Pada hakikatnya, semua manusia itu butuh cinta. Dari yang
muda, sampai ke yang tua. Dari anak kecil sampai dewasa. Semua itu
datangnya dari hati. Perasaan sayang yang tulus akan menghasilkan cinta
yang tulus pula. Begitupun Aku, Aku menyayanginya lebih dari Aku
menyayangi nyawaku sediri. Aku cinta sama dia, sampai tak dapat
diungkapkan. Sudah sekian lama hari-hariku Aku lewati dengannya. Rasanya
hariku sempurna jika ada dia.
“Sayang, jujur aku sayang banget sama kamu” kata Boy merayuku.
“Seberapa sayang kamu sama aku Boy?” kataku kepadanya.
“Aku sayang sama kamu nggak bisa aku ukur Yas, jujur aku nggak bisa hidup tanpa kamu Yas” kata Boy sambil memegang tanganku dengan penuh keyakinan.
“Bo’ong”
“Enggak, suer deh” katanya sambil memandangiku. Aku pun tersipu malu dengan tingkahnya. Aku yakin Boy adalah cowok yang setia, jujur lagi.
Di taman inilah Aku dan Boy selalu bertemu. Melihat sunset berdua dengannya seru juga. Jujur, Aku nggak pernah diajak cowok melihat suset seperti yang dilakukan Boy terhadapku. Pastinya aku senang.
“Yas, ntar malem kan malem minggu, mau nggak keluar bareng aku? Aku jemput deh” kata Boy.
“Emm, lihat ntar ya Boy. Kalau aku boleh keluar, aku sms kamu” kataku.
Ya, aku adalah anak perempuan pertama dari 2 bersaudara. Dan aku bukan orang yang suka main pada malam hari. Aku anak rumahan yang nggak tahu sama sekali dunia malam. Boy tahu itu. Haduhh, Aku pacaran sama Boy aja orangtuaku nggak tahu. Selalu aja bohongin orangtua dulu kalau mau jalan sama Boy.
“Oke deh, siap tuan putri” kata Boy memuji.
Saat malam minggu itu, jujur Aku nggak boleh keluar sama ayahku. Sebagai anak Aku nurut saja lah. Aku coba sms Boy, karena Aku nggak bisa malam mingguan dengannya.
From: Tyas
To: Boy
Sayang aku minta maaf karena aku nggak bisa malam mingguan ma kamu aku nggak boleh keluar.
Tak lama kemudian, TTUUUKKK! Suara hpku berbunyi. Aku buka hp, ternyata Boy membalas pesanku.
From: Boy
To: Tyas
Iya sayang aku ngerti kok nggak papa?
Katanya terlalu manis untuk berbohong, karena Aku tahu bahwa sangat kecewanya dia denganku. Tapi gimana lagi, Aku juga nggak bisa melanggar omongan orangtua.
Di pagi harinya, seperti remaja lainnya. Aku melakukan rutinitasku yaitu sekolah. Setelah Aku bersiap-siap ke sekolah. Aku siapkan motorku dan BLLLAASSS! Aku sudah berjalan menuju sekolah. Setelah sampai, Aku bertemu teman-temanku.
“Hey Yas, ntar malem main yuk. Kumpul-kumpul gitu” kata Anita temen satu kelasku.
“Emm, oke deh”
Saat itu aku tak bisa menolak. Karena sudah sering Aku menolak ajakan teman-temanku ini. Tak enak hati juga setiap kali diajak menolak terus. Setelah sepulang sekolah Aku berusaha membujuk ibuku untuk mengijinkanku pergi dengan teman-temanku. Tak kusangka aku mendapat ijin itu.
From: Tyas
To: Anita
Aku otw Nit, kamu sama temen-temen tungguin aku yah?
Kataku sms Anita. tetapi tak disangka Boy sms aku juga tapi aku hiraukan. Aku malah asyik nongkrong dengan temanku.
“Udah lama ya nggak kumpul gini” kata Bella
“Iya kangen saat-saat ini tau” kata Naya
“Iya deh maaf, aku yang selalu ngegagalin kita kumpul” kataku menyesal
“Udah bahas yang lain, gak papa kok Yas” kata Anita
Setelah sepulang berkumpul, Aku baru sempar balas sms dari Boy.
From: Tyas
To: Boy
Sayang maaf aku bru bls, soalnya tadi baru main ma temen-temen. Jangan marah ya?
Sekali dua kali Aku seperti itu, lama-lama Aku pun mendapat sindiran dari Boy.
“Sayang kamu itu ya, kalau aku aja main selalu nggak bisa. Tapi kalau diajak temen aja langsung iya”
“Maaf yang, oke deh besok aku main sama kamu” kataku sambil meredakan emosinya.
Aku tahu Aku salah dengan Boy. Maka dengan cara inilah Aku menebus kesalahanku itu.
Malam minggu itu, adalah malam dimana Aku jadian sama Boy. Sudah 1 tahun aku dengannya. Teman-teman Boy pun juga sudah kenal denganku. Tapi sungguh heran, sudah berkali-kali Aku nggak malam mingguan lagi dengan Boy. Tapi Boy nggak protes denganku. Saat Aku merendahkan diri dengan bilang bahwa Aku adalah cewek yang nggak baik buat dia dengan nggak bisa malam mingguan dengannya dia nggak protes. Malah dia hanya bilang “nggak papa sayang, malem minggu besok kan juga ketemu”.
Walaupun rumah kita agak deket, tapi kita jarang sekali ketemu. Saat itu kita masih sibuk dengan ujian kita masing-masing. Tentunya kita nggak bisa malam mingguan. Hatiku gundah melihat perbedaan sikap Boy terhadapku. Akhir-akhir ini dia berubah, sering marah-marah, sering nggambek, dan nggak perhatian lagi denganku. Tapi aku berusaha positive thinking dengannya. Aku berusaha setia dengannya. Tapi kesetiaanku itu tak berujung baik. Malah berujung kehancuran.
Bayu teman terdekat Boy, yang selalu tahu dimana Boy berada. Dia bilang kepadaku bahwa Boy punya selingkuhan. Tak kuduga Boy tega melakukan itu denganku. Tapi aku tak begitu menanggapinya. Setelah sekian lama aku mencari bukti, ternyata benar. Ada sms dari wanita lain. Tapi Boy tak begitu menghiraukan. Sampai aku meminta tolong kepada Bayu untuk bercerita denganku.
“Kamu tahu darimana Yu, Boy di belakangku seperti itu?” kataku mendesak Bayu untuk bercerita.
“Aku melihat sendiri Yas, bukannya aku mau menghancurkan hubunganmu dengan Boy. Aku begini karena kamu sudah aku anggap seperti teman sendiri”
“Teganya dia denganku Yu”
“Sabar Yas, semua ini ada hikmahnya”
Ternyata firasatku selama ini benar, Boy telah membohongiku. Mungkin ini semua salahku. Karena Aku tak terlalu memperhatikannya. Tapi apa harus dia menyakitiku seperti ini?
Teganya Boy denganku, padahal selama ini Aku telah setia dengannya. Sekian lama Aku pacaran dengannya. Susah senang denganya. Tapi dia tega meninggalkanku demi cewek lain yang bisa menemaninya malam mingguan.
Dan saat itu Aku terlalu patah hati, terlalu sakit untuk menerima cinta yang baru. Karena luka lamaku masih membekas. Sekarang hanya kesepian dan kesedihan yang menemaniku.
Cerpen Karangan: Gisca Ulfa Afiatika
Facebook: Giezcha Ulfvha
“Seberapa sayang kamu sama aku Boy?” kataku kepadanya.
“Aku sayang sama kamu nggak bisa aku ukur Yas, jujur aku nggak bisa hidup tanpa kamu Yas” kata Boy sambil memegang tanganku dengan penuh keyakinan.
“Bo’ong”
“Enggak, suer deh” katanya sambil memandangiku. Aku pun tersipu malu dengan tingkahnya. Aku yakin Boy adalah cowok yang setia, jujur lagi.
Di taman inilah Aku dan Boy selalu bertemu. Melihat sunset berdua dengannya seru juga. Jujur, Aku nggak pernah diajak cowok melihat suset seperti yang dilakukan Boy terhadapku. Pastinya aku senang.
“Yas, ntar malem kan malem minggu, mau nggak keluar bareng aku? Aku jemput deh” kata Boy.
“Emm, lihat ntar ya Boy. Kalau aku boleh keluar, aku sms kamu” kataku.
Ya, aku adalah anak perempuan pertama dari 2 bersaudara. Dan aku bukan orang yang suka main pada malam hari. Aku anak rumahan yang nggak tahu sama sekali dunia malam. Boy tahu itu. Haduhh, Aku pacaran sama Boy aja orangtuaku nggak tahu. Selalu aja bohongin orangtua dulu kalau mau jalan sama Boy.
“Oke deh, siap tuan putri” kata Boy memuji.
Saat malam minggu itu, jujur Aku nggak boleh keluar sama ayahku. Sebagai anak Aku nurut saja lah. Aku coba sms Boy, karena Aku nggak bisa malam mingguan dengannya.
From: Tyas
To: Boy
Sayang aku minta maaf karena aku nggak bisa malam mingguan ma kamu aku nggak boleh keluar.
Tak lama kemudian, TTUUUKKK! Suara hpku berbunyi. Aku buka hp, ternyata Boy membalas pesanku.
From: Boy
To: Tyas
Iya sayang aku ngerti kok nggak papa?
Katanya terlalu manis untuk berbohong, karena Aku tahu bahwa sangat kecewanya dia denganku. Tapi gimana lagi, Aku juga nggak bisa melanggar omongan orangtua.
Di pagi harinya, seperti remaja lainnya. Aku melakukan rutinitasku yaitu sekolah. Setelah Aku bersiap-siap ke sekolah. Aku siapkan motorku dan BLLLAASSS! Aku sudah berjalan menuju sekolah. Setelah sampai, Aku bertemu teman-temanku.
“Hey Yas, ntar malem main yuk. Kumpul-kumpul gitu” kata Anita temen satu kelasku.
“Emm, oke deh”
Saat itu aku tak bisa menolak. Karena sudah sering Aku menolak ajakan teman-temanku ini. Tak enak hati juga setiap kali diajak menolak terus. Setelah sepulang sekolah Aku berusaha membujuk ibuku untuk mengijinkanku pergi dengan teman-temanku. Tak kusangka aku mendapat ijin itu.
From: Tyas
To: Anita
Aku otw Nit, kamu sama temen-temen tungguin aku yah?
Kataku sms Anita. tetapi tak disangka Boy sms aku juga tapi aku hiraukan. Aku malah asyik nongkrong dengan temanku.
“Udah lama ya nggak kumpul gini” kata Bella
“Iya kangen saat-saat ini tau” kata Naya
“Iya deh maaf, aku yang selalu ngegagalin kita kumpul” kataku menyesal
“Udah bahas yang lain, gak papa kok Yas” kata Anita
Setelah sepulang berkumpul, Aku baru sempar balas sms dari Boy.
From: Tyas
To: Boy
Sayang maaf aku bru bls, soalnya tadi baru main ma temen-temen. Jangan marah ya?
Sekali dua kali Aku seperti itu, lama-lama Aku pun mendapat sindiran dari Boy.
“Sayang kamu itu ya, kalau aku aja main selalu nggak bisa. Tapi kalau diajak temen aja langsung iya”
“Maaf yang, oke deh besok aku main sama kamu” kataku sambil meredakan emosinya.
Aku tahu Aku salah dengan Boy. Maka dengan cara inilah Aku menebus kesalahanku itu.
Malam minggu itu, adalah malam dimana Aku jadian sama Boy. Sudah 1 tahun aku dengannya. Teman-teman Boy pun juga sudah kenal denganku. Tapi sungguh heran, sudah berkali-kali Aku nggak malam mingguan lagi dengan Boy. Tapi Boy nggak protes denganku. Saat Aku merendahkan diri dengan bilang bahwa Aku adalah cewek yang nggak baik buat dia dengan nggak bisa malam mingguan dengannya dia nggak protes. Malah dia hanya bilang “nggak papa sayang, malem minggu besok kan juga ketemu”.
Walaupun rumah kita agak deket, tapi kita jarang sekali ketemu. Saat itu kita masih sibuk dengan ujian kita masing-masing. Tentunya kita nggak bisa malam mingguan. Hatiku gundah melihat perbedaan sikap Boy terhadapku. Akhir-akhir ini dia berubah, sering marah-marah, sering nggambek, dan nggak perhatian lagi denganku. Tapi aku berusaha positive thinking dengannya. Aku berusaha setia dengannya. Tapi kesetiaanku itu tak berujung baik. Malah berujung kehancuran.
Bayu teman terdekat Boy, yang selalu tahu dimana Boy berada. Dia bilang kepadaku bahwa Boy punya selingkuhan. Tak kuduga Boy tega melakukan itu denganku. Tapi aku tak begitu menanggapinya. Setelah sekian lama aku mencari bukti, ternyata benar. Ada sms dari wanita lain. Tapi Boy tak begitu menghiraukan. Sampai aku meminta tolong kepada Bayu untuk bercerita denganku.
“Kamu tahu darimana Yu, Boy di belakangku seperti itu?” kataku mendesak Bayu untuk bercerita.
“Aku melihat sendiri Yas, bukannya aku mau menghancurkan hubunganmu dengan Boy. Aku begini karena kamu sudah aku anggap seperti teman sendiri”
“Teganya dia denganku Yu”
“Sabar Yas, semua ini ada hikmahnya”
Ternyata firasatku selama ini benar, Boy telah membohongiku. Mungkin ini semua salahku. Karena Aku tak terlalu memperhatikannya. Tapi apa harus dia menyakitiku seperti ini?
Teganya Boy denganku, padahal selama ini Aku telah setia dengannya. Sekian lama Aku pacaran dengannya. Susah senang denganya. Tapi dia tega meninggalkanku demi cewek lain yang bisa menemaninya malam mingguan.
Dan saat itu Aku terlalu patah hati, terlalu sakit untuk menerima cinta yang baru. Karena luka lamaku masih membekas. Sekarang hanya kesepian dan kesedihan yang menemaniku.
Cerpen Karangan: Gisca Ulfa Afiatika
Facebook: Giezcha Ulfvha