Minggu, 24 Januari 2016

Deep In My Heart Part 5 You and Him


Part 5 You and Him
 
Di upuk timur sang surya menampakkan kehebatannya dan mulai menyinari bumi ini, sang jago tak mau kalah,dengan segenap hati ia berkokok dan melantunkan lagu khasnya, embun embun di dedaunan yang terlihat berkilau membuat pagi ini semakin indah, namun ada satu hal yang disayangkan oleh kami para pelajar, yaitu kami tak bisa berlama lama menikmati pagi yang indah ini karena para kumpulan angka dan teori teori baru telah menunggu kami di sekolah, dan seperti biasanya pagi ini berlalu begitu saja.

Waktu yang tak terasa telah berlalu menyadarkan lamunanku, hari ini setelah selesai kegiatan belajar mengajar sebenarnya masih ada lagi kegiatan organisasi di sekolah, entah kenapa aku sangat tak sabar, mungkin karena aku ingin bertemu seseorang, 

Perlahan setelah bel pulang berbunyi aku keluar dari kelas tanpa membawa tas kesayanganku, karna aku masih belum mau bergegas pulang, namun setelah beberapa langkah aku keluar dari kelas fatma memanggilku dari UKS, dan aku pun menghampirinya. sebenarnya hari ini adalah hari yang luar biasa bagiku, setelah semua yang kujalani, hari ini aku genap berusia 17 tahun akan tetapi sepertinya tak ada yang spesial di hari ini, bahkan tak ada yang mengingat hari ini, sampai akhirnya aku menghampiri fatma di UKS dan tak ada satupun yang perduli.

Entah kenapa UKS sepi sekali hari ini, aku pikir ada perkumpulan tapi ternyata malah sebaliknya, mungkin mereka tak jadi berkumpul pikirku, di UKS aku dan fatma berbincang cukup lama, tapi tak sepatah katapun yang aku harapkan keluar dari mulutnya, padahal aku sudah berencana bila ia mengucapkan ucapan selamat padaku aku akan menyatakan perasaanku padanya tapi sampai saat saat terakhir ucapan yang aku harapkan tak kunjung datang juga, mungkin dia tak mengingatnya,apakah aku yang harus mengungkapkan semuanya duluan atau aku harus menuggu lebih lama lagi,  hanya pertanyaan itu yang melintas di benak ku saat ini, sesungguhnya dari jauh jauh hari selalu terbesit di pikiranku untuk meminta fatma menjadi pacarku, namun aku selalu mengurungkan niat ku itu, mungkin karna aku belum siap bila jawaban dari fatma kelak tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku memutuskan untuk pergi, tapi seketika sebelum aku pergi entah kenapa mata ini sulit untuk berpaling, pikiranku begitu tak menentu, semua yang terlintas tidak begitu aku mengerti, setelah sejauh ini apa bisa aku lewatkan kesempatan ini begitu saja, setelah menunggu begitu lama aku harus pergi  begitu saja. Akhirnya ku bulatkan tekad dan aku mencoba tuk mengungkapkan semuanya,