Angin berhembus
bersayup sayup, batang batang pohon melambai lambai, dedaunan yang basah dan
gemercik hujan yang perlahan mereda, saksi buta dari apa yang terjadi hari ini,
dia yang ku tunggu, setitik cahaya harapan yang kembali bersinar terang baru saja
menghilang di hadapanku, perlahan ia melangkah memasuki sebuah gang kecil
dengan beberapa anak tangga yang melarang kendaraan kami ini melintasi jalan yang
sama, aku berusaha mengejarnya bersama dengan eful, sebisa mungkin kami harus
bisa menjaga jarak, sampai nanti kami tahu dimana rumah nya dan barulah aku
akan menghampirinya untuk menyerahkan apa yang telah semalaman tadi ku tulis,
sebuah surat singkat berisikan rangkaian kata yang entah untuk apa ku tulis
saat itu, mungkin inilah cinta monyet masa SMP yang membutakan atau bahkan
cinta yang membodohi diri kita sendiri hingga mau saja untuk melakukan apapun.
Sepertinya akan ada masa dimana kita ingat sebuah cerita cinta yang
memalukan, menyenangkan, mengharukan dan bahkan menyakitkan di masa muda, di mana kelak ketika kita sampai di masa tua
nanti kita akan mengingatnya dan menyadari betapa rindunya kita pada masa itu,
bahkan mungkin kita akan menyadari bahwa betapa bodohnya kita di masa itu, mungkin memang itulah yang banyak orang sebut dengan cinta itu buta.
“hari ini langit
tertata dengan indah, bulan bersinar dilengkapi senyumannya dan perlahan waktu
akan memaksa sang surya muncul dari upuk timur menandakan tugas para bintang
telah usai, sebelum sang surya bersinar,di sebuah tempat yang pernah kita
datangi sekuncup bunga akan mekar, mawar merah yang amat kau sukai, bunga yang
perlahan merkah seperti apa yang aku rasa saat ini, entahlah tapi aku hanya
ingin kita bisa melihatnya berdua, merawatnya dan saling mengenal lebih jauh”
Kata itulah yang ku tulis semalam dalam kertas yang ku genggam saat ini.
Selepas sari menghilang dari pandangan kami, eful segera menyalakan mesin sepeda motor nya, dan menuju sebuah jalan yang bisa kami lalui untuk menjegat sari.
Hanya dalam 6 menit kami telah sampai di titik pertemuan antara jalan yang kami lalui dan jalan yang sari lalui, tapi dia tak kunjung muncul, dalam pikirku aku harus menunggu tapi hujan malah turun semakin deras dan aku tak mau surat yang ku genggam ini basah terkena air hujan, akhirnya kuputuskan bergegas menuju sebuah warung yang letaknya dekat dari tempat pertemuan itu, di warung tersebut kami sedikit berbincang dengan seorang penjaga warung, namun cukup lama aku menggu disini sari tak juga kunjung datang juga, akhirnya aku mencoba menanyakan pada penjaga warung tentang sari, kebetulan aku tau nama orang tuanya karna di SMP hobi kami adalah meledek nama nama orang tua siswa, padahal entah apa keuntungan yang didapat dari meledek nama orant tua itu? bagi pelajar hal itu sudah seperti tradisi yang menyenangkan atau mungkin hanya kepuasan batin yg didapat.
Setelah aku menanyakan tentang sari, penjaga warung itu sedikit tertegun seolah tak mengenal nama itu, tapi setelah ku sebut nama ayahnya dia baru tersadar dan menjawab pertanyaanku, ternyata disanan sari lebih sering di panggil dengan panggilan dede, penjaga warung itu menjelaskan secara detail mengenai sari, karena ternyata rumanya tepat berada 15 meter didepan kami, tak banyak lagi yang kutanyakan karna aku takut penjaga warung ini malah curiga padaku dan seketika suasana kembali jadi henging.
Gemercik hujan solah
membuat hati gelisah, harapan yang tak junjung membuahkan hasil, mata yang
terus terjaga disertai mulut yang membeku dan tempat asing yang menyelimuti
hariku saat ini.
“ga udah sore nih, dia
ga datang juga kita pulang aja lah lagian kita udah tau rumahnya kan”
“tapi ini gimana dong
masa ia aku bawa pulang lagi” jawabku pada eful
Setelah aku dan eful sedikit berbincang akhirnya kami putuskan untuk pulang karna matahari yang hampir tenggelam memaksa kami untuk segera bergegas kembali ke rumah kami masing masing, aku putuskan untuk menitipkan surat ini pada penjaga warung yang katanya kenal baik dengan sari, eful pun menyalakan motornya, aku segera naik setelah membayar beberapa makanan yang menemani kami sambil menunggu tadi, akhirnya eful memacu motornya namun baru saja beberapa meter kami melaju seseorang datang dari arah pertigaan yang sedari tadi terus kupandangi, wajahnya tertutup payung biru yang ia pakai untuk menolak hujan membasahi tubuh indahnya, aku segera menyuruh eful berhenti dan beberapa saat dia mengangkat payung biru yang ia gunakan nampaklah sesosok wajah, namun ternyata itu bukan sari, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah masing masing dan menerjang hujan yang tak kunjung reda untung saja hari ini hari sabtu jadi besok aku bisa beristirahat penuh.
Waktu menunjukan pukul
21.38 , aku berdiri tersandar di samping
jendela kamarku, air mata sang cakrawala yang terus menetes, gelap nya
malam dan angin yang bertiup kesana kemari seolah menggambarkan apa yang ku
rasakan, apakah ini kesedihan, mungkin hati ini kosong dan gelap, atau ini hanya
kegelisahan yang terus berhembus? Entahlah karena aku tak mengerti apa yang ku
rasa saat itu.Waktu yang terus berlari memaksaku untuk merebahkan tubuhku yang
amat kelelahan setelah seharian berpacu bersama tetesan hujan, mata pun tak
bisa menolak untuk beristirahan hingga akhirnya aku tertidur dengan begitu
lelap.
Embun
pagi yang menempel didedaunan seolah menggambarkan sebuah rasa rindu yang
teramat dalam, sang mainstro melantunkan suaranya yang merdu menandakan
matahari telah siap bertugas hari ini, sekaligus membangunkanku dari tidur yang
panjang, segera aku bangkit dan membereskan tempat tidurku, karena hari
ini akan jadi hari yang amat melelahkan, banyak tugas yang harus ku kerjakan selain itu
banyak juga tugas rumah yang belum ku selesaikan, aku pun bergegas untuk menyelsaikan semuanya satu persatu.
Tanpa mengenal kompromi
waktu terus berjalan begitu cepatnya, jam dinding terus memutarkan ketiga
jarumnya meski tidak selalu ada yang memperhatikan ia tetap bekerja, sosok yang tak kenal lelah, tak kenal
kompromi, dan bertanggung jawab, itulah sosok jam dinding yang menyadarkanku bahwa malam telah larut, aku segera mengambil posisi dan bersiap
untuk tidur.
Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat kesekolah di jemput tukang ojek langganan yang sekaligus sahabatku eful, hingga tibalah aku di sekolah, aku sesegera mungkin menuju kelas untuk menaruh tas karena setiap hari senin selalu di adakan upacara kenaikan bendera, sebelum menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera aku sedikit beristirahat dulu di kelas karna memang masih ada waktu 8 menit sebelum upacara di mulai, saat itu aku tak melihat sari, mungkin dia belum datang fikirku tapi seketika itu juga sesosok wanita menampakkan wajannya di pintu kelas dan masuk kedalam, tak ku sangka itu ternyata sari saat itu dia langsung menghampiriku dan memberikan sebuah kertas, mungkin lebih tepatnya itu adalah sebuah surat, segera ku ambil kertas itu dan ku taruh di dalam tas tanpa membukanya karena telah aku putuskan untuk membuka dan membacanya di rumah sepulang sekolah nanti, tanpa berkata apa apa sari langsung menuju kursinya dan bergegas menuju lapangan di ikuti oleh ela teman baiknya, aku dan anak anak lain pun segera menuju lapangan karena akan berbahaya bila sampai ada guru datang kesini hanya untuk memarahi kami yang terlambat menuju lapangan, dan tanpa terasa kegiatan ku di sekolah akhirnya dimulai.
Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat kesekolah di jemput tukang ojek langganan yang sekaligus sahabatku eful, hingga tibalah aku di sekolah, aku sesegera mungkin menuju kelas untuk menaruh tas karena setiap hari senin selalu di adakan upacara kenaikan bendera, sebelum menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera aku sedikit beristirahat dulu di kelas karna memang masih ada waktu 8 menit sebelum upacara di mulai, saat itu aku tak melihat sari, mungkin dia belum datang fikirku tapi seketika itu juga sesosok wanita menampakkan wajannya di pintu kelas dan masuk kedalam, tak ku sangka itu ternyata sari saat itu dia langsung menghampiriku dan memberikan sebuah kertas, mungkin lebih tepatnya itu adalah sebuah surat, segera ku ambil kertas itu dan ku taruh di dalam tas tanpa membukanya karena telah aku putuskan untuk membuka dan membacanya di rumah sepulang sekolah nanti, tanpa berkata apa apa sari langsung menuju kursinya dan bergegas menuju lapangan di ikuti oleh ela teman baiknya, aku dan anak anak lain pun segera menuju lapangan karena akan berbahaya bila sampai ada guru datang kesini hanya untuk memarahi kami yang terlambat menuju lapangan, dan tanpa terasa kegiatan ku di sekolah akhirnya dimulai.
Guru demi guru keluar
dan masuk ke kelasku, memberikan apa yang harusnya mereka berikan, mengajarkan
segala yang bisa mereka ajarkan, walaupun terkadang semua itu serasa angin
lalu di pikiranku, hari ini aku mengerti apa yang mereka ajarkan dan di pertemuan selanjutnya aku lupa
semuanya solah kehilangan ingatan tapi hal itu sepertinya tidak berlaku untuk sari, sosok yang begitu gigih dan
tangguh dalam belajar. Akhirnya setelah begitu banyak angka dan huruf yang
mengisi kepalaku suara yang paling di nantikan setiap siswa pun berbunyi, yaitu
bell pulang. Setiap siswa bergegas membereskan buku dan alat tulis mereka
seakan tak sabar ingin sesegera mungkin meninggalkan kelas, begitu juga dengan aku karena
aku sudah tak sabar ingin membaca apa yang tertulis di surat yang tadi pagi di
berikan sari padaku. Aku segera menuju tempat yang paling di buru semua siswa
saat ini yaitu gerbang sekolah, di sana ada sahabat dan teman yang mengerti
perjuanganku selama ini ia sedang menunggu sang pejuang cinta monyet ini keluar
“udah bubar kan?” Tanya
eful padaku
“udah ful baru aja,
tumben udah di sini aja, ga narik penumpang lain apa?”
“engga lagi males narik aku, eh gimana sekarang ada acara kemana? Atau mau langsung balik aja?”
“Ia ful aku langsung pulang aja ya”
“Yaudah buruan naik “
"oke pak bos"
"pak bos apanya aku cuma beberapa tahun lebih tua dari kamu hahaha. udah buruan naik"
di perjalanan seperti biasanya eful pasti menanyakan sari padaku, begitu juga saat ini, ia selalu bertanya “ada perkembangan ga?”
Dan aku selalu menjawab
“kayanya engga ful”. Pertanyaan itu sudah seperti kewajiban eful untuk bertanya
setiap kali dia mengantarku pulang hingga setiap aku sampai di depan rumah ia
pasti berkata
“aduh dasar anak smp,
eh anggap aja cinta itu kaya motor hahahah oke aku balik dulu ya”.
“oke”
Entahlah sahabat ku
yang satu ini memang terkadang kata katanya selalu membuatku bingung, cinta? motor? apa hubungan nya?
Sesampainya
di rumah aku segera menuju kamarku untuk membaca surat tadi, aku langsung
membuka tasku dan mengambil surat itu, tapi baru saja akan ku buka ayah dengan duara lantangnya memanggilku dan ternyata masih ada beberapa pekerjaan rumah yang membuatku
harus menunda hal ini untuk beberapa waktu.
Tubuh yang lelah di
sertai hati yang resah membuatku tak sabar ingin melihar isi dari surat
pemberian dari sari, akhirnya waktu menunjukan pukul 20.48 dan tidak ada lagi pekerjaan yang harus kulakukan, segera aku bergegas masuk kedalam kamar, lalu ku ambil
surat yang seharian ini membuat hati tak tenang, aku pun berdiri di samping
jendela entah mengapa cuaca diluar sedikit tidak bersahabat, angin yang
bertiup lebih kencang dari biasanya, bintang bintang yang juga tak kunjung nampak, bahkan bulan yang kesepian bersinar terlalu redup malam ini,
tanpa berfikir panjang aku segera membuka kertas dari sari yang di masukan kedalam
amplop kecil berwarna putih.
“aku
tau, aku mengerti, aku juga hargai semua ini, tapi, kehadiran kamu malah buat
aku terdesak, keluarga ku melarang aku untuk terlalu dekat dengan laki dan
tolong mulai sekarang kamu jangan ganggu hidup aku lagi, lebih baik kamu
menjauh bukan karna aku gak mau kita berteman tapi aku gak mau malah buat kamu
tersiksa aku ingin focus pada study ku. Mulai sekarang tolong jangan ganggu aku
lagi”
Itulah yang tertulis disana, seketika juga hujan turun membasahi tanah yang kehausan, begitu juga dengan mataku ini entah mengapa rasanya begitu menusuk hingga meneteslah bulir air mata yang menghiasi wajahku. Mulai hari itu aku mencoba untuk menuruti apa yang sari mau dan mulai saat itu juga aku berusaha untuk menjauhinya.
Tak terasa seiring dengan berjalannya waktu yang begitu cepat tahun demi tahun berlalu, aku mulai terbiasa dengan semua ini dan saat ini tibalah aku di hari ini, hari yang sangat berarti bagiku hari dimana banyak siswa yang menangis, tertawa, bercanda, rasa senang yang bercampur rasa sedih, semua mungkin karena kami harus berpisah mulai saat ini, ya ini adalah hari perpisahan SMPku, seakan waktu tak mau mengalah semua berlalu tanpa terasa, di hari itu setelah acara perpisahan selesai ada seorang sahabat yang selama ini menjadi saksi semua kisahku, sahabat yang mengantarkan dan menjemputku, orang yang terkadang membingungkan ketika berbicara, orang yang tak pernah bisa serius saat berbicara berdua, saat ini ia berdiri di luar gerbang SMP ku sambil melambaikan tangannya padaku seakan memanggil anak bodoh ini untuk menghampirinya, lantas aku pun tak bisa menunggu lebih lama dan segera menghampirinya.
“eh
selamet ya, masuk 10 peringkat terbaik UN” tanya eful sembari membuka
pembicaraan kami
“lah tau dari mana kamu, lagian
aku Cuma hoki aja"
" ya tau lah eful gitu loh hahahaha"
hahaha dasar kamu ful ful, eh tapi makasih ya ful”
" ya tau lah eful gitu loh hahahaha"
hahaha dasar kamu ful ful, eh tapi makasih ya ful”
“yoi
sama sama, eh mu balik sekarang? Atau mau kmana dulu? Yu aku anter”
“aku langsung pulang aja ful, lagian ribet pake jas ama kemeja begini”
“yaudah yo naik”
"oke pak boss"
"yah dipanggil bos lagi hahahah"
sekejap setelah aku menaiki motor ini eful mulai memacu si roda dua saksi kegilaan kami ini dan mengantarkan ku pulang kerumah untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia pergi kami sempat sedikit berbincang, mungkin ini yang terakhir kami bisa bersama karna aku akan melanjutkan studyku di tempat yang letaknyta lumayan jauh dari rumah, aku mengucapkan banyak terimakasih pada eful, biarpun pertemanan kami sederhana dan singkat tapi itu sangat berarti untukku, sebelum eful pergi dia mengatakan sebuah kumpulan kata yang ia rangkai sedemikian rupa dan bahkan sampai pada saat ini aku masih bisa mengingatnya
“cinta
itu kaya motor, aku gak tau kenapa cinta itu kaya motor tapi mungkin karna aku memang suka motor,
selain itu cinta dan motor kayanya emang sama, dimana kita punya kesempatan buat
ngebut, pelan pelan atau bahkan berhenti, kalo dalam cinta juga aku pikir sama aja,
ada saatnya kita ngebut buat ngejar seseorang, ada waktunya kita pelan pelan buat
jalani hubungan atau bahkan pelan pelan buat lupakan seseorang, ada fasenya
dimana kita harus berhenti entah itu sengaja atau terpaksa, yah kaya kehabisan
bensin, mau gak mau kita harus berhenti dan isi bensin kan, tapi setelah
berhenti kita juga harus bisa buat jalan lagi, jangan sampe kita diem di situ
situ aja biarpun kita harus jalan pelan pelan tapi itu kayanya lebih baik, tapi gatau ya aku juga ga ngerti sama apa yang aku omongin hahahaha, yaudah
sampai ketemu di lain waktu ya, aku balik dulu, bye”
Walaupun
eful hanya tukang ojek yang tak punya kesempatan untuk belajar lebih lama tapi
menurutku dia sosok sahabat yang luar biasa, namun apa daya waktu yang membuat
kami harus berpisah.
“cinta?
Ada saatnya kita melaju cepat, ada saatnya kita mengurangi kecepatan, ada
saatnya kita berhenti dan mulai lagi melaju perlahan”
Itulah
kata yang ku tulis di halaman kedua di binderku, setelah membaca dan mengingat
semuanya aku mencoba membuka halaman ke 3 tapi aku mengurungkan niatku dan
menutup binder kesayanganku itu, semua karena jarum jam sudah menunjukan pukul 01.23, aku harus
segera tidur karena besok aku punya agenda yang padat di SMA ku, akhirnya ku
simpan lembaran lembaran kenangan itu dan kembali ke tempat tidur lalu segera
menuju alam mimpi untuk terbangun di esok hari, menikmati detik demi detik sisa hidup, berjuang lebih keras dan melaju dengan kecepatan tinggi untuk menikmati masa muda, seperti sebuah tunas yang akan berkembang dan berbunga di masa yang akan datang.
>>>>> BERSAMBUNG
Alur dan tema cerita di ambil dari kisah nyata dan fiktif yang dipadukan, cerita mengalami sedikit perubahan dan nama tokoh di samarkan, bila ada kesamaan nama dan tempat itu hanya ketidak sengajaan kami pihak penulis.
Terimakasih
telah membaca cerpen kami dan nantikan kelanjutan ceritanya
Deep in My Heart part 5 " You and HIM " di Deep in My Heart part 5 " You and HIM "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar