![]() |
| Add caption |
“selesai, ucapkan salam”
Itulah kata yang selalu ku dengar dan ku ingat setah rapat
berakhir, terkadang bila orang bertanya padaku “eh tadi rapat yang dibahas
apa?” jawabanku pasti simple “gatau” Cuma satu kata itu yang selalu ku
lontarkan, karna jujur saja, jarang sekali aku menyimak rapat, aku lebih suka
langsung terjun kelapangan dari pada membahas semuanya dengan kata kata yang
menurutku tidak terlalu penting, ya itulah aku yang sekarang yang perlahan
mulai bosan dengan kata kata, apalagi kata kata manis yang pasti berujung
memuakkan atau bahkan menyakitkan.
Satu persatu orang di ruangan ini mulai menghilang tapi tidak
semuanya lenyap begitu saja, karna masih ada saja yang diam di ruangan ini
walaupun ada beberapa yang langsung pulang, tapi ada juga yang menaruh tas
mereka di ruangan ini lalu mencari jajanan terlebih dahulu ke kantin, atau
bahkan ada juga yang masih duduk di ruangan hanya untuk sekedar mengobrol dan
menghabiskan waktu dengan teman teman satu organisasi, salah satunya adalah
aku.
Pada saat rapat tadi aku memperhatikan seseorang yang membuatku
heran, namanya fatma setahuku dia orang yang periang bagai sebuah pohon
setengah baya yang rindang dan di penuhi daun daun hijau yang segar lalu
tertiup angin dan melambai lambai, dia selalu tersenyum riang setiap saat
apalagi bila sedang bersama ke 5 teman teman nya yang terbilang sangat kocak
dan mengasyikan, tapi baru kali ini aku melihat auranya amat berbeda, sedari
tadi dia hanya melamun dan terdiam dengan muka yang agak kusut seperti
memikirkan banyak hal, dia seperti sedang dihadapkan pada sebuah masalah besar,
tapi entahlah aku tidak terlalu yakin. Akhirnya aku coba memberanikan diri
untuk menghampirinya saja, agar rasa penasaranku tak berlarut larut pikirku,
“fatma”
aku mencoba menghampirinya dan memanggilnya, tapi fikirannya
dia seperti sedang berada di tempat lain dan tidak menyadari bahwa aku
memanggilnya, lantas aku coba sekali
lagi untuk memanggilnya sembari menepuk pundaknya
“hey ma, fatma”
“eh ga, maaf maaf aku ga nyadar kamu
manggil” serentak dia trerkejut
“ ya ia lah orang kamu dari tadi
melamun terus, kamu keliatannya lagi stress, ga biasanya? Ada apa ma? Lagi ada
masalah?”
“eh eng engga ko, perasaan aku biasa
aja, mungkin itu itu perasaan kamu aja” jawab nya terbata bata,
“ehh ma tapi bener loh dari tadi kau ngelamun
mulu, ada apaan sih?”
Tanya teman nya aprilia, tapi kami
sering memanggilnya uwek, setahu ku dia di panggil uwek karena dia sangat suka
bebek, entahlah apa yang membuatnya begitu suka pada unggas yang satu itu, aku
pun bingung tak begitu mengerti tapi sepertinya itu tidak begitu penting.
“alah palingan galau, hahahah. Cerita
dong ma.”
Lontar temannya satu lagi, namanya endah tapi
kamu sering panggil dia uju, entahlah apa hubungan nya uju dan endah tapi
itulah dia, cewe kocak yang fikirannya selalu kemana mana, oh iya ada 1 lagi
teman fatma yang sama melanturnya seperti uju, namanya Fatimah tapi kami sering
panggil dia dede, nah kalo yang ini di panggil dede karna dia emang yang paling
muda, jadi kami sering panggil dia dede.
“pasti masalah dia lagi ya ma, udah
mending kamu gak usah fikirin dia, belum tentu dia juga fikirin kamu loh”
tegas try, salah satu teman dekat
fatma juga, mungkin di antara semuanya dialah yang paling dewasa dan lebih
anggun, tidak seperti uju dan dede yang terkadang tomboy seperti laki laki,
atau uwek yang terkadang seperti anak kecil, tapi sepertinya perbedaan ini lah
yang membuat mereka selalu ceria sepanjang saat dan kebersamaan mereka seakan
tidak tergoyahkan,
“engga ko bukan apa apa” jawab fatma
“aduh aduh ma, sama cowo ko galau,
kalo tuh cowo macem macem hajar aja, ia kan ju”
“hahah ia de bener banget itu, cowo
itu jangan di diemin kalo macem macem”
Dede dan uju pun mencoba menghiburnya
dengan sedikit guyonan tapi hal itu justru membuat fatma semakin merasa
terganggu,
“udah deh yah aku capek, lagian nenek
suruh aku jangan pulang kesorean, aku duluan ya, gapapa kan?”
fatma pun bergegas mengambil tasnya dan coba menghindari kami, biarpun teman teman
nya belum menjawab fatma pergi begitu saja, dan serentak uwek dan try mengambil
tas mereka dan mengejar fatma, sedangkan uju dan dede pun diam saja seperti
orang yang tak perduli, tapi sebenarnya mereka ber 2 lah yang paling mengerti
keadaan fatma.
“eh de, ju, ko ga ikut pulang?”
tanyaku
“santai aja kali, kita berdua beda
arah jadi ga pulang barengan sama mereka ber 3 palingan kalo barengan Cuma
sampe pertigaan bawah aja” jawab uju dengan intonasi bicaranya yang sedikit
unik,
“lagian aku nunggu dulu alay jemput,
ngapain punya pacar kalo ga antar jemput hahahaha, angkutan umum jaman sekarang
kan mahal jadi sebagai calon ibu yang baik kita harus bisa ngirit ngirit
pengeluaran ia kan de hahahaha”
Canda uju itu lah yang membuat
suasana menjadi mencair, dan sedikit lebih tenang,
“eh de kalo kamu pulang ke arah bawah
kan?” Tanya ku pada dede
“ia ga emang kenapa?” jawab dede
dengan heran
“ah engga, kalo gitu kamu mu pulang
kapan? Kita ke bawah sama sama, aku ga ada temen”
“oh gitu, yaudah pulang sekarang aja
yu”
“oke”
“eh ju duluan ya”
“oke gih sana pada pergi jauh, oh ia
hati hati selamet di jalan ya hahahah”
Akhirnya aku dan dede pun pulang
bersama karna memang kami se arah, di perjalanan dede banyak bercerita tentang
fatma dan kekasihnya, dari dede aku tau bahwa fatma berpacaran dengan laki laki
yang 1 tahun lebih tua darinya namanya iki dia sekolah di SMA yang berbeda,
jadi fatma dan iki hanya bisa berkomunikasi lewat hp saja, mereka juga jarang
bertemu, tapi belakangan ini sikap pacarnya berubah, dan itulah yang buat fatma
jadi sedikit murung, dan tidak biasanya fatma sampai seperti ini, dia juga sama
sekali tidak mau bercerita pada teman teman nya, walau sebenarnya dede lah
orang yang paling dekat dengan fatma bahkan mereka selalu bersaing ber 2,
bersaing di bidang belajar, adu ketekunan dan banyak lagi, bahkan mereka selalu
curhat masalah penting hanya ber 2 saja, saking dekatnya orang tua mereka juga
sudah saling mengenal satu sama lain.
Akhirnya aku putuskan untuk
menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya pada fatma, entah ada angin apa tapi
kejadian tadi membuatku penasaran, aku pun mendapat nomor handphone fatma dari
dede, dan malam harinya ku coba untuk mengirimnya pesan, tapi tak juga kunjung
dapat balasan. Hingga setelah beberapa hari ku tunggu tapi tak juga ada balasan
aku mencoba menyerah, aku fikir mungkin dia ingin menyimpan dan menyelsaikan
masalahnya sendirian lagi pula apa urusannya juga aku perduli padanya, tapi
ternyata tuhan memiliki cerita yang berbeda, saat itu sepulang sekolah aku
berniat untuk pergi ke kantin sebelum pulang karna rasanya tenggorokan ku ini
amat kering dan minta di siram segelas jus segar, di perjalanan ke kantin
aku melihat fatma duduk sendirian di
depan kelasnya dan kebetulan kelasnya tepat berada di depan kantin sekolah
hanya saja posisi yang saja yang berbeda, kantin menghadap kelas sedangkan
kelas menghadap kearah yang berbeda, saat itu aku heran bukan main, mengapa
bisa dia sendirian, lantas kemana teman temannya? Biasanya meeka kan seperti
perangko yang saling menempel satu sama lain, aku tak begitu menghiraukan hal
itu dan saat itu juga aku bergegas pergi ke kantin membeli 2 botol air mineral,
dan mencoba menghampiri fatma,
“hey, lagi lagi ngelamun, nih” sambil
ku sodorkan sebotol air mineral yang barusaja ku beli
“eh kamu ga, siapa juga yang ngelamun,
apaan ini? Aku ga haus ah”
“idih jelas jelas kamu lagi ngelamun
ma, yakin gak haus, udah pegang dulu aja nih” kembali aku berikan sebotol air
mineral itu
“ah ngga juga, yaudah deh kalo kamu
maksa” akhirnya fatma pun mau mengambil air mineral yang ku berikan tapi hanya
menaruh botol itu disampngnya saja.
“yaudah, mau kamu ngelamun atau ngga,
atau merenung mungkin aku ga peduli, tapi hal yang buat kamu ngelamun itu yg
buat aku peduli sama penasaran, cerita dong ma”
Fatma pun hanya terdiam seperti tidak
memperdulikanku, aku pun terus menunggunya dan sedikit bertanya terus menerus
padanya, akhirnya setelah beberapa lama dia mulai buka mulut dan mau bercerita
pada ku
“tapi kamu janji ya jangan bilang
siapa siapa”
“yaelah aku ini cowo, mana mungkin
mulut ku ember, tenang aja kamu bisa percaya sama aku ko”
Akhirnya fatma mulai bercerita
perlahan, saat itu juga ada yang ku sadari, bahwa sebuah hubungan tanpa masalah
itu hanya omong kosong, fatma terus bercerita padaku, tentang hubungannya dan
apa yang sekarang ia rasakan saat itu, aku sendiri sedikit mengerti bagaimana
rasanya saat pasangan kita mulai berubah menjadi orang lain seperti ega, yang
tiba tiba saja berubah dan meninggalkanku dulu, sejak saat itu kami mulai
saling berbagi cerita, saling memberi nasihat, sering menghabiskan waktu
bersama, tak jarang aku ikut gila gilaan bersama ke 4 temannya yg menurutku sangat luar biasa, bahkan aku
sampai ikut ikutan berkumpul bersaman anak anak PMR dan menjadi anggota yang
tidak resmi, semua itu karna fatma ketuanya jadi apa boleh buat aku pun
perlahan masuk ke dunianya, banyak hal yang aku dapatkan dari kebersamaan kami,
keceriaan, persahabatan, kebersamaan, dan banyak lagi hal lain yang luar biasa,
tak terasa sudah 3 minggu lebih aku bergabung dengan para wanita gila ini, dan perlahan
keceriaan fatma mulai kembali dan semuanya berlalu amat cepat, di satu sisi aku
mulai merasa memiliki keseharian baru di sekolah, seperti ada yang mengisi
kekosonganku dan yang terpenting adalah si periang perlahan kembali.
Tapi itu tak lama, sampai pada suatu
saat seseorang merenggut keceriannya lagi, di hari itu aku ingin mencoba
mengajak fatma dan teman temannya pergi kekantin, sepulang sekolah aku segera
menuju ke kelasnya, tapi apa yang ku lihat membuatku mengurungkan niat ku,
uwek, uju, dede, dan try tengah duduk seperti merenung di depan kelas fatma,
dan di dalam kelas si periang tengah menangis sendirian, entah apa yang terjadi
padanya dan entah apa yang membuatku perduli padanya tapi apa yang ku lihat
saat itu membuatku bisa merasakan kesakitan yang ia tanggung sendirian,
akhirnya aku mencoba masuk tapi teman teman fatma menahanku, lagi pula mereka
bilang bahwa pintunya dikunci dari dalam, aku coba menanyakan pada teman
temannya, apa yg sebenarnya terjadi, tapi tak ada yang tau apapun. Setau mereka
setelah fatma menelpon pacarnya ia tiba tiba menangis dan jadi seperti ini, kini aku hanya bisa melihatnya dari balik
jendela di luar kelasnya, sampai akhirnya aku memutuskan mencoba sesuatu yang
sedikit aneh dan gila, tapi aku fikir ini akan berhasil,
Aku mengambil buku dari tasku, dan
aku tuliskan sesuatu disana, lalu ku sobek kertas itu, aku remas hingga
bentuknya seperti bola, lalu aku lempar kan ke meja fatma lewat celah fentilasi
udara di atas pintu, awalnya dia tidak menghiraukannya, tapi aku terus
mencobanya, sampai akhirnya dia coba mengambil salah satu kertas yang mendarat
tepat di depannya dan mulai membaca
“di kecewakan? Kehilangan? Apa kecewa
mendatangimu?
Jika sakit menangislah, biarkan air
mata menjagamu,
Lepaskan, jangan menyimpannya,
menagislah.
Sampai kau tau dan menyadari berapa
banyak kau telah di sakiti,
Bila takada yang bisa kau ajak
berbagi maka menangislah.
Dan kau tak akan tau bahwa air matamu
hanya terbuang sia sia”
“sadarilah”
“menangislah hingga kamu tak tau apa gunanya
kami, yang menunggu ceritamu untuk berbagi di sini”
Itulah hal yang ku tulis, kata yang
berasal dari bait bait lagu yang ku pikir memang cocok untuk saat seperti ini.
Akhirnya fatma menoleh pada kami yang hanya bisa melihatnya dari jendela, aku
pun menuliskan lagi 1 kalimat dan kembali melemparkanya pada fatma,
“kamu bilang cinta itu seperti pohon
yang kita tanam dan rawat sendiri, kita sirami, kita pupuk, hingga ia tumbuh berbunga dan berbuah, tapi
saat semakin ia tinggi semakin keras pula angin yang menerpa, tapi masih ada
tanah tempat akar akar pohon itu berpegang erat, dan kami mau jadi tanah yang
bisa menopang pohon itu, kemarilah biar kita tanggung semuanya bersama sama”
dia pun mengambil kertas terakhir
yang ku lempar dan membacanya, ia pun bangkit dari duduk nya dan membuka pintu
lalu memeluk ke 4 sahabatnya sambil menangis,
Di satu sisi aku senang akhirnya dia
mau keluar dan berbagi bersama temannya, tapi di satu sisi aku tak mau berada
disini dan merusak momen mereka ini, aku putuskan untuk pergi kekantin saja,
lagi pula perutku sudah berontak menagih jatahnya sedari tadi.
15 menit sudah aku duduk di sini di
depan kantin sekolah sembari menyantap mie instan pesananku yang baru saja
datang, sebelum sempat ku menghabiskan makanan ku dede memanggilku dan meminta
aku mengikuti dia, tapi aku tidak menghiraukannya, hingga akhirnya uju lah yang
datang menyeretku, aku heran bukan main, ada apa sampai mereka menyeretku
seperti ini. Ternyata mereka memintaku menghampiri fatma karna sedari tadi dia
tak juga kunjung mau buka mulut, dia Cuma bilang hal hal yang tidak perlu saja,
tanpa aku sadari ternyata try, uju, uwek, dan dede meninggalkan kami berdua
saja, dengan alasan yang beragam dan amat tak bisa dimengerti dengan akal
sehat, akhirnya aku pun mengajak fatma pulang, sebelum itu dia sempat sedikit
bercerita terlebih dahulu, itu pun setelah aku mati matian bertanya dan
akhirnya dia mau buka mulut, lantas kami pun pulang bersama hingga akhirnya
arah yang memisahkan kami,
Matahari yang sedari tadi bersinar di
cakrawala kini mulai kelelahan dan menghilang, bintang bintang pemalu mulai
menampakkan kecantikan dan keanggunan mereka di kaca langit malam, sang bulan
merenung di atas sana dan tak begitu menunjukan sinarnya, aku sendiri terduduk
menatap mereka disini, semenjak ega pergi aku selalu melakukan hal ini, bahkan
sebelum ke mengenal ega aku sering menatap langit malam, entahlah tapi hal itu
membuatku tenang, tapi malam ini berbeda, aku masih memikirkan yang tadi sore
fatma katakana padaku, dia bilang bahwa sepulang sekolah tadi ia berencana
menelpon kekasihnya dan mengajak nya bertemu untuk menanyakan kejelasan
hubungan mereka, tapi apa lah dayanya, ternyata yang mengangkat telpon fatma
itu seorang wanita dan mengaku kalau dia adalah pacar iki, fatma sangat
terpukul lalu menutup telpon nya, dan tak lama iki menelpon fatma dan dengan
mudah dan sepelenya iki mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
Angin malam yang berhembus, bulan
yang tak menampakan diri, dan bintang bintang yang entah, itu yang ku lihat di
cakrawala malam ini, sedari tadi aku tak bisa berhenti memikirkan masalah yang
dihadapi oleh fatma, bila aku jadi dia lantas apa yang akan aku perbuat?
Apa aku akan sekuat dia?
Pohon rindang yang bediri kokoh dan
anggun kini tengah berada di musim kemarau panjang, daun nya mulai menguning
satu persatu, dan batang nya mulai mongering pula, akankah dia bisa bertahan?
Semoga saja hujan segera turun dan memberinya kelanjutan hidup.
Ega dulu melakukan hal yang sama padaku, dia
juga memilih laki laki lain, bedanya aku yang memutuskan megakhiri semuanya,
tapi apa yang fatma alami lebih menyakitkan daripada apa yang ku alami, dan
akhirnya terlintas di benakku untuk menghiburnya saja, karna itulah yang dulu
ku butuhkan juga saat dulu ega tak lagi bersamaku tapi tak ada satupun orang yg
perduli padaku, maka dari itu aku ingin mencoba menghiburnya saja agar dia
tidak merasa apa yang kurasa dulu, sesegera mungkin ku ambil ponselku dan
mengirim fatma pesan singkat, dan dengan cepat aku dapatkan balasan, aku
pun mencoba terus memperpanjang
percakapan jarak jauh ini, banyak hal yang kami bahas, dari hobi, kegiatan,
keluarga, kesukaa, dan banyak lain nya, bahkan hal hal yang tidak penting turut
meramaikan hasana pesan singkat kami, sampai akhirnya waktu menyadarkan kami
bahwa tubuh kami sudah pada batasnya dan harus beristirahat dan mata seolah
meminta jatahnya untuk beristirahat tapi
sebelum dia mengakhiri percakapan kami, aku coba mengajaknya berangkat bersama
besok tapi dia tidak kunjung membalas, akhirnya aku putuskan untuk tidur dan
menaruh ponselku.
Pagi telah kembali, sang surya
memberikan sapa yang indah dan sinarnya membuat ku terbangun, bergegas ku lihat
jam di kamarku, aku terkejut begitu melihat jarum jam menunjukan pukul 06.19,
lantas aku sesegera mungkin bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi,
setelah selsai mandi dan membereskan kamarku aku segera meraih tas punggungku
dan sesegera mungkin melangkahkan kaki untuk berangkat kesekolah, tanpa
sedikitpun menghiraukan perutku yang sedari kemarin sore belum terisi apapun.
Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan angkutan umum, di perjalanan aku
mencoba sedikit melirik ponselku, barang kali ada yang menghubungi, dan
ternyata itu hanya anganku saja, seperti biasanya ponsel ini seperti tidak
berguna lagi karena tak ada satupun pesan atau pemberitahuan apapun. Setelah 45
menit perjalanan akhirnya aku sampai di pertigaan sekolah, masih sekitar 150
meter lagi perjalanan yang harus ku tempuh, dan itu semua hanya bisa ku tempuh
dengan berjalan kaki atau naik ojek, seperti biasa aku lebih memilih berjalan
kaki karna sekaligus untuk olah raga pikirku, biarpun sedikit melelahkan tapi
tak apalah itu semua sudah menjadi hal rutin yang kulakukan setiap harinya,
hanya saja ada yang berbeda di hari ini, yaitu jam tanganku yang sudah
menunjukan pukul 07.04, hanya tinggal 11 menit lagi bel sekolah pasti berbunyi
dan aku akan terlambat, maka aku mencoba untuk berjalan lebih cepat dan sedikit berlari lari kecil namun baru saja
beberapa langkah aku berjalan ada seseorang yang memanggil ku, akhirnya aku pun
menoleh, dan ternyata itu fatma, dia segera menghampiriku, ternyata dia juga
terlambat datang karna terjebak macet, akhirnya kami putuskan untuk sesegera
mungkin sampai ke sekolah, meski kami berdua harus berlari tapi tak ada lagi
yang bisa kami perbuat, mungkin itu lah salah satu perjuangan seorang pelajar,
meskipun guru sering mengatakan “tiada kata terlambat untuk menuntut ilmu” tapi
tetap saja bila terlambat datang kesekolah pasti dapat hukuman.
Sampai juga kami di gerbang SMA
tercinta, tepat sebelum bel berbunyi yang menandakan bahwa guru akan segera
keluar dari markasnya dan mulai menyerang kami dengan materi dan rumus
rumusnya, di gerbang sekolah aku dan fatma berpisah karena kelas kami terletak
di tempat yang berbeda dan memang terpisah lumayan agak jauh, sesampainya di
depan kelas kulihat semua temanku masih asyik bermain, ada yang mengobrol,
bermain hp, bermain komputer, aja juga yang menonton TV, tidak seperti biasanya
kelas ini berpencar, biasanya mereka selalu duduk membentuk lingkaran yang
tidak sempurna dan berpusat pada beberapa anak wanita yang mengerjakan pr ditengah,
itu lah kami dengan kekompakan yang terbilang sangat kompak apa lagi dalam hal
mencontek sepeti itu, pastilah kami sangat handal, oh ia aku duduk di kelas ipa
B dan kelasku terbilang kelas unggulan maka dari itu fasilitas kelas ku lengkap
seperti ini, meski terbilang unggulan tapi hanya fasilitas dan kebersamaanlah
yang membuat kami unggul, bila masalah otak dan nilai kami sama saja dengan
murid lainnya.
Aku pun segera masuk dan mengambil
kursi lipat lalu menaruh tas ku disana, setelah 5 menit ternyata guru yang mengajar di jam pelajaran pertama
ini belum datang juga, aku sedikit agak tenang dan sesegera mungkin
mengeluarkan buku PR ku, jujur saja aku belum mengerjakan PR karna aku paling
sulit bila harus belajar di rumah, jadi setiap pagi begitu aku sampai aku
selalu langsung mengerjakan PR atau bahkan bila terdesak aku hanya menyalin
pekerjaan temanku saja tapi bukan cuma aku yang seperti itu, kedua teman baik
ku pun sama saja, karna kegilaan itu kami bertiga sering di juluki sebagai
“three idiot” kelakuan dan kegilaan kami di kelas memang sedikit janggal tapi
kami selalu lolos dari masalah, begitu baru saja aku membuka buku PR ku dan
hendak mengerjakannya ketua kelasku datang membawa buku paket, dia bilang guru
yang harusnya mengajar di jam pertama ini sedang sakit dan tidak bisa hadir
jadi dia memberikan tugas mencatat saja, betapa lega nya hatiku begitu
mendengar pengumuman itu, karna aku tak perlu terburu buru mengerjakan atau
sebut saja menyalin PR temanku, dan aku bisa sedikit bersantai.
Hari ini cuaca begitu pasan, mentari
mungkin sedang tak bersahabat dengan awan sehhingga dia bermain sendirian saja
di cakrawala, waktu tak terasa sudah menunjukan pukul 13.00 dan beberapa menit
lagi bel pulang akan segera berbunyi, tapi aku tak bisa langsung begitu saja
pulang karna hari ini jadwal untuk ekstrakulikuler PMR berlatih, dan entah dari
mana dan bagai mana aku jadi anggota disana, mungkin karna aku sering bersama
fatma dan kelompoknya jadi aku ikut terbawa bawa mengikuti ektrakulikuler ini.
Akhirnya bell pulang pun berkumandang
dan itu artinya para guru harus kembali kemarkas mereka, sekaligus melenyapkan
penderitaan akan angka dan teori yang mencengkram kehidupan kami sebagai
pelajar setiap harinya, aku segera merapikan buku dan alat tulisku lalu
memasukannya kedalam tas, sejenak aku merasa ada yang aneh dengan tubuh ku,
tapi mungkin itu hanya perasaan ku saja, lantas aku pun segera menggendong tas
punggung ku dan segera bangkit dari tempan duduk ku, tapi begitu aku setengah
berdiri perutku seolah ada yang menusuk, hingga membuat aku kembali terduduk, sebenarnya
kenapa ini, tidak biasanya perutku kesakitan seperti ini, ternyanya aku baru
menyadari bahwa tadi pagi aku tak sempat sarapan karna terburu buru, dan pada
jam istirahat pun aku tidak keluar karna harus mengerjakan pr yang belum sempat
ku kerjakan. Perlahan aku mencoba bangkit tapi sakit itu semakin menjadi, lama
kelamaan aku tak perduli lagi dengan rasa sakit ini dan mencoba untuk bangun,
perlahan aku berjalan ke kantin dan membeli beberapa makanan di sana, setelah
beberapa lama aku baru sadar bahwa aku harus segera ke tempat kumpul anak anak
PMR, tapi aku tidak bisa kesana bila perutku masih berontak seperti ini, dan
aku putuskan untuk diam di kantin saja sambil mengistirahatkan perut ku dan
berharap rasa sakit nya sesegera mungkin hilang.
2 jam sudah aku masih terduduk di
sini menahan sakit, hanya ibu kantinlah yang sesungguhnya tau apa yang ku rasa saat
ini, dan baru saja aku berfikir untuk pulang fatma dan ke 4 sahabatnya pun
datang bersamaan, tanpa tau apa apa uju dan dede mengajak ku bercanda dan
mereka bernyanyi nyanyi ria, tapi dalam keadaan seperti ini mana bisa ku layani
candaan mereka, dan dalam waktu yang hampir bersamaan uwek bertanya padaku,
suaranya tak begitu terdengar jelas karna suara uju dan dede lebih nyaring,
“tadi kenapa gak kumpul ga?” Tanya uwek padaku
“hah? Apaan wek ga kedengeran,”
“Tadi kenapa gak ikut kumpul”
Suara itu datang dari arah yang
berbeda dari tempat uwek berdiri, dan setelah beberapa saat aku baru sadar kalo
itu seara fatma yang ada di belakangku,
“oh itu, tadi sakit perut jadi gak
ikut kumpul, soalnya males”
“ah sakit apa males” ledek uju padaku
“gatau hahahahaha” jawabku sekenanya,
“sakit perut kenapa emangnya ?” Tanya
dede padaku
“eh itu tadi pagi kesiangan jadi lupa
sarapan, jadinya gini deh”
“kamu kenapa ga sarapan? Jangan di
biasaain ga baik tau”
fatma pun mengoceh sedikit tak begitu
jelas, karna dia berbicara tanpa melirik sedikitpun kearah ku, dia malah asik
membumbui makanan nya yang baru selesai di masak, tapi entah kenapa, karna
kehadiran orang orang gila ini sakit perut ku mendadak tak terasa lagi, dan
kami pun akhirnya berbincang bincang dan sedikit bercanda tawa sambil menyantap
makanan yang tadi kami pesan.
Langit biru yang tercemar, Cahaya
sang surya yang mulai memudar, warna kuning terang kemerahan yang membuat
langit begitu cepat berubah warna, tak terasa sore telah tiba, canda dan tawa
kami pun mulai reda setelah sekian lama berada di kantin ini, langit yang
berubah menjadi kuning kemerahan seolah menandakan waktu berpisah telah tiba,
akhirnya kami mulai bergegas untuk membereskan tas masing masing dan segera
pulang, di perjalanan kami berpencar seperti biasa, fatma, uju, try, dan uwek
pulang bersama karena mereka memang satu arah, sedangkan uju menunggu alay
menjemput seperti biasanya, aku kebetulan pulang bersama dede lagi, karna
memang satu arah, perpisahan seperti ini memang sudah biasa ku alami karna
memang setiap pulang bersama mereka kami harus berpisah, tapi ada yang aneh
dengan sore ini, seolah aku masih merindukan candaan mereka, di perjalanan dede
sedikit meledek ku, dia bilang akhir akhir ini sikap ku sedikit berubah, yang
tadinya pendiam dan sering menyendiri kini telah berubah jadi sesosok makhluk
yang entah mengapa selalu melontarkan kata dan tingkah yag menggelitik kulit
perut, dan perlahan aku memang merasakan perbedaan itu, seolah aku yang
sekarang memiliki 2 peranan dalam hidup, menjadi orang yang pendiam dan sedikit
bicara di luar, dan menjadi orang konyol di organisasi, tapi hal itu justru
yang mulai membangun kembali mentalku yang sempat jatuh karna cinta, sekarang
setiap malam aku seolah tak sendirian lagi, selalu ada teman untuk berbagi
cerita dan berbagi masukan, bahkan sampai membahas segala hal yang menyenangkan
dan semua itu berjalan begitu cepat seolah tak ada jeda untuk bersedih dalam
kebersamaan kami, seperti langit di malam ini, sang bulan yang bersinar di
sertai lengkungan manis senyum nya, bintang bintang yang menari nari dengan
cahaya indah disamping nya, bahkan hembusah angin malam yang melambai semakin
menyejukkan hati, awan tak lagi berani menutupi kebahagiaan yang di lukiskan
tuhan di cakrawala malam ini, sungguh indah semua yang tuhan lukiskan di sana,
tapi aku tak bisa berlama lama menikmati keindahan malam karena kasur dan
selimut sudah menyiapkan pelukan hangan mereka yang akan membawaku ke alam mimpi,
alam yang rutin ku kunjungi dan kujelajahi setiap malam nya, akan tetapi
sebelum itu aku coba untuk melihat hp ku untuk menyetel alaram, tapi ternyata
ada yang membuatku mengalihkan niat itu, disana tertulis 2 pesan masuk, aku
coba membukanya dan ternyata oprator yang mengirim ku pesan itu, padahal aku
sedikit senang dan berharap itu pesan dari fatma, tapi ternyata oprator lebih
perhatian dan ramah padaku, karna sering sekali dia mengirim pesan hanya karna
untuk mengucap kan terimakasih, padahal aku tidak melakukan apapun hanya
mengisi pulsa rutin karna aku memang memerlukannya, tapi apa daya oprator
memang terlalu baik dan perhatian, tapi sayangnya dia tidak hanya baik pada
satu orang tapi banyak orang, mungkin dia tipe yang kurang setia pikirku, baru
saja beberapa detik aku menaruh hp ku seketika itu hp ku bergetar menandakan
sms masuk, pikiran ku tak lagi berpikir yang aneh aneh dan hanya menyangka
bahwa oprator pasti mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat, aku
segera melihat ponselku dan ternyata benar, disana ada sebuah pesan, dan
bertuliskan
“selamat malam, udah tidur ya? Selamat beristirahat”
Tapi ada yang beda begitu aku baca
pengirimnya, dan itu bukan dari oprator, tapi dari fatma, aku sedikit terkaget
begitu membacanya, dan tumben sekali dia mengirim pesan seperti ini, biasanya
hanya ledekan dan curhatan dia yang mengisi hasana percakapan pesan kami, tapi
malam ini berbeda sekali, akhirnya aku segera membalas pesan darinya, tapi
setelah setelah 10 menit tak kunjung ada balasan juga, akhirnya ku mengim nya
pesan lagi
“gak di bales cerewet kamu ma, di
bales malah di tinggal tidur, salah apa aku sama kamu ma -_-, yaudah lah ya
selamat istirahat aja embem”
Setelah pesan terkirim aku memutuskan
untuk kembali lagi ke pelukan kasur dan selimut hangatku, dan sesegera memesan
tiket menuju dunia mimpi.
Embem, sebuah panggilan yang entah
mengapa aku gunakan untuk meledek fatma mungkin karna dia sedikit tembem,
padahal panggilan itu adalah panggilan ku pada ega dulu, meski di satu sisi aku
merasa ada yang berbeda dengan hati ku, tapi hal itu tidah begitu jelas, apa
hati ini bahagia? Atau hati ini bersedih? Yang jelas dia tak lagi merasakan sakit,
dan perlahan mulai menggebu gebu seperti dulu, sejak bertemu fatma dan teman
teman nya hati ku perlahan berubah bahkan sikap ku juga ikut berubah, entah
mengapa malam malam yang biasanya terasa hampa dan kosong seolah menjadi malam
yang begitu indah, padahal tak ada yang berubah dengan malam malam ku ini,
semua masih sama seperti malam malam ku sebelumnya, tapi seakan ada hal baru yg
membuatku semakin merasakan hal yang aneh dan sepertinya hatiku ini malah
meyukainya.
Pohon yang kekeringan mungkin kini menjadi
semakin rapuh, kemarau yang tak kunjung berakhir membuat daun yg menguning kini
telah perlahan berjatuhan, ranting yang semakin rapuh tak mampu menopang beban
lagi, daun daun yang berguguran berserakan di tanah, setelah pohon itu mencapai
batasnya ternyata tuhan memberinya hadiah luar biasa atas kesabarannya, hujan
yang deras kini menyiraminya, tunas baru mulai tumbuh, dan dau yang gugur
mrnjadi pupuk bagi benih benih di masa yang akan datang, sungguh rencana tuhan
memang tak bisa di tebak, setiap alurnya begitu sempurna.
Tubuh yang sedari tadi kelelahan tak
kunjung mau beristirahat, mata yang hampir menutup jadi terbuka lebar, perjalanan menuju alam
mimpi sepertinya akan tertunda malam ini, pikiran ku terus melayang kemana
mana, meski tubuh sudah terbaring di pelukan hangat sang selimut tapi mata ini
masih teguh terbuka menatapi langit lagit kamar, pikiran yang kelelahan malah
memikirkan kembali kejadian tadi sore, ketika kami berpisah, ketika aku dan
fatma berpisah sepulang sekolah, seolah aku melihat sosok lain di diri fatma
saat dia pergi dan melambaikan tangan nya, dia mengingatkan ku pada sosok
wanita yang dulu pernah ku kagumi saat ku masih duduk di kelas 1 SMP, ya
sekarang aku ingat, namaya sari, sosok wanita tekun yang ku kagumi, dan karna
nya aku banyak melakukan hal hal yg terbilang konyol, bahkan sampai sampai aku
akrab dengan tukang ojek karnanya, tukang ojek itu masih sangat ku ingat, dia
sebaya dengan ku tapi mungkin dia 2 thn lebih tua, namanya eful, aku selalu
mengingatnya karna hampir setiap hari dia menagantarku melakukan hal hal gila,
dan mungkin dia satu satunya selain tuhan yang menjadi saksi kegilaan ku saat SMP.
Segala ingatan ku tentang sari
akhirnya membuat ku bangkit dari tempat tidurku, aku bermaksud mencari cari
sebuah buku binder, buku itu adalah buku yang sangat berarti bagiku aku menjaganya
dari pertama aku masuk ke sekolah dasar, dan setiap ada hal yang menyenangkan
ataupun hal yang menurutku akan menjadi sejarah dalam hidupku, pasti akan ku
simpan benda yang membuatku mengenang hal itu di sana, akhirnya binder itu ku
temukan juga setelah beberapa menit mencari.
Debu kotor yang menghiasi binder kini
sudah ku musnahkan, lantas aku segera membuka halaman pertama, dan di sana
terselip sebuah kertas dengan coretan tinta warna merah terang yang menghiasi
baris demi baris dalam kertas itu, rangkaian huruf yang berjajar, tanda titik
dan koma yang seolah menyuruhku beristirahat membaca dan mengenang semua
kejadian yang ku alami dahulu ,rangkaian kata yang begitu jelas di beberapa
bait awal dan kalimat yang membuat semua kenangan masa itu terbayang dengan
jelas
“aku tau, aku mengerti, aku juga
hargai semua ini, tapi, kehadiran kamu malah buat aku terdesak, keluarga ku
melarang aku untuk terlalu dekat dengan laki laki (sampai sekarang aku masih
berfikir kalo kata yang ini hanaya alasan saja), dan tolong mulai sekarang kamu
jangan ganggu hidup aku lagi, lebih baik kamu menjauh bukan karna aku gak mau
kita berteman tapi aku gak mau malah buat kamu tersiksa aku ingin focus pada
study ku {dan ini satu lagi alasan yang menurutku sedikit menggelitik}”
Itulah tulisan yang tertera di kertas
itu, bekas tetesan air hujan yang membuat beberapa huruf memudar juga ikut
menghiasi kertas nya, tulisan ini akhirnya membuat aku mengingat semuanya hal
konyol yang dulu kulakukan, memang memilukan, tapi itu dulu, sekarang kenangan
ini malah bisa membuatku tertawa lepas,
Semua kenangan itu dimulai saat aku
menyadari satu hal dalam hidup, yaitu cinta tapi aku pikir ini bukan seperti
cinta yang belakangan ini ku rasa, ini lebih cenderung bisa di sebut cinta
monyet masa SMP,
Saat itu hujan turun lebat, bell
pulang telah bordering 5 menit yang lalu, aku pun sedang menunggu eful
menjemput ku, rencananya hari ini kami mau mengikuti sari dan mencari tau
dimana rumahnya, hingga akhirnya sari pun lewat dihadapanku tapi dia segera
menaiki angkutan umum yang segera berangkat, hati ku bertambah gelisah karna
takut kehilangan jejak namun setelah 7 menit mobil itu berlalu eful segera datang dengan motornya, lantas
kami segera bergegas, walau air hujan melarang kami untuk berangkat tapi itu
bukan alasan yang bagus untuk melewatkan hari ini, akhirnya setelah eful memacu
motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi kami melihat angkutan umum yang sepertinya
di naiki sari tadi, dan eful memperdekat jarak kami namun sayang setelah ku
perhatikan sari tidak ada di mobil itu, seketika mobil itu berhenti dan ada
seorang penumpang yang turun, setelah kuperhatikan orang itu, dia memakai tas
kuning, baju putih, rok biru dan memakai kerudung, akhirnya harapan ku mulai
tumbuh setelah ku perhatikan lagi ternyata itu dina teman sari padahal aku
sangat berharap kalo itu sari jadi aku bisa segera melanjutkan rencanaku tapi
ternyata semua tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, akhirnya aku
menyuruh eful bergegas, siapa tau dia di angkutan umum yang lain.
Gemuruh petir di langit kelabu awan
mendung yang menari dilangit, dan hujan rintik rintik yang sepertinya
menggambarkan apa yang kurasakan saat ini, tiupan angin kencang menyerbu kami yang sedang
melaju kencang membuat harapan semakin membeku, taka da harapan lagi mungkin,
karena tak juga ke lihat sosok sari di beberapa mobil yang telah kami dahului
hingga akhirnya kami sampai di terminal terakhir, menandakan kami telah sampai
di ujung jalur lalu lalang angkutan umum tadi, tapi meski aku telah sampai di
sini sari tak juga menunjukan batang hidungnya, aku dan eful akhirnya memilih
berteduh di warung yang ada di samping terminal dan memesan beberapa minuman
panas.
Menyerah, mengapa aku tidak menyerah
lalu pulang saja? Lagi pula hujan sedikit mulai reda, dan hari mulai mendekati
gelap, itulah yang terlintas di lamunanku saat itu, akan tetapi teriakan eful
menyadarkan lamunan ku,
“woy liat itu, tuh yang baru turun”
jelas eful dengan tangan yang menunjuk
pada seseorang yang baru saja turun dari mobil angkutan umum
“apaan? Mana?”
tanyaku sembari menengokkan kepala
pada mobil yang baru sampai dan berhenti di terminal ini.
“tuh itu, itu sari kan?”
“sari…” dengan pelan ku ucap namanya
sambil tertegun seolah tak percaya bahwa cahaya harapan yang sudah padam dan
membeku kini bersinar terang dan begitu hangat.
“udah nanti aja bengong nya, dia
masuk gang tuh, motor gaakan masuk lewat situ, kita muter lewat jalan satunya,
cepet naik”
“bentar aku bayar dulu!!!,”
BERSAMBUNG<<<<<<<<<<
Catatan : Alur
dan tema cerita di ambil dari kisah nyata dan fiktif yang dipadukan, cerita mengalami sedikit perubahan dan
nama tokoh di samarkan, bila ada kesamaan nama dan tempat itu hanya ketidak
sengajaan kami pihak penulis.
Terimakasih
dan nantikan kelanjutan ceritanya hanya di
Deep in My Heart part 4 “Tunas yang Baru” diDeep in My Heart part 4 “Tunas yang Baru”


Hebaat.. di tunggu kelanjutkan kisahnya
BalasHapusterimakasi senpai :D ditunggu aja ya kelanjutannya
BalasHapus