Minggu, 18 Agustus 2013

Peka

Kehidupanku sebagai seorang siswa pelajar sungguh membuatku pusing dan membosankan. Ingin sekali rasanya aku lulus dari tahap SMP dan meneruskan ke SMA. Jika aku lihat di sepanjang jalan banyak sekali anak SMA yang hidupnya tenang dan tidak memusingkan pelajaran. Mereka jalan-jalan bersama teman-temannya. Sedangkan aku, aku jika ingin pergi menggunakan motor, pasti Mama bilang “Kamu mau kemana?” “Dengan siapa?” “Berapa lama perginya” “Nanti pulang jangan sore-sore ya sayang?” “Jangan lupa pakai penutup hidung biar gak kena debu”. Aku masih di anggap seperti anak kecil oleh Mamah ku. Ia begitu sayang padaku sampai-sampai harus seketat itu peraturannya. Padahal aku sudah menginjak umur 15 tahun. Kalian bayangkan, 15 tahun masih di urus sama Mamah? Jika teman-teman ku tahu, pasti aku menjadi bahan ejekan mereka “Dasar anak mami” mungkin kata-kata itu yang keluar dari mulut mereka saat mengetahui yang sebenarnya.
Ya, Namaku Alvi Lafati Fazrina biasa di panggil Mpi. Umurku 15 tahun tapi masih di anggap seperti anak kecil oleh Mama. Aku lahir pada tanggal 27 Januari 1998. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di kota ku. Aku kelas 9 (3 SMP). Aku mempunyai satu orang adik yang bernama Sadam Bulan Lafati biasa di panggil Sadam. Sadam ini orangnya nakal sekali. Terkadang aku menjadi korban kejahilannya. Terkadang pula aku sangat jengkel dengan kekanak-kanakannya itu. Ingin sekali rasanya aku memasukan dia ke dalam karung lalu aku kurung di gudang agar aku hidup dengan tenang tanpa kejahilan dia.
Pagi ini matahari sudah membangunkan ku. Seperti biasa, Hari Senin adalah hari pertama dalam Sepekan. Rasanya baru kemarin aku liburan akhir pekan dengan keluarga ku tapi sekarang sudah berangkat ke sekolah lagi saja. Rasanya malas sekali untuk bangun, tapi dari ruang makan, Mamah sudah meneriakan namaku yang membuatku tak bisa berkutik apa-apa dan terpaksa untuk bangun dari tempat tidur. Aku mandi dan berpakaian rapi lalu menuju ruang makan dan menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh Mamah.
“Mpi, nanti kamu berangkat sekolah pakai motor kan?” Tanya Papa kepadaku
“Iya Pah. Kenapa? Aku pasti ingat pesan Mamah untuk memakai penutup hidung” Jawab ku dengan wajah yang menurut ku tidak enak.
“Bukan itu Mpi. Tapi nanti kamu berangkat bareng sama Sadam ya?” Tanya Papa
“Aku bareng sama dia? Ihh kenapa harus bareng sama dia?” Tanyaku dengan wajah cemberut dan sambil menunjuk wajah adikku
“Sudah tidak usah banyak bicara. Kerjakan saja” Kata Papa sambil meminum kopinya. Yang tambah jengkelnya itu raut wajah Sadam ingin sekali aku lempar dengan selai yang ada di meja makan.
Makan sudah selesai dan Aku pun pamit kepada orang tua ku. Di perjalanan, Sadam tidak berhenti mengoceh dan mengoceh. Suaranya itu sangat membuatku pusing dan membuatku ingin sekali melemparnya ke jalanan dan hilang di ambil orang. Saking kerasnya suara dia, entah apa yang ada di pikiranku.. BRAAKKK!!.. Aku menabrak seorang lelaki yang menggunakan seragam SMA lengkap yang ingin menyebrang. Aku segera turun dari motor dan menghampiri Kakak itu karena dari raut wajahnya itu sangat menyakitkan.
“Aduhh kakak aku minta maaf ya. Tadi aku tidak melihat jalan. Maaf ya kak. Kakak tidak apa-apa kan?” Tanya ku khawatir akan keadaan ku. Tapi saat aku tanya seperti itu, sang Kakak hanya diam sambil memperhatikan wajahku.
“Kakak?” Kataku sambil melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
“Eh iya dik. Kakak tidak apa-apa. Adik tidak salah. Tapi Kakak yang salah menyebrang tidak melihat-lihat. Ini hanya luka ringan saja” Kata Kakak itu sambil memegang kakinya yang berdarah karena tertabrak oleh ku.
“Sekali lagi maaf ya kak. Mari aku bantu Kakak berdiri” Kata ku sambil merangkul bahunya. Sadam yang masih anteng di atas motor langsung mengeluarkan jurus jahilnya dan itu membuatku malu bukan kepalang.
“Ciyeee Kak Alvi” Teriak Sadam dengan suara yang cukup lantang
“Heh?! Awas kamu ya. Di rumah habis kamu” Kata ku sambil melotot ke arahnya.
“Jadi nama kamu Alvi. Kenalkan nama Kakak Rio. Namakamu cantik sama seperti orangnya.” Kata Kakak itu yang telah aku ketahui namanya adalah Rio.
“Kakak bisa saja. Bagaimana kaki Kakak? Masih sakit tidak?” Kata ku
“Sudah tidak. Ya sudah kamu berangkat sekolah sana. Nanti kamu telat lagi” Kata Kak Rio sambil tersenyum padaku.
“Tau nih lama amat pacarannya sih Kak” Protes Sadam dengan menyebutkan bahwa aku pacaran. Dasar mulut jahil
“Sadam apaan sih kamu?” Kataku sambil menatapnya dengan wajah yang sinis. Tapi Kak Rio hanya tersenyum mendengar perkataan Sadam.
“Ya sudah kak. Aku berangkat sekolah dulu ya. Kakak hati-hati di jalan dan maaf ya kak” Kataku lalu pergi meninggalkan Kak Rio
Di perjalanan pikiranku terus ke arah Kak Rio. Padahal ia baru saja aku kenal. Kak Rio tampan juga baik. Aku nyaman di dekat dia. Mudah-mudahan saja aku bertemu lagi dengannya. Tadi juga aku lupa meminta nomor ponselnya. Tapi jika aku meminta duluan, mau di taruh di mana wajah ku. Masa perempuan duluan yang meminta nomor ponsel? Seharusnya laki-laki duluan yang meminta nomor ponsel. Tapi ya sudahlah Kenapa jadi membicarakan Kak Rio? Hahah.. :D
Karena sekolahku dengan sekolahnya Sadam tidak terlalu jauh, setelah aku mengantarkan Sadam, aku pun segera berangkat ke sekolahku. Setelah sampai aku segera memakirkan motorku di parkiran sekolah dan masuk ke dalam kelas karena 5 menit lagi sekolah akan membunyikan bel masuk. Setengah hari yang cukup membosankan untukku. setelah semua aku lalui di sekolah, akhirnya bel pulang di bunyikan juga. Aku segera mengambil motorku di parkiran. Tapi ketika aku akan menuju gerbang sekolah, aku melihat seorang lelaki mirip Kak Rio. Saat aku dekati ternyata memang Kak Rio.
“Kak Rio sedang apa disini? Adik Kakak sekolah di sini juga?” Tanya ku
“Tidak. Kakak mencari kamu Vi” Kata Kak Rio memegang pundak ku
“Aku? Untuk apa Kakak cari aku?” Tanya ku penasaran
“Kakak boleh minta alamat kamu?” Tanya Kak Rio
“Boleh Kak. Sebentar ya” Kata ku turun dari motor lalu membuka tas ku dan memberi secarik kertas yang berisi alamat rumahku.
“Nanti kapan-kapan Kakak boleh main ke rumah kamu?” Tanya Kak Rio untuk yang kesekian kalinya
“Boleh Kak. Pintu rumah aku selalu terbuka untuk Kakak” Kata ku sambil tersenyum
“Ya sudah terimakasih ya. Kalau begitu Kakak pulang duluan” Kata Kak Rio sambil pergi berlalu meninggalkan ku. Kira-kira untuk apa Kak Rio mau main ke rumah ku? Aku jadi bingung.
— ESOK SORE —
Aku sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan notebook agar menghilangkan rasa bosan yang sedari tadi sudah bersarang di pikiranku. Aku membuat jus jeruk untuk ku minum sendiri. Saat aku sedang asik bermain notebook, tiba-tiba bel rumah ku berbunyi tanda orang datang untuk bertamu. “Siapa yang datang sore-sore seperti ini?” Tanya ku dalam hati. Saat aku membuka pintu depan, ternyata yang datang adalah Kak Rio. Ia terlihat sangat tampan sekali menggunakan kaos tangan panjang berwarna merah campur hitam dengan di damping celana panjang warna hitam dan terlihat yang di pasang di kakinya adalah sepatu model terbaru yang baru saja keluar bulan lalu. Sungguh terlihat sangat keren Kak Rio sore ini.
“Silahkan masuk Kak. Kakak kenapa tidak mengabarkanaku dulu kalau Kakak mau kesini?” Tanya ku.
“Adik manis, jika Kakak punya nomor ponsel kamu, pasti sudah Kakak telepon” Kata Kak Rio mengelus rambut ku
“Heheh iya ya Kak. Adduuhh kenapa jadi pikun begini ya?” Kataku menggaruk kepala
Aku segera ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Kak Rio. Tapi tidak lama kemudian Mamah keluar dari kamar dan menanyakan padaku siapa ynag datang
“Itu siapa Mpi?” Tanya Mama
“Itu Kak Rio. Dia kakak kelas aku Mah. Ayo Mah biar aku kenalin ke Mamah” Kataku seenaknya dan menggandeng Mamah untuk aku kenalkan kepada Kak Rio.
“Kak Rio kenalin ini Mamah aku. Mamah kenalin ini Kak Rio” Kata ku memperkenalkan mereka.
“Assalamualaikum Tante. Nama saya Rio. Saya teman sekaligus Kakak kelasnya Alvi” Kata Kak Rio dengan nada sopan dan tersenyum
“Oh iya. Saya Mamahnya Alvi. Ya sudah Tante tinggal ke belakang ya Nak Rio” Kata Mamah
“Iya Tante silahkan” Kata Kak Rio mempersilahkan Mamauntuk meninggalkan kami.
Kamipun berbincang-bincang sambil bercanda. Kak Rio orang yang asik dan bisa jika aku curhat dengannya. Dia selalu memberiku nasihat dan saran untuk masalahku. Kak Rio meminta nomor telepon ku dan jika ia ingin ketemuan di luar, ia tinggal menelpon ku. Kak Rio adalah Kakak terbaik yang pernah aku temuin. Dia sopan, baik, pengertian dan benar-benar sempurna di mata aku. Aku merasa nyaman di dekat Kak Rio. Aku sayang sama Kak Rio. Tapi, aku tidak tahu ini rasa sayang sebagai apa? Sebagai Kakak atau lebih dari Kakak? Aku bingung. Tapi aku rasa ini lebih dari seorang Kakak dan aku jatuh cinta pada Kak Rio.
Hari semakin gelap dan Kak Rio pamit untuk pulang ke rumahnya. aku sedih sih karenaaku masih ingin bercanda dan berbincang-bincang lebih banyak dengan Kak Rio. Aku selalu memikirkan tentang perasaan ku kepada Kak Rio. Aku jatuh cinta padanya dan itu yang aku rasakan sekarang. Menurutku perasaan itu sangatlah aneh. Aku semakin pusing jika memikirkan hal itu. Aku berpikir apakah Kak Rio juga mencintaiku? Sejuta pertanyaan tentangnya terus membayang di pikiranku
Jarum jam menunjukkan ke angka 9 malam. Ini waktunya aku harus tidur dan bangun esok pagi dengan ceria. Tapi, saat aku memejamkan mata sebentar. Kak Rio tiba-tiba menelpon ku dan dengan terpaksa aku mengangkatnya dengan mata setengah mengantuk. “Adek bawel udah mau tidur ya?” “Iya sih kak. Tapi kk teleponya udah aku angkat aja” “oh maaf ganggu ya. Kamu tidur aja deh. Gak baik perawan tidurnya malam-malam” “ya udah deh kak. Besok lanjut lagi ya kak” “Iya adek bawel. Good night” “Good night too kk bawel”. Tuuuutt tuuuutt tuuuttt telepon mati dan aku langsung tidur dengan nyenyak.
Pagi sudah datang dan matahari seakan-akan tersenyum menyambut pagiku yang cerah. semua aku lakukan dengan ceria dan senyuman untuk keluarga. Aku bangun lalu mandi dan bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Setelah semua selesai, aku menuju ruang makan untuk sarapan. Tapi tiba-tiba aku melihat Kak Rio sedang mengobrol di ruang keluarga bersama Papa. Aku cukup kaget dengan kehadiran Kak Rio dan untuk apa Kak Rio datang ke sini pagi-pagi sekali?
“Hai Kak Rio. Kakak datang kesini untuk apa?” Tanyaku
“Kakak mau antar kamu ke Sekolah” Kata Kak Rio sambil tersenyum padaku. Senyuman yang indah
“Oh begitu. Baiklah aku sarapan dulu ya. Oh iya? Kakak sudah sarapan belum?” Tanya ku
“Sudah tadi di rumah” Kata Kak Rio
“Baiklah kalau begitu” Kata ku menuju ruang makan
Setelah aku selesai makan, Aku pun pamit pada Mama dan Papa untuk berangkat sekolah. Pagi ini aku di antar oleh orang yang aku cinta. bahagia banget aku hari ini. Andai Kak Rio tahu perasaan aku yang sebenarnya. Aku pasti lebih bahagia dari hari ini.
“Dek Alvi?” Ucap Kak Rio mengawali percakapan
“Iya Kak Rio?” Kata ku
“Kakak sayang banget sama kamu. Kakak gak mau kehilangan kamu. Kamu perhatian banget sama Kakak” Kata Kak Rio serius saat di tengah jalan
“Sayang sebagai apa Kak?” Kata ku dengan jantung dag dig dug
“Sebagai Adik Kakak. Kamu Adik Kakak satu-satunya Alvi” Kata Kak Rio lebih serius
“Oh sebagai adik ya Kak. Iya aku juga sayang banget sama Kakak. Kakak segalanya untuk aku” Kata ku. Jawaban Kak Rio membuat kuingin menangis. Kak Rio menyayangi ku sebagai Adiknya. Aku mengharapkan Kak Rio menjadi kekasih ku. Aku kira Kak Rio peka terhadap perasaan ku. Tapi ternyata tidak.
Setelah pulang sekolah, Kka Rio mengajak ku untuk pergi ke sebuah taman. Katanya ada yang ingin di bicarakan sama Kak Rio. ya sudah aku turuti saja kemauan dia. Kak Rio sudah menunggu di depan rumah dan aku segera pamit pada Mama untuk pergi bersama Kak Rio. Di perjalanan aku semakin penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh Kak Rio. Sesampainya di Taman..
“Dek, Kakak lagi suka sama cewek nih namanya dari A” Kata Kak Rio.
“Siapa tuh Kak?” Tanya ku penasaran
“Dia teman Kakak namanya Anggi. Kakak pengen nembak dia tapi Kakak bingung caranya gimana?” Kata Kak Rio
“Oh Kakak lagi suka sama cewek. Ya udah tembak aja Kak. Daripada nanti Kak Anggi nya di ambil orang hayo” Kata ku
“Iya ya. Ya udah deh Kakak tembak aja” Kata Kak Rio
Aku pikir huruf berinisial A itu adalah nama ku. Ternyata bukan…
— 3 BULAN —
Sudah Tiga Bulan aku memendam perasaan aku pada Kak Rio. tapi Kak Rio tetap tidak peka terhadap perasaan ku. Aku bingung bagaimana caranya agar Kak Rio mengetahui isi hati aku. Aku selalu memperhatikannya, selalu peduli padanya tapi sama saja. dia tidak merespon perasaanku. Tapi kini Kak Rio sudah mempunyai pacar dan aku lihat Kak Rio sangat menyayangi Pacarnya. Pacarnya cantik sekali. Aku berharap suatu saat Kak Rio sadar kalau aku mencintainya..
TAMAT..

Teman

Sudah hampir sebulan ini Dina memperhatikan Adi yang sangat ramah itu. Walaupun Adi adalah kakak kelas, perilakunya tak menyebalkan seperti kakak-kakak kelas yang lain. Saat ini Dina duduk di kelas 4 SD, sedangkan Adi sudah kelas 6. Mengapa tiba-tiba Dina memperhatikan Adi? Padahal, Dina paling tidak menyukai anak laki-laki sebab menurut Dina semua anak laki-laki kotor dan nakal. Tapi, si Adi ini sangat berbeda dari teman laki-laki Dina yang lain. Adi sangat ramah, sopan, dan bersih. Selain itu Adi sangat cakap dan pintar dalam pelajaran. Dina sangat menyukai Adi dan selama ini Dina mengharapkan Adi pun juga memperhatikan Dina. Tapi, Adi cuek sama Dina. Adi lebih suka berteman dengan Sandra, Mira atau Mia. Dina kecewa sekaligus sedih. Setiap pulang sekolah, Dina menyempatkan diri untuk melewati ruang kelas Adi, yaitu ruang kelas 6B. Walaupun Adi sempat melihat ke arah Dina, seketika itu juga Adi memalingkan wajah dan mengabaikan Dina. Selama sebulan inilah pikiran Dina tidak lagi tercurah pada boneka atau sepeda baru, tetapi Adi Putra pamungkas.
“Na, yuk kita bermain lompat tali!” ajak Sandra pada saat istirahat. Dina sedang asyik menatap Adi yang sedang bermain bola pun terkejut mendengar ajakan Sandra tersebut.
“Ah, nggak ah! Nana sedang malas bermain,” ucap Dina.
“Wah, tak seperti biasanya kamu seperti ini,” kata Sandra heran.
“Kepala Nana juga agak pusing nih!” ucap Dina sambil memegang dahinya. “Nana pergi ke kelas duluan ya!”
Dina pun langsung berjalan menuju kelas. Setiba di kelas Dina langsung mengintip melalui jendela kelas. Dari jendela itu, Dina dapat lebih mudah melihat Adi. Pada saat itu pula tiba-tiba tanpa sengaja Adi pun melihat Dina yang sedang mengintip. Bukan main terkejutnya Dina! Jantungnya dag dig dug tak beraturan. Hatinya bahagia tapi juga bercampur malu karena ketahuan sedang mengintip. Seketika itu juga Dina langsung menunduk dan meringkuk di sudut kelas. Wajahnya bersemu merah.
Ketika pulang sekolah, Dina menunggu Pak Sopir yang ternyata hari ini datang terlambat. Agar tidak bosan, Dina pun berjalan-jalan di taman sekolah. Ketika Dina sedang membetulkan tali sepatunya yang terlepas, tidak sengaja Dina melihat dari kejauhan Adi dan Mira sedang bercanda di warung Ibu Ning di seberang jalan. Hati Dina langsung kembali bersedih. Ternyata Adi lebih menyukai Mira yang cantik dan anggun itu.
Di kamarnya malam itu, Dina langsung menatap wajahnya di cermin. Rambutnya yang selalu berkucir dua itu mungkin tidak menarik bagi Adi. Ternyata Adi lebih menyukai Mira yang rambutnya panjang sepinggang. Dina bagi Adi seperti anak kecil dan lugu, Dina bukanlah seorang anak yang cantik dan menarik seperti Mira. Dina pun kemudian bersedih lagi dan mulai menangis di hadapan cermin. Mengapa Nana tidak dilahirkan secantik Mira? Pikir Dina sedih.
“Lo, kenapa Nana menangis?” tanya Dino yang kebetulan muncul di kamar Dina.
“Hmm … tidak apa-apa kok!” ucap Dina sambil cepat-cepat menghapus air matanya.
“Jangan pura-pura di hadapan kakakmu ini deh! Apalagi, kakakumu ini sering membuatmu menangis! Ha… ha…,” kata Dino sambil tertawa. Dina seketika langsung cemberut dan melempar Dino dengan bantal.
“Ayolah! Berceritalah!” goda Dino sambil duduk di sebelah adiknya itu. Perhatian dari Dino membuta Dina bercerita panjang lebar mengenai Adi.
“Wah! Adikku sedang jatuh cinta!” teriak Dino sambil mencubit pipi Dina. Dina pun langsung tersenyum malu-malu.
“Sudahlah, kalau Adi ternyata lebih menyukai Mira, jangan bersedih! Kan tidak harus berpacaran? Jadi teman biasa saja. Dino rasa Nana masih terlalu kecil untuk pacar-pacaran!” kata Dino sambil menahan tawa. “Lagi pula berteman itu lebih enak lo! Percaya deh!”
“Benar begitu?” tanya Dina. Dino mengangguk mantap.
“Tapi, Nana suka sama Adi! Dina ingin sekali bisa dekat dengan Adi,” kata Dina merajuk.
Dino pun mengangkat bahunya.
“Terserah Nana deh! Pokoknya Dino sudah kasih tahu,” kata Dino sambil ke luar kamar. “Tapi, saran Dino, lebih baik Nana tampil apa adanya. Kalau Nana sering berkuncir dua, tetaplah begitu sebab menurut Dino, Nana cantik dengan berkuncir dua.”
Dina pun tertawa bahagia sebab dipuji oleh Dino.
Esoknya, Dina pun tetap berkuncir dua ke sekolah. Padahal kemarin sebelum berbicara dengan Dino, Dina berencana akan melepas kuncirnya dan berpenampilan seperti Mira. Di sekolah, Adi tetap memperhatikan Dina dari kejauhan tanpa memiliki keberanian mendekati Dina. Adi lebih suka bermain dengan Mira, Sandra, dan Mia.
Pada suatu ketika Dina sedang berjalan sendirian ke kantin, tiba-tiba Adi sengaja menuburuknya. Mereka berdua langsung bertatapan malu-malu.
“Maaf,” kata Adi sambil tersenyum malu-malu. Dina hanya menelan ludah karena gugup. Bayangkan, Adi sang idola berdiri di hadapannya dengan senyuman yang membuat Dina ingin menjerit karena senang dan kagum.
Sejak itu, Dina hampir tak ingin mandi karena takut sentuhan Adi tadi siang, akan luntur. Ayah dan Ibu sampai marah karena Dina tidak mandi seharian.
Esok harinya lagi ketika Dina sedang menunggu Pak Sopir di bangku taman, tiba-tiba Adi mendekatinya. Bukan main senangnya hati Dina. Keinginannya selama ini tercapai. Jantungnya berdebar-debar saat itu juga. Apalagi si Adi mengajaknya berbicara.
“Halo! Namamu Dina, kan?” tanya Adi sambil tersenyum. Dina mengangguk ragu-ragu. Dina hampir tidak percaya saat ini.
“Boleh Adi berkenalan denganmu, Dina?” tanya Adi sambil mengulurkan tangannya. Dina tidak berani menyambut tangan Adi sebab tangannya sudah dari tadi panas-dingin. Tapi akhirnya, Dina memaksakan juga tangannya meraih tangan Adi. Ketika berjabat tangan, hati Dina bergetar.
“Mengapa sih kamu sombong sekali, tidak seperti yang lain?” tanya Adi. “Padahal, Adi suka berteman dengan Dina.” Dina terbengong-bengong sebab selama ini Dina menganggap Adi yang terlalu sombong terhadap Dina. Tapi ternyata Adi berpikiran bahwa Dinalah yang sombong terhadapnya.
“Wah, malah Dina rasa Adi yang tidak suka sama Dina,” kata Dina sambil tertawa, sedikit demi sedikit Dina sudah tidak deg-degan lagi.
“Sekarang boleh kita berteman?” tanya Adi sambil duduk di sebelah Dina. Dina pun mengangguk malu-malu.
“Bolehkah saya memanggilmu dengan nama Ina?” Adi melirik ke arah Dina dengan malu-malu.
Aduh, bukan main bahagianya hati Dina. Karena Dina punya nama khusus dari Adi, yaitu Ina! Segera Dina mengangguk setuju. Adi pun tertawa senang. Tapi yang paling membuat Dina bahagia adalah bahwa Adi menyukai Dina karena berpenampilan unik! Berkuncir dua! Wah, berarti kali ini Dino memberi nasihat yang bagus untuk Dina, yaitu tampil apa adanya!
Sekarang Dina bahagia dan tidak bersedih lagi. Tapi atah dan Ibu yang sudah hati sebab Dia tidak mau mencuci tangan. Alasannya karena ia baru berjabat tangan dengan Adi tadi siang.
Cerpen Karangan: Edi Warsidi

Day Dream

Covering my ears to listen to you
Shutting my eyes to imagine you
You have slowly become blurred,
You have slowly left me in the unstoppable memories
- Daydream -
Tio… nanti bisa temani aku ke butik?
Ahhh tidak bisa ya? ya sudah kalau gitu… tapi…
Pria itu mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Titik-titik kecil keringat sudah tertera di keningnya saat suara itu kembali tengiang dalam memori otaknya.
Tio… ibu menyuruh kita untuk fitting baju pengantin kita, bisakah kamu datang?
Oh.. kamu ada rapat penting hari ini? ya sudah tapi bisakah kamu nanti menyempatkan untuk datang? walaupun terlambat tidak apa-apa yang penting…
Baiklah kalau begitu… aku akan menunggu kamu di butik ya? Aku mencintaimu…
Pria itu menggelengkan kepalanya lemah. Matanya masih terpejam tapi kedua tangannya sudah terkepal dengan sangat erat. Peluh keringat semakin membasahi wajahnya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk bangun agar bayangan suara itu hilang dari memori otaknya.
Tio..? Kenapa kamu belum datang juga? Aku sudah hampir 3 jam menunggumu disini… Kamu ada dimana? kalau kamu memang tidak bisa datang setidaknya telfonlah aku, jangan buat aku khawatir seperti ini…
Tiffanny…
Fanny… TIFFANNY
Pria itu langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Pria itu, Tio berusaha untuk menormalkan kembali detak jantungnya dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Tio memejamkan matanya sejenak dan tanpa terasa air matanya kini berhasil lolos membasahi pipinya. Ia menyentuh dadanya dan entah kenapa ia kini merasakan sesak yang luar biasa saat ia kembali teringat dengan mimpinya tadi. Tio mengatur nafasnya untuk menjadi normal kembali dan perlahan ia membuka matanya kembali. Tio melihat jam di kamarnya yang kini masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pria itu, Tio menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya dan kembali menyentuh dadanya yang masih terasa sesak. Terasa sesak saat ia lagi dan lagi kembali mengingat bayangan suara itu. Suara seseorang yang sangat berarti untuknya. Dan suara seseorang yang sangat dirindukannya saat ini. Tio menundukkan kepalanya dan lagi-lagi air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya berhasil keluar sehingga membasahi wajahnya.
- Daydream -
Pria dan wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya saat mendengarkan derap langkah kaki seseorang yang menghampirinya ke ruang makan. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat saat melihat putra tunggalnya itu sudah rapi dengan kemeja putih lengan panjang dan celana kain panjang berwarna hitam yang ia kenakan serta jas hitam yang ia pegang di tangan kanannya.
“Kamu mau sarapan apa, sayang?” Tanya wanita itu dengan lembut pada putranya itu.
“Roti saja bu…” Ucap Tio lalu mendudukan dirinya di kursi.
“Tio… apakah kamu sibuk hari ini? kalau tidak nanti bisa temani ayah bertemu dengan klien ayah dari China?” Ucap pria paruh baya itu sambil memandang putranya itu.
“Hmmm…?” Tio menghentikan makannya lalu memandang ayahnya itu. “Ayah..?” Panggilnya yang membuat kedua orang tuanya itu kini memandangnya.
“Ya…”
“mmm… hari ini bolehkah aku ijin untuk tidak ke kantor?” Tanya Tio lirih.
“Memangnya kamu ingin kemana? ada urusan penting kah?”
“Aku… aku ingin mengunjunginya hari ini” Ucap Tio sambil menundukkan kepalanya sedangkan kedua orang tuanya sempat terkejut dengan kata-kata putranya tentang ‘mengunjunginya’ itu.
“Kamu ingin menemuinya sayang?” Tanya wanita paruh baya itu sambil memegang tangan kanan putranya. “Kalau kamu ingin menemuinya.. pergilah nak, ibu yakin dia akan senang jika kamu datang mengunjunginya” Ucap wanita itu sambil mengusap punggung anaknya itu.
“Baiklah ayah akan mengijinkan kamu” Ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum.
“Terima kasih ayah…” Ucap Tio.
- Daydream -
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti di dekat sebuah taman kota yang cukup ramai hari itu. Pria itu, Tio keluar dari mobil mewahnya itu lalu memandang kearah taman yang sudah cukup lama tidak pernah ia kunjungi. Tio melangkahkan kakinya menyusuri taman itu. Dilihatnya beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai sambil membaca buku dan beberapa anak kecil yang sedang bermain ayunan yang ada di taman itu. Tio menghentikan langkahnya saat ia berada di depan sebuah bangku kayu. Ia mendekati bangku itu lalu mendudukan dirinya di bangku itu dan kini ia kembali mengingat sebuah kenangan di memori otaknya.
“Jadi kamu menelfonku malam-malam hanya untuk mengajak aku duduk di taman ini?” Tanya Tio sambil memandang gadis dihadapannya yang sedang duduk sambil mengemut permen lollipopnya.
“Hmmm… habis aku bosan di apartement terus” Ucap gadis itu, Tiffanny yang masih asyik mengemut permen lolipopnya itu.
“Kalau kamu bosan kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu saja sayang..?” Ucap Tio yang kini sudah duduk di samping gadisnya itu.
“Kalau aku pulang itu akan jauh lebih membosankan karena papah dan mamah sedang keluar negri” Ucap Tiffanny.
“Tapi bukan berarti kamu bisa membuat aku repot kan? hey.. kamu tahu besok aku itu ada rapat penting pagi-pagi sekali”
“Kamu itu kan tunanganku jadi kamu harus mau untuk direpotkan. Lagi pula ini masih pukul 11 malam dan aku rasa nanti masih punya waktu untuk tidur dan aku jamin besok kamu tidak akan kesiangan” Ucap Tiffanny sambil tersenyum manis kepada tunangannya.
“Kalau sampai besok aku kesiangan, kamu harus menerima hukumannya” Ucap Tio sambil mencubit pelan hidung gadisnya yang membuat Tiffanny mengerucutkan bibirnya.
Tio menyunggingkan senyumnya saat kembali mengingat kejadian itu. Kejadian dimana gadisnya itu menelfonnya malam-malam dan menyuruhnya datang ke apartemennya hanya untuk menemaninya duduk di taman dengan alasan gadisnya itu bosan berada di apartemennya. Tio melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tio mengusap pelan bangku yang pernah diduduki gadisnya itu lalu ia beranjak dari duduknya dan kemudian ia berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan tadi.
- Daydream -
Setelah dari taman tadi, Tio langsung mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dan sekarang disinilah ia berada, di depan sebuah gedung apartemen mewah. Tio keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki gedung itu. Ia berjalan memasuki lift dan menekan angka 11 pada tombol yang ada di lift itu. Tak harus menunggu lama kini pintu lift itu terbuka saat ia sudah sampai di lantai 11, Tio keluar dari lift lalu ia kembali melanjutkan jalannya. Pria itu menghentikan langkahnya saat ia berada di depan sebuah pintu yang bertuliskan angka 112 dan di depan sebuah pintu tempat dimana gadisnya itu tinggal. Pria itu, Tio mulai memasukkan password yang membuat pintu apartemen itu terbuka. Tio tak langsung masuk tapi ia justru terdiam dan tersenyum miris saat mengingat password yang membuat pintu apartemen itu terbuka. TLoveT, Tio tersenyum miris saat mengetahui bahwa Tiffanny masih menggunakan kata-kata itu sebagai password apartemennya.
Tio menghela nafas beratnya lalu ia mulai memasuki apartemen yang sudah cukup lama tidak ia datangi itu. Tio menutup pintu apartemen itu pelan lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu di apartemen itu. Ia menyalakan lampu di ruang tamu itu dan kini ia dapat melihat barang-barang milik Tiffanny masih tertata rapi disana. Tio berjalan perlahan menuju sofa yang ada di ruangan itu. Perlahan tangannya memegang sofa berwarna putih itu, tempat dimana ia dan Tiffanny sering menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol ataupun menonton dvd bersama. Kemudian ia berjalan menuju meja yang ada di dekat sova itu. Sebuah meja yang menjadi tempat dimana foto-foto gadisnya itu terpajang. Tio mengambil salah satu bingkai foto yang berisikan foto Tiffanny yang sedang tersenyum manis dan disampingnya adalah dirinya yang tersenyum dan merangkul pundak gadis itu. Tio mengusap pelan foto itu lalu ia memejamkan matanya sambil mendekap foto itu. Tapi itu hannya sebentar saat ia merasakan kehadiran seseorang dan ia langsung membuka kembali matanya.
“Fanny…” Tio mengedarkan pandangannya dan ia menghela nafas beratnya saat ia sama sekali tidak menemukan kahadiran seseorang di ruangan itu. Tio meletakkan kembali bingkai foto itu di meja lalu kini ia berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu berwarna putih. Tio perlahan membuka pintu itu lalu ia masuk ke kamar yang masih terlihat rapi.
“Fanny… kamu dimana?” Ucap Tio saat ia memasuki apartemen gadisnya itu. Tio mengedarkan pandangannya saat ia tidak menemukan gadisnya itu. Biasanya Tiffanny akan menyambutnya jika Tio datang ke apartemennya itu. “Tif…” Ucap Tio lagi.
Tio melangkahkan kakinya menuju kamar Tiffanny saat dilihatnya pintu kamar itu yang terbuka. Tio masuk ke kamar itu dan ia bernafas lega saat melihat gadisnya itu sedang tidur dengan posisi duduk dan kepala yang ia sandarkan di meja kerjanya. Tio menghampiri Tiffanny lalu melihat laptop gadis itu yang masih menyala. Tio melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam lalu ia menyimpan laporan kerja gadisnya itu lalu ia menshut down laptop itu.
“Tumben sekali jam segini kamu sudah tidur..? terlalu lelah kah?” Ucap Tio lalu mengangkat tubuh Tiffanny dengan pelan agar gadisnya itu tidak terbangun. Tio melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Tiffany tapi baru 2 langkah ia dikejutkan dengan kekehan kecil yang terdengar dari mulut gadisnya itu.
“Yak.. kamu pura-pura tidur?” Ucap Tio yang membuat Tiffanny membuka matanya lalu tersenyum manis pada tunangannya itu. “Jadi kamu mengerjaiku, eoh?” Tanya Tio.
“Hmmm… lagian mana mungkin jam segini aku sudah tidur? kamu tahu sendiri kan jadwal tidur aku itu pasti di atas jam 12 malam” Ucap Tiffanny.
“Hahhh… ya sudah sekarang turun. Kamu tahu tubuhmu itu terasa berat”
“Aku nggak mau.. kamu sudah menggendong aku jadi sekarang kamu harus tetap gendong aku sampai tempat tidur lagi pula sepertinya sekarang aku sudah mulai menagantuk” Ucap Tiffanny sambil tersenyum jahil.
“Aishhh bilang saja kamu itu ingin merasakan di gendong sama aku” Ucap Tio yang membuat Tiffanny semakin mengembangkan senyumnya.
Tio tertawa kecil saat mengingat kejadian itu. Lalu ia berjalan menuju tempat tidur dengan nuansa pink itu. Tio mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur itu, ia mengambil bantal dan memeluknya berharap ia masih bisa menghirup aroma tubuh Tiffanny yang berbekas di bantal itu.
“Aku merindukanmu…” Ucapnya lirih.
- Daydream -
“Sadarkah dengan apa yang kamu lakukan tadi?” Ucap Tio kepada Tiffanny dengan nada marah saat mereka sudah di apartemen Tiffanny. “Kamu tahu… tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu tadi, kamu…”
“Bukankah seharusnya aku yang marah disini? Aku menunggumu hampir 3 jam di butik tanpa ada kabar yang jelas darimu, aku pikir kamu benar-benar sibuk tapi apa yang aku lihat tadi kamu malah asyik makan berduaan dengan gadis murahan itu” Ucap Tiffanny dengan air mata yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Tiffanny… berhenti menyebutnya wanita murahan… dia itu klienku”
“Klien? Oh… selain dia mantan kekasihmu sekarang dia klienmu? pantas saja kalian bisa berduaan seperti tadi. Ahhh atau jangan-jangan dibelakangku kalian malah sudah jadian kembali?”
PLAKK… satu tamparan cukup keras berhasil mengenai pipi kanan Tiffanny. Gadis itu memegangi pipinya dan air mata yang ia pertahankan kini runtuh seketika.
“Fanny…” Ucap Tio lirih saat ia menyadari atas apa yang baru saja ia lakukan barusan. Ia benar-benar emosi dan hilang kendali saat Tiffanny mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan. Dan kini ia sangat merasa bersalah karena sudah menampar gadis itu dan ia juga merasakan sesak di dadanya sat ia melihat gadisnya itu menagis dan itu karena dirinya.
“Kamu…”
“Maaf..maaf..aku…” Baru saja Tio akan menyentuh pipi Tiffany tapi gadis itu langsung menghindar yang membuat Tio kini merasakan sakit didadanya dan semakin merasa bersalah.
“Kamu berani menamparku hanya untuk perempuan itu? Oh seharusnya aku sadar dari awal kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku. Seharusnya aku sadar kalau aku hanya satu-satunya orang yang menginginkan pernikahan ini dan juga seharusnya aku sadar kalau…”
“Tidak… tidak itu tidak benar. Aku mencintai kamu Fanny dan aku juga sangat menginginkan pernikahan ini dan kamu harus percaya…”
“Setelah kamu menampar aku, haruskah aku memepercayai kamu? sepertinya kita memang harus berpikir lagi tentang rencana pernikahan ini. sekarang aku ragu apakah pernikahan ini bisa tetap dilaksanakan atau tidak” Ucap Tiffanny lalu mengusap air matanya dengan kasar dan kemudian berlari keluar dari apartemennya.
“Tio… Fanny… Tiffanny kecelakaan…”
“Tidak… itu tidak mungkin…”
“Tio…”
“Ibu… itu tidak benar kan, Fanny… Itu tidak mungkin. Tidak.. tidak… TIFFANNY”
- Daydream -
Tio terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Mimipi itu, mimpi yang sudah 3 bulan ini selalu hadir dalam tidurnya. Mimpi yang selalu membuatnya merasa bersalah dan merasa takut karena harus kembali mengingat kejadian itu. Tio menyandarkan tubuhnya pada pangkal tempat tidur lalu mengedarkan pandangannya dan ia baru ingat kalau ia masih berada di kamar Tiffanny dan tadi ia tertidur di tempat tidur gadisnya itu. Tio menyeka peluh keringat yang ada di keningnya lalu pandangannya teralih pada iphone-nya yang ada di meja di samping tempat tidur Tiffanny.
“Hallo bu…” Ucap Tio setelah ia mengambil dan mengangkat panggilan masuk di iphone-nya itu.
“Kamu dimana? bisakah kamu ke rumah sakit sekarang… dia…”
- Daydream -
Not Breathing to feel you clutching both fists together to touch you
You have slowly become blurred, you have slowly become blurred
You have slowly left me in the unstoppable memories…
Pria itu, Tio berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia sudah tidak memperdulikan perkataan orang-orang yang tak sengaja tertabrak olehnya karena saat ini ia berlari dengan tidak fokus, yang hanya ada dipikirkannya saat ini adalah perkataan ibunya yang masih sangat jelas terngiang di otaknya.
“Fanny keadaannya semakin memburuk Tio… jadi bisakah sekarang kamu datang ke rumah sakit”
Ya gadis itu, Tiffanny kini sedang terbaring koma di rumah sakit sejak 3 bulan yang lalu. Kecelakaan mobil yang ia alami setelah ia bertengkar dengan Tio malam itu membuatnya harus terbaring koma hingga sekarang. Selama 3 bulan itu, kondisi Tiffanny tidak pernah ada perubahan dan baru hari ini Tio mendapat kabar terbaru dari gadisnya, tapi berita itu bukan membuatnya bahagia tapi berita itu malah membuatnya semakin merasakan ketakutan jika ia harus benar-benar kehilangan gadisnya itu.
“Ibu…” Ucap Tio saat ia sudah berada di hadapan ibunya. Dan di tempat itu juga Tio melihat kedua orang tua Tiffanny dan ayahnya yang menunjukkan raut wajah khawatir.
“Tio…” Wanita paruh baya itu memandang putranya dengan tatapan sedih.
“Bag… bagaimana keadaannya, dia…” Ucapan Tio terhenti saat melihat dokter beserta 2 orang suster dibelakangnya keluar dari ruangan Tiffanny di rawat.
“Dokter… bagaimana keadaan Tiffanny? dia baik-baik saja kan? dia sudah bangun dari komanya kan?” Ucap Tio yang membuat dokter itu memandangnya dengan wajah sendu.
“Maaf…” Dokter pria itu menundukkan kepalanya yang membuat Tio merasa semakin takut. “Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi…”
“Tidak…” Tio memegang kedua bahu dokter itu lalu mengguncangnya pelan. “Tidak.. itu tidak benar kan… Tiffanny baik-baik saja kan? Tiffanny sudah bangun dari komanya kan dokter” Ucap Tio dengan suara bergetar dan tak terasa air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah mengalir membasahi pipinya.
“Maaf.. tapi nona Tiffanny sudah pergi meninggalkan kita…” Ucap Dokter itu yang membuat Tio secara perlahan melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahu dokter pria itu.
“Itu tidak mungkin…” Tio menggelengkan kepalanya pelan dan mundur secara perlahan. Ia merasakan kini kedua kakinya melemas dan itu membuat ayahnya langsung merangkul pundak putranya untuk menguatkannya.
“Sabar nak…” Ucap ayah Tio.
“Itu tidak benar kan ayah? dia tidak pergi meninggalkanku kan?” Ucap Tio dengan lirih lalu kini pandangannya beralih kepada kedua orang tua Tiffanny yang sudah menangis sama seperti dirinya.
“Tante… itu tidak benar kan? dokter itu berbohong kan?” Tanya Tio yang membuat ibu Tiffanny semakin deras mengeluarkan air matanya.
“Tio…” Ibu Tio menghampiri anaknya itu.
“Aku harus menemuinya bu…” Ucap Tio lalu pria itu berlari masuk ke dalam ruangan Tiffanny dan pria itu semakin merasakan kakinya melemas dan tangannya bergetar saat melihat gadisnya itu masih menutup matanya dan alat-alat medis yang selama ini membantu gadisnya itu untuk bertahan sudah di lepas. Tio perlahan menghampiri Tiffanny dan pria itu dapat melihat wajah gadisnya yang sangat pucat itu saat ia sudah berada di samping tempat tidur Tiffanny.
“Sayang…” Tio menggenggam tangan Tiffanny yang terasa dingin lalu ia menatap wajah Tiffanny dengan sedikit kabur karena air mata yang masih mengalir keluar dari matanya. “Hey bangunlah dan katakan kalau mereka itu bohong…” Ucap Tio lirih.
“Tiffanny…” Tio mengguncang bahu Tiffanny karena gadis itu tak kunjung menjawab perkataannya. “Sayang.. bangunlah, buka matamu. Bukankah besok kita akan menikah? Buka matamu TIFFANNY” Teriak Tio sambil terus mengguncang bahu gadisnya itu. “Kalau kau marah denganku buka matamu dan segera tampar dan pukuli aku Fanny… Fanny cepat buka matamu jangan membuatku takut seperti ini” Ucap Tio dengan suara bergetar. Pria itu semakin deras mengeluarkan air matanya dan kini pria itu memeluk Tiffannya dan membenamkan wajahnya dilekukan leher Tiffanny.
“Tio…” Ibu Tio yang sudah berada diruangan itu memegang pundak anaknya, berusaha untuk menguatkan anaknya itu.
“Ikhlaskan dia.. nak” Ucap ayah Tiffanny lirih sambil menepuk pundak Tio pelan yang membuat Tio mendongakan kepalanya dan kini menatap calon ayah mertuanya itu dengan sedih. Lalu pria paruh baya itu memegang tangan dingin putrinya dan mengecup kening Tiffanny cukup lama. “Semoga kamu tenang dan bahagia disana sayang…” Ucap ayah Tiffanny lirih dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
“Ibu mencintai kamu sayang… semoga kamu bahagia disana” Ucap ibu Tiffanny lalu mencium pipi mulus dan dingin putrinya itu.
Pria itu, Tio kembali memandang intens gadis yang terbaring dihadapannya itu. Diusapnya rambut Tiffanny lalu mencium kening gadis itu cukup lama, lalu ciumannya itu beralih ke kedua mata Tiffanny yang tertutup rapat.
“Aku bahkan belum mengunjungimu hari ini tapi kenapa kamu justru pergi meninggalkan aku Tiffanny? bukankah kamu yang berjanji untuk selalu berada di sisiku? tapi kenapa secepat ini? bahkan kita belum mencoba baju pengantin kita? bahkan kita belum mencoba cincin pernikahan kita sayang…” Ucap Tio lirih dan setelah itu ciumannya beralih ke pipi gadisnya itu.
“Aku mencintaimu… terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku selama ini dan terima kasih sudah mau menjadi bagian yang teramat penting dalam hidupku. Aku mencintaimu sayang dan semoga kamu bahagia disana… dan semoga suatu saat nanti kita dapat dipersatukan kembali” Ucap Tio lirih lalu mengecup sudut bibir Tiffanny dan seiringan dengan itu air matanya kini menetes kembali.
- END -

Buku Yang Tertinggal

Sendok di tanganku belum sempat aku dorong mengantarkan sesuap nasi menuju ke mulutku, ketika tiba-tiba pintu ruang tamu tempat aku tinggal diketok dari luar. Bergegas aku menuju pintu, kulihat dari sela-sela korden siapa yang datang, aku kenal maka segera kubuka pintu ruang tamuku. Berbasa-basi sejenak, lalu aku pamit cuci tangan, meskipun aku upayakan juga untuk menyediakan minuman untuk tamu yang adalah sahabatku itu.
Sekitar satu jam kami bercakap dengan topik yang tak menentu. Namun hampir pasti di sekitar kerjaan, rumah, HP, Tab, BB dan juga pasangan hidup. Dari daftar itu, bagian terakhir aku paling tidak suka membicarakannya. Entah mengapa aku enggan berbicara masalah itu. Benar usiaku sudah tidak muda lagi, benar pula bahwa teman-teman se-angkatanku dan juga seusiaku sudah hampir semua ada yang memanggil “ibu”, “mama”, “bunda”, “mami”, dan tinggal aku yang masih bertahan dengan paggilan “mbak.” Setelah sekitar satu jam kami berbagi cerita dan berkisah dalam senda gurau, yang akhirnya membuat tempat kami bercakap kacau-balau.
Temanku itu, Suci namanya. Kinathi Suciningtyas, dan akrab dipanggil Suci. Wanita karier, enerjik, supel, agak tomboy dan enak diajak berteman. Hobinya banyak, salah satunya, mengoleksi dan membaca buku. Selalu ketika bertemu, paling tidak memamerkan satu buku baru yang dibacanya, entah pinjam maupun membelinya sendiri. Juga ketika saat ke rumahku, ia membawa atau lebih tepatnya memamerkan buku-bukunya, ada dua yang baru yang katanya bagus. Aku tidak peduli karena memang semenjak dulu, aku tidak begitu suka dengan buku, apalagi membacanya. Saking antusianya memamerkan ke aku, sekitar 4 buku dikeluarkan dari tas dan diperlihatkan ke aku.
Mungkin lupa, atau tergesa, sewaktu hendak pulang, atau lebih tepatnya meninggalkan tempat tinggalku (baru saja dapat BBM katanya) ada satu buku yang tertinggal. Waktu itu aku tahu ketika sedang membersihkan ruangan. Aku kaget karena ada buku di bawah meja, aku sadar itu bukan bukuku. Setelah hampir usai, aku mengambil buku itu, aku kaget, sepertinya aku pernah kenal buku dengan model yang hampir sama. Judul buku itu sederhana, ada tertera angka 33, selalu dengan angka itu penulis memberi judul untuk memberitahukan jumlah tema di dalam buku itu. Setelah selesai semuanya, aku masuk ke kamar, berbaring dengan santai. Rambutku yang masih bertahan panjang semenjak esde kubiarkan terurai, kedua kakiku kuselonjorkan, bantal satu kualaskan buat kepalaku, guling pink sama dengan warna bantal serta spreiku kuletakkan di samping untuk sandaran tanganku. Kipas angin kecil kunyalakan, ada kesegaran lembut menampar sekujur tubuhku. Segar dan menyenangkan.
Aneh, tiba-tiba aku tertarik sebuah buku. Aneh, dan membuat aku seperti kehilangan diriku. Diriku yang sulit tertarik dengan buku, meskipun dengan begitu aku bisa mengenyam pendidikan strata satu. Sepertinya buku ini, milik Suci ini, memiliki daya kekuatan luar biasa. Aku baca sampul depannya. Tiba-tiba, ingatanku melompat ke sebuah waktu di permulaan abad ini. Aku samar-samar ingat, namun amat samar sehingga aku sulit menautkannya menjadi gambaran indah tuk dinikmati.
Mendung tiba-tiba datang tanpa berkabar. Aku maklum, negriku sudah sulit diprediksi keberadaanya. Dulu katanya ada empat musim namun sampai sekarang hanya dua saja yang ada. Buku itu masih kupegang, ada yang aneh. Semakin aneh. Samar-samar ingatku terbangunkan, ada gambaran-gambaran bermain di layar memoriku. Semakin aneh manakala tiba-tiba, ada butiran bening air mata bergulir dari dua ujung kelopak mataku. Aku memejamkan mata, mencoba mengejar kilatan bayangan masa laluku yang telah jauh tertinggal dan sengaja kutinggalkan. Masa lalu yang tak pernah kumengerti, namun yang saat akhir-akhir ini justru aku menyesalinya.
Masih kupegang buku ini dengan erat. Sambil tetap berbaring dan memejamkan mata. Rambut panjangku sengaja kugeraikan, meski kadang mengganggu gerak leherku. Tiba-tiba juga, seperti aku ingat kata-kata, “Aku suka dengan perempuan yang rambutnya panjang”. Aku yakin, waktu itu meskipun tak berucap langsung kepadaku, itu ditujukan ke aku. Hening dan tenang, khusuk dan menyenangkan. Dan aku membuka mata, kubaca lagi sampul buku itu. Ahaaaai! Aku ingat. Iya, buku ini, sama persis judulnya dengan buku di rumahku yang kumiliki. Buku itu istimewa bagiku, amat istimewa. Semakin jelas, kilatan-kilatan waktu lalu memberikan gambaran jelas. Iya, buku ini sama persis dengan bukuku yang tak pernah selesai kubaca.

Siang itu terik luar biasa sang mentari. Meskipun bukan puncak musim kemarau. Panas sudah terasa sejak pagi hari. Persisnya aku lupa tanggal serta tahunnya, namun aku ingat bulannya. Bulan lahirku ke jagad raya ini. Sangat tidak pernah aku duga bahwa peristiwa itu terjadi. Jujur, aku tidak begitu menaruh hatiku padanya. Bahkan mungkin membencinya. Tak ada sedikitpun darinya yang bisa menarik perhatianku.Tidak ada yang menarik minatku, sama sekali tidak ada. Bahkan, ketika sebuah bungkusan diberikan ke akupun, tak semilipun kubergeming. Apalagi, itu buku, barang yang sangat tidak aku sukai. Namun kuterima juga, kubuka bungkusnnya ketika aku tinggal sendiri. Sebuah buku yang judulnya berkenaan dengan yang aku alami. Kutaruh di meja dekat tempat tidurku, dengan kulempar. Malas aku membacanya.
Namun, meski malas dan enggan membacanya, pada waktu-waktu aku merasakan sangat suntuk dan berat meniti hidup ini, aku membacanya. Tidak semua, karena buku itu terdiri dari tema-tema tertentu berjumlah 33. Ada yang sangat menarik perhatianku, dan karena itu aku baca. Usai itu, kutinggalkan yang lain.

Aku masih berbaring di tempat tidurku. Kulihat keluar, ke jendala yang sedikit terbuka, kulihat lagit cerah, biru menggelayut seolah memayungi bumi dengan biru yang damai. Mendung yang tadi sempat menggelapi bumi telah pergi entah ke mana. Buku temanku yang tertinggal itu masih kudekap. Aneh, sepertinya aku terikat batin dengan buku ini, atau lebih tepatnya dengan buku yang judulnya sama dengan yang sedang kudekap. Aku bangkit, menuju ke meja, kuraih HP yang kutaruh di atas meja itu. Kucari nama, kupencet tombol call. Yah, aku menelfon ibu, aku minta tolong ibu untuk melihat di almari kamarku, di laci rak tengah, di bawah pakaian agak resmiku. Aku punya kebiasaan memilah dan menempatkan pada tempat berbeda untuk pakaianku. Untuk yang harian sendiri, yang resmi sendiri, yang santai sendiri dan untuk pakaian tidur juga sendiri. Ibu kebetulan sedang di rumah dan kersa mencarikannya. Aku gelisah, harap-harap cemas. Tiba-tiba aku takut kehilagan buku itu. Aku takut buku itu tidak ibu temukan.
Kembali aku berbaring sambil menunggu 15 menit, itu waktu yang kusampaikan ke ibu. Tiba-tiba aku ingat, ingat dengan seseorang. Seseorang yang sekitar dua bulan yang lalu – setelah sekian waktu tak saling lihat – berjumpa atau boleh aku jumpai. Meski perjumpaan itu hanya sepintas dan tidak terlontar satu kata dari kami, hanya tangan kami yang saling jabat. Hanya senyuman kami saling terlontar. Aku sepanjang satu jam selalu mencoba mengamatinya, karena kami berhadapan, meski kadang sembunyi aku tahu dia juga sering mengarahkan padangan ke aku, karena kerap sepanjang waktu itu, beberapa kali pandangan kami saling bertemu.
Lamunanku melambung, berkelana entah ke negeri mana. Sekalian kudengar musik mp3 dari sebelah rumah, lagu melankolis dari Katon Bagaskara “Cinta Selembut Awan”. Tetangga sebelah itu agak aneh, anak ABG namun suka lagu-lagu lama, lagu-lagu romantis yang semestinya tidak disukai anak-anak remaja jaman sekarang. Atau memang disengaja olehNya, untuk sekaligus menambah dan menjadi ornamen keadaanku sekarang ini? Gigitan nyamuk menyadarkanku, aku kaget. Kutengok HP, ada 2 sms. Aku buka, dari ibu ternyata. Sebuah kabar, bahwa bukunya masih. Teriak tertahan aku membaca sms dari ibuku. Segera kuminta besok ibu atau bapak mengirimkannya ke aku dengan paket express biar segera sampai di tanganku.
Buku temanku yang tertinggal itu kuraih. Aku mulai membuka halaman demi halaman, bab demi bab. Tidak aku baca memang, hanya kubuka dan kubuka. Mata dan tanganku di buku temanku yang tertinggal ini, namun pikiran dan anganku melanglang buana. Meniti jalan mimpi.
Hari-hari setelah itu kulalui dengan harap yang membubung tinggi, buku itu segera sampai di tanganku. Memang aneh, di tanganku ada buku temanku yang tertinggal. Judulnya sama, warnanya sama, edisinya setelah aku cek juga sama. Namun aneh, bukan buku itu yang menarik perhatianku. Buku milikuku itu yang menarik minatku. Ku menghitung hari. Setelah tiga hari kuterima buku itu. Seperi anak kecil, sesampai di rumah sepulang kerja, kubergegas ke kamar, kubuka bungkusan buku itu, kusobek biar cepat terbuka dan akhirnya kupegang kembali buku yang telah lama kuabaikan. Dengan memegang buku ini, seolah ingatanku akan peristiwa lampau tertampak lagi.
Aku sadar, mungkin aku dulu salah menanggapi sesuatu. Salah membaca bahasa dari seseorang yang ternyata sangat menaruh perhatianku, sampai saat ini. Aku salah, karena aku hanya mengikuti emosiku, tanpa pernah menggunakan nalar logisku untuk memikirkannya. Dalam hal ini, aku tidak akan menyalahkan siapapun, selain aku. Dengan kuakui kesalahanku, aku berharap akan ada langkah jelas di hari-hari yang akan kujelang. Terkadang muncul niatan untuk merampasnya. Namun akal sehatku berteriak, aku lunglai. Wajah polos ibu dan dua bocah kecil nan mengagumkan itu menyadarkan keegoisanku.
Tanpa sepengetauan siapapun, kerap aku buka-buka account FB, dan kulihat wajah-wajah imut menggemaskan dari dua bocah kecil itu. Manis dan cakep keduanya. Sering alam bawah sadarku menggodaku, seandainya dahulu tak salah aku mengambil pilihan, mungkin dua bocah imut ini menjadi bagian dari hidupku. Mungkin, aku akan menjadi ibu dari anak-anak itu. Namun, semua hanyalah mimpi, hanyalah lembara-lembaran kenangan. Aku mesti menepiskanya.
Cerpen Karangan: Doni Setyawan

Cinta Gak Perlu Diobral

Cinta butuh waktu dan cinta tidak perlu diobral itu yang gilang jadikan pedoman dalam menjalani hubungannya dengan kila, mungkin sekarang kila masih malu malu untuk mengucapkan rasanya pada gilang padahal mereka sudah berpacaran satu bulan
“la.. kamu nanti mau aku jemput atau mau pulang sendiri?”… “terserah kamu aja lang dah…”
Mereka berdua satu universitas tapi beda jurusan kila jurusan arsitektur dan gilang adalah calon dokter muda banyak orang yang berkata bahwa mereka adalah pasangan ideal tetapi gilang rasa tidak begitu
Hari ini gilang menunggu kila di depan fakultasnya hampir 2 jam berlalu dan kila pun tidak keluar gilang tak berani sms karena kila suka marah kalau pas jam pelajaran gilang mengsms dia. Jam demi jam berlalu tetapi ternyata kila tak datang datang, dan gilang pun mencoba menelpon kila dan ternyata kila sudah ada di rumah.
“la aku nuggu kamu dari tadi dan kamu sudah di rumah la kenapa gak sms aku aja sih”
“maaf aku lupa lang sudah dulu yah aku cape”
Dan seketika itu telpon pun ditutup. Hati gilang mengesah mengeluh tapi dia sangat mencintai kila walupun memang banyak juga dari mantannya yang masih cinta sama gilang.
Hari ini gilang ingin sekali menanyakan perasaan kila kepada dirinya saat nanti dia menjemput kila seusai praktek
“kila aku boleh nanya sesuatu sama kamu…”
“terserah aja” tanpa melihat muka gilang
“kamu terpaksa jadi pacar aku kil… apa kamu gak punya rasa sama aku kil sedikit aja kil”
“maaf rasanya pertanyaan itu gak usah aku jawab deh”
“kenapa enggak?”
“jawabanya ada di dalam hati kamu sendiri lang kalau kamu sayang sama aku, aku pun juga pasti sayang tanpa usah diucapkan”
Hati gilang pun senag mendengar semua ini, gilang baru mengerti bahwa memang benar perempuan yang merasa disayangi oleh kita pasti akan membalas semua itu sama dengan perasaan kita karena cinta tidak usah di ucapkan setiap saat tetapi dirasakan setiap saat.
Terima kasih kila
Cerpen Karangan: Rizki Aprianty

Pacarku Pemain Futsal

Malam ini aku masih tak bisa tidur nyenyak, aku pun masih duduk termenung di teras depan rumahku sambil menatap indahnya suasana malam ditemani dengan suara-suara binatang malam yang mulai berkeliaran. Entah kenapa, mungkin aku sedang merindukan keluargaku yang jauh disana. Mama dan Papa yang sedang menetap untuk bekerja di Pontianak, adik perempuanku yang masih kecil pun memutuskan ikut dengan mama papa disana. Kakak laki-laki ku yang sedang kuliah di Jogja, itupun dia pulang hanya saat liburan semester. Aku sendirian tinggal di Semarang untuk menempati rumah orang tuaku yang sebenarnya, meskipun ada pembantu yang juga menemaniku di rumah tapi tetap saja aku merindukan sosok keluargaku.
Pagi telah datang, malam pun telah sirna. Seperti biasa aku mengawali hari-hariku untuk bersekolah sebagai siswi SMA, kini aku duduk di bangku kelas 10 B semester 2. karena jarak rumahku yang tak jauh dengan sekolah, biasanya aku memutuskan untuk jalan kaki ke sekolah.
“Dian.” Ya begitulah orang-orang memanggilku, sebut saja Dian. Aku merasa tidak asing dengan suara teriakkan seorang perempuan dari arah belakangku itu, ya Febby sahabatku. Dengan nafas Febby yang masih ngap-ngapan itu kami berdua jalan menuju kelas kami, 10 B. Di depan pintu sudah terlihat seorang lelaki dengan baju seragam awut-awutan dan rambutnya yang sedikit panjang menutupi dahinya, sambil tersenyum ia pun menyapaku, “Hai Dian” ya dia adalah Raka, teman satu kelasku yang tak lain juga mantan pacarku, tapi nampaknya dia masih menyukaiku. Dengan gaya cuekku, aku pun hanya membalasnya dengan senyuman manis.
“Dian, nanti sore jangan lupa datang ke Futsal Stadium jam 4 ya.” ucap Raka.
“Buat apa aku harus datang?” jawab Dian cuek.
“Buat nyemangatin aku lah soalnya hari ini club aku bakalan tanding lawan Devil’s United itu anak SMA 8.”
“Hmm gimana ya?”
“Ayolah plis!”
“Iya deh nanti aku usahain.”
Jam telah menunjukkan pukul 4 kurang 15 menit dan Raka pun telah menjemputku. Sesampainya disana, terlihat sudah banyak teman-teman satu kelasku yang juga ikutan menonton dan sepertinya Raka memang mengajak teman sekelasku untuk menonton pertandingan perdananya dengan Devil’s United, musuh bebuyutan Dragon FC, club futsal milik Raka. Raka bersiap untuk memasuki lapangan, namun sebelum itu, ia sempat menghampiriku dan berkata, “Kamu semangatin aku ya biar aku semangat mainnya. Oke?” ucap Raka dengan gaya kerennya itu. Aku pun hanya menjawab ‘iya’ sambil menganggukkan kepala.
“Ciye kamu disamperin Raka tuh disuruh nyemangatin dia.” ledek Febby padaku.
“Iya-iya aku tau.”
Pertandingan pun dimulai, teman-temanku yang lain nampak heboh menyemangati club Raka, sedangkan aku cuma bisa teriak, “Semangat Raka!!” lalu spontan Raka menoleh ke arahku dan mengacungkan jempol. Saat itu pula, ada seorang laki-laki yang tak ku kenal juga menatapku sambil tersenyum seperti ingin disemangati juga, sepertinya dia ketua club Devil’s United, musuh bebuyutan Raka. Pertandingan pun berakhir dengan skor 16-6. Pertandingan dimenangkan oleh Devil’s United.
“Raka.. Raka.. kamu itu gak ada kapoknya juga ya, udah tau bakalan kalah lawan tim gue tapi masih aja sok-sok jago lo. Ini udah kekalahan lo yang ke-4 kalinya, gak punya malu lo?” sindir seorang lelaki dari Devil’s United itu.
Sepulangnya, aku berusaha menghibur Raka yang nampak masih kecewa atas kekalahannya lalu aku keluar dari Futsal Stadium itu, tiba-tiba datanglah cowok Devil’s United bernomor punggung 9 yang tadi menatapku itu, dia menyapaku. “Hai” sapanya sambil tersenyum. “Hai juga” balasku singkat. Dia lalu mengajakku berkenalan, “Namaku Dion, nama kamu siapa?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Aku Dian.” jawabku lalu menjabat tangannya.
“Wah kok bisa ya nama kita mirip gini, wah jangan-jangan kita jodoh nih.” rayunya. Aku pun hanya geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum malu. Dia lalu menawarkanku untuk pulang bareng, awalnya aku menolak tapi karena dia memaksa jadi aku ikut dengannya. Setelah aku dan Dion sudah pergi, Raka yang nampaknya melihat kejadian tadi langsung menghampiri sahabatku Febby untuk menanya lebih jelasnya.
“Feb, Dian tadi pergi kemana sama Dion?” tanya Raka dengan wajah panik.
“Barusan Dion nganterin Dian pulang.”
“Hah? Sialan!” kata Raka kesal lalu segera pergi.
“Makasih ya udah mau nganterin pulang.” ucap Dian setelah turun dari motor Dion.
“Iya sama-sama. Aku boleh minta nomor telpon kamu?”
“Hmm.. kayaknya udah maghrib deh gak enak kalo diliat sama tetangga. Next time kalo kita ketemu lagi pasti aku kasih nomor aku.” kata Dian lalu buru-buru masuk ke rumah.
Saat di kamar, aku masih terus memutar kaset kejadian tadi saat awal aku berkenalan dengan Dion. Aku masih membayangkan wajah tampan Dion hingga akhirnya aku terlelap hingga pagi pun mulai datang. Aku bergegas bersiap pergi ke sekolah, saat aku keluar rumah sudah terlihat Dion duduk di atas motornya di depan rumahku dengan pakaian sekolah SMA 8. Dia menyapaku, “Selamat Pagi Dian”
“Pagi. Kamu ngapain ada disini?” tanyaku bingung.
“Mau nganterin kamu ke sekolah.”
“Buat apa? Sekolah aku deket tuh, tiap hari aku juga jalan kaki kok.”
“Gapapa aku anterin. Ayolah!”
Aku pun menuruti kemauan Dion, ia mengantarku hingga depan sekolah.
“Dian?”
“Apa?”
“Nomor handphone kamu.” dia mengingatkan.
Aku pun memberikan nomor handphone ku padanya. Hingga akhirnya, kami berdua sering smsan bahkan telponan. Dan akhir-akhir ini aku sering jalan bareng Dion. Raka pun yang tau soal ini nampaknya cemburu dan tak terima.
Malamnya, Raka datang ke rumahku dengan membawa setangkai bunga. Dia menyatakan cintanya padaku dan meminta agar aku mau kembali menjadi pacarnya. Tapi aku tak bisa karena aku sudah terlebih dahulu jadian dengan Dion sore itu. Raka masih tak percaya bahwa aku sudah berpacaran dengan Dion. Dia amat sangat marah dengan Dion, lalu ia mengajak Dion untuk bermain futsal dan dia bilang, siapapun yang menang dalam pertandingan itu dia yang berhak menjadi pacarku. Aku pun yang mendengar kabar itu dari temanku Febby, aku langsung datang kelapangan futsal dan menghentikan permainan mereka. Aku semakin marah dan membenci Raka karena dia telah menjadikanku bahan taruhannya. Raka pun menyesal hingga saat ini, tapi aku masih belum bisa memaafkannya.
Cerpen Karangan: Iyasa Nindya

Cintaku, Cintamu, Cinta Kita Bersama

“Jadi bener lo jadian sama Pandu?”, suara Gita benar-benar membuat semua orang di angkot menoleh kepada kami. Kami hanya bisa cengar-cengir melihat semua mata tertuju padaku dan Gita. Dasar Gita, nggak pernah bisa ngomong pelan.
“Iye, pelan dikit dong, malu nih sama penumpang lain”, tukasku membuat wajah Gita berlipat. Aku dan Gita bersahabat sejak lama, tepatnya saat dia pindah ke sekolahku, saat itu kami kelas 5 SD dan sekarang kami sama-sama kelas 2 SMA dan kami selalu satu sekolah. Meski tak pernah satu kelas sejak lulus dari SD, tapi Gita adalah sahabat yang terbaik yang selalu menemaniku. Dia adalah pendengar yang baik, tak pernah mengeluh, dan yang paling aku suka adalah Gita yang selalu bisa membuatku tertawa meski dalam kondisi tertekan sekalipun. Dan Pandu adalah teman sekelas Gita, orang yang saat ini membuat aku selalu merasa nyaman ada di sampingnya. Tak pernah terpikirkan olehku bisa berpacaran dengan Pandu, mungkin Gita lah yang berjasa dalam hubungan kami. Pandu adalah anak dengan sejumlah talenta. Prestasinya yang sering membanggakan sekolah membuatnya digilai banyak cewek. Yang aku heran, berdasarkan cerita dari si Gita, Pandu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tapi saat bertemu denganku, matanya membuatku merasa di awan, berbinar-binar, agak salting, dan bicaranya jadi tak lancar. Berdasarkan sumber dari si Gita lagi, Pandu paling bisa berbicara di depan umum, apalagi saat mengejek, jago banget dia, begitu kira-kira kata Gita.
“Kok bisa sih dia nembak lo?”, kalimat itu terus dilontarkan Gita. Seperti orang yang keheranan setengah kebingungan.
“Tauk deh, tanya aja sama Pandu kalo gak percaya”, kataku sambil menjulurkan lidah.
“Setahu gue, dia tuh gak pernah suka ama cewek centil apalagi yang suka dandan kayak lo gitu”.
“Hati orang siapa yang tahu sih, Git. Jangan-jangan lo cemburu ya Ngaku deh, kalo lo ngaku, gue bakal mundur tapi syaratnya lo harus nraktir gue makan selama sebulan”
“Sebulan? Gile aje, sorry ya, gue gak bakalan suka sama cowok gila kayak dia. Dengerin ya, dia itu suka ngupil, kayaknya agak homo juga, banyak tuh anak cheers yang ditolak dengan alasan gak logis, karena mereka suka nari”
“Hahaha…bukan urusan gue deh, yang penting orang satu sekolah bakal ngiri ngeliat gue jalan sama dia”
“Bentar-bentar, jadi lo cuman manfaatin popularitas Pandu? Jangan, Din, kasihan Pandu, baru kali ini kayaknya dia jatuh cinta”. Ada benarnya kata Gita. Tapi nggak juga ding, aku mencintai Pandu sepenuh hati kok. Jantungku berdebardebar saat bertemu dengannya. Tapi agaknya popularitas lah yang lebih penting dari Pandu. Ah, bodo amat, yang jelas Pandu kini bertekuk lutut padaku.
***
Kulangkahkan kaki kecilku ke rumah Gita, sengaja aku pamit ke rumah Gita sama mama padahal sebenarnya ini adalah kencan pertamaku dengan Pandu. Mama tak pernah mengizinkan aku pacaran, kata mama besok aja kalo udah gede. Nunggu gede apalagi coba, badanku udah bongsor gini masih aja dibilang kurang gede.
Derum sepeda motor datang. Tidak salah lagi itu sepeda motor Pandu. Aku segera keluar rumah ditemani Gita.
“Git, gue pinjem temen lo dulu ya!” kata Pandu setengah bercanda.
“Jagain tuh temen gue, awas ya sampai kenapa-napa, gue samperin nyokap bokap lo”, balas Gita, kali ini dengan nada agak kesal.
“Makanya cepet-cepet punya pacar, biar gak jamuran di rumah, kayaknya tujuh tanda penuaan dini udah muncul tuh gara-gara keasyikan pacaran sama laptop terus, radiasi laptop merusak kecantikan tuh”, detail Pandu.
“Hedeh, udah sana pergi-pergi…Hush..hush..”
“Nah loh, galak banget sama cowok, gimana mau dapet pacar coba”
“Kalo gak pergi aku lempar sandal nih”, kali ini Gita mengangkat sandalnya. Motor pun melaju, Pandu melemparkan senyuman jail ke Gita. Tiba-tiba aku merasa hubungan mereka dekat sekali.
“Sejauh apa sih hubungan kamu sama Gita?”, tanyaku suatu hari pada Pandu.
“Biasa aja, kayak kamu sama Gita”
“Deket banget berarti”, ucapku sambil memincingkan mata
“Gak juga lah, ngapain sih tanya-tanya gak penting”
“Aku takut kamu suka sama Gita”
“Kamu cemburu, percaya deh sama aku, aku gak bakalan suka sama Gita, Gita udah aku anggep kayak temen cowokku. She’s not a girl, you know!”
Agak lega juga mendengar ucapan Pandu. Sepertinya asumsiku hanya sebuah bayang-bayang takut kehilangan Pandu. Sepertinya tak mungkin juga sahabatku berkhianat padaku. Gita yang kukenal tak mungkin tega kepada sahabatnya sendiri dan Pandu jelas-jelas milikku, tak akan mungkin mereka jadi satu.
Akan tetapi, suatu siang saat aku tak sengaja membuka halaman demi halaman buku harian Gita.
Dear Diary
Aku senang sekali bisa sekelas sama dia. Dia adalah orang yang pertama kali membuat otakku tak bisa mencerna dengan baik, membuat nafasku tersengal, dan membuat aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya.

Halaman demi halaman kubalik, semua berisi dia dia dan dia. Akhirnya kutemukan satu halaman yang menjadi petunjuk siapa sebenarnya “dia” itu. Dia yang selalu membuat Gita ceria, dia yang dalam tulisan Gita menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya, dia yang membuat Gita tersenyum senang ketika bisa bercanda bersama.
Dear Diary
Hatiku hancur, aku bukan sahabat yang baik. Pandu menyukainya, menyukai Diana sahabatku. Aku menyesal telah mengenalkan Diana kepada Pandu. Hatiku tercabik. Dan kini aku harus menangis kemudian menyeka air mata sendirian. Aku tak mau Diana tahu perasaanku, aku tak ingin Diana benci padaku. Aku sayang sahabatku tapi aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga mencintai Pandu. Mungkin cinta tak harus diungkapkan dan tak harus memiliki. Aku akan mengalah, meski aku tak mau dibilang kalah. Setidaknya aku menang telak sebagai seorang pembohong. Pantas jadi artis sepertinya. Hahaha…

Dalam suasana sedih begitu, masih saja Gita bisa menertawakan dirinya sendiri. Lembaran itu basah oleh air mata sepertinya, sebagian tintanya luntur. Semua asumsiku ternyata benar. Kepribadianku yang lain tiba-tiba muncul. Maaf Git, aku nggak bisa melepas Pandu. Mungkin kamu sahabatnya, tapi aku lah yang kini berada disampingnya. Tak akan aku biarkan kamu merebut perhatian Pandu. Mulai saat itu juga aku mulai menjauh.
“Din, kemana aja sih, gue cariin gak pernah ketemu, udah kayak Nazarudin aja lo, suka ngilang”, kalimat Gita mengagetkanku yang tengah duduk sendiri di pojok ruangan perpustakaan.
“Akhir-akhir ini jadi pingin sendiri, sorry Git”, aku meninggalkan Gita yang baru saja akan duduk menemaniku. Aku nggak bisa menghindar terus dari Gita. Aku kangen sama celotehan Gita yang nggak penting, kangen caranya menghiburku disaat papa mama sibuk bertengkar, kangen dengan semua-muanya. Setelah aku pikir-pikir aku masih 16 tahun. Bila Tuhan masih memberiku umur panjang, setidaknya akan banyak pengganti Pandu yang lebih baik. Sahabatku lebih penting dari pacarku. Pandu hanyalah orang asing yang memasuki kehidupan kami, sepertinya akan segera merusak persahabatan jika aku tetap bersikukuh ingin Gita menjauh dari Pandu. Sampai pada suatu saat aku menjelaskan kepada Gita bahwa aku telah membaca semua bagian buku hariannya. Menangislah Gita di hadapanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya aku melihat Gita menangis.
Sepertinya dia tulus mencintai Pandu. “Git, bulan depan aku pindah ke Jogja. Nenek minta ditemeninin soalnya Om Feri ditugasin ke Kuala Lumpur sama kantornya”, kataku sambil memegang pundak Gita.
“Jangan-jangan kamu pindah gara-gara masalah ini??”
“Ge-er. Gue itu bukan tipe orang yang lari dari masalah. Dan lo tau sendiri kan kalo gue gak bener-bener sayang sama Pandu. So, ambil aja noh!”. Gita langsung memelukku erat dan aku membalas pelukannya. Kami berpelukan sangat erat seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.

Kamis, 15 Agustus 2013

Akhir Sebuah Penantian

Malam kian larut yang hanya ditemani dengan bulan dan bintang, angin sepoi yang merasuk dalam jiwa membuat hati ini semakin perih, hanya dalam keheningan malam ini yang menemani keresahan hati. Entah apa yang membuat hati ini resah memikirkan engkau yang jauh disana.
Sudah lebih dari empat tahun lamanya anita dan andre menjalin hubungan dengan cara seperti ini, yang tidak terbiasa untuk bertemu berhalangkan jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Hanya dengan sepenggal suara lewat media seluler dan kesetiaan yang bisa membuat mereka mempertahankan hubungan ini.
Sulit mencari waktu untuk mereka bersama menghabiskan waktu berdua dengan bersendau gurau, tapi apalah daya semua itu tidak mungkin terjadi karena sebab tertentu yang menghalangi hubungan mereka. Kenapa cinta begitu tidak adil pada kita? Kenapa cinta hanya diperuntukkan pada orang di luar sana dan bukan untuk kita? Apakah salah kita pada cinta yang kita rasakan ini? Mungkin itu yang selama ini terus menerus menjadi pertanyaan dalam benak anita malam itu.
Bukan waktu yang singkat untuk menunggu andre. Hanya dengan sepenggal kesetiaan dan yang ada buat cinta mereka yang bisa menguatkan hati anita. Hanya kerinduan yang begitu dalam yang selalu menemani hari-hari anita.
Suatu ketika anita dan andre pernah mengucap satu janji setia untuk cinta mereka…
“aku akan selalu mencintaimu anita, engkau lah seseorang yang mampu membuat aku manjadi lebih baik seperti ini”
“aku juga akan selalu mencintaimu, meskipun engkau tak selalu disampingku karena jiwaku adalah jiwamu dan ragaku adalah ragamu” ujar anita dan andre
Anita yang selalu sendiri di setiap malam datang menjelang, merasakan rindu yang begitu mendalam pada sang kekasih “andre”, anita yang selalu mengharapkan andre datang untuk menemuinya dan mengobati rasa rindunya pada andre selalu memohon pada tuhan agar mereka dipertemukan dalam kebahagiaan..
Tapi semua mustahil, pertemuan yang seharusnya bahagia seperti yang dibayangkan oleh anita ternyata berbalik drastis menjadi sebuah malapetaka. Karena ketidak setujuan kedua orang tua anita pada andre. Jangankan untuk keluar bersama, buat ngobrol saja sudah merupakan hal yang sangat sulit buat mereka.
Andre yang sudah jauh-jauh datang untuk menemui anita yang telah setia menunggu dia, hanya kepahitan yang meraka rasakan dalam pertemuan mereka.
Kenapa cinta begitu kejam buat kita? Ujar andre
Penantian yang sekian lama anita jalani berbuah sis-sia, yang hanya membawakan malapetaka bagi mereka karena ketidaksetujuan orang tua. Begitu besar cinta yang mereka miliki, tetapi semua itu tidak berbuah kebahagiaan sedikitpun buat mereka.
Empat tahun waktu yang mereka gunakan untuk memendam rasa rindu. Ternyata berkenyataan pahit.
Cinta memang tidak adil, cinta itu kejam dan menyakitkan, kenapa cinta hanya diperuntukan oleh mereka-mereka yang hanya mempermainkan arti cinta. Yang tidak tau arti yang sebenarnya dari cinta.
Cinta tak selamanya membuahkan kebahagiaan, cinta juga sering membuahkan kepedihan yang begitu sakit… Cinta memang tak harus memiliki.
Cerpen Karangan: Purwati

Hujan Pertama

Mendung masih terlukis di langit sore. Awan-awan gelap yang menggelantung itu mengingatkan Keisa pada sore kemarin. Keisa yang sedang duduk termenung di balkon rumahnya, hanya bisa menahan kesedihan yang menusuk-nusuk dadanya. Sesekali dia meneteskan air mata kemudian menghapusnya lagi. Sore dan mendung ini membawa Keisa pada sore dimana ia dibuat terhempas pada sebuah kesakitan. Sore dimana ia bisa menyaksikan dengan jelas betapa Ringgo, lelaki yang ia sayangi menyabangkan cintanya pada sahabat Keisa, Neni.
“Sakit..” lirihnya sambil tangannya disilangkan memegang kedua lengannya dan meremas lengan bajunya. Kembali muncul air di sudut matanya.
Tak lama mendung itu berubah menjadi rintik hujan. Keisa keluar rumah dan berlari sepanjang jalanan komplek rumahnya. Tangisnya semakin menjadi. Air matanya tersamarkan oleh air hujan yang membasahinya. Dia terus berlari dalam guyuran hujan sambil matanya tak henti untuk menangis. Keisa ingin hujan ini bisa menghapus semua kenangannya bersama Ringgo.
Keisa duduk di sebuah bangku taman. Dia melihat awan masih gelap dan hujan makin deras. Jalanan komplek mulai sepi. Tak ada satupun orang yang terlihat berjalan di komplek itu. Biasanya, banyak anak-anak yang sedang bermain sepakbola di taman ini. Mungkin karena ini adalah hujan pertama, pikir Keisa.
Tiba-tiba Keisa terkejut melihat air hujan tak menetes ke tubuhnya lagi. Dia terheran. Padahal rintik hujan masih berjatuhan di jalanan itu, pikirnya. Ketika dia melihat ke atas ternyata ada sebuah payung yang sedang melindunginya dari guyuran hujan. Payung siapakah, pikirnya lagi. Lalu Keisa menoleh ke belakang, dan terlihat seorang cowok yang memegang payung itu.
“Kamu bisa sakit kalau tak memakai payung.” ucap lirih cowok itu. Suaranya hampir tak terdengar karena begitu deras hujan saat itu. Keisa hanya diam dan memandang cowok itu.
“Ini.. pakailah!” dia menyerahkan satu payung lagi pada Keisa. Dengan ragu Keisa mengambil payung tersebut.
“Pulanglah… hujan akan semakin deras!” ucapnya sambil melihat langit. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Keisa sendiri.

Hari itu Keisa pergi berlibur bersama keluarga. Mereka mengunjungi kawasan wisata di pegunungan yang indah di kotanya. Karena Keisa memiliki villa keluarga disana. Sebenarnya Keisa tidak ingin bergabung dalam liburan kali ini, karena dia tidak memiliki semangat sama sekali untuk menikmati liburan. Entah kenapa, mungkin karena dia belum bisa move on dari ‘mantan’ pacarnya.
Pagi-pagi sekali Keisa dan keluarga berangkat ke puncak bukit. Di puncak ini kita bisa melihat matahari yang baru bangun dari tidurnya. Dengan cahayanya yang begitu indah. Keisa melihat semua orang mengabadikan peristiwa ini. Saat dimana bola raksasa yang bersinar itu mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Dia melihat semua orang, lalu pandangannya tertuju pada satu orang. Keisa melihat ada yang aneh dengan orang itu. Dia tidak memotret sunrisenya. Dia membidikkan kameranya ke arah Keisa. Keisa membalikkan badan untuk tak melihatnya. Saat Keisa melihatnya lagi, dia tak mengubah bidikan kameranya. Keisa coba memandang wajahnya, ternyata Keisa pernah melihatnya. Ya, dia cowok yang memberikan payung.
“Kenapa tidak memotret sunrisenya?” tanya Keisa sambil menghampiri orang itu dan dia langsung melepas kameranya untuk kembali bergantung di lehernya.
“Apa yang datang kesini harus selalu memotret sunrise?” jawabnya.
“Kamu cowok yang memberiku payung kan?” tanya Keisa.
“Kamu cewek yang menangis di tengah hujan kan?” tanyanya yang tak menjawab pertanyaan Keisa.
“Kenapa kamu memberiku payung?” tanya Keisa.
“Agar kau tidak semakin basah. Itu hujan pertama. Kata orang, hujan pertama itu bisa membuat orang sakit.” jawabnya. Keisa tak mengerti entah darimana dia tahu mitos aneh seperti itu.
“Kau percaya itu? Itukan kata orang tapi menurutku tidak. Aku masih sehat sekarang.” kata Keisa yang mencoba menjelaskan bahwa mitos aneh itu tidak benar.
“Karena aku sudah memberimu payung.” jawabnya sambil melemparkan senyuman pada Keisa. “Kenapa kamu menangis di saat hujan seperti itu?” cowok itu kembali bertanya pada Keisa. Keisa sejenak terdiam. Mungkin dia mencerna satu per satu kata yang keluar dari mulut cowok itu sebelum dia menjawabnya.
“Aku berharap hujan bisa menghapus semua luka dan kenangan masa laluku.” jawab Keisa. Cowok itu terdiam mendengar jawaban Keisa.
Mereka saling mengenalkan diri. Ternyata cowok itu bernama Juan. Saat Juan bertanya tentang luka dan kenangan yang Keisa maksud, Keisa pun tak segan membagi cerita dengannya. Sambil sesekali terlihat ada air mata yang timbul di sudut mata Keisa lalu menetes ke pipinya. Ya, rupanya Keisa masih belum bisa sepenuhnya melupakan hal itu.
“Jangan menangis, yang pergi biarkan saja pergi. Mereka sudah menemukan kebahagiaannya. Apa kau juga tak mau menemukan kebahagiaanmu?” dengan nada lirih Juan berkata pada Keisa. “Jangan buang air matamu untuk mereka. Masih ada yang lebih pantas untuk menerima air mata itu suatu saat nanti.” lanjut Juan. Keisa tak menjawab sama sekali. Dia hanya termenung memikirkan kata-kata Juan yang menurutnya ada benarnya juga.
“Kau lihat sunrise itu!” kata Juan sambil telunjuknya mengarah pada matahari. “Pernahkah kau berpikir kenapa kamu sekarang ada disini?” tanya Juan. Keisa hanya menggelengkan kepala. “Mungkin Tuhan ingin menunjukkan padamu, bahwa meskipun tanpa dia kau masih bisa melihat pagi dengan sunrisenya.” jelasnya lagi. Keisa tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Juan. Keisa tersenyum. Dia merasa ada sesuatu hal yang datang dan membuat hatinya sejuk. Tentu bukan udara di puncak bukit ini. Keisa juga tak mengerti apa itu.
Semenjak saat itu, Keisa semakin hari semakin bisa melupakan lukanya. Bahkan menghilangkannya. Semua ini berkat kehadiran Juan, pikirnya. Juan seperti sunrise muncul di ufuk timur. Ia akan siap untuk menerangi sepanjang hari. Keisa berpikir sudah saatnya dia bangkit dari keterpurukan. Dia tidak mau terus menerus bersedih atas apa yang dilakukan ‘mantan’ pacar dan sahabatnya itu. Hati harus kembali di tata, agar kembali ada tempat untuk siapa pun yang menunggunya.
Tamat
Cerpen Karangan: Yudik Wergiyanto
Facebook: Yudik Wergiyanto

Naksir Senior

Tidak tahu kenapa hatiku selalu merasa berbeda saat melihatnya. Sudah sebulan aku masuk di kampus baru ini tapi belum pernah aku melihat wajah sumringah nan teduh seperti itu. Baru seminggu belakangan ini aku melihatnya di kampus ini. Rambutnya hitam, kulitnya putih, wajahnya imut dan bertubuh mungil. Pagi ini dewi keberuntungan mengijinkan aku berpapasan dengannya, padahal aku baru saja tiba di kampus. Walaupun dia tidak mengenalku tetapi aku senang bisa melihatnya. Dan aroma parfumnya serasa selalu melekat di hidungku saat ia melintas di dekatku. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat karena memasuki sebuah ruangan di sudut kampus.
“Ehmm, liat apa sih? Serius amat”, seru lilis teman satu kelasku yang membuatku tersadar dari lamunanku. “Ahh.. kau lis, ngagetin ajah. yuk masuk kelas dah hampir masuk kayaknya”, ujarku kemudian sambil menuju ruangan kelas.
Esok paginya aku bergegas berangkat ke kampus berharap bertemu dengan bidadari itu. Biasanya dia datang cepat. Seharian aku berada di kampus ini namun aku tidak melihatnya. Hmm.. mungkin hari ini dia lagi tidak ada jam kuliah hiburku dalam hati. Dua hari kemudian aku baru melihatnya kembali. Dia berbincang-bincang dengan salah seorang temannya sambil menuruni tangga menuju lantai bawah. Kebetulan aku mau naik tangga menuju ruangan kelas. Ingin sekali aku menyapanya. Namun saat dekat persis di depannya aku tidak berani menatapnya sedikit pun. Aku berjalan melewati mereka dengan perasaan deg-degan. Hingga kepalaku hampir menabrak tembok saking groginya. Aduh malunya. Mereka pun senyam-senyum melihat kekonyolanku.
Begitulah seterusnya selalu ada perasaan aneh yang kurasakan setiap kali melihatnya apalagi dekat dengannya.
Suatu ketika ada sebuah acara yang diselenggarakan di sebuah Hall terkenal di kota Medan oleh kampus kami. Dia duduk persis belakangku selama acara berlangsung. Perasaan senang sekaligus tak nyaman menghinggapiku saat itu. Ingin sekali aku mencuri kesempatan untuk menyapanya namun itu tidak memungkinkan. Jadi kuurungkan saja niatku hingga acara selesai. Semua mahasiswa/i yang mencapai ribuan dan seluruh pihak manajemen, dosen dan seluruh staff-staff disana pun bubar. Sambil menuju pintu keluar aku mengikutinya di tengah kerumunan orang dari belakang. Tadinya dia bersama dengan teman-temannya tapi sepertinya dia kehilangan jejak teman-temannya. Ini sebuah kesempatan dan segera aku menghampirinya yang sedang berada di tengah antrian pintu keluar.
“kak..”, sahutku sambil tersenyum saat dia melihat ke arahku. Dia sedikit tersenyum kemudian. “kak, boleh kenalan?”, sahutku tiba-tiba dan terlontar begitu saja. Wajahku pun memerah.
“kamu kan…”, sahutnya seolah mengingat sesuatu. Kita berada dalam satu lokasi kampus yang sama kak, sahutku mantap.
“oh ya saya ingat.. aku pernah melihatmu. Namaku kim, dan namamu siapa?”, sahutnya kemudian. Namaku Emerald kak sahutku sambil mengulurkan tangan. Sebuah percakapan singkat pun terjadi. Namun sialnya aku malah kehilangan jejaknya saat tiba-tiba kerumunan orang-orang itu menyeruak ke luar gedung. Semua Almamater mahasiswa/inya sama berwarna ungu. Aku kewalahan untuk menemukannya.
Pertemuan kami tidak berakhir sampai disana. Masih ada acara kerohanian yang mempertemukan kami seminggu kemudian. Kali ini aku melihatnya datang seraya menaiki tangga menuju lantai tiga. Dia sedang melangkah sendirian. Dia melihatku lalu tersenyum dengan manisnya. Tentu saja segera kubalas dengan senyum semangat. “kamu kemana semalam, kenapa tiba-tiba menghilang?”, sahutnya. Hmmm… aku baru saja bergumam tiba-tiba seorang temannya memanggilnya menyusul dari belakang. Langkah kami pun terrhenti dan mereka kemudian berbincang-bincang sesaat. Lalu aku pun memilih untuk bergerak duluan. Selalu saja ada penghalang, gerutuku dalam hati.
Selesai acara itu aku dan dion temanku berjalan dari lokasi kampus menuju halte bis di seberang jalan. Sambil menunggu angkot tak berapa lama kemudian kim datang. “kakak mau nunggu angkot disini juga?”, sahutku. “hmm… ya”.
“Emangnya kakak nge-kost dimana?”
“Di jalan bhayangkara. kamu tau kan..”, ujarnya sembari memperhatikan angkot yang lewat. “Aduh.. belum tahu saya kak daerah sana. maklum saya baru beberapa bulan di Medan ini”, ujarku.
Ternyata dia satu arah denganku dan kami bisa menaiki angkot yang sama. Selama di dalam angkot aku gak berani banyak ngomong dengannya. Ia nampak serius orangnya tapi mengagumkan. Di dalam angkot pun dia bisa baca buku. Sesekali aku meliriknya. Tak heran rasa kagumku pun makin bertambah melihatnya.
Lagi-lagi aku tak bisa berlama-lama berada di dekatnya. Aku harus segera turun dari angkot ini karena simpang ke kosanku sudah sampai. Meski belum rela berpisah lagi dengannya kaki ini harus tetap melangkah.
Malamnya aku tak habis pikir tentangnya. Bayangannya tak bisa hilang dari ingatanku. Joe teman satu kos sekaligus teman satu kamarku heran melihatku senyam-senyum sendiri. Tak ingin disangka aku mulai sinting akhirnya kuceritakan saja tentang kim, gadis pujaanku itu. hehehe.
Seperti sebelum-sebelumnya dewi fortuna selalu memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya. Seperti siang ini sehabis mata kuliah hari ini usai. Hmm.. tapi dia sedang terlihat serius baca akses informasi di mading. Pelan-pelan aku mendekatinya. “siang kakak.. serius banget bacanya”, sahutku memulai percakapan. “Hmm..”, balasnya dengan sedikit senyum sekilas lalu kembali masih memperhatikan mading. Dingin banget reaksinya sahutku dalam hati. Tapi aku belum mau menyerah. Aku harus dapatkan nomer hapenya, gimana pun caranya.
Setelah menggunakan berbagai cara akhirnya dapat juga nomernya. Tapi aku habis dulu di ledekin sama teman-temanku yang kebetulan masih pada disana. Ikut-ikutan sok baca informasi di mading.
Setelah itu beberapa kali aku mengirimkan pesan melalui sms padanya. Beberapa kali sih dibalas. Setiap kali aku tanya dia sedang apa? Pasti jawabannya sedang baca buku, kadang novel, sedang ngerjain tugaslah dan bayak lagi. Dan kayaknya selalu sibuk. Susah banget buat ngedapatin informasi tentangnya. Tapi itu yang makin buatku penasaran.
Tapi selebihnya ia terlihat lebih ramah terhadapku di kampus. Entah itu menurutku saja. Paling tidak ia sudah mulai senyum agak melebar saat aku menyapanya. Kemudian aku berencana menyelidikinya. Kumulai dari mencari tahu apa saja hal-hal yang dia sukai dan tidak disukainya. Hobinya, makanan dan minuman favoritnya, siapa saja teman-teman dekatnya, hingga parfum kesukaannya. Aku tiba-tiba terbayang saat wangi parfumnya seolah bertebaran dimana pun dia berada. Aku sampai-sampai hafal aroma parfumnya. Ini benar-benar aneh. Belum pernah ada orang yang bisa membuatku segila ini. Mungkinkah aku sedang naksir dia?
Yah itu juga menurut joe teman satu kamarku. Aku sedang jatuh cinta pada seorang gadis mungil yang bernama kim.
“yang benar bang? Masa aku naksir dia”, ujarku memastikan.
“hmm, menurutku begitu”, sahut joe kemudian.
Dia lalu menyarankan aku untuk segera mengambil tindakan sebelum terlambat.
Bulan depan bakalan ada acara Natal yang diselenggarakan oleh kampus kami mengingat ini sudah berada di bulan November. Akhirnya sebuah ide brilliant pun muncul.
Pada saat acara natal tiba. Aku menunggu darimana sosok bidadari pujaanku itu akan muncul. Tak lama kemudian dia pun muncul. Malam ini dia cantik sekali mengalahkan para bidadari-bidadari yang ada malam ini.
Biasanya setelah berada di penghujung acara akan ada momen pertukaran kado natal. Tentu saja aku sudah persiapkan kado specialku. Akan kuberikan pada kim.
Setelah tiba di penghujung acara, tibalah saat yang kutunggu-tunggu sekaligus mendebarkan ini. Kulihat dia masih duduk di kursinya sementara teman di sampingnya sedang sibuk berbincang-bincang dengan seseorang yang baru menghampirinya.
Aku berniat segera menghampirinya.
“Ehmm… kak boleh minta foto?”. Segera kukeluarkan ponsel dari saku celanaku.
Baru mulai satu foto beberapa orang temannya datang menghampiri.
“kim.. foto bareng-bareng dong!”, ujar salah seorang dari mereka. Sadar aku bukan
siapa-siapa di antara mereka segera aku undur diri. Sedikit kecewa.
Niatku untuk memberinya kado spesial kuurungkan. Terlebih lagi setelah menyaksikan dia berfoto mesra dengan salah seorang cowok yang datang menyusul kemudian.
Mungkin dia pacarnya. Ganteng, tinggi, keren, putih. Akh.. bodoh sekali aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Mana mungkin seorang cewek sepertinya belum ada pemiliknya.
Setelah itu aku tidak berani lagi menghubunginya melalui sms. Bahkan untuk sekedar menyapanya atau bertatapan dengannya di kampus pun aku tidak berani. Begitu mengetahui dia sedang berada di sekitarku aku segera menghindar bagai orang kesetanan. Padahal menurutku dia seorang bidadari bukan setan. Aku berusaha untuk melupakannya.
Beberapa waktu kemudian aku tau bahwa ternyata cowok yang hari itu foto dengannya bukanlah pacarnya. Mereka hanya sekedar teman biasa. Aku menyesal terburu-buru mengambil kesimpulan yang belum pasti. Aku tiba-tiba teringat dengan kado yang hari itu ingin kuberikan padanya. Sebuah parfum favoritnya. Berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya.
Setelah beberapa hari mempersiapkan mental untuk menghadapi apapun resikonya. Akhirnya aku pun mengungkapkan perasaanku padanya di suatu sore melalui telepon. Namun dia menolakku untuk alasan yang tidak kumengerti. Dia hanya bilang padaku sebaiknya aku harus pikirkan kembali niatku baik-baik. Kali ini aku baru tau bahwa ada bidadari yang tega menghancurkan perasaanku.
Beberapa bulan kemudian aku dan para mahasiswa/i lainnya yang mencapai ratusan jumlahnya memasuki sebuah ruang auditorium. Kami peserta yang diundang merupakan perwakilan dari setiap kelas dari setiap jurusan untuk menghadiri rapat. Para panitia pun sudah bersiap di atas panggung. Mereka menyampaikan sosialisasi sebuah acara yang akan dilaksanakan selama beberapa bulan kedepan.
Astaga. Tiba-tiba mataku terbelalak melihat kim ada di antara mereka. Dia bukan hanya sekedar panitia semata. Baru saja salah satu pembicaranya memperkenalkan bahwa kim adalah ketua panitia acara tersebut.
Bukan hanya itu, aku baru tau kalau dia ternyata kakak kelasku yang sebentar lagi bakal diwisuda. Selama ini aku kemana saja.
Dion teman satu kelasku tertawa sepuasnya melihat wajahku yang masam setelah mengetahui yang sebenarnya. Bahkan joe pun tertawa geli melihatku. Lucunya lagi ternyata joe mengenal kim. Mereka bahkan satu angkatan. Tapi selama ini dia kan tidak tau siapa orang yang aku maksud. Bidadari yang kutaksir selama ini adalah kakak seniorku.
Cerpen Karangan: Dewi Samosir
Facebook: Dewi Xam
Nama lengkap : Dewi sartika samosir

Bersamamu



“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.
Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.
Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.
Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.
Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.
Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.
Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.
Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.
Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.
Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.
Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.
Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.
Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.
Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.
Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?
Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”
Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.
Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”
Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu
Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.
Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.
Cerpen Karangan: Firyal D. Haqqi
Facebook: Firyal Dhiyaul Haqqi