Part 5 You and Him
Di upuk timur sang surya
menampakkan kehebatannya dan mulai menyinari bumi ini, sang jago tak mau kalah,dengan
segenap hati ia berkokok dan melantunkan lagu khasnya, embun embun di dedaunan
yang terlihat berkilau membuat pagi ini semakin indah, namun ada satu hal yang
disayangkan oleh kami para pelajar, yaitu kami tak bisa berlama lama menikmati
pagi yang indah ini karena para kumpulan angka dan teori teori baru telah
menunggu kami di sekolah, dan seperti biasanya pagi ini berlalu begitu saja.
Waktu yang tak terasa telah
berlalu menyadarkan lamunanku, hari ini setelah selesai kegiatan belajar
mengajar sebenarnya masih ada lagi kegiatan organisasi di sekolah, entah kenapa
aku sangat tak sabar, mungkin karena aku ingin bertemu seseorang,
Perlahan setelah bel pulang
berbunyi aku keluar dari kelas tanpa membawa tas kesayanganku, karna aku masih
belum mau bergegas pulang, namun setelah beberapa langkah aku keluar dari kelas
fatma memanggilku dari UKS, dan aku pun menghampirinya. sebenarnya hari ini
adalah hari yang luar biasa bagiku, setelah semua yang kujalani, hari ini aku
genap berusia 17 tahun akan tetapi sepertinya tak ada yang spesial di hari ini,
bahkan tak ada yang mengingat hari ini, sampai akhirnya aku menghampiri fatma
di UKS dan tak ada satupun yang perduli.
Entah kenapa UKS sepi sekali
hari ini, aku pikir ada perkumpulan tapi ternyata malah sebaliknya, mungkin
mereka tak jadi berkumpul pikirku, di UKS aku dan fatma berbincang cukup lama,
tapi tak sepatah katapun yang aku harapkan keluar dari mulutnya, padahal aku
sudah berencana bila ia mengucapkan ucapan selamat padaku aku akan menyatakan
perasaanku padanya tapi sampai saat saat terakhir ucapan yang aku harapkan tak
kunjung datang juga, mungkin dia tak mengingatnya,apakah aku yang harus
mengungkapkan semuanya duluan atau aku harus menuggu lebih lama lagi, hanya pertanyaan itu yang melintas di benak
ku saat ini, sesungguhnya dari jauh jauh hari selalu terbesit di pikiranku
untuk meminta fatma menjadi pacarku, namun aku selalu mengurungkan niat ku itu,
mungkin karna aku belum siap bila jawaban dari fatma kelak tak sesuai dengan
apa yang aku harapkan. Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku memutuskan
untuk pergi, tapi seketika sebelum aku pergi entah kenapa mata ini sulit untuk
berpaling, pikiranku begitu tak menentu, semua yang terlintas tidak begitu aku
mengerti, setelah sejauh ini apa bisa aku lewatkan kesempatan ini begitu saja, setelah
menunggu begitu lama aku harus pergi
begitu saja. Akhirnya ku bulatkan tekad dan aku mencoba tuk mengungkapkan
semuanya,