..” ucap Karel menatapku. “Iya? Ada apa Karel?”. “Kita sampai sini saja ya?” ucap Karel menitikkan air mata. “Apa salahku?” balasku dengan nada sedih. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit. Tapi setelah kelulusan nanti, aku akan segera bertunangan” jelasnya. “Dengan siapa?”. “Anak temannya mamahku” jawabnya renyah. Aku tak menjawab apapun dari perkataannya dan langsung pergi dari hadapannya. Sahabatku Noni mengejarku, “Fasyaa!! Tunggu”. Aku hanya menghentikan langkahku dan membalikkan badan dengan mata yang berderai air mata. “Sya, kamu yang sabar ya? Jangan sedih, kan masih ada aku disini?” ucap Noni menenangkanku. “Aku hanya tak menyangka, Karel memutuskan hubungan ini tepat pada anniv 1 tahun, dengan alasan akan bertunangan pula!” ucapku menyandarkan kepala di bahu Noni. “Sudah sudah, disini masih ada aku Sya”. “Terimakasih Noni, kamu sahabat terbaik yang pernah aku kenal”. “Iya sama-sama. Sudah hapus air matamu”.
Setelah kejadian itu, Aku sering melamun di tempat yang sepi. “Besok pengumuman kelulusan, dan setelah itu Karel akan bertunangan” batinku menangis. Kini aku bukan lagi seorang periang. Aku selalu mengingat semua kenangan dulu di saat bersama-sama dengan Karel.
FASYA AULIA YOGASWARA — LULUS. Aku hanya tersenyum melihat tulisan yang terpampang di papan pengumuman. Lalu aku menggerakkan telunjukku ke bawah. GANENDRA KAREL YULIANTO — LULUS. Kenyataan ini yang membuatku semakin sakit. “Sya, gimana? Kamu lulus?”. “Alhamdulillah lulus Non” ucapku dengan nada lesu. “Lulus? Kenapa cemberut?”. “Karena Karel juga lulus Noni” ucapku menggentak. “Lalu kenapa? Harusnya kamu senang dong Karel lulus?”. “Senang? Aku harus senang?”. “Oh, aku mengerti sekarang. Jika Karel lulus, itu tandanya dia akan segera bertunangan bukan?” ucap Noni percaya diri. Aku tak menanggapi perkataannya itu. “Sudahlah Sya, mungkin karel bukan jodoh kamu. Sudah! Ayo ke kantin” Noni menarik tangaku.
Dan ini kenyataan yang sangat pahit! Aku bertemu karel di kantin. “Hai Sya” sapa Karel padaku. Aku tak menggubris sedikit pun sapaannya itu, aku segera membuang muka! Layaknya seseorang yang tidak pernah kenal. “Sya!” ucap Karel memegang tanganku. “Lepasin! Kamu itu siapa? Aku gak kenal!” ucapku menggentak. “Segitukah kau membenciku Sya?” tanyanya dengan nada memelas. “Maaf” ucapku meninggalkan Karel. Aku berlari meninggalkan Noni yang sudah duduk di meja kantin. “Sya Fasya” teriak Karel memanggilku. Noni segera menoleh ke arahku yang sedang berlari. “Ada apa lagi ini” batin Noni geregetan. Noni segera mengejarku. “Fasya berhenti! Kamu gak bisa kayak anak kecil terus dong! Kamu itu udah lulus SMA”. Aku menghentikan langkahku. “Biarkan aku untuk sendiri Non, ku mohon”. “Baiklah jika itu mau mu. Tenangkan dirimu Sya”.
Hari hari pun berlalu. Dan hari yang kutunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pengumuman penerimaan siswa di Universitas Gajah Mada. Dan Alhamdulillah, aku diterima di Universitas tersebut. Kini aku sudah menjadi anak kuliahan.
Hari demi hari ku lewati di Universitas itu. “Hai Sya” ucap seseorang mengagetkanku. Aku segera menengok ke sumber suara. Dan ternyata itu sahabatku. Ya! Noni! “Hai Noni! Kemana aja sih? Dari kemaren sim card mu gak aktif?”. “Hehe… sengaja”. “Dasar Noni!!”. Aku langsung memeluk Noni dengan pelukan yang sangat hangat. Layaknya pelukan dari seorang Ibu.
“Kantin yuk Sya?”. “Gak di SMA, dak disini, makan terus yang dipikirin”. “Hehe.. biarin aja dong” ucap Noni sambil menarik tanganku. Aku dan Noni langsung berjalan menuju kantin. Aku memilih meja nomor 7. “Kamu mau apa Sya?”. “Tumben nanya? Mau mentraktir?”. “Hm.. ya ya! Kali ini saja aku mentraktir kamu”. “Ok! Aku pesen bakso sama jus jeruk aja deh Non”. “Oke, tunggu bentar ya aku pesen dulu”. “Sipp”.
Tak lama kemudian, Noni sudah kembali di hadapanku. “Sya?”. “Ada apa?”. “Kamu udah bisa move on dari Karel?”. “Ngapain bahas dia lagi sih Non?”. “Bukannya gitu Sya. Masalahnya Karel juga kuliah disini!”. “Haah?!” teriakku kencang. “Sttt! Gak usah keras-keras dong”. Aku cukup kaget dengar berita itu. Karel? Satu kampus sama aku? TIDAK!
“Maaf, yang pesen jus jeruk tadi siapa ya?” ucap penjaga kantin setengah berteriak. “Saya!” ucapku dan salah seorang lagi. Aku segera memalingkan pandanganku dengan tangan yang masih ku angkat. “Fasya?” ucap orang tersebut. “Karel?!” ujarku tak percaya. Kini aku tak mau bersikap seperti anak kecil lagi, aku akan berusaha tetap disitu. Semakin jelas aku mendengar derap langkah yang menuju kepadaku. Aku hanya tertunduk dan diam, aku tak mau melihat wajahnya lagi. “Hai Sya, apa kabar” ucap Karel lembut. “Oh saya baik” jawabku santai. “Kamu sudah jadi tunangan belum Rel?” ujar Noni menimpali. “Em.. rencana minggu depan Non”. “Oh begitu”. Aku tertunduk lemas, rasanya saat itu juga aku ingin pergi ke suatu tempat agar aku tak bertemu dengan Karel lagi. “Em, aku masuk dulu ya? Ada kelas siang ini” ucapku dan langsung pergi meninggalkan mereka di meja kantin.
Saat pelajaran pun aku tak bisa memfokuskan diriku pada pelajaran tersebut. Aku selalu terbayang tentang pertunangan Karel nanti. Setelah kuliah hari ini selesai, aku membuka lokerku. Dan ternyata ada sebuah amplop yang berukuran sedang. “Amplop? Dari siapa?” ucapku lirih. Sesegera mungkin aku membuka amplop tersebut. Aku mulai menarik isinya keluar. Sebuah kartu undangan pertunangan untukku. Aku membuka kartu itu, tiba-tiba ada sebuah kertas putih yang jatuh. Aku mengambilnya, dan perlahan ku buka kertas itu.
Untuk: Fasyaku
Assalamu’alaikum Sya…
Minggu depan saya tunangan dengan Rara. Maafin saya Sya.. sebenernya saya gak pernah setuju sama pertunangan ini. Saya masih ada rasa sama kamu Sya. Saya hanya terpaksa bertunangan dengan Rara, karena dia mengidap suatu penyakit yang sangat serius Sya. Tolong datang ke acaraku ya Sya..
Wassalamu’alaikum..
Dari: Karel
Aku menitikkan air mata setelah membaca surat itu. Aku tak kuasa untuk membendung air mataku lagi. Aku berjalan menyusuri lorong kampus, dengan keadaan berderai air mata.
Satu minggu telah berlalu, kini saatnya aku menghadiri acara pertunangan Karel dengan Rara. Aku mempersiapkan diriku serapih mungkin. Hari ini Noni akan menjemputku. “Hai Sya”. “Hai Non, sudah datang?”. “Sudah dong. Rapih banget Sya?”. “Emm? Kerapihan ya?”. “Ya gak juga sih, ya udah yuk, cepetan berangkat”. “Okeyy, tunggu di mobil saja ya Non”. “Siapp”.
Setelah selesai berdandan, aku segera menemui Noni di mobil. “Hai Non” ucapku sambil masuk ke dalam mobil. “Eh Sya udah selesai?”. “Udah lah, kalo belum ngapain aku kesini” ucapku menggurau. Suasana di dalam mobil sunyi senyap. “Sya, apa kamu yakin mau menghadiri acara itu?” ucap Noni memecahkan suasana sunyi itu. Aku hanya menolehkan kepalaku ke arahnya, dan segera menepikan mobilku. “Aku juga bingung Non. Apa aku kuat kalau ngeliat mereka berdua bertukar cincin?”. “Sudahlah Sya, kalau kamu gak kuat ya kita gak usah kesana”. “Tapi? Karel yang menyuruhku untuk datang Non” ucapku sambil menjalankan mobilku kembali. “Baiklah itu hak mu untuk memilih”.
Setelah sampai disana, aku langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Sudah banyak orang yang datang. “Sya, sepertinya sudah akan dimulai” ucap Noni. Aku menarik tangan Noni, dan menggelengkan kepala. “Hai Sya!” teriak seseorang. Langkah itu mendekatiku, aku semakin gemetaran dibuatnya. “Hai Rel” suaraku bergetar. “Ayo masuk Sya, Non” ucap Karel renyah. “Iya Rel” jawab Noni mewakiliku. Aku, Noni, dan Karel pun masuk ke dalam gedung untuk melihat acara tukar cincin itu. Air mata sudah mulai berjatuhan ke lantai, tapi aku akan terus mencoba untuk bertahan.
Acara pun dimulai. Aku melihat semua itu dengan tegang. Saat Karel akan memakaikan cincin itu di tangan Rara, aku menangis tak kuasa. Aku segera berlari keluar gedung. “Fasya” panggil sahabatku Noni. “Kan aku sudah bilang, kalau tidak kuat tidak usah dipaksakan” ucap Noni. Aku hanya bisa menunjukkan wajah sembabku. Aku merasa lelah, dan Noni mengajakku untuk duduk di bangku. “Sebaiknya kau mengerti Sya” ucap Noni menenangkanku. “Mungkin! Sebaiknya aku mengerti semua ini. Karel hanya terpaksa bertunangan dengan Rara”. “Nah itu kamu tahu Sya. Sudahlah biarkan Karel pergi bersamanya. Kamu itu cantik, baik, pintar pula, pasti banyak lelaki yang mau denganmu Sya” ucap Noni. “Baiklah. Aku ingin pulang”. “Ayo”. “Tapi kau yang menyetir ya Non”. “Iya iya”.
Setelah hari itu, aku berhasil untuk mengikhlaskan Karel pergi bersama dengan Rara. Dan memulai hidup bahagia dengan tunanganku.. Danis
Cerpen Karangan: Putri Novitasari
Facebook: Putri Novita Sari

Dia Cinta Pertamaku

Pertama kali aku jatuh cinta dulu waktu umur 10 tahun. Waktu itu rasanya masih terlalu cepat untuk anak seumuranku mengenal cinta. Pada umur 10 tahun itu pula, aku pertama kali mengenal kata pacaran. Sebut saja dia cinta pertama sekaligus pacar pertama untukku. Karena namanya anak-anak, pacarannya juga seolah main-main dan kekanak-kanakan. Tapi perasaan itu seakan masih membekas sampai sekarang. Kenangan kebersamaannya juga seakan masih teringat jelas. Aku pikir itu bukan cinta biasa.
Sekarang umurku belum genap 16 tahun. Lima tahun lebih berlalu semenjak itu. Hubungan yang dijalin itu memang telah berakhir dua tahunan yang lalu, saat aku dan dia memutuskan berpisah. Waktu saat kami mulai sama-sama memasuki bangku SMP. Pemikiran yang dewasa memang saat aku berpikir bahwa aku tidak begitu lagi mencintainya.
Ternyata perpisahan waktu itu bukan pilihan yang tepat. Tanpa kusadari di hatiku masih ada dia, entah itu karena aku melihatnya setiap hari atau apa tapi bisa jadi karena kami masih satu sekolah. Mungkin karena tidak terlalu besarnya cintaku padanya, aku pun seolah acuh pada hatiku yang mengatakan aku masih mencintainya. Dan aku pun menjalin hubungan dengan seseorang, seseorang yang pada akhirnya membuat aku menunggu sangat lama, seseorang yang seolah mempermainkan aku dan seseorang yang membuat aku menyesal telah mengabaikan perasaan bahwa aku masih mencintainya, cinta pertamaku. Tidak tidak, itu bukan sebuah penyesalan yang pantas disesali.
Dan untuk ketiga kalinya, aku kembali menjalin hubungan. Aku seperti menjadi orang jahat waktu bersamanya, selalu melakukan tindakan sesukaku. Huh, aku seolah melampiaskan perasaanku pada orang ini. Tapi mengapa dia teramat baik untuk itu? Apakah bila aku kembali memutuskannya, dia akan baik-baik saja? Aku hanya tak ingin kembali menyakitinya oleh karena sifatku yang seperti ini. Mungkin memang aku aneh, tapi dibalik itu semua aku menyayanginya.
Aku tidak terlalu mempercayai itu cinta. Karena aku juga dibesarkan di keluarga yang tidak terlalu banyak cinta. Aku mungkin seorang yang kesepian, seorang yang hanya bisa memendam semuanya sendiri. Bagaimana dengan orang yang kusebut sahabat? Berpikir mereka memiliki masalahnya masing-masing, itu tak masalah jika aku tidak begitu mau berbagi masalahku.
Hari-hariku ku jalani dengan selalu berharap bahwa esok akan lebih baik. Selalu berusaha menunjukkan bahwa hidupku tidak memiliki masalah dan aku orang yang paling bahagia di dunia ini serasa melelahkan. Semuanya kebohongan. Saat hatiku merasa lelah dengan semua ini, saat itu pula aku selalu merindukannya. Dia yang biasanya menyandarkan bahunya untukku saat aku merasa sedih. Dimana dia saat ini? Mengapa aku terlambat menyadari bahwa dia teramat berarti untukku.
Otakku menjadi bingung saat aku memikirkan mengapa aku bersedih saat aku mengetahui dia sudah memiliki kekasih baru dan sangat senang jika suatu hari dia berpisah dengan kekasihnya itu. Ada apa denganku? Padahal jelas-jelas aku mengatakan aku tidak begitu menyukainya lagi. Tapi mengapa saat dia menatapku, hatiku seolah masih bergetar? Dia, cinta pertamaku, mengapa sekarang dia menjadikan aku orang yang egois? Aku hanya ingin dia mencintaiku, aku hanya ingin hanya aku di hidupnya padahal cintaku sendiri tidak sepenuhnya untuknya, hatiku bahkan sekarang seolah mengatakan aku mencintai orang lain. Tapi mengapa dia seolah abadi dalam hatiku ini?
Hingga suatu saat orang lain yang kucintai itu memilih pergi meninggalkanku. Aku merasa sedih, hatiku seolah hancur. Orang lain itu mengapa seenaknya untuk datang pergi, mengapa orang lain itu selalu menghancurkan hatiku dan kemudian memperbaikinya. Dan mengapa orang lain itu seperti telah menjadikan aku orang yang sangat mencintainya. Tidak, orang lain itu bukan menjadi orang lain lagi, orang lain itu telah menjadi orang yang penting di hidupku. Otakku tidak begitu hebat untuk bisa mengerti hati, bahkan tentang perasaan ini masih sulit dimengerti. Saat aku mengatakan aku mencintainya, tapi hatiku juga menegaskan bahwa di sisi lain nama cinta pertamaku itu masih belum hilang. Oh Tuhan, mengapa saat hatiku hancur karena orang lain itu, Kau malah mengirimkan dia “cinta pertamaku” untuk menghiburku.
Dia kembali mengatakan bahwa dia masih mencintaiku. Kata-kata itu seperti menjadi alasan aku tersenyum namun tidak begitu ku indahkan. Aku buat dia menunggu, padahal aku tau jawaban hatiku yang tak bisa menerimanya lagi. Ya, sampai suatu saat orang lain yang begitu aku cinta itu datang kembali. Entah karena aku bodoh atau apa, aku menyambutnya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan. Aku meninggalkan dia “cinta pertamaku” karena orang lain tanpa berpikir apa yang akan terjadi padanya. Tapi dia tidak pernah bosan datang dan datang lagi kepadaku dan aku pun selalu menolaknya.
Hingga suatu ketika dia datang lagi tapi bukan untuk mengatakan “dia mencintaiku” melainkan orang lain. Dadaku terasa sesak saat itu dan hatiku seakan sakit. Bagaimana mungkin aku seperti? Mengapa aku begitu egois. Tidak selamanya dia akan selalu mencintaiku, tidak selamanya dia rela menunggu. Aku hanya bisa menahan tangis dan mengatakan “Berbahagialah. Aku tau suatu saat nanti kamu pasti menemukan orang yang lebih dari aku”. Dia hanya membalas dengan senyum, dan aku melanjutkan dalam hati “Tapi bisakah walaupun kau mencintai orang lain saat ini, aku akan selalu ada di hatimu itu dan selalu abadi disitu”.
Cerpen Karangan: Mita
Blog: http://blogkumita.blogspot.com
Facebook: Mita Ita Ta

Minggu, 18 Agustus 2013

Peka

Kehidupanku sebagai seorang siswa pelajar sungguh membuatku pusing dan membosankan. Ingin sekali rasanya aku lulus dari tahap SMP dan meneruskan ke SMA. Jika aku lihat di sepanjang jalan banyak sekali anak SMA yang hidupnya tenang dan tidak memusingkan pelajaran. Mereka jalan-jalan bersama teman-temannya. Sedangkan aku, aku jika ingin pergi menggunakan motor, pasti Mama bilang “Kamu mau kemana?” “Dengan siapa?” “Berapa lama perginya” “Nanti pulang jangan sore-sore ya sayang?” “Jangan lupa pakai penutup hidung biar gak kena debu”. Aku masih di anggap seperti anak kecil oleh Mamah ku. Ia begitu sayang padaku sampai-sampai harus seketat itu peraturannya. Padahal aku sudah menginjak umur 15 tahun. Kalian bayangkan, 15 tahun masih di urus sama Mamah? Jika teman-teman ku tahu, pasti aku menjadi bahan ejekan mereka “Dasar anak mami” mungkin kata-kata itu yang keluar dari mulut mereka saat mengetahui yang sebenarnya.
Ya, Namaku Alvi Lafati Fazrina biasa di panggil Mpi. Umurku 15 tahun tapi masih di anggap seperti anak kecil oleh Mama. Aku lahir pada tanggal 27 Januari 1998. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di kota ku. Aku kelas 9 (3 SMP). Aku mempunyai satu orang adik yang bernama Sadam Bulan Lafati biasa di panggil Sadam. Sadam ini orangnya nakal sekali. Terkadang aku menjadi korban kejahilannya. Terkadang pula aku sangat jengkel dengan kekanak-kanakannya itu. Ingin sekali rasanya aku memasukan dia ke dalam karung lalu aku kurung di gudang agar aku hidup dengan tenang tanpa kejahilan dia.
Pagi ini matahari sudah membangunkan ku. Seperti biasa, Hari Senin adalah hari pertama dalam Sepekan. Rasanya baru kemarin aku liburan akhir pekan dengan keluarga ku tapi sekarang sudah berangkat ke sekolah lagi saja. Rasanya malas sekali untuk bangun, tapi dari ruang makan, Mamah sudah meneriakan namaku yang membuatku tak bisa berkutik apa-apa dan terpaksa untuk bangun dari tempat tidur. Aku mandi dan berpakaian rapi lalu menuju ruang makan dan menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh Mamah.
“Mpi, nanti kamu berangkat sekolah pakai motor kan?” Tanya Papa kepadaku
“Iya Pah. Kenapa? Aku pasti ingat pesan Mamah untuk memakai penutup hidung” Jawab ku dengan wajah yang menurut ku tidak enak.
“Bukan itu Mpi. Tapi nanti kamu berangkat bareng sama Sadam ya?” Tanya Papa
“Aku bareng sama dia? Ihh kenapa harus bareng sama dia?” Tanyaku dengan wajah cemberut dan sambil menunjuk wajah adikku
“Sudah tidak usah banyak bicara. Kerjakan saja” Kata Papa sambil meminum kopinya. Yang tambah jengkelnya itu raut wajah Sadam ingin sekali aku lempar dengan selai yang ada di meja makan.
Makan sudah selesai dan Aku pun pamit kepada orang tua ku. Di perjalanan, Sadam tidak berhenti mengoceh dan mengoceh. Suaranya itu sangat membuatku pusing dan membuatku ingin sekali melemparnya ke jalanan dan hilang di ambil orang. Saking kerasnya suara dia, entah apa yang ada di pikiranku.. BRAAKKK!!.. Aku menabrak seorang lelaki yang menggunakan seragam SMA lengkap yang ingin menyebrang. Aku segera turun dari motor dan menghampiri Kakak itu karena dari raut wajahnya itu sangat menyakitkan.
“Aduhh kakak aku minta maaf ya. Tadi aku tidak melihat jalan. Maaf ya kak. Kakak tidak apa-apa kan?” Tanya ku khawatir akan keadaan ku. Tapi saat aku tanya seperti itu, sang Kakak hanya diam sambil memperhatikan wajahku.
“Kakak?” Kataku sambil melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
“Eh iya dik. Kakak tidak apa-apa. Adik tidak salah. Tapi Kakak yang salah menyebrang tidak melihat-lihat. Ini hanya luka ringan saja” Kata Kakak itu sambil memegang kakinya yang berdarah karena tertabrak oleh ku.
“Sekali lagi maaf ya kak. Mari aku bantu Kakak berdiri” Kata ku sambil merangkul bahunya. Sadam yang masih anteng di atas motor langsung mengeluarkan jurus jahilnya dan itu membuatku malu bukan kepalang.
“Ciyeee Kak Alvi” Teriak Sadam dengan suara yang cukup lantang
“Heh?! Awas kamu ya. Di rumah habis kamu” Kata ku sambil melotot ke arahnya.
“Jadi nama kamu Alvi. Kenalkan nama Kakak Rio. Namakamu cantik sama seperti orangnya.” Kata Kakak itu yang telah aku ketahui namanya adalah Rio.
“Kakak bisa saja. Bagaimana kaki Kakak? Masih sakit tidak?” Kata ku
“Sudah tidak. Ya sudah kamu berangkat sekolah sana. Nanti kamu telat lagi” Kata Kak Rio sambil tersenyum padaku.
“Tau nih lama amat pacarannya sih Kak” Protes Sadam dengan menyebutkan bahwa aku pacaran. Dasar mulut jahil
“Sadam apaan sih kamu?” Kataku sambil menatapnya dengan wajah yang sinis. Tapi Kak Rio hanya tersenyum mendengar perkataan Sadam.
“Ya sudah kak. Aku berangkat sekolah dulu ya. Kakak hati-hati di jalan dan maaf ya kak” Kataku lalu pergi meninggalkan Kak Rio
Di perjalanan pikiranku terus ke arah Kak Rio. Padahal ia baru saja aku kenal. Kak Rio tampan juga baik. Aku nyaman di dekat dia. Mudah-mudahan saja aku bertemu lagi dengannya. Tadi juga aku lupa meminta nomor ponselnya. Tapi jika aku meminta duluan, mau di taruh di mana wajah ku. Masa perempuan duluan yang meminta nomor ponsel? Seharusnya laki-laki duluan yang meminta nomor ponsel. Tapi ya sudahlah Kenapa jadi membicarakan Kak Rio? Hahah.. :D
Karena sekolahku dengan sekolahnya Sadam tidak terlalu jauh, setelah aku mengantarkan Sadam, aku pun segera berangkat ke sekolahku. Setelah sampai aku segera memakirkan motorku di parkiran sekolah dan masuk ke dalam kelas karena 5 menit lagi sekolah akan membunyikan bel masuk. Setengah hari yang cukup membosankan untukku. setelah semua aku lalui di sekolah, akhirnya bel pulang di bunyikan juga. Aku segera mengambil motorku di parkiran. Tapi ketika aku akan menuju gerbang sekolah, aku melihat seorang lelaki mirip Kak Rio. Saat aku dekati ternyata memang Kak Rio.
“Kak Rio sedang apa disini? Adik Kakak sekolah di sini juga?” Tanya ku
“Tidak. Kakak mencari kamu Vi” Kata Kak Rio memegang pundak ku
“Aku? Untuk apa Kakak cari aku?” Tanya ku penasaran
“Kakak boleh minta alamat kamu?” Tanya Kak Rio
“Boleh Kak. Sebentar ya” Kata ku turun dari motor lalu membuka tas ku dan memberi secarik kertas yang berisi alamat rumahku.
“Nanti kapan-kapan Kakak boleh main ke rumah kamu?” Tanya Kak Rio untuk yang kesekian kalinya
“Boleh Kak. Pintu rumah aku selalu terbuka untuk Kakak” Kata ku sambil tersenyum
“Ya sudah terimakasih ya. Kalau begitu Kakak pulang duluan” Kata Kak Rio sambil pergi berlalu meninggalkan ku. Kira-kira untuk apa Kak Rio mau main ke rumah ku? Aku jadi bingung.
— ESOK SORE —
Aku sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan notebook agar menghilangkan rasa bosan yang sedari tadi sudah bersarang di pikiranku. Aku membuat jus jeruk untuk ku minum sendiri. Saat aku sedang asik bermain notebook, tiba-tiba bel rumah ku berbunyi tanda orang datang untuk bertamu. “Siapa yang datang sore-sore seperti ini?” Tanya ku dalam hati. Saat aku membuka pintu depan, ternyata yang datang adalah Kak Rio. Ia terlihat sangat tampan sekali menggunakan kaos tangan panjang berwarna merah campur hitam dengan di damping celana panjang warna hitam dan terlihat yang di pasang di kakinya adalah sepatu model terbaru yang baru saja keluar bulan lalu. Sungguh terlihat sangat keren Kak Rio sore ini.
“Silahkan masuk Kak. Kakak kenapa tidak mengabarkanaku dulu kalau Kakak mau kesini?” Tanya ku.
“Adik manis, jika Kakak punya nomor ponsel kamu, pasti sudah Kakak telepon” Kata Kak Rio mengelus rambut ku
“Heheh iya ya Kak. Adduuhh kenapa jadi pikun begini ya?” Kataku menggaruk kepala
Aku segera ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Kak Rio. Tapi tidak lama kemudian Mamah keluar dari kamar dan menanyakan padaku siapa ynag datang
“Itu siapa Mpi?” Tanya Mama
“Itu Kak Rio. Dia kakak kelas aku Mah. Ayo Mah biar aku kenalin ke Mamah” Kataku seenaknya dan menggandeng Mamah untuk aku kenalkan kepada Kak Rio.
“Kak Rio kenalin ini Mamah aku. Mamah kenalin ini Kak Rio” Kata ku memperkenalkan mereka.
“Assalamualaikum Tante. Nama saya Rio. Saya teman sekaligus Kakak kelasnya Alvi” Kata Kak Rio dengan nada sopan dan tersenyum
“Oh iya. Saya Mamahnya Alvi. Ya sudah Tante tinggal ke belakang ya Nak Rio” Kata Mamah
“Iya Tante silahkan” Kata Kak Rio mempersilahkan Mamauntuk meninggalkan kami.
Kamipun berbincang-bincang sambil bercanda. Kak Rio orang yang asik dan bisa jika aku curhat dengannya. Dia selalu memberiku nasihat dan saran untuk masalahku. Kak Rio meminta nomor telepon ku dan jika ia ingin ketemuan di luar, ia tinggal menelpon ku. Kak Rio adalah Kakak terbaik yang pernah aku temuin. Dia sopan, baik, pengertian dan benar-benar sempurna di mata aku. Aku merasa nyaman di dekat Kak Rio. Aku sayang sama Kak Rio. Tapi, aku tidak tahu ini rasa sayang sebagai apa? Sebagai Kakak atau lebih dari Kakak? Aku bingung. Tapi aku rasa ini lebih dari seorang Kakak dan aku jatuh cinta pada Kak Rio.
Hari semakin gelap dan Kak Rio pamit untuk pulang ke rumahnya. aku sedih sih karenaaku masih ingin bercanda dan berbincang-bincang lebih banyak dengan Kak Rio. Aku selalu memikirkan tentang perasaan ku kepada Kak Rio. Aku jatuh cinta padanya dan itu yang aku rasakan sekarang. Menurutku perasaan itu sangatlah aneh. Aku semakin pusing jika memikirkan hal itu. Aku berpikir apakah Kak Rio juga mencintaiku? Sejuta pertanyaan tentangnya terus membayang di pikiranku
Jarum jam menunjukkan ke angka 9 malam. Ini waktunya aku harus tidur dan bangun esok pagi dengan ceria. Tapi, saat aku memejamkan mata sebentar. Kak Rio tiba-tiba menelpon ku dan dengan terpaksa aku mengangkatnya dengan mata setengah mengantuk. “Adek bawel udah mau tidur ya?” “Iya sih kak. Tapi kk teleponya udah aku angkat aja” “oh maaf ganggu ya. Kamu tidur aja deh. Gak baik perawan tidurnya malam-malam” “ya udah deh kak. Besok lanjut lagi ya kak” “Iya adek bawel. Good night” “Good night too kk bawel”. Tuuuutt tuuuutt tuuuttt telepon mati dan aku langsung tidur dengan nyenyak.
Pagi sudah datang dan matahari seakan-akan tersenyum menyambut pagiku yang cerah. semua aku lakukan dengan ceria dan senyuman untuk keluarga. Aku bangun lalu mandi dan bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Setelah semua selesai, aku menuju ruang makan untuk sarapan. Tapi tiba-tiba aku melihat Kak Rio sedang mengobrol di ruang keluarga bersama Papa. Aku cukup kaget dengan kehadiran Kak Rio dan untuk apa Kak Rio datang ke sini pagi-pagi sekali?
“Hai Kak Rio. Kakak datang kesini untuk apa?” Tanyaku
“Kakak mau antar kamu ke Sekolah” Kata Kak Rio sambil tersenyum padaku. Senyuman yang indah
“Oh begitu. Baiklah aku sarapan dulu ya. Oh iya? Kakak sudah sarapan belum?” Tanya ku
“Sudah tadi di rumah” Kata Kak Rio
“Baiklah kalau begitu” Kata ku menuju ruang makan
Setelah aku selesai makan, Aku pun pamit pada Mama dan Papa untuk berangkat sekolah. Pagi ini aku di antar oleh orang yang aku cinta. bahagia banget aku hari ini. Andai Kak Rio tahu perasaan aku yang sebenarnya. Aku pasti lebih bahagia dari hari ini.
“Dek Alvi?” Ucap Kak Rio mengawali percakapan
“Iya Kak Rio?” Kata ku
“Kakak sayang banget sama kamu. Kakak gak mau kehilangan kamu. Kamu perhatian banget sama Kakak” Kata Kak Rio serius saat di tengah jalan
“Sayang sebagai apa Kak?” Kata ku dengan jantung dag dig dug
“Sebagai Adik Kakak. Kamu Adik Kakak satu-satunya Alvi” Kata Kak Rio lebih serius
“Oh sebagai adik ya Kak. Iya aku juga sayang banget sama Kakak. Kakak segalanya untuk aku” Kata ku. Jawaban Kak Rio membuat kuingin menangis. Kak Rio menyayangi ku sebagai Adiknya. Aku mengharapkan Kak Rio menjadi kekasih ku. Aku kira Kak Rio peka terhadap perasaan ku. Tapi ternyata tidak.
Setelah pulang sekolah, Kka Rio mengajak ku untuk pergi ke sebuah taman. Katanya ada yang ingin di bicarakan sama Kak Rio. ya sudah aku turuti saja kemauan dia. Kak Rio sudah menunggu di depan rumah dan aku segera pamit pada Mama untuk pergi bersama Kak Rio. Di perjalanan aku semakin penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh Kak Rio. Sesampainya di Taman..
“Dek, Kakak lagi suka sama cewek nih namanya dari A” Kata Kak Rio.
“Siapa tuh Kak?” Tanya ku penasaran
“Dia teman Kakak namanya Anggi. Kakak pengen nembak dia tapi Kakak bingung caranya gimana?” Kata Kak Rio
“Oh Kakak lagi suka sama cewek. Ya udah tembak aja Kak. Daripada nanti Kak Anggi nya di ambil orang hayo” Kata ku
“Iya ya. Ya udah deh Kakak tembak aja” Kata Kak Rio
Aku pikir huruf berinisial A itu adalah nama ku. Ternyata bukan…
— 3 BULAN —
Sudah Tiga Bulan aku memendam perasaan aku pada Kak Rio. tapi Kak Rio tetap tidak peka terhadap perasaan ku. Aku bingung bagaimana caranya agar Kak Rio mengetahui isi hati aku. Aku selalu memperhatikannya, selalu peduli padanya tapi sama saja. dia tidak merespon perasaanku. Tapi kini Kak Rio sudah mempunyai pacar dan aku lihat Kak Rio sangat menyayangi Pacarnya. Pacarnya cantik sekali. Aku berharap suatu saat Kak Rio sadar kalau aku mencintainya..
TAMAT..

Teman

Sudah hampir sebulan ini Dina memperhatikan Adi yang sangat ramah itu. Walaupun Adi adalah kakak kelas, perilakunya tak menyebalkan seperti kakak-kakak kelas yang lain. Saat ini Dina duduk di kelas 4 SD, sedangkan Adi sudah kelas 6. Mengapa tiba-tiba Dina memperhatikan Adi? Padahal, Dina paling tidak menyukai anak laki-laki sebab menurut Dina semua anak laki-laki kotor dan nakal. Tapi, si Adi ini sangat berbeda dari teman laki-laki Dina yang lain. Adi sangat ramah, sopan, dan bersih. Selain itu Adi sangat cakap dan pintar dalam pelajaran. Dina sangat menyukai Adi dan selama ini Dina mengharapkan Adi pun juga memperhatikan Dina. Tapi, Adi cuek sama Dina. Adi lebih suka berteman dengan Sandra, Mira atau Mia. Dina kecewa sekaligus sedih. Setiap pulang sekolah, Dina menyempatkan diri untuk melewati ruang kelas Adi, yaitu ruang kelas 6B. Walaupun Adi sempat melihat ke arah Dina, seketika itu juga Adi memalingkan wajah dan mengabaikan Dina. Selama sebulan inilah pikiran Dina tidak lagi tercurah pada boneka atau sepeda baru, tetapi Adi Putra pamungkas.
“Na, yuk kita bermain lompat tali!” ajak Sandra pada saat istirahat. Dina sedang asyik menatap Adi yang sedang bermain bola pun terkejut mendengar ajakan Sandra tersebut.
“Ah, nggak ah! Nana sedang malas bermain,” ucap Dina.
“Wah, tak seperti biasanya kamu seperti ini,” kata Sandra heran.
“Kepala Nana juga agak pusing nih!” ucap Dina sambil memegang dahinya. “Nana pergi ke kelas duluan ya!”
Dina pun langsung berjalan menuju kelas. Setiba di kelas Dina langsung mengintip melalui jendela kelas. Dari jendela itu, Dina dapat lebih mudah melihat Adi. Pada saat itu pula tiba-tiba tanpa sengaja Adi pun melihat Dina yang sedang mengintip. Bukan main terkejutnya Dina! Jantungnya dag dig dug tak beraturan. Hatinya bahagia tapi juga bercampur malu karena ketahuan sedang mengintip. Seketika itu juga Dina langsung menunduk dan meringkuk di sudut kelas. Wajahnya bersemu merah.
Ketika pulang sekolah, Dina menunggu Pak Sopir yang ternyata hari ini datang terlambat. Agar tidak bosan, Dina pun berjalan-jalan di taman sekolah. Ketika Dina sedang membetulkan tali sepatunya yang terlepas, tidak sengaja Dina melihat dari kejauhan Adi dan Mira sedang bercanda di warung Ibu Ning di seberang jalan. Hati Dina langsung kembali bersedih. Ternyata Adi lebih menyukai Mira yang cantik dan anggun itu.
Di kamarnya malam itu, Dina langsung menatap wajahnya di cermin. Rambutnya yang selalu berkucir dua itu mungkin tidak menarik bagi Adi. Ternyata Adi lebih menyukai Mira yang rambutnya panjang sepinggang. Dina bagi Adi seperti anak kecil dan lugu, Dina bukanlah seorang anak yang cantik dan menarik seperti Mira. Dina pun kemudian bersedih lagi dan mulai menangis di hadapan cermin. Mengapa Nana tidak dilahirkan secantik Mira? Pikir Dina sedih.
“Lo, kenapa Nana menangis?” tanya Dino yang kebetulan muncul di kamar Dina.
“Hmm … tidak apa-apa kok!” ucap Dina sambil cepat-cepat menghapus air matanya.
“Jangan pura-pura di hadapan kakakmu ini deh! Apalagi, kakakumu ini sering membuatmu menangis! Ha… ha…,” kata Dino sambil tertawa. Dina seketika langsung cemberut dan melempar Dino dengan bantal.
“Ayolah! Berceritalah!” goda Dino sambil duduk di sebelah adiknya itu. Perhatian dari Dino membuta Dina bercerita panjang lebar mengenai Adi.
“Wah! Adikku sedang jatuh cinta!” teriak Dino sambil mencubit pipi Dina. Dina pun langsung tersenyum malu-malu.
“Sudahlah, kalau Adi ternyata lebih menyukai Mira, jangan bersedih! Kan tidak harus berpacaran? Jadi teman biasa saja. Dino rasa Nana masih terlalu kecil untuk pacar-pacaran!” kata Dino sambil menahan tawa. “Lagi pula berteman itu lebih enak lo! Percaya deh!”
“Benar begitu?” tanya Dina. Dino mengangguk mantap.
“Tapi, Nana suka sama Adi! Dina ingin sekali bisa dekat dengan Adi,” kata Dina merajuk.
Dino pun mengangkat bahunya.
“Terserah Nana deh! Pokoknya Dino sudah kasih tahu,” kata Dino sambil ke luar kamar. “Tapi, saran Dino, lebih baik Nana tampil apa adanya. Kalau Nana sering berkuncir dua, tetaplah begitu sebab menurut Dino, Nana cantik dengan berkuncir dua.”
Dina pun tertawa bahagia sebab dipuji oleh Dino.
Esoknya, Dina pun tetap berkuncir dua ke sekolah. Padahal kemarin sebelum berbicara dengan Dino, Dina berencana akan melepas kuncirnya dan berpenampilan seperti Mira. Di sekolah, Adi tetap memperhatikan Dina dari kejauhan tanpa memiliki keberanian mendekati Dina. Adi lebih suka bermain dengan Mira, Sandra, dan Mia.
Pada suatu ketika Dina sedang berjalan sendirian ke kantin, tiba-tiba Adi sengaja menuburuknya. Mereka berdua langsung bertatapan malu-malu.
“Maaf,” kata Adi sambil tersenyum malu-malu. Dina hanya menelan ludah karena gugup. Bayangkan, Adi sang idola berdiri di hadapannya dengan senyuman yang membuat Dina ingin menjerit karena senang dan kagum.
Sejak itu, Dina hampir tak ingin mandi karena takut sentuhan Adi tadi siang, akan luntur. Ayah dan Ibu sampai marah karena Dina tidak mandi seharian.
Esok harinya lagi ketika Dina sedang menunggu Pak Sopir di bangku taman, tiba-tiba Adi mendekatinya. Bukan main senangnya hati Dina. Keinginannya selama ini tercapai. Jantungnya berdebar-debar saat itu juga. Apalagi si Adi mengajaknya berbicara.
“Halo! Namamu Dina, kan?” tanya Adi sambil tersenyum. Dina mengangguk ragu-ragu. Dina hampir tidak percaya saat ini.
“Boleh Adi berkenalan denganmu, Dina?” tanya Adi sambil mengulurkan tangannya. Dina tidak berani menyambut tangan Adi sebab tangannya sudah dari tadi panas-dingin. Tapi akhirnya, Dina memaksakan juga tangannya meraih tangan Adi. Ketika berjabat tangan, hati Dina bergetar.
“Mengapa sih kamu sombong sekali, tidak seperti yang lain?” tanya Adi. “Padahal, Adi suka berteman dengan Dina.” Dina terbengong-bengong sebab selama ini Dina menganggap Adi yang terlalu sombong terhadap Dina. Tapi ternyata Adi berpikiran bahwa Dinalah yang sombong terhadapnya.
“Wah, malah Dina rasa Adi yang tidak suka sama Dina,” kata Dina sambil tertawa, sedikit demi sedikit Dina sudah tidak deg-degan lagi.
“Sekarang boleh kita berteman?” tanya Adi sambil duduk di sebelah Dina. Dina pun mengangguk malu-malu.
“Bolehkah saya memanggilmu dengan nama Ina?” Adi melirik ke arah Dina dengan malu-malu.
Aduh, bukan main bahagianya hati Dina. Karena Dina punya nama khusus dari Adi, yaitu Ina! Segera Dina mengangguk setuju. Adi pun tertawa senang. Tapi yang paling membuat Dina bahagia adalah bahwa Adi menyukai Dina karena berpenampilan unik! Berkuncir dua! Wah, berarti kali ini Dino memberi nasihat yang bagus untuk Dina, yaitu tampil apa adanya!
Sekarang Dina bahagia dan tidak bersedih lagi. Tapi atah dan Ibu yang sudah hati sebab Dia tidak mau mencuci tangan. Alasannya karena ia baru berjabat tangan dengan Adi tadi siang.
Cerpen Karangan: Edi Warsidi

Day Dream

Covering my ears to listen to you
Shutting my eyes to imagine you
You have slowly become blurred,
You have slowly left me in the unstoppable memories
- Daydream -
Tio… nanti bisa temani aku ke butik?
Ahhh tidak bisa ya? ya sudah kalau gitu… tapi…
Pria itu mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Titik-titik kecil keringat sudah tertera di keningnya saat suara itu kembali tengiang dalam memori otaknya.
Tio… ibu menyuruh kita untuk fitting baju pengantin kita, bisakah kamu datang?
Oh.. kamu ada rapat penting hari ini? ya sudah tapi bisakah kamu nanti menyempatkan untuk datang? walaupun terlambat tidak apa-apa yang penting…
Baiklah kalau begitu… aku akan menunggu kamu di butik ya? Aku mencintaimu…
Pria itu menggelengkan kepalanya lemah. Matanya masih terpejam tapi kedua tangannya sudah terkepal dengan sangat erat. Peluh keringat semakin membasahi wajahnya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk bangun agar bayangan suara itu hilang dari memori otaknya.
Tio..? Kenapa kamu belum datang juga? Aku sudah hampir 3 jam menunggumu disini… Kamu ada dimana? kalau kamu memang tidak bisa datang setidaknya telfonlah aku, jangan buat aku khawatir seperti ini…
Tiffanny…
Fanny… TIFFANNY
Pria itu langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Pria itu, Tio berusaha untuk menormalkan kembali detak jantungnya dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Tio memejamkan matanya sejenak dan tanpa terasa air matanya kini berhasil lolos membasahi pipinya. Ia menyentuh dadanya dan entah kenapa ia kini merasakan sesak yang luar biasa saat ia kembali teringat dengan mimpinya tadi. Tio mengatur nafasnya untuk menjadi normal kembali dan perlahan ia membuka matanya kembali. Tio melihat jam di kamarnya yang kini masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pria itu, Tio menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya dan kembali menyentuh dadanya yang masih terasa sesak. Terasa sesak saat ia lagi dan lagi kembali mengingat bayangan suara itu. Suara seseorang yang sangat berarti untuknya. Dan suara seseorang yang sangat dirindukannya saat ini. Tio menundukkan kepalanya dan lagi-lagi air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya berhasil keluar sehingga membasahi wajahnya.
- Daydream -
Pria dan wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya saat mendengarkan derap langkah kaki seseorang yang menghampirinya ke ruang makan. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat saat melihat putra tunggalnya itu sudah rapi dengan kemeja putih lengan panjang dan celana kain panjang berwarna hitam yang ia kenakan serta jas hitam yang ia pegang di tangan kanannya.
“Kamu mau sarapan apa, sayang?” Tanya wanita itu dengan lembut pada putranya itu.
“Roti saja bu…” Ucap Tio lalu mendudukan dirinya di kursi.
“Tio… apakah kamu sibuk hari ini? kalau tidak nanti bisa temani ayah bertemu dengan klien ayah dari China?” Ucap pria paruh baya itu sambil memandang putranya itu.
“Hmmm…?” Tio menghentikan makannya lalu memandang ayahnya itu. “Ayah..?” Panggilnya yang membuat kedua orang tuanya itu kini memandangnya.
“Ya…”
“mmm… hari ini bolehkah aku ijin untuk tidak ke kantor?” Tanya Tio lirih.
“Memangnya kamu ingin kemana? ada urusan penting kah?”
“Aku… aku ingin mengunjunginya hari ini” Ucap Tio sambil menundukkan kepalanya sedangkan kedua orang tuanya sempat terkejut dengan kata-kata putranya tentang ‘mengunjunginya’ itu.
“Kamu ingin menemuinya sayang?” Tanya wanita paruh baya itu sambil memegang tangan kanan putranya. “Kalau kamu ingin menemuinya.. pergilah nak, ibu yakin dia akan senang jika kamu datang mengunjunginya” Ucap wanita itu sambil mengusap punggung anaknya itu.
“Baiklah ayah akan mengijinkan kamu” Ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum.
“Terima kasih ayah…” Ucap Tio.
- Daydream -
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti di dekat sebuah taman kota yang cukup ramai hari itu. Pria itu, Tio keluar dari mobil mewahnya itu lalu memandang kearah taman yang sudah cukup lama tidak pernah ia kunjungi. Tio melangkahkan kakinya menyusuri taman itu. Dilihatnya beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai sambil membaca buku dan beberapa anak kecil yang sedang bermain ayunan yang ada di taman itu. Tio menghentikan langkahnya saat ia berada di depan sebuah bangku kayu. Ia mendekati bangku itu lalu mendudukan dirinya di bangku itu dan kini ia kembali mengingat sebuah kenangan di memori otaknya.
“Jadi kamu menelfonku malam-malam hanya untuk mengajak aku duduk di taman ini?” Tanya Tio sambil memandang gadis dihadapannya yang sedang duduk sambil mengemut permen lollipopnya.
“Hmmm… habis aku bosan di apartement terus” Ucap gadis itu, Tiffanny yang masih asyik mengemut permen lolipopnya itu.
“Kalau kamu bosan kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu saja sayang..?” Ucap Tio yang kini sudah duduk di samping gadisnya itu.
“Kalau aku pulang itu akan jauh lebih membosankan karena papah dan mamah sedang keluar negri” Ucap Tiffanny.
“Tapi bukan berarti kamu bisa membuat aku repot kan? hey.. kamu tahu besok aku itu ada rapat penting pagi-pagi sekali”
“Kamu itu kan tunanganku jadi kamu harus mau untuk direpotkan. Lagi pula ini masih pukul 11 malam dan aku rasa nanti masih punya waktu untuk tidur dan aku jamin besok kamu tidak akan kesiangan” Ucap Tiffanny sambil tersenyum manis kepada tunangannya.
“Kalau sampai besok aku kesiangan, kamu harus menerima hukumannya” Ucap Tio sambil mencubit pelan hidung gadisnya yang membuat Tiffanny mengerucutkan bibirnya.
Tio menyunggingkan senyumnya saat kembali mengingat kejadian itu. Kejadian dimana gadisnya itu menelfonnya malam-malam dan menyuruhnya datang ke apartemennya hanya untuk menemaninya duduk di taman dengan alasan gadisnya itu bosan berada di apartemennya. Tio melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tio mengusap pelan bangku yang pernah diduduki gadisnya itu lalu ia beranjak dari duduknya dan kemudian ia berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan tadi.
- Daydream -
Setelah dari taman tadi, Tio langsung mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dan sekarang disinilah ia berada, di depan sebuah gedung apartemen mewah. Tio keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki gedung itu. Ia berjalan memasuki lift dan menekan angka 11 pada tombol yang ada di lift itu. Tak harus menunggu lama kini pintu lift itu terbuka saat ia sudah sampai di lantai 11, Tio keluar dari lift lalu ia kembali melanjutkan jalannya. Pria itu menghentikan langkahnya saat ia berada di depan sebuah pintu yang bertuliskan angka 112 dan di depan sebuah pintu tempat dimana gadisnya itu tinggal. Pria itu, Tio mulai memasukkan password yang membuat pintu apartemen itu terbuka. Tio tak langsung masuk tapi ia justru terdiam dan tersenyum miris saat mengingat password yang membuat pintu apartemen itu terbuka. TLoveT, Tio tersenyum miris saat mengetahui bahwa Tiffanny masih menggunakan kata-kata itu sebagai password apartemennya.
Tio menghela nafas beratnya lalu ia mulai memasuki apartemen yang sudah cukup lama tidak ia datangi itu. Tio menutup pintu apartemen itu pelan lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu di apartemen itu. Ia menyalakan lampu di ruang tamu itu dan kini ia dapat melihat barang-barang milik Tiffanny masih tertata rapi disana. Tio berjalan perlahan menuju sofa yang ada di ruangan itu. Perlahan tangannya memegang sofa berwarna putih itu, tempat dimana ia dan Tiffanny sering menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol ataupun menonton dvd bersama. Kemudian ia berjalan menuju meja yang ada di dekat sova itu. Sebuah meja yang menjadi tempat dimana foto-foto gadisnya itu terpajang. Tio mengambil salah satu bingkai foto yang berisikan foto Tiffanny yang sedang tersenyum manis dan disampingnya adalah dirinya yang tersenyum dan merangkul pundak gadis itu. Tio mengusap pelan foto itu lalu ia memejamkan matanya sambil mendekap foto itu. Tapi itu hannya sebentar saat ia merasakan kehadiran seseorang dan ia langsung membuka kembali matanya.
“Fanny…” Tio mengedarkan pandangannya dan ia menghela nafas beratnya saat ia sama sekali tidak menemukan kahadiran seseorang di ruangan itu. Tio meletakkan kembali bingkai foto itu di meja lalu kini ia berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu berwarna putih. Tio perlahan membuka pintu itu lalu ia masuk ke kamar yang masih terlihat rapi.
“Fanny… kamu dimana?” Ucap Tio saat ia memasuki apartemen gadisnya itu. Tio mengedarkan pandangannya saat ia tidak menemukan gadisnya itu. Biasanya Tiffanny akan menyambutnya jika Tio datang ke apartemennya itu. “Tif…” Ucap Tio lagi.
Tio melangkahkan kakinya menuju kamar Tiffanny saat dilihatnya pintu kamar itu yang terbuka. Tio masuk ke kamar itu dan ia bernafas lega saat melihat gadisnya itu sedang tidur dengan posisi duduk dan kepala yang ia sandarkan di meja kerjanya. Tio menghampiri Tiffanny lalu melihat laptop gadis itu yang masih menyala. Tio melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam lalu ia menyimpan laporan kerja gadisnya itu lalu ia menshut down laptop itu.
“Tumben sekali jam segini kamu sudah tidur..? terlalu lelah kah?” Ucap Tio lalu mengangkat tubuh Tiffanny dengan pelan agar gadisnya itu tidak terbangun. Tio melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Tiffany tapi baru 2 langkah ia dikejutkan dengan kekehan kecil yang terdengar dari mulut gadisnya itu.
“Yak.. kamu pura-pura tidur?” Ucap Tio yang membuat Tiffanny membuka matanya lalu tersenyum manis pada tunangannya itu. “Jadi kamu mengerjaiku, eoh?” Tanya Tio.
“Hmmm… lagian mana mungkin jam segini aku sudah tidur? kamu tahu sendiri kan jadwal tidur aku itu pasti di atas jam 12 malam” Ucap Tiffanny.
“Hahhh… ya sudah sekarang turun. Kamu tahu tubuhmu itu terasa berat”
“Aku nggak mau.. kamu sudah menggendong aku jadi sekarang kamu harus tetap gendong aku sampai tempat tidur lagi pula sepertinya sekarang aku sudah mulai menagantuk” Ucap Tiffanny sambil tersenyum jahil.
“Aishhh bilang saja kamu itu ingin merasakan di gendong sama aku” Ucap Tio yang membuat Tiffanny semakin mengembangkan senyumnya.
Tio tertawa kecil saat mengingat kejadian itu. Lalu ia berjalan menuju tempat tidur dengan nuansa pink itu. Tio mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur itu, ia mengambil bantal dan memeluknya berharap ia masih bisa menghirup aroma tubuh Tiffanny yang berbekas di bantal itu.
“Aku merindukanmu…” Ucapnya lirih.
- Daydream -
“Sadarkah dengan apa yang kamu lakukan tadi?” Ucap Tio kepada Tiffanny dengan nada marah saat mereka sudah di apartemen Tiffanny. “Kamu tahu… tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu tadi, kamu…”
“Bukankah seharusnya aku yang marah disini? Aku menunggumu hampir 3 jam di butik tanpa ada kabar yang jelas darimu, aku pikir kamu benar-benar sibuk tapi apa yang aku lihat tadi kamu malah asyik makan berduaan dengan gadis murahan itu” Ucap Tiffanny dengan air mata yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Tiffanny… berhenti menyebutnya wanita murahan… dia itu klienku”
“Klien? Oh… selain dia mantan kekasihmu sekarang dia klienmu? pantas saja kalian bisa berduaan seperti tadi. Ahhh atau jangan-jangan dibelakangku kalian malah sudah jadian kembali?”
PLAKK… satu tamparan cukup keras berhasil mengenai pipi kanan Tiffanny. Gadis itu memegangi pipinya dan air mata yang ia pertahankan kini runtuh seketika.
“Fanny…” Ucap Tio lirih saat ia menyadari atas apa yang baru saja ia lakukan barusan. Ia benar-benar emosi dan hilang kendali saat Tiffanny mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan. Dan kini ia sangat merasa bersalah karena sudah menampar gadis itu dan ia juga merasakan sesak di dadanya sat ia melihat gadisnya itu menagis dan itu karena dirinya.
“Kamu…”
“Maaf..maaf..aku…” Baru saja Tio akan menyentuh pipi Tiffany tapi gadis itu langsung menghindar yang membuat Tio kini merasakan sakit didadanya dan semakin merasa bersalah.
“Kamu berani menamparku hanya untuk perempuan itu? Oh seharusnya aku sadar dari awal kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku. Seharusnya aku sadar kalau aku hanya satu-satunya orang yang menginginkan pernikahan ini dan juga seharusnya aku sadar kalau…”
“Tidak… tidak itu tidak benar. Aku mencintai kamu Fanny dan aku juga sangat menginginkan pernikahan ini dan kamu harus percaya…”
“Setelah kamu menampar aku, haruskah aku memepercayai kamu? sepertinya kita memang harus berpikir lagi tentang rencana pernikahan ini. sekarang aku ragu apakah pernikahan ini bisa tetap dilaksanakan atau tidak” Ucap Tiffanny lalu mengusap air matanya dengan kasar dan kemudian berlari keluar dari apartemennya.
“Tio… Fanny… Tiffanny kecelakaan…”
“Tidak… itu tidak mungkin…”
“Tio…”
“Ibu… itu tidak benar kan, Fanny… Itu tidak mungkin. Tidak.. tidak… TIFFANNY”
- Daydream -
Tio terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Mimipi itu, mimpi yang sudah 3 bulan ini selalu hadir dalam tidurnya. Mimpi yang selalu membuatnya merasa bersalah dan merasa takut karena harus kembali mengingat kejadian itu. Tio menyandarkan tubuhnya pada pangkal tempat tidur lalu mengedarkan pandangannya dan ia baru ingat kalau ia masih berada di kamar Tiffanny dan tadi ia tertidur di tempat tidur gadisnya itu. Tio menyeka peluh keringat yang ada di keningnya lalu pandangannya teralih pada iphone-nya yang ada di meja di samping tempat tidur Tiffanny.
“Hallo bu…” Ucap Tio setelah ia mengambil dan mengangkat panggilan masuk di iphone-nya itu.
“Kamu dimana? bisakah kamu ke rumah sakit sekarang… dia…”
- Daydream -
Not Breathing to feel you clutching both fists together to touch you
You have slowly become blurred, you have slowly become blurred
You have slowly left me in the unstoppable memories…
Pria itu, Tio berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia sudah tidak memperdulikan perkataan orang-orang yang tak sengaja tertabrak olehnya karena saat ini ia berlari dengan tidak fokus, yang hanya ada dipikirkannya saat ini adalah perkataan ibunya yang masih sangat jelas terngiang di otaknya.
“Fanny keadaannya semakin memburuk Tio… jadi bisakah sekarang kamu datang ke rumah sakit”
Ya gadis itu, Tiffanny kini sedang terbaring koma di rumah sakit sejak 3 bulan yang lalu. Kecelakaan mobil yang ia alami setelah ia bertengkar dengan Tio malam itu membuatnya harus terbaring koma hingga sekarang. Selama 3 bulan itu, kondisi Tiffanny tidak pernah ada perubahan dan baru hari ini Tio mendapat kabar terbaru dari gadisnya, tapi berita itu bukan membuatnya bahagia tapi berita itu malah membuatnya semakin merasakan ketakutan jika ia harus benar-benar kehilangan gadisnya itu.
“Ibu…” Ucap Tio saat ia sudah berada di hadapan ibunya. Dan di tempat itu juga Tio melihat kedua orang tua Tiffanny dan ayahnya yang menunjukkan raut wajah khawatir.
“Tio…” Wanita paruh baya itu memandang putranya dengan tatapan sedih.
“Bag… bagaimana keadaannya, dia…” Ucapan Tio terhenti saat melihat dokter beserta 2 orang suster dibelakangnya keluar dari ruangan Tiffanny di rawat.
“Dokter… bagaimana keadaan Tiffanny? dia baik-baik saja kan? dia sudah bangun dari komanya kan?” Ucap Tio yang membuat dokter itu memandangnya dengan wajah sendu.
“Maaf…” Dokter pria itu menundukkan kepalanya yang membuat Tio merasa semakin takut. “Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi…”
“Tidak…” Tio memegang kedua bahu dokter itu lalu mengguncangnya pelan. “Tidak.. itu tidak benar kan… Tiffanny baik-baik saja kan? Tiffanny sudah bangun dari komanya kan dokter” Ucap Tio dengan suara bergetar dan tak terasa air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah mengalir membasahi pipinya.
“Maaf.. tapi nona Tiffanny sudah pergi meninggalkan kita…” Ucap Dokter itu yang membuat Tio secara perlahan melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahu dokter pria itu.
“Itu tidak mungkin…” Tio menggelengkan kepalanya pelan dan mundur secara perlahan. Ia merasakan kini kedua kakinya melemas dan itu membuat ayahnya langsung merangkul pundak putranya untuk menguatkannya.
“Sabar nak…” Ucap ayah Tio.
“Itu tidak benar kan ayah? dia tidak pergi meninggalkanku kan?” Ucap Tio dengan lirih lalu kini pandangannya beralih kepada kedua orang tua Tiffanny yang sudah menangis sama seperti dirinya.
“Tante… itu tidak benar kan? dokter itu berbohong kan?” Tanya Tio yang membuat ibu Tiffanny semakin deras mengeluarkan air matanya.
“Tio…” Ibu Tio menghampiri anaknya itu.
“Aku harus menemuinya bu…” Ucap Tio lalu pria itu berlari masuk ke dalam ruangan Tiffanny dan pria itu semakin merasakan kakinya melemas dan tangannya bergetar saat melihat gadisnya itu masih menutup matanya dan alat-alat medis yang selama ini membantu gadisnya itu untuk bertahan sudah di lepas. Tio perlahan menghampiri Tiffanny dan pria itu dapat melihat wajah gadisnya yang sangat pucat itu saat ia sudah berada di samping tempat tidur Tiffanny.
“Sayang…” Tio menggenggam tangan Tiffanny yang terasa dingin lalu ia menatap wajah Tiffanny dengan sedikit kabur karena air mata yang masih mengalir keluar dari matanya. “Hey bangunlah dan katakan kalau mereka itu bohong…” Ucap Tio lirih.
“Tiffanny…” Tio mengguncang bahu Tiffanny karena gadis itu tak kunjung menjawab perkataannya. “Sayang.. bangunlah, buka matamu. Bukankah besok kita akan menikah? Buka matamu TIFFANNY” Teriak Tio sambil terus mengguncang bahu gadisnya itu. “Kalau kau marah denganku buka matamu dan segera tampar dan pukuli aku Fanny… Fanny cepat buka matamu jangan membuatku takut seperti ini” Ucap Tio dengan suara bergetar. Pria itu semakin deras mengeluarkan air matanya dan kini pria itu memeluk Tiffannya dan membenamkan wajahnya dilekukan leher Tiffanny.
“Tio…” Ibu Tio yang sudah berada diruangan itu memegang pundak anaknya, berusaha untuk menguatkan anaknya itu.
“Ikhlaskan dia.. nak” Ucap ayah Tiffanny lirih sambil menepuk pundak Tio pelan yang membuat Tio mendongakan kepalanya dan kini menatap calon ayah mertuanya itu dengan sedih. Lalu pria paruh baya itu memegang tangan dingin putrinya dan mengecup kening Tiffanny cukup lama. “Semoga kamu tenang dan bahagia disana sayang…” Ucap ayah Tiffanny lirih dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
“Ibu mencintai kamu sayang… semoga kamu bahagia disana” Ucap ibu Tiffanny lalu mencium pipi mulus dan dingin putrinya itu.
Pria itu, Tio kembali memandang intens gadis yang terbaring dihadapannya itu. Diusapnya rambut Tiffanny lalu mencium kening gadis itu cukup lama, lalu ciumannya itu beralih ke kedua mata Tiffanny yang tertutup rapat.
“Aku bahkan belum mengunjungimu hari ini tapi kenapa kamu justru pergi meninggalkan aku Tiffanny? bukankah kamu yang berjanji untuk selalu berada di sisiku? tapi kenapa secepat ini? bahkan kita belum mencoba baju pengantin kita? bahkan kita belum mencoba cincin pernikahan kita sayang…” Ucap Tio lirih dan setelah itu ciumannya beralih ke pipi gadisnya itu.
“Aku mencintaimu… terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku selama ini dan terima kasih sudah mau menjadi bagian yang teramat penting dalam hidupku. Aku mencintaimu sayang dan semoga kamu bahagia disana… dan semoga suatu saat nanti kita dapat dipersatukan kembali” Ucap Tio lirih lalu mengecup sudut bibir Tiffanny dan seiringan dengan itu air matanya kini menetes kembali.
- END -