Kamis, 27 Maret 2014

Kesetiaan Berujung Kehancuran

Pada hakikatnya, semua manusia itu butuh cinta. Dari yang muda, sampai ke yang tua. Dari anak kecil sampai dewasa. Semua itu datangnya dari hati. Perasaan sayang yang tulus akan menghasilkan cinta yang tulus pula. Begitupun Aku, Aku menyayanginya lebih dari Aku menyayangi nyawaku sediri. Aku cinta sama dia, sampai tak dapat diungkapkan. Sudah sekian lama hari-hariku Aku lewati dengannya. Rasanya hariku sempurna jika ada dia.



“Sayang, jujur aku sayang banget sama kamu” kata Boy merayuku.
“Seberapa sayang kamu sama aku Boy?” kataku kepadanya.
“Aku sayang sama kamu nggak bisa aku ukur Yas, jujur aku nggak bisa hidup tanpa kamu Yas” kata Boy sambil memegang tanganku dengan penuh keyakinan.
“Bo’ong”
“Enggak, suer deh” katanya sambil memandangiku. Aku pun tersipu malu dengan tingkahnya. Aku yakin Boy adalah cowok yang setia, jujur lagi.
Di taman inilah Aku dan Boy selalu bertemu. Melihat sunset berdua dengannya seru juga. Jujur, Aku nggak pernah diajak cowok melihat suset seperti yang dilakukan Boy terhadapku. Pastinya aku senang.
“Yas, ntar malem kan malem minggu, mau nggak keluar bareng aku? Aku jemput deh” kata Boy.
“Emm, lihat ntar ya Boy. Kalau aku boleh keluar, aku sms kamu” kataku.
Ya, aku adalah anak perempuan pertama dari 2 bersaudara. Dan aku bukan orang yang suka main pada malam hari. Aku anak rumahan yang nggak tahu sama sekali dunia malam. Boy tahu itu. Haduhh, Aku pacaran sama Boy aja orangtuaku nggak tahu. Selalu aja bohongin orangtua dulu kalau mau jalan sama Boy.
“Oke deh, siap tuan putri” kata Boy memuji.
Saat malam minggu itu, jujur Aku nggak boleh keluar sama ayahku. Sebagai anak Aku nurut saja lah. Aku coba sms Boy, karena Aku nggak bisa malam mingguan dengannya.
From: Tyas
To: Boy
Sayang aku minta maaf karena aku nggak bisa malam mingguan ma kamu aku nggak boleh keluar.
Tak lama kemudian, TTUUUKKK! Suara hpku berbunyi. Aku buka hp, ternyata Boy membalas pesanku.
From: Boy
To: Tyas
Iya sayang aku ngerti kok nggak papa?
Katanya terlalu manis untuk berbohong, karena Aku tahu bahwa sangat kecewanya dia denganku. Tapi gimana lagi, Aku juga nggak bisa melanggar omongan orangtua.
Di pagi harinya, seperti remaja lainnya. Aku melakukan rutinitasku yaitu sekolah. Setelah Aku bersiap-siap ke sekolah. Aku siapkan motorku dan BLLLAASSS! Aku sudah berjalan menuju sekolah. Setelah sampai, Aku bertemu teman-temanku.
“Hey Yas, ntar malem main yuk. Kumpul-kumpul gitu” kata Anita temen satu kelasku.
“Emm, oke deh”
Saat itu aku tak bisa menolak. Karena sudah sering Aku menolak ajakan teman-temanku ini. Tak enak hati juga setiap kali diajak menolak terus. Setelah sepulang sekolah Aku berusaha membujuk ibuku untuk mengijinkanku pergi dengan teman-temanku. Tak kusangka aku mendapat ijin itu.
From: Tyas
To: Anita
Aku otw Nit, kamu sama temen-temen tungguin aku yah?
Kataku sms Anita. tetapi tak disangka Boy sms aku juga tapi aku hiraukan. Aku malah asyik nongkrong dengan temanku.
“Udah lama ya nggak kumpul gini” kata Bella
“Iya kangen saat-saat ini tau” kata Naya
“Iya deh maaf, aku yang selalu ngegagalin kita kumpul” kataku menyesal
“Udah bahas yang lain, gak papa kok Yas” kata Anita
Setelah sepulang berkumpul, Aku baru sempar balas sms dari Boy.
From: Tyas
To: Boy
Sayang maaf aku bru bls, soalnya tadi baru main ma temen-temen. Jangan marah ya?
Sekali dua kali Aku seperti itu, lama-lama Aku pun mendapat sindiran dari Boy.
“Sayang kamu itu ya, kalau aku aja main selalu nggak bisa. Tapi kalau diajak temen aja langsung iya”
“Maaf yang, oke deh besok aku main sama kamu” kataku sambil meredakan emosinya.
Aku tahu Aku salah dengan Boy. Maka dengan cara inilah Aku menebus kesalahanku itu.
Malam minggu itu, adalah malam dimana Aku jadian sama Boy. Sudah 1 tahun aku dengannya. Teman-teman Boy pun juga sudah kenal denganku. Tapi sungguh heran, sudah berkali-kali Aku nggak malam mingguan lagi dengan Boy. Tapi Boy nggak protes denganku. Saat Aku merendahkan diri dengan bilang bahwa Aku adalah cewek yang nggak baik buat dia dengan nggak bisa malam mingguan dengannya dia nggak protes. Malah dia hanya bilang “nggak papa sayang, malem minggu besok kan juga ketemu”.
Walaupun rumah kita agak deket, tapi kita jarang sekali ketemu. Saat itu kita masih sibuk dengan ujian kita masing-masing. Tentunya kita nggak bisa malam mingguan. Hatiku gundah melihat perbedaan sikap Boy terhadapku. Akhir-akhir ini dia berubah, sering marah-marah, sering nggambek, dan nggak perhatian lagi denganku. Tapi aku berusaha positive thinking dengannya. Aku berusaha setia dengannya. Tapi kesetiaanku itu tak berujung baik. Malah berujung kehancuran.
Bayu teman terdekat Boy, yang selalu tahu dimana Boy berada. Dia bilang kepadaku bahwa Boy punya selingkuhan. Tak kuduga Boy tega melakukan itu denganku. Tapi aku tak begitu menanggapinya. Setelah sekian lama aku mencari bukti, ternyata benar. Ada sms dari wanita lain. Tapi Boy tak begitu menghiraukan. Sampai aku meminta tolong kepada Bayu untuk bercerita denganku.
“Kamu tahu darimana Yu, Boy di belakangku seperti itu?” kataku mendesak Bayu untuk bercerita.
“Aku melihat sendiri Yas, bukannya aku mau menghancurkan hubunganmu dengan Boy. Aku begini karena kamu sudah aku anggap seperti teman sendiri”
“Teganya dia denganku Yu”
“Sabar Yas, semua ini ada hikmahnya”
Ternyata firasatku selama ini benar, Boy telah membohongiku. Mungkin ini semua salahku. Karena Aku tak terlalu memperhatikannya. Tapi apa harus dia menyakitiku seperti ini?
Teganya Boy denganku, padahal selama ini Aku telah setia dengannya. Sekian lama Aku pacaran dengannya. Susah senang denganya. Tapi dia tega meninggalkanku demi cewek lain yang bisa menemaninya malam mingguan.
Dan saat itu Aku terlalu patah hati, terlalu sakit untuk menerima cinta yang baru. Karena luka lamaku masih membekas. Sekarang hanya kesepian dan kesedihan yang menemaniku.
Cerpen Karangan: Gisca Ulfa Afiatika
Facebook: Giezcha Ulfvha

Rabu, 19 Maret 2014

Move On


Kau acuhkan ku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku, lumpuhkan lah ingatanku hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentangnya, hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia, ku ingin ku lupakannya
Terdengar suara dari dalam kamar seorang gadis, gadis itu menyetel salah satu lagu dari band geisha sambil duduk di tepi jendela di kamarnya gadis itu menangis mengenang masa lalunya. Pikirannya menerawang kebeberapa minggu yang lalu saat orang yang dia sayang menyakitinya.
Alex: “maaf aku sudah punya pacar lagi, aku sayang sama dia” .
Lisa: (seerr darah lisa seketika sudah berada di otak dan hatinya sesak menahan tangis) “jadi?”
Alex: “aku lebih memilih dia ketimbang kamu, perasaan aku sama kamu seperti sama teman-teman ku yang lain, hanya sekedar itu”.
Lisa: (dengan tenang dan menahan tangis) “ya sudahlah, aku juga nggak bisa maksa kamu untuk bertahan disini sama aku, semoga kamu bahagia sama pilihan kamu”


“lisa” panggil seseorang membuyarkan lamunan gadis manis itu
“uci? Kok kamu disini?” Tanya lisa pada sahabatnya
“jadi aku nggak boleh main ke tempat sahabat aku nih?” ucapnya
“maaf” ucapku lemah
“kamu masih mikirin dia?” Tanya uci yang sudah sangat dalam mengenal tentang ku bahkan masalah-masalahku
“aku nggak bakalan pernah bisa lupain dia ci” kata ku sambil menatap keluar jendela dan seketika air mata mengalir di pipi ku
“dia udah ngehianati kamu, sadar nggak sih? Kamu mesti move on lis,” ucapnya lagi
“nggak segampang yang kamu bilang ci” kataku sambil bangkit menghampiri meja rias sambil menatap cermin di depanku
“aku kangen kamu yang ceria seperti dulu lis” kata uci menghampiriku
“aku nggak bisa seperti dulu ci, hatiku sudah sangat hancur”
“kamu masih punya aku, Bahkan teman-teman dan keluarga kamu”
“ya aku tau”
“terus kamu mau apa? tetap diam disini dan menikmati semuanya? kamu kira kamu bias begini terus lis?”
“nggak”
“ya kalau nggak kamu move on dong”
“aku coba”
uci tersenyum mendengar ucapanku
Keesokan paginya
Suara merdu putaran jam berdetik keras di kamarku. Lembaran-lembaran foto dan kertas berisikan nama nya itu pun masih berserak di tempat tidurku. Tanpa aku sadari hujan beberapa minggu yang lalu masih meninggalkan baunya disini. Air mata yang mengalir dan belum bisa berhenti. Aku yang masih bergelut dengan bantal dan guling tak mampu membangkitkan diri seolah-olah badanku telah remuk. Masih jelas teringat kata-kata itu “aku mengenalnya baru seminggu yang lalu” kata-kata yang selalu ada dalam benakku, bisa-bisanya alex meninggalkan ku demi cewek yang baru ia kenal satu minggu. Kalimat singkat tapi sangat menyakitkan yang mengantar ku dengan setia ke jurang kegalauaan.
“ah terlalu bodoh aku kalau meratapi hal seperti ini, tuhan itu baik banget, dia tidak ingin ak terusan tersiksa maka dari itu dia secepatnya memisahkan ku dengan pria berwajah malaikat berhati iblis itu” kataku pada diri sendiri. Saat ini aku bertekad untuk enam huruf yang pasti bisa aku lakukan “MOVE ON”, ya, aku harus move on.
Siang itu ku lirik jam yang jarumnya menunjukan pukul 02:15 siang, aku masih terpaku di layar monitor laptop ku menjelajahi facebookku. Tiba-tiba handphone ku berdering suara sms masuk.
Massege dari: 081365XXXXX
“kamu hebat lis, bisa tegar sementara alex sudah membuatmu sangat sakit, kalau saja aku jadi alex nggak kan pernah aku tinggalkan perempuan sebaik kamu lis”
Nggak tau harus jawab apa, ada rasa heran dan senang dalam hati karena masih ada yang berpikiran untuk tidak meninggalkan aku, tapi aku nggak tau siapa yang mengirim pesan singkat itu.
Singkat cerita ternyata dia dony cowok yang uci coba comblangin saka aku. Uci sudah cerita semua sama dony tentang apa yang aku alami. Berulang kali aku bilang nggak mau pacaran maka semakin kuat juga tekad uci buat aku bisa move on dari cerita menyakitkan oleh orang yang namanya nggak boleh disebut. Tapi semua semangat uci untuk membuatku bangkit membuatku mengambil keputusan untuk maju dan menghapus bersih semua ingatan tentang penghianatan itu.
Malam ini di sebuah cafe kecil langgananku aku duduk bersama dony, cowok yang dikenalkan oleh uci. Sejak ceramah panjang lebar dari uci aku akhirnya menerima masukannya untuk bertemu dony. Aku benar-benar nggak sampai hati menolakan tawaran sahabat ku satu itu, dia memang benar-benar serius mencarikan aku pacar baru supaya bisa segera move on dari si berengs*k itu. Tapi pada akhirnya sama dengan cowok-cowok sebelumnya yang uci kenalkan ke aku, semua hilang bak ditelan bumi dengan satu-satunya alasan “aku cuek”.
Sebenarnya tanpa cowok yang dikenalkannya pun aku bisa move on, ceramah sahabatku pada hari itu benar-benar membuat aku move on dengan cepatnya walaupun tanpa pengganti si cowok berengs*k itu.
Sepotong kalimat itu “mungkin saat ini kamu mengira hal yang paling menyedihkan dalam hidup kamu adalah perpisahan dikarnakan penghianatan dari orang yang kamu jaga selama ini? Ingat lis daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin, rencana tuhan jauh lebih indah untuk mu teman, come on kehidupan yang lebih baik menunggumu di depan sana”
Terima kasih sahabat terbaikku atas sepotong kalimat untuk membuatku move on
Cerpen Karangan: Siska Pratiwi
Facebook: Siskatiwi[-at-]facebook.com