Selasa, 17 September 2013

Sebaiknya Aku Mengerti

Hari ini hari selasa, tepatnya hari jadiku dengan Karel. Aku sudah menjalani hubungan ini selama 1 tahun. “Hai Sya” sapa Noni sahabatku. “Hai Non” ucapku dengan nada bahagia. “Ciye ciye hari ini anniv nih” ujar Noni mencubit pinggangku. “Hehe.. Iya nih, tapi Karel belum kelihatan juga sampai sekarang” ucapku kecewa. “Sabar aja kali Sya”. “Iya deh”.
Tak lama dari itu, Karel datang kepadaku, dan langsung mengambil posisi duduk di sebelahku. “Happy anniv ya Sya” ucap Karel memelukku. Kali ini Karel memelukku dengan pelukkan yang sedikit berbeda. Entah, aku tak tau mengapa. “Fasya..” ucap Karel menatapku. “Iya? Ada apa Karel?”. “Kita sampai sini saja ya?” ucap Karel menitikkan air mata. “Apa salahku?” balasku dengan nada sedih. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit. Tapi setelah kelulusan nanti, aku akan segera bertunangan” jelasnya. “Dengan siapa?”. “Anak temannya mamahku” jawabnya renyah. Aku tak menjawab apapun dari perkataannya dan langsung pergi dari hadapannya. Sahabatku Noni mengejarku, “Fasyaa!! Tunggu”. Aku hanya menghentikan langkahku dan membalikkan badan dengan mata yang berderai air mata. “Sya, kamu yang sabar ya? Jangan sedih, kan masih ada aku disini?” ucap Noni menenangkanku. “Aku hanya tak menyangka, Karel memutuskan hubungan ini tepat pada anniv 1 tahun, dengan alasan akan bertunangan pula!” ucapku menyandarkan kepala di bahu Noni. “Sudah sudah, disini masih ada aku Sya”. “Terimakasih Noni, kamu sahabat terbaik yang pernah aku kenal”. “Iya sama-sama. Sudah hapus air matamu”.
Setelah kejadian itu, Aku sering melamun di tempat yang sepi. “Besok pengumuman kelulusan, dan setelah itu Karel akan bertunangan” batinku menangis. Kini aku bukan lagi seorang periang. Aku selalu mengingat semua kenangan dulu di saat bersama-sama dengan Karel.
FASYA AULIA YOGASWARA — LULUS. Aku hanya tersenyum melihat tulisan yang terpampang di papan pengumuman. Lalu aku menggerakkan telunjukku ke bawah. GANENDRA KAREL YULIANTO — LULUS. Kenyataan ini yang membuatku semakin sakit. “Sya, gimana? Kamu lulus?”. “Alhamdulillah lulus Non” ucapku dengan nada lesu. “Lulus? Kenapa cemberut?”. “Karena Karel juga lulus Noni” ucapku menggentak. “Lalu kenapa? Harusnya kamu senang dong Karel lulus?”. “Senang? Aku harus senang?”. “Oh, aku mengerti sekarang. Jika Karel lulus, itu tandanya dia akan segera bertunangan bukan?” ucap Noni percaya diri. Aku tak menanggapi perkataannya itu. “Sudahlah Sya, mungkin karel bukan jodoh kamu. Sudah! Ayo ke kantin” Noni menarik tangaku.
Dan ini kenyataan yang sangat pahit! Aku bertemu karel di kantin. “Hai Sya” sapa Karel padaku. Aku tak menggubris sedikit pun sapaannya itu, aku segera membuang muka! Layaknya seseorang yang tidak pernah kenal. “Sya!” ucap Karel memegang tanganku. “Lepasin! Kamu itu siapa? Aku gak kenal!” ucapku menggentak. “Segitukah kau membenciku Sya?” tanyanya dengan nada memelas. “Maaf” ucapku meninggalkan Karel. Aku berlari meninggalkan Noni yang sudah duduk di meja kantin. “Sya Fasya” teriak Karel memanggilku. Noni segera menoleh ke arahku yang sedang berlari. “Ada apa lagi ini” batin Noni geregetan. Noni segera mengejarku. “Fasya berhenti! Kamu gak bisa kayak anak kecil terus dong! Kamu itu udah lulus SMA”. Aku menghentikan langkahku. “Biarkan aku untuk sendiri Non, ku mohon”. “Baiklah jika itu mau mu. Tenangkan dirimu Sya”.
Hari hari pun berlalu. Dan hari yang kutunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pengumuman penerimaan siswa di Universitas Gajah Mada. Dan Alhamdulillah, aku diterima di Universitas tersebut. Kini aku sudah menjadi anak kuliahan.
Hari demi hari ku lewati di Universitas itu. “Hai Sya” ucap seseorang mengagetkanku. Aku segera menengok ke sumber suara. Dan ternyata itu sahabatku. Ya! Noni! “Hai Noni! Kemana aja sih? Dari kemaren sim card mu gak aktif?”. “Hehe… sengaja”. “Dasar Noni!!”. Aku langsung memeluk Noni dengan pelukan yang sangat hangat. Layaknya pelukan dari seorang Ibu.
“Kantin yuk Sya?”. “Gak di SMA, dak disini, makan terus yang dipikirin”. “Hehe.. biarin aja dong” ucap Noni sambil menarik tanganku. Aku dan Noni langsung berjalan menuju kantin. Aku memilih meja nomor 7. “Kamu mau apa Sya?”. “Tumben nanya? Mau mentraktir?”. “Hm.. ya ya! Kali ini saja aku mentraktir kamu”. “Ok! Aku pesen bakso sama jus jeruk aja deh Non”. “Oke, tunggu bentar ya aku pesen dulu”. “Sipp”.
Tak lama kemudian, Noni sudah kembali di hadapanku. “Sya?”. “Ada apa?”. “Kamu udah bisa move on dari Karel?”. “Ngapain bahas dia lagi sih Non?”. “Bukannya gitu Sya. Masalahnya Karel juga kuliah disini!”. “Haah?!” teriakku kencang. “Sttt! Gak usah keras-keras dong”. Aku cukup kaget dengar berita itu. Karel? Satu kampus sama aku? TIDAK!
“Maaf, yang pesen jus jeruk tadi siapa ya?” ucap penjaga kantin setengah berteriak. “Saya!” ucapku dan salah seorang lagi. Aku segera memalingkan pandanganku dengan tangan yang masih ku angkat. “Fasya?” ucap orang tersebut. “Karel?!” ujarku tak percaya. Kini aku tak mau bersikap seperti anak kecil lagi, aku akan berusaha tetap disitu. Semakin jelas aku mendengar derap langkah yang menuju kepadaku. Aku hanya tertunduk dan diam, aku tak mau melihat wajahnya lagi. “Hai Sya, apa kabar” ucap Karel lembut. “Oh saya baik” jawabku santai. “Kamu sudah jadi tunangan belum Rel?” ujar Noni menimpali. “Em.. rencana minggu depan Non”. “Oh begitu”. Aku tertunduk lemas, rasanya saat itu juga aku ingin pergi ke suatu tempat agar aku tak bertemu dengan Karel lagi. “Em, aku masuk dulu ya? Ada kelas siang ini” ucapku dan langsung pergi meninggalkan mereka di meja kantin.
Saat pelajaran pun aku tak bisa memfokuskan diriku pada pelajaran tersebut. Aku selalu terbayang tentang pertunangan Karel nanti. Setelah kuliah hari ini selesai, aku membuka lokerku. Dan ternyata ada sebuah amplop yang berukuran sedang. “Amplop? Dari siapa?” ucapku lirih. Sesegera mungkin aku membuka amplop tersebut. Aku mulai menarik isinya keluar. Sebuah kartu undangan pertunangan untukku. Aku membuka kartu itu, tiba-tiba ada sebuah kertas putih yang jatuh. Aku mengambilnya, dan perlahan ku buka kertas itu.
Untuk: Fasyaku
Assalamu’alaikum Sya…
Minggu depan saya tunangan dengan Rara. Maafin saya Sya.. sebenernya saya gak pernah setuju sama pertunangan ini. Saya masih ada rasa sama kamu Sya. Saya hanya terpaksa bertunangan dengan Rara, karena dia mengidap suatu penyakit yang sangat serius Sya. Tolong datang ke acaraku ya Sya..
Wassalamu’alaikum..
Dari: Karel
Aku menitikkan air mata setelah membaca surat itu. Aku tak kuasa untuk membendung air mataku lagi. Aku berjalan menyusuri lorong kampus, dengan keadaan berderai air mata.
Satu minggu telah berlalu, kini saatnya aku menghadiri acara pertunangan Karel dengan Rara. Aku mempersiapkan diriku serapih mungkin. Hari ini Noni akan menjemputku. “Hai Sya”. “Hai Non, sudah datang?”. “Sudah dong. Rapih banget Sya?”. “Emm? Kerapihan ya?”. “Ya gak juga sih, ya udah yuk, cepetan berangkat”. “Okeyy, tunggu di mobil saja ya Non”. “Siapp”.
Setelah selesai berdandan, aku segera menemui Noni di mobil. “Hai Non” ucapku sambil masuk ke dalam mobil. “Eh Sya udah selesai?”. “Udah lah, kalo belum ngapain aku kesini” ucapku menggurau. Suasana di dalam mobil sunyi senyap. “Sya, apa kamu yakin mau menghadiri acara itu?” ucap Noni memecahkan suasana sunyi itu. Aku hanya menolehkan kepalaku ke arahnya, dan segera menepikan mobilku. “Aku juga bingung Non. Apa aku kuat kalau ngeliat mereka berdua bertukar cincin?”. “Sudahlah Sya, kalau kamu gak kuat ya kita gak usah kesana”. “Tapi? Karel yang menyuruhku untuk datang Non” ucapku sambil menjalankan mobilku kembali. “Baiklah itu hak mu untuk memilih”.
Setelah sampai disana, aku langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Sudah banyak orang yang datang. “Sya, sepertinya sudah akan dimulai” ucap Noni. Aku menarik tangan Noni, dan menggelengkan kepala. “Hai Sya!” teriak seseorang. Langkah itu mendekatiku, aku semakin gemetaran dibuatnya. “Hai Rel” suaraku bergetar. “Ayo masuk Sya, Non” ucap Karel renyah. “Iya Rel” jawab Noni mewakiliku. Aku, Noni, dan Karel pun masuk ke dalam gedung untuk melihat acara tukar cincin itu. Air mata sudah mulai berjatuhan ke lantai, tapi aku akan terus mencoba untuk bertahan.
Acara pun dimulai. Aku melihat semua itu dengan tegang. Saat Karel akan memakaikan cincin itu di tangan Rara, aku menangis tak kuasa. Aku segera berlari keluar gedung. “Fasya” panggil sahabatku Noni. “Kan aku sudah bilang, kalau tidak kuat tidak usah dipaksakan” ucap Noni. Aku hanya bisa menunjukkan wajah sembabku. Aku merasa lelah, dan Noni mengajakku untuk duduk di bangku. “Sebaiknya kau mengerti Sya” ucap Noni menenangkanku. “Mungkin! Sebaiknya aku mengerti semua ini. Karel hanya terpaksa bertunangan dengan Rara”. “Nah itu kamu tahu Sya. Sudahlah biarkan Karel pergi bersamanya. Kamu itu cantik, baik, pintar pula, pasti banyak lelaki yang mau denganmu Sya” ucap Noni. “Baiklah. Aku ingin pulang”. “Ayo”. “Tapi kau yang menyetir ya Non”. “Iya iya”.
Setelah hari itu, aku berhasil untuk mengikhlaskan Karel pergi bersama dengan Rara. Dan memulai hidup bahagia dengan tunanganku.. Danis
Cerpen Karangan: Putri Novitasari
Facebook: Putri Novita Sari

Dia Cinta Pertamaku

Pertama kali aku jatuh cinta dulu waktu umur 10 tahun. Waktu itu rasanya masih terlalu cepat untuk anak seumuranku mengenal cinta. Pada umur 10 tahun itu pula, aku pertama kali mengenal kata pacaran. Sebut saja dia cinta pertama sekaligus pacar pertama untukku. Karena namanya anak-anak, pacarannya juga seolah main-main dan kekanak-kanakan. Tapi perasaan itu seakan masih membekas sampai sekarang. Kenangan kebersamaannya juga seakan masih teringat jelas. Aku pikir itu bukan cinta biasa.
Sekarang umurku belum genap 16 tahun. Lima tahun lebih berlalu semenjak itu. Hubungan yang dijalin itu memang telah berakhir dua tahunan yang lalu, saat aku dan dia memutuskan berpisah. Waktu saat kami mulai sama-sama memasuki bangku SMP. Pemikiran yang dewasa memang saat aku berpikir bahwa aku tidak begitu lagi mencintainya.
Ternyata perpisahan waktu itu bukan pilihan yang tepat. Tanpa kusadari di hatiku masih ada dia, entah itu karena aku melihatnya setiap hari atau apa tapi bisa jadi karena kami masih satu sekolah. Mungkin karena tidak terlalu besarnya cintaku padanya, aku pun seolah acuh pada hatiku yang mengatakan aku masih mencintainya. Dan aku pun menjalin hubungan dengan seseorang, seseorang yang pada akhirnya membuat aku menunggu sangat lama, seseorang yang seolah mempermainkan aku dan seseorang yang membuat aku menyesal telah mengabaikan perasaan bahwa aku masih mencintainya, cinta pertamaku. Tidak tidak, itu bukan sebuah penyesalan yang pantas disesali.
Dan untuk ketiga kalinya, aku kembali menjalin hubungan. Aku seperti menjadi orang jahat waktu bersamanya, selalu melakukan tindakan sesukaku. Huh, aku seolah melampiaskan perasaanku pada orang ini. Tapi mengapa dia teramat baik untuk itu? Apakah bila aku kembali memutuskannya, dia akan baik-baik saja? Aku hanya tak ingin kembali menyakitinya oleh karena sifatku yang seperti ini. Mungkin memang aku aneh, tapi dibalik itu semua aku menyayanginya.
Aku tidak terlalu mempercayai itu cinta. Karena aku juga dibesarkan di keluarga yang tidak terlalu banyak cinta. Aku mungkin seorang yang kesepian, seorang yang hanya bisa memendam semuanya sendiri. Bagaimana dengan orang yang kusebut sahabat? Berpikir mereka memiliki masalahnya masing-masing, itu tak masalah jika aku tidak begitu mau berbagi masalahku.
Hari-hariku ku jalani dengan selalu berharap bahwa esok akan lebih baik. Selalu berusaha menunjukkan bahwa hidupku tidak memiliki masalah dan aku orang yang paling bahagia di dunia ini serasa melelahkan. Semuanya kebohongan. Saat hatiku merasa lelah dengan semua ini, saat itu pula aku selalu merindukannya. Dia yang biasanya menyandarkan bahunya untukku saat aku merasa sedih. Dimana dia saat ini? Mengapa aku terlambat menyadari bahwa dia teramat berarti untukku.
Otakku menjadi bingung saat aku memikirkan mengapa aku bersedih saat aku mengetahui dia sudah memiliki kekasih baru dan sangat senang jika suatu hari dia berpisah dengan kekasihnya itu. Ada apa denganku? Padahal jelas-jelas aku mengatakan aku tidak begitu menyukainya lagi. Tapi mengapa saat dia menatapku, hatiku seolah masih bergetar? Dia, cinta pertamaku, mengapa sekarang dia menjadikan aku orang yang egois? Aku hanya ingin dia mencintaiku, aku hanya ingin hanya aku di hidupnya padahal cintaku sendiri tidak sepenuhnya untuknya, hatiku bahkan sekarang seolah mengatakan aku mencintai orang lain. Tapi mengapa dia seolah abadi dalam hatiku ini?
Hingga suatu saat orang lain yang kucintai itu memilih pergi meninggalkanku. Aku merasa sedih, hatiku seolah hancur. Orang lain itu mengapa seenaknya untuk datang pergi, mengapa orang lain itu selalu menghancurkan hatiku dan kemudian memperbaikinya. Dan mengapa orang lain itu seperti telah menjadikan aku orang yang sangat mencintainya. Tidak, orang lain itu bukan menjadi orang lain lagi, orang lain itu telah menjadi orang yang penting di hidupku. Otakku tidak begitu hebat untuk bisa mengerti hati, bahkan tentang perasaan ini masih sulit dimengerti. Saat aku mengatakan aku mencintainya, tapi hatiku juga menegaskan bahwa di sisi lain nama cinta pertamaku itu masih belum hilang. Oh Tuhan, mengapa saat hatiku hancur karena orang lain itu, Kau malah mengirimkan dia “cinta pertamaku” untuk menghiburku.
Dia kembali mengatakan bahwa dia masih mencintaiku. Kata-kata itu seperti menjadi alasan aku tersenyum namun tidak begitu ku indahkan. Aku buat dia menunggu, padahal aku tau jawaban hatiku yang tak bisa menerimanya lagi. Ya, sampai suatu saat orang lain yang begitu aku cinta itu datang kembali. Entah karena aku bodoh atau apa, aku menyambutnya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan. Aku meninggalkan dia “cinta pertamaku” karena orang lain tanpa berpikir apa yang akan terjadi padanya. Tapi dia tidak pernah bosan datang dan datang lagi kepadaku dan aku pun selalu menolaknya.
Hingga suatu ketika dia datang lagi tapi bukan untuk mengatakan “dia mencintaiku” melainkan orang lain. Dadaku terasa sesak saat itu dan hatiku seakan sakit. Bagaimana mungkin aku seperti? Mengapa aku begitu egois. Tidak selamanya dia akan selalu mencintaiku, tidak selamanya dia rela menunggu. Aku hanya bisa menahan tangis dan mengatakan “Berbahagialah. Aku tau suatu saat nanti kamu pasti menemukan orang yang lebih dari aku”. Dia hanya membalas dengan senyum, dan aku melanjutkan dalam hati “Tapi bisakah walaupun kau mencintai orang lain saat ini, aku akan selalu ada di hatimu itu dan selalu abadi disitu”.
Cerpen Karangan: Mita
Blog: http://blogkumita.blogspot.com
Facebook: Mita Ita Ta