Sabtu, 04 Oktober 2014
Selasa, 30 September 2014
Minggu, 28 September 2014
Cinta Sedarah
“Nabila”, panggil seseorang dari balik pintu. Itu suara kakakku. Dia masuk ke kamarku dan menghampiriku lalu dia memulukku.
“Ada apa kak?”, tanyaku heran.
“Nabila sayang sama kakak kan?”, tanya kakakku. Aku pun mengangguk tanda mengiyakan.
“Nabila mau gak hidup sama kakak?”, tanyanya lagi.
Aku melepaskan pelukannya.
“Maksud Kak Abi apa?”, tanyaku tidak mengerti.
“Nabila sayang kan sama kakak. Kakak juga. Kita hidup berdua saja, tanpa ayah dan bunda. Jika mereka tahu, mereka pasti akan marah. Karena itu kita pergi saja dari rumah ini”
“Tapi kak…”
Dari balik pintu datanglah seseorang. Dia menarik tangan Kak Abi menjauh dariku dan Plaakk! Dia langsung menampar Kak Abi. Dia adalah Ayah.
“Apa maksud kalian ingin hidup bersama?”, tanya Ayah dan terlihat kemarahan di raut wajahnya.
“Ayah tak tahu atau pura-pura tidak tahu. Wanita itu, orang yang aku suka sejak 3 tahun lalu. Wanita itu juga punya perasaan yang sama padaku”, kata Kak Abi sambil menunjuk padaku.
“Apa kau sudah gila!”, Ayah marah dan hampir memukul kakak lagi.
“Ya, aku memang sudah gila. Dan semua ini karena kesalahan Ayah. 18 tahun, aku menjadi anak tunggal. Dan tiba-tiba Ayah membawanya pulang lalu mengatakan dia adik tiriku. Apa Ayah pikir aku bisa terima begitu saja? Ayah tak tahu kita sudah pacaran sebelum Ayah bilang dia adik tiriku”
Mendengar kata-kata Kak Abi, Ayah semakin marah. Ayah memukul Kak Abi tak henti-hentinya. Aku berusaha memisahkan mereka. Pukulan Ayah mengenaiku, aku terjatuh. Ayah membawa Kak Abi keluar kamar, lalu mengunci kamarku. Aku tak bisa keluar, aku berteriak memanggil ayah dan Kak Abi tapi tak ada balasan juga.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Kak Abi. Dia dimana? Apakah dia baik-baik saja? Aku tak pernah tahu. Ayah tak pernah mengungkit soal Kak Abi, seolah-olah ayah tak pernah memiliki seorang anak bernama Habibi.
Sudah 5 tahun berlalu dan aku masih tak tahu kabar darinya. Terkadang ada rasa penyesalan, seandainya bisa kembali ke masa itu. Aku ingin menghindarinya dan berharap semua ini tak pernah terjadi. Berharap semoga cinta sedarah ini tak pernah terjadi.
Cerpen Karangan: Riza Aulia Akfiyani
Facebook: Riza Aulia Akfiyani
“Ada apa kak?”, tanyaku heran.
“Nabila sayang sama kakak kan?”, tanya kakakku. Aku pun mengangguk tanda mengiyakan.
“Nabila mau gak hidup sama kakak?”, tanyanya lagi.
Aku melepaskan pelukannya.
“Maksud Kak Abi apa?”, tanyaku tidak mengerti.
“Nabila sayang kan sama kakak. Kakak juga. Kita hidup berdua saja, tanpa ayah dan bunda. Jika mereka tahu, mereka pasti akan marah. Karena itu kita pergi saja dari rumah ini”
“Tapi kak…”
Dari balik pintu datanglah seseorang. Dia menarik tangan Kak Abi menjauh dariku dan Plaakk! Dia langsung menampar Kak Abi. Dia adalah Ayah.
“Apa maksud kalian ingin hidup bersama?”, tanya Ayah dan terlihat kemarahan di raut wajahnya.
“Ayah tak tahu atau pura-pura tidak tahu. Wanita itu, orang yang aku suka sejak 3 tahun lalu. Wanita itu juga punya perasaan yang sama padaku”, kata Kak Abi sambil menunjuk padaku.
“Apa kau sudah gila!”, Ayah marah dan hampir memukul kakak lagi.
“Ya, aku memang sudah gila. Dan semua ini karena kesalahan Ayah. 18 tahun, aku menjadi anak tunggal. Dan tiba-tiba Ayah membawanya pulang lalu mengatakan dia adik tiriku. Apa Ayah pikir aku bisa terima begitu saja? Ayah tak tahu kita sudah pacaran sebelum Ayah bilang dia adik tiriku”
Mendengar kata-kata Kak Abi, Ayah semakin marah. Ayah memukul Kak Abi tak henti-hentinya. Aku berusaha memisahkan mereka. Pukulan Ayah mengenaiku, aku terjatuh. Ayah membawa Kak Abi keluar kamar, lalu mengunci kamarku. Aku tak bisa keluar, aku berteriak memanggil ayah dan Kak Abi tapi tak ada balasan juga.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Kak Abi. Dia dimana? Apakah dia baik-baik saja? Aku tak pernah tahu. Ayah tak pernah mengungkit soal Kak Abi, seolah-olah ayah tak pernah memiliki seorang anak bernama Habibi.
Sudah 5 tahun berlalu dan aku masih tak tahu kabar darinya. Terkadang ada rasa penyesalan, seandainya bisa kembali ke masa itu. Aku ingin menghindarinya dan berharap semua ini tak pernah terjadi. Berharap semoga cinta sedarah ini tak pernah terjadi.
Cerpen Karangan: Riza Aulia Akfiyani
Facebook: Riza Aulia Akfiyani
Jumat, 25 Juli 2014
Ulang Tahunku Kita Jadian Ulang Tahunmu Kita Sudahan
Mendung!!! Sang Mentari tampaknya enggan tersenyum lagi di hari ini. Tampaknya ia turut berkabung dengan apa yang mengusikku beberapa hari lalu.
“Please.. jangan hujan lagi,” kataku memohon dalam hati.
Pikiranku melayang kembali mengingat serangkaian kenangan yang hilang itu. Sebuah sayatan tanpa aliran darah menggores satu bagian intim di ragaku. Suara yang biasanya menjadi pengobat kerinduanku, menenangkan kegelisahanku, hari itu berubah menjadi sebuah panggilan terlarang yang harusnya aku reject kala itu.
“Hah, siaalll!!!” teriakku menghapus semua kilasan masa lalu itu.
Janji itu kosong, rasa itu bohong, bulsyiiittt!!!
Pikiranku melayang kembali mengingat serangkaian kenangan yang hilang itu. Sebuah sayatan tanpa aliran darah menggores satu bagian intim di ragaku. Suara yang biasanya menjadi pengobat kerinduanku, menenangkan kegelisahanku, hari itu berubah menjadi sebuah panggilan terlarang yang harusnya aku reject kala itu.
“Hah, siaalll!!!” teriakku menghapus semua kilasan masa lalu itu.
Janji itu kosong, rasa itu bohong, bulsyiiittt!!!
—
Tanpa terasa beranjaklah angka di hidupku, tampaknya sudah tak pantas aku bermanja-manja, mulai harus menata diri melangkah ke jenjang yang sering mereka sebut dewasa.
Kringg… kring… kring…
“Halo, Assalamu’alaikum”, kataku manis pada sosok di ujung telepon.
Suaranya memang sudah kutunggu dari lonceng pergantian malam tadi. Syahdu sekali seperti Sang bayu yang mengayun sepoi-sepoi membelai mahkotaku di tepi pantai.
“Selamat ulang tahun ya, semoga apa yang kau impikan dapat tercapai Say.”
“Iya, terimakasih Say,” Jawabku bersemangat.
“Aku boleh bilang sesuatu?”
“Boleh, apa?” kataku dengan cepat, tak sabar apa gerangan kata-kata yang ia utarakan.
“Maaf ya karena aku menggantungkanmu kemarin-kemarin, semoga kamu bisa belajar dari kesalahan, maukah kita menjalin kembali hubungan kita?”
Hatiku mendengar semua perkataanmu sangat bahagia, “Artinya kita pacaran lagi?” meskipun ada hal-hal yang menyakitkanku dengan manisnya permintaanmu, seakan-akan akulah troublemaker dalam hubungan kita. Tapi sayangnya aku tak sanggup marah dan membencimu, karena raga dan batinku sudah terpatri kuat pada satu nama yaitu “Fikar” (namamu).
Kringg… kring… kring…
“Halo, Assalamu’alaikum”, kataku manis pada sosok di ujung telepon.
Suaranya memang sudah kutunggu dari lonceng pergantian malam tadi. Syahdu sekali seperti Sang bayu yang mengayun sepoi-sepoi membelai mahkotaku di tepi pantai.
“Selamat ulang tahun ya, semoga apa yang kau impikan dapat tercapai Say.”
“Iya, terimakasih Say,” Jawabku bersemangat.
“Aku boleh bilang sesuatu?”
“Boleh, apa?” kataku dengan cepat, tak sabar apa gerangan kata-kata yang ia utarakan.
“Maaf ya karena aku menggantungkanmu kemarin-kemarin, semoga kamu bisa belajar dari kesalahan, maukah kita menjalin kembali hubungan kita?”
Hatiku mendengar semua perkataanmu sangat bahagia, “Artinya kita pacaran lagi?” meskipun ada hal-hal yang menyakitkanku dengan manisnya permintaanmu, seakan-akan akulah troublemaker dalam hubungan kita. Tapi sayangnya aku tak sanggup marah dan membencimu, karena raga dan batinku sudah terpatri kuat pada satu nama yaitu “Fikar” (namamu).
Satu bulan kita jalani hubungan itu kembali, terasa sangat menyenangkan, meski ragamu tak pernah aku temui, tapi jarak itu seakan tak berarti. Aku selalu merasakan kau ada di sampingku di setiap waktu.
Lima bulan berjalan, kau mulai mencoba lebih serius untuk mengenalku, bukan hanya diriku tetapi melangkah ke sosok-sosok penyemangatku. Aku semakin yakin padamu bahwa aku tak salah memilihmu, menantimu, mengharapmu untuk bersanding sebagai imamku kelak.
Kerikil-kerikil kecil pernah kita alami tapi rasanya tak sanggup aku mengganjalnya terlalu lama. Selalu kita coba untuk membuangnya dan mengobati dampak luka yang terjadi karenanya. Hah, indah sekali rasanya hingga tak kusadari batu besar itu datang.
Bulan Januari, 2 bulan sebelum perayaan 1 tahun usia hubungan kita. Ada gelombang besar yang mengusik hidupmu, aliran takdir tak semulus apa yang engkau bayangkan. Segala upaya untuk masa depan yang engkau rencanakan kelak bersamaku harus rela kau lepas dan mengulangnya dari nol. Aku mencoba menguatkanmu bahwa ini bukan akhir, tapi tampaknya kau terlalu terpukul.
Satu bulan terlewati, mendekati titik-titik penting dari perjalanan kami, kau tampak lebih baik. Semangatmu sudah terpompa lagi, hubungan kita juga semakin erat, rasanya luapan rindu selalu tertampung setiap harinya.
Pengobatan kerinduan kita hanyalah si besi penyampai kabar ini. Seperti hari biasanya, kau selalu menyapaku dengan tulisan singkat di benda itu pada pagi hari. Tapi, hari itu, satu hari sebelum pergantian angka di hidupmu dan bersamaan dengan 6 hari sebelum hari bersejarah kita, pesanmu beda.
Pengobatan kerinduan kita hanyalah si besi penyampai kabar ini. Seperti hari biasanya, kau selalu menyapaku dengan tulisan singkat di benda itu pada pagi hari. Tapi, hari itu, satu hari sebelum pergantian angka di hidupmu dan bersamaan dengan 6 hari sebelum hari bersejarah kita, pesanmu beda.
Bro, tau ga, tadi malam aku mimpiin Reta lagi, aseemmm. (By: Fikar)
Bagai petir menggelegar saat kubaca pesan yang tampaknya bukan ditujukan untukku. Terlebih Reta itu bukan namaku, kutahu nama itu memang pernah singgah di hatinya tapi itu dahulu. Api amarahku menyeruak, kubalas sms itu dan ku ajukan berbagai pertanyaan yang menyelumut di pikiranku. Fix hari itu kami bertengkar.
Sudah pukul 22.00 tanpa ada kabar darinya, aku semakin merindunya. Harusnya aku jangan terlalu keras padanya, bukankah dia sudah minta maaf, mengapa tidak aku berbaikan saja? Well, akhirnya kuputuskan nanti jam 00.00 ketika pergantian di usianya aku akan mengucapkan selamat dan meminta maaf atas segala tindak kekanakanku.
“Oh my God, sekarang jam 02.00,” kataku kaget karena alarmku tak memihakku.
Segera kupencet nomornya dan kuharap dia belum terlelap tidur. Alhamdulilah, suara di sana ramai.
“Lagi apa?”
“Nonton TV.”
“Say, Selamat ulang tahun ya,” Kataku penuh cinta.
“Iya makasih, aku boleh bicara sesuatu sama kamu?”
“Boleh, ada apa?”
“Kita break dulu aja ya, aku mau menenangkan diri dulu.”
Segera kupencet nomornya dan kuharap dia belum terlelap tidur. Alhamdulilah, suara di sana ramai.
“Lagi apa?”
“Nonton TV.”
“Say, Selamat ulang tahun ya,” Kataku penuh cinta.
“Iya makasih, aku boleh bicara sesuatu sama kamu?”
“Boleh, ada apa?”
“Kita break dulu aja ya, aku mau menenangkan diri dulu.”
Hatiku tercabik-cabik, pernyataan itu, begitu membuat aku tak sanggup berkata-kata. Tanpa terasa ada aliran deras mengalir membasahi wajahku. Suaranya di ujung sana sudah tak sanggup aku dengarkan lagi, yang ada ragaku menjadi lunglai tak berdaya. Aku mencintainya tapi kenapa ia bilang seperti itu? Salah besar apa yang aku lakukan?
6 hari sebelum hari jadianku, tepat di hari ulang tahunnya hubungan ini di ujung tanduk. Aku hanyalah wanita biasa, yang mempunyai rasa mencinta yang terlampau dalam untuknya, berharap memperbaikinya tampaknya malah semakin parah.
6 hari sebelum hari jadianku, tepat di hari ulang tahunnya hubungan ini di ujung tanduk. Aku hanyalah wanita biasa, yang mempunyai rasa mencinta yang terlampau dalam untuknya, berharap memperbaikinya tampaknya malah semakin parah.
“Perasaanmu gimana sih sekarang?” tanyaku mendesaknya.
“Abu-abu, ya sudahlah semoga kau dapat jodoh yang baik di sana.”
“Abu-abu, ya sudahlah semoga kau dapat jodoh yang baik di sana.”
Kata-kata itu menyakitkanku, apa dia ingin mempermainkanku karena sebentar lagi aku akan ulang tahun? O yah, pasti seperti itu, Ok. Aku harus sabar menunggunya.
Tepat jam 00.00 pergantian usiaku, kutunggu-tunggu sms atau teleponnya tapi ternyata kosong. Pagi berganti Siang, Siang berganti Malam tapi kabar darinya tak ada. Aku sakit hati tapi hanya tangis yang bisa mengobatiku. Hingga sebuah pesan baru mengusik kepiluanku
Selamat ulang tahun. semoga kamu bahagia, God bless you (By: Fikar).
Just it? Oh no… apa dia serius ingin menyudahinya? Tapi kenapa Tuhan, Aku tak mengerti!!
Waktu bergulir hingga satu bulan terlewat, aku selalu mencoba mengejarnya untuk menyelesaikan apa yang mengganjal di kalbuku, sayang tanyaku tak pernah berujung dengan sebuah jawaban.
Tiga bulan berjalan, tapi kau tak pernah bersua semanis dahulu, kata-katamu ketus, sakit aku membaca tulisanmu, hingga kuberanikan diri menanyakan mengapa kau lakukan ini padaku.
Waktu bergulir hingga satu bulan terlewat, aku selalu mencoba mengejarnya untuk menyelesaikan apa yang mengganjal di kalbuku, sayang tanyaku tak pernah berujung dengan sebuah jawaban.
Tiga bulan berjalan, tapi kau tak pernah bersua semanis dahulu, kata-katamu ketus, sakit aku membaca tulisanmu, hingga kuberanikan diri menanyakan mengapa kau lakukan ini padaku.
Maaf, aku tak tahu dari mana aku harus bercerita, awalnya aku memang mencintaimu tetapi beberapa bulan lalu perasaan itu menjadi hambar. (By: Fikar)
Tuhan, aku tak sanggup menangis lagi, air mataku sudah habis. Badanku lemas Tuhan, kehilangannya membuat semangatku memudar. Bayangan sekitarku memudar, aku hanya bisa meraba-raba dinding menemui Ibu, Sayangnya ragaku tak kuasa menyokongku dan akhirnya aku tersungkur. Sebelum mataku terkatup aku sempat memohon pada Tuhan,
“Tuhan, tolong hapuskan ingatanku dan kenanganku yang berhubungan dengannya. Jangan siksa aku dengan rasa yang tak berujung ini”.
Minggu, 15 Juni 2014
Saat Bintang Tak Lagi Bercahaya
Sudah hampir 15 tahun Mentari dan Bintang menghabiskan waktu bersama .
Mereka adalah sepasang sahabat sedari kecil .
Dan mereka baru saja masuk SMA 2 bulan lalu .
“Tarriiii...!! Tungguin gue .” teriak Bintang dari dalam rumahnya .
Tari sudah menunggunya 10 menit yang lalu diteras.
Mereka selalu berangkat sekolah bersama dan kebetulan sekolah mereka dari TK sampai SMA tidak pernah terpisah .
“Iya-iya gue tungguin kok sampe lumutan juga gue tungguin .” saut Mentari tidak kalah kerasnya .
3 menit kemudian Bintang pun keluar juga dari rumahnya.
“Lama banget sih lo, ngapain aja didalem?!” Mentari kesal .
“Hehe maaf ya Mentariku tadi nyari jam tangan dulu.” Bintang sambil menyeringai .
“Yaudah ayo! Ntar telat lagi.” Ajak mentari.
Setelah bel berbunyi tanda berakhirnya pelajaran, Mentari dan Bintang langsung membereskan buku pelajaran dan menarik tas segera akan keluar meninggalkan sekolah, karna mereka berdua ingin ke salah satu toko buku yang sedang mengadakan launching novel terbaru .
“Ayo Ntang! Cepetan nanti ketinggalan lagi.” Ajak Mentari yang daritadi menarik Bintang dari kelas .
“Adduuhh pelan-pelan dong jalannya, cape tau!” Bintang merintih dan nafasnya mulai terengah-engah .
“Abis lo jalannya kaya kura-kura sih .”
“Yee, biar lambat yang penting selamet . lepasin dooonngg kaya anak kecil aja deh gue pake dituntun segala .” Bintang agak kesal .
“Ssstt jangan berisik deh, gue tuntun lo biar gak lama .” Mentari tidak melepas genggaman tangannya dipergelangan Bintang .
Sesampainya mereka ditoko buku ....
“Hhaaahh untung aja belum telat.” Mentari menghela nafas ,
“Iya, sampe keringet gua ngucur tangan gue merah dipenggangin terus ckck.” Keluh Bintang.
“Haha, makanya kalo jalan dicepetin kaya prajurit TNI dong, dari kecil sampe sekarang kalo jalan paling lama.”
“Woo, biarin yang penting cakep tuh.”
“Wiih pede, haha udah ah ayo masuk.” Mentari dan Bintang masuk ke toko buku tersebut, dan masing-masing dari mereka mendapat satu novel gratis yang berjudul ‘Missing Star’ .
Malam ini adalah malam minggu, Bintang berniat menginap di rumah Mentari malam ini sambil membawa novel yang baru dia dapatkan tadi siang, dan segera meminta ijin ke mamanya .
Dirumah Mentari ...
‘tok.tok.tok...’
“Tarrii.. Tarrii ..!! buka doonngg !” teriak Bintang dari luar kamar .
“Iya-iya bentaarr.” Saut Mentari dari dalam kamar. Tak lama kemudian Mentari pun membuka pintu kamarnya, Bintang pun langsung menyerobot masuk kekamar dan langsung duduk di kursi meja belajar Mentari .
“Gila! Novel ini kayanya keren banget, Tar.” Bintang langsung nyerocos dengan heboh .
“Op.op.op santai dulu dong, emangnya lo udah baca? Gue belom sempet baca novelnya.” Ucap Mentari sambil menyisir rambut panjangnya .
“Heemm belom sih, tapi dari sinopsisnya udah menarik dan keren .”
“Ooohh, baca di teras balkon aja yuk!”
“ Ayo ayo ! mumpung langit cerah dan bintangnya terang-terang banget .” Bintang pun langsung gesit berjalan menuju balkon dan langsung duduk bersandar di bangku putih, Mentari pun mengikutinya .
Bintang sudah memasang headset, dan mulai membuka novelnya begitu juga dengan Mentari .
Sudah setengah jam mereka duduk santai dan bernyanyi-nyanyi kecil sambil memerhatikan novelnya itu, tiba-tiba mata Bintang langsung menangkap benda bercahaya dilangit yg melesat, Bintang langsung membuka headsetnya.
“Tari! Tari! Ada bintang jatuh .” Bintang berteriak sehingga mengagetkan Mentari, Mentari langsung membuka headsetnya .
“Ada apa sih? Ngagetin aja deh lo .”
“Ada bintang jatoh, kita make a wish yuk seperti biasa .” Ajak Bintang .
2 sahabat itu langsung memejamkan mata, dari mereka kecil inilah saat yang paling selalu mereka tunggu-tunggu .
Mentari berdoa didalem hati begitupun Bintang..
“Tuhan aku ingin bersama sahabatku selamanya ..” Doa Mentari.
Doa Bintang “Tuhan aku ingin .............” tapi belum sempat doa itu diteruskan Bintang merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya dan membuat sesak dadanya .
Mentari pun membuka matanya, dilihatnya Bintang masih menutup mata dan memegangi kepalanya .
“Ntang?” panggil Mentari.
“What?” Bintang pun membuka matanya sambil menahan sakit.
“Kebiasaan deh dari kecil kalo doa laammaa banget, doa apaan aja sih lo? Jangan-jangan udah lo catet yah apa-apa doanya. Haha “
“Hemm ada deh pokoknya secret. Oiyaa gue nginep dirumah lo ya, biasaaa. Hehe”
“Iyyee, udah bilang nyokap?”
“Udah doonngg.”
Selama 15 tahun mereka bersahabat Bintang ataupun Mentari suka saling menginap, kegiatan favorite mereka adalah curhat-curhatan sampai nangis-nangis, nyanyi sambil nyetel musik sekenceng-kencengnya seakan dunia milik 2 sahabat ini .
Hebatnya mereka tidak pernah berantem, karena saking dekatnya mereka, mereka sering dibilang ‘kembar tak pernah sama’ ataupun ‘manusia langit’.
Hari ini, hari pertama untuk kembali menjalankan aktifitas lagi .
Seperti biasa, suara Bintang yang terdengar selalu riang itu memanggil nama Mentari setiap pagi .
“ Mentariiii...!!! Mentari pagi yang cerah selallluuuu, cepetan dong lama amat sih dandannya..” teriak Bintang sambil mengetuk pintu kamar Mentari .
“ Iya tunggu Bintang yang benderang , gak sabar banget sih.”
Tak lama kemudian Mentari pu keluar.
“Yuk!” ajaknya .
Disekolah saat upacara bendera sedang berlangsung .
Mataharipun sudah mulai meninggi, tapi Bintang tiba-tiba tersedak kepalanya terasa sakit, mukannya mulai memucat . Mentari memerhartikan gerak-gerik sahabatnya itu dari awal upacara .
“Ntang lo kenapa? Sakit? Gak enak badan? Pusing? Muka lo pucet banget .” Tanya Mentari panik . “ Kita ke UKS aja yuk .” ajak Mentari. Bintang pun hanya menganggukan kepala .
Tapi sebelum keluar dari barisan mata Bintang langsung gelap dan akhirnya pingsan, guru-guru pun langsung menolong Bintang dan membawanya ke UKS Mentari pun menemaninya.
Di UKS.
Sudah hampir 2 jam Bintang tidak sadarkan diri, Mentari pun menelepon mama Bintang .
½ jam kemudian mama Bintang pun datang dan akhirnya membawa Bintang kerumah sakit .
Bintang koma, sudah 2hari ia belum menyadarkan diri . Banyak selang-selang yang melilit tubuhnya untuk membantu dia bernafas dan hidup .
Mentari setiap pulang sekolah tidak pernah absen untuk menjenguk Bintang, dia menemani Bintang sambil mengerjakan PR ataupun membaca novel .
Tapi sekarang Mentari menangis disamping tempat tidur Bintang .
“Ntang bangun dong, gue kesepian nih gak ada lo yang bawel yang manggil gue tiap pagi kalo mau berangkat sekolah, bangun Ntang cepet sembuh ya Ntang .” Mentari menahan tangisnya tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Bintang .
Mama Bintang pun dateng .
“Tari kamu disini? Kamu gak pulang? Kamu kan harus belajar, biar Bintang tante yang jaga.” Bujuk Mama Bintang .
“Aku mau temenin Bintang tante.” Suara Mentari dengan nada pelan dan lesu .
“Tante, Emangnya Bintang sakit apa sih?” Lanjut Mentari.
Mama Bintang terhenyak, tertegun, dan meneteskan airmata.
“Tante Mira, jawab pertanyaan aku dong!” Desak Mentari, dan itu membuat Mama Bintang semakin tidak tega, akhirnya mama Bintang bersuara pelan.
“Ng..Ng B-Bintang...” ucap Tante Mira terbata-bata. “Bintang kenapa, tante?” Mentari semakin penasaran, Mama Bintang memeluk Bintang sambil menangis .
“ B-b-Bintang mengidap kanker otak stadium akhir..!!” Jelas mama Bintang sambil sesegukan .
Mendengar hal itu tubuh Mentari yang hangat seakan mendingin, matanya yang sembab menatap kosong, dadanya sesak, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar sebelumnya Bintang tak pernah bercerita tentang penyakit itu ke dirinya .
“Tari.. mama..” tiba-tiba suara Bintang terdengar samar memecah suasana yang kelam.
Malamnya, masa kritis Bintang sudah lewat, alat-alat medis yang telah membantu Bintang hidup sudah dilepaskan kecuali infus dan selang kecil untuk mengalirkan oksigen .
Sehabis Bintang makan malam, Mentari kembali kekamar rawat Bintang dan berbicara dengan Bintang, matanya masih sembab karna tangis tadi sore .
“Hai, Tar !” sapa Bintang manis.
“Kenapa lo gak pernah cerita tentang itu ke gue ?” tanya Mentari dengan penuh sesak didadanya . Bintang tersenyum, dan malah membuat Mentari tidak dapat menguasai perasaan kecewa dan marah ke Bintang .
“KENAPA LO GAK PERNAH BILANG KE GUE!! Gue bukan sahabat lo? Lo gak percaya sama gue?” Mentari menangis, “Jawab Ntang! Jangan diem !!” Mentari membentak dan membuat Bintang sesaat tertegun dan mulai bicara.
“Tar, ajak gue keluar dulu dong, gue jawab sekalian mau ngeliat bintang-bintang.” Pinta Bintang .
Mentari pun mengikuti, dan membantu Bintang duduk di kursi roda, Mentari mengajak Bintang ke halaman yang ada dirumah sakit itu, dan Mentari duduk dikursi besi panjang .
“Bintangnya banyak plus terang ya,Tar ? seneng banget gue liatnya.” Bintang memulai pembicaraan.
“Lo belom jawab pertanyaan gue !” Bentak Mentari.
“Gue gak mau ngeliat lo sedih,Tar ! dan gue gak mau dikasihani sama lo.”
Mentari terdiam dan berusaha menahan airmatanya yang hampir menetes .
“Oiyaa, lo udah baca novel Missing Star-nya belom,Tar? Ceritain dong gue belom sempet.”
Mentari mengangguk, menghapus airmatanya yang berlinang dan menceritakan isi dari novel tersebut .
Tiba-tiba ditengah Mentari cerita, Bintang langsung teriak dengan heboh .
“Tar, bintang jatuh, kita make a wish yuk!” ajak Bintang penuh semangat , tanpa pikir panjang mereka berdua memejamkan mata .
“Tuhan, aku ingin pergi disamping sahabatku.” Doa bintang dalam hati sambil menarik nafas panjang, dan mengenggam tangan hangatnya Mentari .
Doa itu yang selalu Bintang ucapkan semenjak ia tahu umurnya tidak akan lama lagi, dan Mentari membuka matanya saat dia menyadari cengkraman tangan Bintang yang tadi kuat sekarang terlepas dan dingin .
“Ntang , Bintang? Hheemm kebiasaan deh doanya lama banget.” Mentari sambil memegang bahu Bintang, tapi tidak ada tanggapan dari Bintang dan Bintang masih menutup matanya.
Mentari tertegun , dan perasaan Mentari mulai bergejolak.
“Ntang?” suara Mentari bergetar memanggil nama Bintang, tapi nihil tidak ada gerakan sedikitpun dari tubuh Bintang .
“B-bbiiiinnttaaaaannngg...!!!” Teriak Mentari dan tangisnya yang ditahannya sedaritadi meledak sekuat-sekuatnya, tubuh hangat Mentari langsung memeluk erat tubuh sang Bintang yang mendingin .
“Biinnttaaanngg jangan tinggalin gue, gue sayang lo, gue gak punya sahabat lagi selain lo, Bintang jangan pergi, Bintang bangguunn..” Mentari mengoyak-oyakan tubuh Bintang yg kini melemas dan tak berdaya .
Bintang menghembuskan nafas terakhirnya, seiring bintang jatuh tadi yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang .
Seminggu, semenjak kepergian Bintang untuk selama-lamanya .
Mentari termenung diteras balkon rumahnya sambil melihat bintang-bintang dan mengenang hari-harinya dulu bersama Bintang.
“Bintang ,lo tetep yang paling terang buat hidup gue dari dulu sampe kapanpun, lo sahabat gue.” Bisik Mentari didalam hati dan ada sekecil senyum yang tergaris dari bibir Mentari .
Mereka adalah sepasang sahabat sedari kecil .
Dan mereka baru saja masuk SMA 2 bulan lalu .
“Tarriiii...!! Tungguin gue .” teriak Bintang dari dalam rumahnya .
Tari sudah menunggunya 10 menit yang lalu diteras.
Mereka selalu berangkat sekolah bersama dan kebetulan sekolah mereka dari TK sampai SMA tidak pernah terpisah .
“Iya-iya gue tungguin kok sampe lumutan juga gue tungguin .” saut Mentari tidak kalah kerasnya .
3 menit kemudian Bintang pun keluar juga dari rumahnya.
“Lama banget sih lo, ngapain aja didalem?!” Mentari kesal .
“Hehe maaf ya Mentariku tadi nyari jam tangan dulu.” Bintang sambil menyeringai .
“Yaudah ayo! Ntar telat lagi.” Ajak mentari.
Setelah bel berbunyi tanda berakhirnya pelajaran, Mentari dan Bintang langsung membereskan buku pelajaran dan menarik tas segera akan keluar meninggalkan sekolah, karna mereka berdua ingin ke salah satu toko buku yang sedang mengadakan launching novel terbaru .
“Ayo Ntang! Cepetan nanti ketinggalan lagi.” Ajak Mentari yang daritadi menarik Bintang dari kelas .
“Adduuhh pelan-pelan dong jalannya, cape tau!” Bintang merintih dan nafasnya mulai terengah-engah .
“Abis lo jalannya kaya kura-kura sih .”
“Yee, biar lambat yang penting selamet . lepasin dooonngg kaya anak kecil aja deh gue pake dituntun segala .” Bintang agak kesal .
“Ssstt jangan berisik deh, gue tuntun lo biar gak lama .” Mentari tidak melepas genggaman tangannya dipergelangan Bintang .
Sesampainya mereka ditoko buku ....
“Hhaaahh untung aja belum telat.” Mentari menghela nafas ,
“Iya, sampe keringet gua ngucur tangan gue merah dipenggangin terus ckck.” Keluh Bintang.
“Haha, makanya kalo jalan dicepetin kaya prajurit TNI dong, dari kecil sampe sekarang kalo jalan paling lama.”
“Woo, biarin yang penting cakep tuh.”
“Wiih pede, haha udah ah ayo masuk.” Mentari dan Bintang masuk ke toko buku tersebut, dan masing-masing dari mereka mendapat satu novel gratis yang berjudul ‘Missing Star’ .
Malam ini adalah malam minggu, Bintang berniat menginap di rumah Mentari malam ini sambil membawa novel yang baru dia dapatkan tadi siang, dan segera meminta ijin ke mamanya .
Dirumah Mentari ...
‘tok.tok.tok...’
“Tarrii.. Tarrii ..!! buka doonngg !” teriak Bintang dari luar kamar .
“Iya-iya bentaarr.” Saut Mentari dari dalam kamar. Tak lama kemudian Mentari pun membuka pintu kamarnya, Bintang pun langsung menyerobot masuk kekamar dan langsung duduk di kursi meja belajar Mentari .
“Gila! Novel ini kayanya keren banget, Tar.” Bintang langsung nyerocos dengan heboh .
“Op.op.op santai dulu dong, emangnya lo udah baca? Gue belom sempet baca novelnya.” Ucap Mentari sambil menyisir rambut panjangnya .
“Heemm belom sih, tapi dari sinopsisnya udah menarik dan keren .”
“Ooohh, baca di teras balkon aja yuk!”
“ Ayo ayo ! mumpung langit cerah dan bintangnya terang-terang banget .” Bintang pun langsung gesit berjalan menuju balkon dan langsung duduk bersandar di bangku putih, Mentari pun mengikutinya .
Bintang sudah memasang headset, dan mulai membuka novelnya begitu juga dengan Mentari .
Sudah setengah jam mereka duduk santai dan bernyanyi-nyanyi kecil sambil memerhatikan novelnya itu, tiba-tiba mata Bintang langsung menangkap benda bercahaya dilangit yg melesat, Bintang langsung membuka headsetnya.
“Tari! Tari! Ada bintang jatuh .” Bintang berteriak sehingga mengagetkan Mentari, Mentari langsung membuka headsetnya .
“Ada apa sih? Ngagetin aja deh lo .”
“Ada bintang jatoh, kita make a wish yuk seperti biasa .” Ajak Bintang .
2 sahabat itu langsung memejamkan mata, dari mereka kecil inilah saat yang paling selalu mereka tunggu-tunggu .
Mentari berdoa didalem hati begitupun Bintang..
“Tuhan aku ingin bersama sahabatku selamanya ..” Doa Mentari.
Doa Bintang “Tuhan aku ingin .............” tapi belum sempat doa itu diteruskan Bintang merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya dan membuat sesak dadanya .
Mentari pun membuka matanya, dilihatnya Bintang masih menutup mata dan memegangi kepalanya .
“Ntang?” panggil Mentari.
“What?” Bintang pun membuka matanya sambil menahan sakit.
“Kebiasaan deh dari kecil kalo doa laammaa banget, doa apaan aja sih lo? Jangan-jangan udah lo catet yah apa-apa doanya. Haha “
“Hemm ada deh pokoknya secret. Oiyaa gue nginep dirumah lo ya, biasaaa. Hehe”
“Iyyee, udah bilang nyokap?”
“Udah doonngg.”
Selama 15 tahun mereka bersahabat Bintang ataupun Mentari suka saling menginap, kegiatan favorite mereka adalah curhat-curhatan sampai nangis-nangis, nyanyi sambil nyetel musik sekenceng-kencengnya seakan dunia milik 2 sahabat ini .
Hebatnya mereka tidak pernah berantem, karena saking dekatnya mereka, mereka sering dibilang ‘kembar tak pernah sama’ ataupun ‘manusia langit’.
Hari ini, hari pertama untuk kembali menjalankan aktifitas lagi .
Seperti biasa, suara Bintang yang terdengar selalu riang itu memanggil nama Mentari setiap pagi .
“ Mentariiii...!!! Mentari pagi yang cerah selallluuuu, cepetan dong lama amat sih dandannya..” teriak Bintang sambil mengetuk pintu kamar Mentari .
“ Iya tunggu Bintang yang benderang , gak sabar banget sih.”
Tak lama kemudian Mentari pu keluar.
“Yuk!” ajaknya .
Disekolah saat upacara bendera sedang berlangsung .
Mataharipun sudah mulai meninggi, tapi Bintang tiba-tiba tersedak kepalanya terasa sakit, mukannya mulai memucat . Mentari memerhartikan gerak-gerik sahabatnya itu dari awal upacara .
“Ntang lo kenapa? Sakit? Gak enak badan? Pusing? Muka lo pucet banget .” Tanya Mentari panik . “ Kita ke UKS aja yuk .” ajak Mentari. Bintang pun hanya menganggukan kepala .
Tapi sebelum keluar dari barisan mata Bintang langsung gelap dan akhirnya pingsan, guru-guru pun langsung menolong Bintang dan membawanya ke UKS Mentari pun menemaninya.
Di UKS.
Sudah hampir 2 jam Bintang tidak sadarkan diri, Mentari pun menelepon mama Bintang .
½ jam kemudian mama Bintang pun datang dan akhirnya membawa Bintang kerumah sakit .
Bintang koma, sudah 2hari ia belum menyadarkan diri . Banyak selang-selang yang melilit tubuhnya untuk membantu dia bernafas dan hidup .
Mentari setiap pulang sekolah tidak pernah absen untuk menjenguk Bintang, dia menemani Bintang sambil mengerjakan PR ataupun membaca novel .
Tapi sekarang Mentari menangis disamping tempat tidur Bintang .
“Ntang bangun dong, gue kesepian nih gak ada lo yang bawel yang manggil gue tiap pagi kalo mau berangkat sekolah, bangun Ntang cepet sembuh ya Ntang .” Mentari menahan tangisnya tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Bintang .
Mama Bintang pun dateng .
“Tari kamu disini? Kamu gak pulang? Kamu kan harus belajar, biar Bintang tante yang jaga.” Bujuk Mama Bintang .
“Aku mau temenin Bintang tante.” Suara Mentari dengan nada pelan dan lesu .
“Tante, Emangnya Bintang sakit apa sih?” Lanjut Mentari.
Mama Bintang terhenyak, tertegun, dan meneteskan airmata.
“Tante Mira, jawab pertanyaan aku dong!” Desak Mentari, dan itu membuat Mama Bintang semakin tidak tega, akhirnya mama Bintang bersuara pelan.
“Ng..Ng B-Bintang...” ucap Tante Mira terbata-bata. “Bintang kenapa, tante?” Mentari semakin penasaran, Mama Bintang memeluk Bintang sambil menangis .
“ B-b-Bintang mengidap kanker otak stadium akhir..!!” Jelas mama Bintang sambil sesegukan .
Mendengar hal itu tubuh Mentari yang hangat seakan mendingin, matanya yang sembab menatap kosong, dadanya sesak, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar sebelumnya Bintang tak pernah bercerita tentang penyakit itu ke dirinya .
“Tari.. mama..” tiba-tiba suara Bintang terdengar samar memecah suasana yang kelam.
Malamnya, masa kritis Bintang sudah lewat, alat-alat medis yang telah membantu Bintang hidup sudah dilepaskan kecuali infus dan selang kecil untuk mengalirkan oksigen .
Sehabis Bintang makan malam, Mentari kembali kekamar rawat Bintang dan berbicara dengan Bintang, matanya masih sembab karna tangis tadi sore .
“Hai, Tar !” sapa Bintang manis.
“Kenapa lo gak pernah cerita tentang itu ke gue ?” tanya Mentari dengan penuh sesak didadanya . Bintang tersenyum, dan malah membuat Mentari tidak dapat menguasai perasaan kecewa dan marah ke Bintang .
“KENAPA LO GAK PERNAH BILANG KE GUE!! Gue bukan sahabat lo? Lo gak percaya sama gue?” Mentari menangis, “Jawab Ntang! Jangan diem !!” Mentari membentak dan membuat Bintang sesaat tertegun dan mulai bicara.
“Tar, ajak gue keluar dulu dong, gue jawab sekalian mau ngeliat bintang-bintang.” Pinta Bintang .
Mentari pun mengikuti, dan membantu Bintang duduk di kursi roda, Mentari mengajak Bintang ke halaman yang ada dirumah sakit itu, dan Mentari duduk dikursi besi panjang .
“Bintangnya banyak plus terang ya,Tar ? seneng banget gue liatnya.” Bintang memulai pembicaraan.
“Lo belom jawab pertanyaan gue !” Bentak Mentari.
“Gue gak mau ngeliat lo sedih,Tar ! dan gue gak mau dikasihani sama lo.”
Mentari terdiam dan berusaha menahan airmatanya yang hampir menetes .
“Oiyaa, lo udah baca novel Missing Star-nya belom,Tar? Ceritain dong gue belom sempet.”
Mentari mengangguk, menghapus airmatanya yang berlinang dan menceritakan isi dari novel tersebut .
Tiba-tiba ditengah Mentari cerita, Bintang langsung teriak dengan heboh .
“Tar, bintang jatuh, kita make a wish yuk!” ajak Bintang penuh semangat , tanpa pikir panjang mereka berdua memejamkan mata .
“Tuhan, aku ingin pergi disamping sahabatku.” Doa bintang dalam hati sambil menarik nafas panjang, dan mengenggam tangan hangatnya Mentari .
Doa itu yang selalu Bintang ucapkan semenjak ia tahu umurnya tidak akan lama lagi, dan Mentari membuka matanya saat dia menyadari cengkraman tangan Bintang yang tadi kuat sekarang terlepas dan dingin .
“Ntang , Bintang? Hheemm kebiasaan deh doanya lama banget.” Mentari sambil memegang bahu Bintang, tapi tidak ada tanggapan dari Bintang dan Bintang masih menutup matanya.
Mentari tertegun , dan perasaan Mentari mulai bergejolak.
“Ntang?” suara Mentari bergetar memanggil nama Bintang, tapi nihil tidak ada gerakan sedikitpun dari tubuh Bintang .
“B-bbiiiinnttaaaaannngg...!!!” Teriak Mentari dan tangisnya yang ditahannya sedaritadi meledak sekuat-sekuatnya, tubuh hangat Mentari langsung memeluk erat tubuh sang Bintang yang mendingin .
“Biinnttaaanngg jangan tinggalin gue, gue sayang lo, gue gak punya sahabat lagi selain lo, Bintang jangan pergi, Bintang bangguunn..” Mentari mengoyak-oyakan tubuh Bintang yg kini melemas dan tak berdaya .
Bintang menghembuskan nafas terakhirnya, seiring bintang jatuh tadi yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang .
Seminggu, semenjak kepergian Bintang untuk selama-lamanya .
Mentari termenung diteras balkon rumahnya sambil melihat bintang-bintang dan mengenang hari-harinya dulu bersama Bintang.
“Bintang ,lo tetep yang paling terang buat hidup gue dari dulu sampe kapanpun, lo sahabat gue.” Bisik Mentari didalam hati dan ada sekecil senyum yang tergaris dari bibir Mentari .
Cintaku, Cintamu, Cinta Kita Bersama
“Kok bisa sih dia nembak lo?”, kalimat itu terus dilontarkan Gita. Seperti orang yang keheranan setengah kebingungan.
“Tauk deh, tanya aja sama Pandu kalo gak percaya”, kataku sambil menjulurkan lidah.
“Setahu gue, dia tuh gak pernah suka ama cewek centil apalagi yang suka dandan kayak lo gitu”.
“Hati orang siapa yang tahu sih, Git. Jangan-jangan lo cemburu ya Ngaku deh, kalo lo ngaku, gue bakal mundur tapi syaratnya lo harus nraktir gue makan selama sebulan”
“Sebulan? Gile aje, sorry ya, gue gak bakalan suka sama cowok gila kayak dia. Dengerin ya, dia itu suka ngupil, kayaknya agak h*mo juga, banyak tuh anak cheers yang ditolak dengan alasan gak logis, karena mereka suka nari”
“Hahaha…bukan urusan gue deh, yang penting orang satu sekolah bakal ngiri ngeliat gue jalan sama dia”
“Bentar-bentar, jadi lo cuman manfaatin popularitas Pandu? Jangan, Din, kasihan Pandu, baru kali ini kayaknya dia jatuh cinta”. Ada benarnya kata Gita. Tapi nggak juga ding, aku mencintai Pandu sepenuh hati kok. Jantungku berdebardebar saat bertemu dengannya. Tapi agaknya popularitas lah yang lebih penting dari Pandu. Ah, bodo amat, yang jelas Pandu kini bertekuk lutut padaku.
***
Kulangkahkan kaki kecilku ke rumah Gita, sengaja aku pamit ke rumah Gita sama mama padahal sebenarnya ini adalah kencan pertamaku dengan Pandu. Mama tak pernah mengizinkan aku pacaran, kata mama besok aja kalo udah gede. Nunggu gede apalagi coba, badanku udah bongsor gini masih aja dibilang kurang gede.
Derum sepeda motor datang. Tidak salah lagi itu sepeda motor Pandu. Aku segera keluar rumah ditemani Gita.
“Git, gue pinjem temen lo dulu ya!” kata Pandu setengah bercanda.
“Jagain tuh temen gue, awas ya sampai kenapa-napa, gue samperin nyokap bokap lo”, balas Gita, kali ini dengan nada agak kesal.
“Makanya cepet-cepet punya pacar, biar gak jamuran di rumah, kayaknya tujuh tanda penuaan dini udah muncul tuh gara-gara keasyikan pacaran sama laptop terus, radiasi laptop merusak kecantikan tuh”, detail Pandu.
“Hedeh, udah sana pergi-pergi…Hush..hush..”
“Nah loh, galak banget sama cowok, gimana mau dapet pacar coba”
“Kalo gak pergi aku lempar sandal nih”, kali ini Gita mengangkat sandalnya. Motor pun melaju, Pandu melemparkan senyuman jail ke Gita. Tiba-tiba aku merasa hubungan mereka dekat sekali.
“Sejauh apa sih hubungan kamu sama Gita?”, tanyaku suatu hari pada Pandu.
“Biasa aja, kayak kamu sama Gita”
“Deket banget berarti”, ucapku sambil memincingkan mata
“Gak juga lah, ngapain sih tanya-tanya gak penting”
“Aku takut kamu suka sama Gita”
“Kamu cemburu, percaya deh sama aku, aku gak bakalan suka sama Gita, Gita udah aku anggep kayak temen cowokku. She’s not a girl, you know!”
Agak lega juga mendengar ucapan Pandu. Sepertinya asumsiku hanya sebuah bayang-bayang takut kehilangan Pandu. Sepertinya tak mungkin juga sahabatku berkhianat padaku. Gita yang kukenal tak mungkin tega kepada sahabatnya sendiri dan Pandu jelas-jelas milikku, tak akan mungkin mereka jadi satu.
Akan tetapi, suatu siang saat aku tak sengaja membuka halaman demi halaman buku harian Gita.
Dear Diary
Aku senang sekali bisa sekelas sama dia. Dia adalah orang yang pertama kali membuat otakku tak bisa mencerna dengan baik, membuat nafasku tersengal, dan membuat aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya.
Halaman demi halaman kubalik, semua berisi dia dia dan dia. Akhirnya kutemukan satu halaman yang menjadi petunjuk siapa sebenarnya “dia” itu. Dia yang selalu membuat Gita ceria, dia yang dalam tulisan Gita menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya, dia yang membuat Gita tersenyum senang ketika bisa bercanda bersama.
Dear Diary
Hatiku hancur, aku bukan sahabat yang baik. Pandu menyukainya, menyukai Diana sahabatku. Aku menyesal telah mengenalkan Diana kepada Pandu. Hatiku tercabik. Dan kini aku harus menangis kemudian menyeka air mata sendirian. Aku tak mau Diana tahu perasaanku, aku tak ingin Diana benci padaku. Aku sayang sahabatku tapi aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga mencintai Pandu. Mungkin cinta tak harus diungkapkan dan tak harus memiliki. Aku akan mengalah, meski aku tak mau dibilang kalah. Setidaknya aku menang telak sebagai seorang pembohong. Pantas jadi artis sepertinya. Hahaha…
Dalam suasana sedih begitu, masih saja Gita bisa menertawakan dirinya sendiri. Lembaran itu basah oleh air mata sepertinya, sebagian tintanya luntur. Semua asumsiku ternyata benar. Kepribadianku yang lain tiba-tiba muncul. Maaf Git, aku nggak bisa melepas Pandu. Mungkin kamu sahabatnya, tapi aku lah yang kini berada disampingnya. Tak akan aku biarkan kamu merebut perhatian Pandu. Mulai saat itu juga aku mulai menjauh.
“Din, kemana aja sih, gue cariin gak pernah ketemu, udah kayak Nazarudin aja lo, suka ngilang”, kalimat Gita mengagetkanku yang tengah duduk sendiri di pojok ruangan perpustakaan.
“Akhir-akhir ini jadi pingin sendiri, sorry Git”, aku meninggalkan Gita yang baru saja akan duduk menemaniku. Aku nggak bisa menghindar terus dari Gita. Aku kangen sama celotehan Gita yang nggak penting, kangen caranya menghiburku disaat papa mama sibuk bertengkar, kangen dengan semua-muanya. Setelah aku pikir-pikir aku masih 16 tahun. Bila Tuhan masih memberiku umur panjang, setidaknya akan banyak pengganti Pandu yang lebih baik. Sahabatku lebih penting dari pacarku. Pandu hanyalah orang asing yang memasuki kehidupan kami, sepertinya akan segera merusak persahabatan jika aku tetap bersikukuh ingin Gita menjauh dari Pandu. Sampai pada suatu saat aku menjelaskan kepada Gita bahwa aku telah membaca semua bagian buku hariannya. Menangislah Gita di hadapanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya aku melihat Gita menangis.
Sepertinya dia tulus mencintai Pandu. “Git, bulan depan aku pindah ke Jogja. Nenek minta ditemeninin soalnya Om Feri ditugasin ke Kuala Lumpur sama kantornya”, kataku sambil memegang pundak Gita.
“Jangan-jangan kamu pindah gara-gara masalah ini??”
“Ge-er. Gue itu bukan tipe orang yang lari dari masalah. Dan lo tau sendiri kan kalo gue gak bener-bener sayang sama Pandu. So, ambil aja noh!”. Gita langsung memelukku erat dan aku membalas pelukannya. Kami berpelukan sangat erat seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Antara Aku Kamu dan Mantanku
Putus
cinta adalah saat-saat tersulit yang sangat menyedihkan dan terkadang
menyakitkan. Hari-hari dipenuhi kelabu hitam dan menjadi tak bermakna lagi.
Seperti itulah yang aku rasakan. Tak menyenangkan. Jantung terasa tak bisa
bernafas, detaknya bagaikan tik tik tik bom yang siap kapan saja meledakkan isi
hati. Hati dan pikiran hanya mendambakan sang kekasih hati untuk datang menemui
dan mengulangi yang pernah terjadi kemarin yang terasa indah dan menyenangkan.
Tapi kenyataannya adalah ia telah pergi dari kehidupanku.
Sebut
saja namaku Tina. Nama yang sama dengan mendiang ibu ku. Minggu-minggu liburan
akhir semester ini terasa begitu lama. Padahal awalnya aku merasa liburan ini
akan menjadi sangat menyenangkan dan merasa tak cukup hari untuk
menghabiskannya. Merasa cukup sangat bosan aku memutuskan untuk berkujung ke
toko buku yang jauh dari rumah ku. Hal itu sengaja aku lakukan agar perjalanan
menjadi lama dan waktu pun berlalu cukup banyak sehingga pulang ke rumah nanti
aku tinggal tidur. Ide yang cukup bagus.
Tak
ada buku-buku yang berhasil menarik perhatian ku di sini. Kaki ku tlah lelah
mengelilingi rak demi rak. Cukup lama aku berdiri membaca-baca judul novel yang
menarik untuk dibaca, namun aku dikejutkan oleh suara seorang pria yang menyapa
ku. Aku menoleh dan aku mengenalinya. Dia adalah kakak tingkat ku di kampus
yang telah lulus mendahului aku. Ya iyalah mendahului aku namanya juga kakak
tingkat. Seingat ku namanya Raju tapi tak tau juga kalau ternyata aku salah.
Aku hanya tersenyum membalas sapaannya. Ya ampun kenapa cuma tersenyum sih?
Kenapa tak ku balas sapaannya. Baru ketemu cowok ganteng gini aja udah grogi
dan kehabisan kata-kata.
“Hobi baca novel ya?”
“Ngg,
nggak juga sih. Tapi aku memang suka baca.”
“Kamu sendirian aja?”
“Ya.”
Aku melihat tanda tanya besar di wajahnya. Apakah aneh melihat seorang gadis
berjalan-jalan sendiri di toko buku? Menurut ku itu memang benar, hal yang tak
biasa terjadi. Tapi aku memang suka menghabiskan waktu ku dengan diri ku
sendiri.
“Jarang sekali aku melihat
seorang wanita berjalan-jalan sendirian. Biasanya para wanita itu berkumpul
bersama teman-temannya, tertawa dan bergosip. Tapi kamu ....”
kata-katanya terhenti dan ia tersenyum kepada ku.
“Kenapa
dengan aku?”
“Tidak tidak. Tidak kenapa-kenapa sih”.
Lagi-lagi ia tersenyum.
Aku
mengambil satu novel sembarang dan aku berjalan menuju kasir dan
meninggalkannya.
“Hei, tunggu. Udah selesai
ya belanjanya?”
“Iya”
“Mau kemana selanjutnya?”
Mau
kemana ya aku. Padahal tadinya aku ingin membaca buku saja di toko buku ini.
Tapi karna kehadirannya membuatku salah tingkah dan aku pun menjadi bingung
kenapa aku harus membeli buku.
“Bagaimana kalau kita ke
rumah es krim di seberang toko ini? Kebetulan juga aku sendirian.”
Kebetulan
apanya coba. Aduh ini jantung ku mau copot kalau terus-terusan dia masih ada di
sini. Tapi tak tau mau kemana lagi setelah ini. Apa aku terima saja ya
ajakannya. Lumayan juga makan es krim di sore hari, dan itu makanan kesukaanku.
Siapa tau juga setelah itu aku udah bisa bersikap normal lagi dan tak grogi
serta salah tingkah seperti ini.
“Hmm,
es krim ya? Boleh juga.”
Kami
berjalan menuju rumah es krim yang hanya berjarak beberapa langkah. Sembari
berjalan aku berpikir. Dia tidak membeli apa-apa dari toko buku tadi dan ia tak
ditemani siapa-siapa dan tiba-tiba dia mengajakku makan es krim. Aneh sekali.
“Ngg,
pacar mu apa kabarnya, kak?”, tanyaku mencoba mencairkan suasana.
“Pacar?? Pacar yang mana?”
“Anjali”
“Oh, sudah lama putus.”
“Putus?
Cepat amat.”
“Ya biarin aja. Tak usah di
bahas lagi karna aku tak ingin mood ku menjadi tidak baik.”
Aku
jadi bingung mau bicara apa lagi. Ku putuskan untuk diam sajalah sambil
menghabiskan es krim ku.
“Bagaimana liburan mu? Asyik
nggak?”
“Hmm.
Biasa aja.”
“Biasa aja gimana?”
“Nggak
ada yang special.”
“Kenapa bisa gitu?”
“Ya
karna nggak ada orang yang special.”
“Emangnya siapa?”
“Inisialnya
R dan kepanjangannya Ra-ha-si-a.”
“R ? Aku donk.”
Glek.
Tiba-tiba langsung tertelan es krim. Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu?
Padahal kan aku cuma bercanda. Lagian siapa juga coba inisial R. Mantan pacarku
kan inisialnya A dan mantan gebetanku juga inisialnya A. Aku cuma asal-asalan
aja tadi. Kenapa dia kepedean gitu sih. Emang yang inisial namanya R dia doank
apa.
“Kepo
amat sih.”
“Penasaran aja. Ayo cerita
donk siapa.”
Ini
cowok kenapa sih. Kesambet setan dimana coba? Nggak ada hujan nggak ada geledek
juga. Dan pertemuan ini pun juga sangat teramat aneh. Aku bingung dan super
duper bingung.
“Liat
aja di blog ku. Nanti juga bakalan tau sendiri siapa orangnya.”
“Oke nanti malam kakak liat
blognya. Tapi ceritain donk. Dikit aja.”
“Nggak
mau. Kepo amat sih jadi orang.”
Tak
terasa gelap pun tlah menyelimuti sore yang cerah ini. Aku pamitan dan pulang
duluan. Aku berjalan tergesa-gesa mengambil kendaraanku di parkiran dan pulang
ke rumah. Sesampainya di rumah aku merasakan seperti aku melupakan sesuatu. Sejenak
aku mengingat-ingat. Ya ampun novel ku ketinggalan di rumah es krim tadi. Ya
sudah mau di apakan lagi. Mau balik ke sana belum tentu juga masih ada
novelnya. Lagian aku juga tak begitu tertarik untuk membacanya. Membelinya pun
asal-asalan ambil aja.
Ponselku
tiba-tiba berbunyi. Notifikasi dari akun twitterku. Ternyata dari Kak Raju.
“Udah di baca nih cerpennya.
Nggak ngerti. Siapa sih? Masih penasaran.”
“Ya
ampun gitu aja kok nggak bisa ngerti.”
Jreeeeng.
Entah kesambet apa juga aku malam ini dengan gamblangnya ku ceritakan kisah
percintaanku di masa lalu yang lumayan aneh kepadanya. Tak terasa malam kian larut dan obrolan masih
berlanjut hingga dini hari.
Keeseokkan
malamnya ia kembali mengirimkan pesan langsung kepada ku. Kali ini tak membahas
tentang pria-pria di masa lalu ku. Hanya percakapan santai biasa. Aku mencoba
mencari tau tentang wanita-wanita di masa lalunya. Hanya sebagai aksi balas
dendam ku karena ia telah berhasil mengintimidasi ku semalam. Curang sekali
pria ini, dia menutup-nutupi masa lalunya dari ku. Aku merasa terzholimi. Awas
saja nanti ya. Tak apa aku tak berhasil mencari taunya tapi nanti aku yang akan
menjadi wanita di hidupnya. Eeeh apa-apaan ini kok bisa mikir gitu. Error ini
otak ku.
Malam
selanjutnya ia kembali mengirimiku pesan dan kami bertukar nomor ponsel. Sejak
itu pula ia sekarang rajin mengirimi ku sms. Hampir setiap malam aku membalas smsnya.
Kenapa rasanya nyaman sekali ya. Tak mungkin secepat ini aku jatuh cinta. Ini
hanya rasa senang belaka karena dapat teman baru.
Siang
ini aku bertengkar dengan kakak ku. Rasanya aku ingin pergi saja dari rumah ini.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi mantanku. Memintanya menjemputku dan
pergi menenangkan diri. Baru 10 bulan yang lalu aku memutuskan hubungan kami
setelah 2 tahun lebih aku mencoba bertahan dengannya.
Saat
awal perpisahan kami, aku merasa sangat terpuruk. Seperti yang aku jelaskan di
awal cerita tadi. Aku seperti kehilangan separuh hatiku. Dan rasa perih itu
masih sering muncul jika aku teringat tentangnya. Tak mudah melupakan orang
yang telah berhasil membantumu bangkit dari keterpurukkanmu sebelumnya. Tapi
rasa sakit ini lebih perih dari keterpurukkan ku kehilangan cinta pertama ku.
Aku
meminta mantanku mengantarkan aku ke pusara ibu ku. Memang biasanya di saat
sedih aku melarikan diri ku kesana. Tak ada tempat yang lebih baik yang mampu
menenangkan perasaan ku kecuali di sana. Setelah satu jam lebih di sana dia mengajakku
ke suatu tempat. Karena suasana hatiku belum membaik, aku menurut saja di
bawanya. Ya ampun ternyata dia membawaku
ke tempat makan favoritku. Dan tempat ini adalah tempat yang biasa aku
dan dia habiskan dimasa-masa pacaran dulu.
Seperti
kembali ke masa lalu. Rasanya sungguh nyaman dan sangat sangat ku rindukan.
Tapi akal sehatku membangunkan aku dari mimpi ini. Tina kebersamaanmu dengannya
hanya tinggal beberapa jam lagi. Dan dia akan pergi lagi meninggalkanmu
sendiri. Ingin sekali rasanya ku hentikan waktu ini untuk satu dekade saja. Ya
harus aku akui menghentikan waktu itu bukanlah kuasa ku. Dan aku sangat
berterima kasih sekali kepadanya karena dia selalu bisa menenangkan aku dan
mengembalikan kesedihanku ke keceriaanku dengan caranya itu.
Malam
pun menghampiri dan aku kembali ke pelukan kasur ku yang empuk. Aku mencoba
memejamkan mata dan mencoba melupakan kejadian yang aku alami siang ini.
Mencoba melupakannya yang dulu pernah singgah di hati ini. Mencoba tuk
melupakan segala kenangan indah. Tentang dirinya dan tentang mimpiku.
Ponselku
membangunkan aku dari lamunan ku. Ternyata sms dari Raju. Agak sedikit malas
aku membalasnya. Ku buang ponselku ke kasur dan aku mencoba terpejam lagi. Dan
yaps itu usaha yang gagal. Ku raih ponsel ku dan ku balas smsnya. Raju
mengajakku menonton akhir pekan minggu depan. Ajakan yang sangat menarik
perhatianku. Setelah melewati hari-hari dengan segala kesibukkan aktivitas
kampus akhir pekan pun tiba juga.
Ini
pertama kalinya aku dan Raju bisa dibilang berkencan. Terasa sedikit agak aneh
dan grogi. Tapi aku coba untuk berusaha santai dan ceria. Film yang kami tonton
cukup bagus tapi aku tak bisa berkonsentrasi menikmati film itu. Saat keluar
dari teather aku terkejut saat ku lihat ke arah depan ku. Itu adalah mantanku
dan siapa yang menggandeng lengannya itu? Ya ampun ternyata benar gosip yang
beredar itu. Pacarku selingkuh dengan sahabatku. Aku berusaha percaya padanya
yang saat itu kekasihku dan tak mau berfikir negatif terhadap sahabatku sendiri.
Tapi ternyata mereka benar-benar mengkhianatiku. Kenapa tuhan baru
membuktikannya saat ini. Setelah berbulan-bulan aku putus. Kalian tentu bisa
bayangin bagaimana hancur dan memuncaknya amarahku saat ini.
Saat
berpapasan sahabatku menyapa ku. Mereka berhenti dan mantanku menoleh ke arah
kami. Tapi ia tak menatapku. Ia menatap Raju. Sahabatku tersenyum ke arah ku.
Uups salah. Mantan sahabat lebih tepatnya. Ku balas senyumannya dengan senyuman
manis ku. Manis yang terlihat di mata namun perih menyayat hati.
“Aku
tak pernah percaya dengan gosip-gosip yang beredar sebelumnya sampai aku
mengalami hari ini. Ternyata kau memang benar pengkhianat. Ini yang kau sebut sahabat.
Wajar saja ketika aku galau kau selalu menyarankan aku untuk memutuskannya. Dan
sampai pada akhirnya aku benar-benar memutuskannya dan kalian.....” kata-kata
ku terhenti. Tak sanggup lagi rasanya aku mencurahkan amarah ini.
“Tunggu dulu, Tin. Biar aku
jelaskan.” Arjun, mantanku mencoba untuk menjelaskan yang ntah apa
itu penjelasannya aku tak peduli lagi.
“Cukup.
Semua sudah jelas. Aku telah melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Dan
kau,” sambil menunjuk mantan sahabatku, “ambil saja bekas pacar ku untuk mu!”.
Malas
sekali aku berlama-lama dalam kondisi seperti ini. Kutarik lengan Raju dan kami
pun meninggalkan mereka. Selera makan ku menjadi menurun karena kejadian tadi
dan aku diam membisu cukup lama sehingga membuat Raju sedikit merasa risih dan
salah tingkah. Dan kami menikmati makan malam dan perjalanan pulang dalam diam.
Hari-hari
ku selanjutnya menjadi sangat membosankan. Arjun terus menelpon ku. Apa lagi
sih maunya? Aku udah cukup teramat sakit dulu sebelum memutuskannya, saat
berpisah dengannya pun aku masih sakit, dan sekarang setelah berpisah lumayan
lama rasanya bertambah sakit. Aku benci dan muak dengannya. Walaupun di dalam
hati kecil ku aku tak bisa berdusta bahwa aku masih mencintainya.
Ia
terus-terusan meneror ku ingin menjelaskan semuanya. Penjelasan apa lagi? Semua
udah cukup jelas buat aku sekarang. Jelas ternyata aku salah menaruh hati dan
mencintai orang yang busuk seperti dia. Dia yang tak pernah bisa menghargai
kehadiranku dan memaknai kasih sayang yang dulu aku berikan untuknya.
Namun
aku beruntung diperkenalkan dengan Raju. Aku tak pernah menyesali pertemuan di
toko buku yang aneh itu. Sejak itu dia yang selalu menjadi pengalih pikiran ku
akan kegalauan ku. Dia selalu mendengarkan cerita-cerita ku, keluh kesah ku,
bahkan menjadi sasaran kegilaan ku di saat pikiran ku sedang kalut.
Akhir-akhir
ini ia rajin menemui ku. Menjemputku di kampus. Dan berakhir pekan yang
menyenangkan bersamanya. Tapi aku merasakan suatu keanehan saat bersamanya. Mengapa ku selalu terdiam saat
ku menatap mata indahnya, Mengapa ku selalu terpaku saat ku melihat
senyum manisnya. Jantungku pun
berdetak kencang saat ku berjumpa dengannya. Mengapa aku begini??? Apa
yang kini kurasa???? Apakah ini
hanya sekedar kagum??? Atau ini
yang namanya cinta??? Entahlah.....
Ku tak tahu apa yang kurasa kini.
Yang ku tahu........ Hidupku terasa lebih indah saat dia hadir
dalam hatiku..
Aku
teringat akan sebuah kalimat “SOMETIMES A NEW LOVE COMES BETWEEN OLD
FRIENDS” yang artinya Terkadang cinta yang baru
itu justru datang dari teman yang tlah lama kau kenal. Hatiku semakin bingung
tak menentu.
Sore ini Raju akan menemui ku di rumah es
krim sepulangnya kerja. Aku berniat datang lebih dahulu di sana. Saat aku
sedang menunggunya, ternyata Arjun juga sedang berada di sana bersama
teman-temannya. Aku terlanjur tak bisa lari darinya kali ini. Ia menahanku dan
memaksa ku untuk mendengarkan penjelasannya. Baiklah mungkin dengan aku
mendengarkannya kali ini ia tak akan mengejar-ngejarku lagi. Aku berusaha
bersikap lunak dan mendengarkannya. Namun tak lama kemudian Raju datang dan
menyaksikan adegan disaat Arjun memegang tanganku. Aku kaget dan langsung
melepaskannya. Ku tatap mata Raju yang saat itu menurut ku ia terlihat marah
dan ia berkata kepadaku,
“Urusin saja sana masa lalu
mu. Kau perlu spion untuk mengetahui posisi teramanmu agar kau tak jatuh.”
Ia pergi meninggalkan ku dan ku tak tau harus
bersikap bagaimana lagi. Aku hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata yang
terucap. Dan aku teramat benci dengan diriku sendiri. Kenapa aku tak pernah
bisa bersikap tegas terhadap orang yang telah menyakiti hatiku. Kenapa aku
selalu dengan mudahnya percaya. Dan kenapa aku tak menahan Raju pergi atau pun
kenapa aku tak berlari mengejarnya. Ini semua harus segera di akhiri. Aku tak
mau lagi hidup dalam kegalauan yang terus menerus ini.
“Kau,
terlepas dari bagaimana cerita kita di masa lalu. Apapun yang telah kau lakukan
terhadap ku. Ini semua telah membuka mata ku. Mulai dari detik ini aku berhenti
mencintaimu dan mengharapkanmu kembali meski jauh di lubuk hatiku masih terukir
namamu. Aku mohon dengan sangat jangan temui ataupun mencari ku lagi untuk
selanjutnya setelah detik ini berakhir. Dan sekarang jangan tahan aku untuk
tetap di sini karena aku ingin mengejar cinta ku yang sesungguhnya.”
Aku
mengucapkan kata-kata tersebut nyaris tanpa bernafas dengan air mata yang terus
mengalir berharap keputusan ku ini adalah benar. Arjun terlihat terdiam dan
bergeming di hadapan ku dan ku tinggalkan ia disana sendiri. Berusaha sekuat
tenaga aku berlari mengejar Raju tapi aku tak kuasa meraihnya. Ia telah
menghilang dari keramaian. Ku coba untuk menelponnya. Tapi tak satu pun
panggilan ku di jawabnya. Semua sms ku
tak di balasnya. Harus bagaimana lagi ini. Aku pulang dalam keputusasaanku.
Terus
menerus aku menghubungi Raju berharap hatinya sekarang telah melunak. Hari
berganti hari namun tak kunjung jua pesan ku atau pun telepon ku di jawabnya. Tak
kenal letih aku berusaha dan kali ini mungkin untuk yang terakhir kalinya aku
menekan tombol dial di ponsel ku. Tuuut.... tuuttt...
“Halo”
“Nggg,
ha..halo. Hmm Raju, aaa..aku ingin minta maaf kepada mu”, dengan terbata-bata
dan perlahan sulit sekali kalimat itu ku rucapkan.
“Sudahlah. Tak perlu di
bahas lagi.”
Aku
hanya bisa terdiam mendengar perkataannya itu. Sedih sekali rasanya harus
berakhir seperti ini.
“Bisakah kita bertemu malam
ini ?”
“Hmmm,
a..apa?”
“Bertemu malam ini, bisakah
kau, Tina?”
“Nggg
baiklah.”
“Tunggu aku di cafentaria
dekat rumah mu.”
“Iya.”
Tuuut
tuut ttuuut. Langsung terdengar nada menyakitkan telinga itu. Baiklah mungkin
ia akan memarahi ku habis-habisan. Menghujat ku atau pun membunuh ku atau apapun
itu yang tak bisa ia lakukan di telepon. Aku takut untuk menemuinya. Tapi aku
telah mengatakan iya.
Akhirnya
dengan ragu-ragu aku pergi ke cafentaria dekat rumah ku dan menunggunya. Ku
lihat ia telah datang dan berjalan menghampiri ku seperti bom yang akan siap
meledak di hadapan ku.
“Aku bingung apa yang
terjadi padaku sejak berjumpa dengan mu di toko buku itu. Wajahmu selalu terbayang-bayang
dalam pikiran ku mengganggu ku bekerja dan menghantui di setiap malam ku. Kau
ini makhluk apa sebenarnya? Dan minggu
kemarin kenapa aku merasa sangat marah dan cemburu melihat lelaki itu
menggenggam tangan mu. Hatiku terasa seperti tersayat-sayat sembilu saat ku
tatap mata mu yang penuh cinta itu masih mengharapkannya. Seminggu ini aku gelisah tak menentu tak
mengetahui kabarmu. Rasanya aneh sekali menahan keinginan hati saat aku ingin
membalas semua pesan mu dan menjawab panggilanmu secepat mungkin.”
“Lalu
kenapa kau tak membalas pesan ku? Kenapa tak menjawab telpon ku? Kenapa baru
tadi mau menjawabnya ?”
“Karena aku menyayangi mu.
Aku tak ingin orang yang aku sayangi kehilangan orang yang ia sayangi. Aku
mengira saat aku menjauhimu kau akan kembali bersamanya lagi dan kau akan
bahagia kembali bersamanya.”
“Tapi
aku tak mnginginkannya. Aku menginginkanmu.”
“Aku ? Haah kau tak bisa
berbohong Tina. Aku masih melihat ada cinta di mata mu untuknya.”
“Intuisi
hati bisa membawa cinta ke cinta yang kita inginkan tanpa membawa masa lalu dan
embel-embelnya. Aku tak perlu spion untuk melihat ke depan karena spion hanya
membawa ku melihat ke belakang. Yang aku inginkan adalah terus menatap ke depan
dan maju melangkah bersamamu.”
Kembalikan Lagi Senyumku
Kembalikan Lagi Senyumku
Oleh: Dwi Murti Agustina
Mendung masih menggulung sinar matahari pagi ini, udara begitu sejuk. Rasanya enggan untuk cepat-cepat beranjak dari tempat peraduanku. Cuaca hari ini seperti menggambarkan perasaanku hari ini, ada gurat kesedihan yang menggelayuti hatiku saat ini. Ya Tuhan kembalikanlah senyum ku yang manis seperti dulu. Kurasa kini aku tertahan, menahan luka yang amat dalam.
“Tok..tok..tok.
Titak bangun udah siang”, suara ibu yang selalu membangunkanku untuk
segera bersiap-siap ke sekolah. “Iya ibu, Titak bangun”, jawabku sambil
mengucek-ngucek mataku. Aku pun lekas membereskan tempat tidurku,
padahal aku masih ingin bermimpi tentang dia. Dia adalah pangeran yang
dulu selalu menemaniku. Dia adalah Pradipta Raditya, dulu dia adalah
kekasihku. Tetapi itu hanya dulu, sekarang hanya menjadi harapan kosong
untukku kembali kepadanya lagi.
Beberapa hari yang lalu...
“Ting tong”, bunyi bel rumahku. “Iya sebentar” jawabku yang memang hanya ada aku di rumah. “Assalamualaikum”, suara pemuda yang tak asing lagi ditelingaku. “Waalaikimsalam”, menjawab salam dan membukakan pintu. Ternyata itu adalah pangeranku yang basah kuyup. “Loh nda, kok ujan-ujan kesini? Kenapa enggak kasih kabar dulu? Masuk nda masuk” tanyaku kawatir dan mempersilahkan pangeranku masuk rumah. Aku memang lebih sering memanggilnya dengan panggilan “NDA”. “Iya sayang tadi habis kerumah temen yang didekat sini, biasa sayang kejutan. Hehehe” jawab pangeranku sambil menggigil kedinginan.
Aku segera mengambilkan handuk dan membikinkan teh hangat. “Nda ini handuknya dan ini teh hangatnya diminum ya” perintahku. “Iya sayang makasih ya, you are my everything” kata-kata mesra Adip yang berusaha menetralkan kekawatiran. Aku dan Adip memang masih 3bulan berpacaran. Aku sangat menyayanginya begitu juga Adip. Aku berusaha mempertahankan hubungan kita ini sampai kapan pun. 16 April 2011 kita memutuskan untuk berkomitmen mengganti status lajang kita menjadi berpacaran, hihi. Setelah ibuku datang Adip berpamitan pulang, hujan pun juga sudah mulai redah.
Orang tuaku juga sudah megenal Adip, begitu juga orang tua Adip. Bahkan orang tua kita juga sudah saling mengenal. Memang Adip dan aku dulu adalah teman satu TK, jadi orang tua kita sudah saling mengenal satu sama lain.
“ter...ter...ter”, suara getar Hpku yang kuletakkan di atas meja belajarku. “PR <3”, itulah yang tertulis di layar Hpku. Dengan cepat ku membuka isi sms dari pangeran tersayangku.
From : PR <3
Sayang, aku sudah sampek di rumah, aku mau istirhat dulu boleh ya? Badanku panas, mukin karena kehujanan tadi. Sayang jangan lupa makan, jangan tidur malam-malam. Belajar ya. You are my EVERYTHING. I LOVE U titakku :*.
To : PR <3
Iya nda, nda buruan istirahat gi, besok kalo’ masih sakit enggag usah jemput aku ya. Kalok gag kuat bangun enggag usah masuk sekolah dulu ya. Iya nda, ini juga lagi makan, enggag tidur malem-malem kok nda. Belajarnya besk pagi aja, waktu sekolah :D haha. I LOVE YOU too Pradipta Raditya :*.
Aku pun membiarkan pangeranku untuk beristirahat, karena mukin dia kecapekan dan tadi juga sempat kehujanan. “Yah, sudah jam 22.00. Kok Adip enggag bangun-bangun ya?”, gumamku sambil melihat jam dinding yang terus berputar. Sebelum tidur aku takkan melupakan buku diary ku.
“Hari ini Adip datang kerumahku tanpa memberi tauku sebelumnya, sebetulnya aku senang dia datang kemari. Tapi sebenarnya aku jengkel karena dia nekat hujan-hujanan buat datang kerumah. Karna memang dia tau aku sendirian dirumah, dan akhirnya dia juga sakitkan. Malam ini tanpa smsnya, tapi aku harus percaya. Walaupun masih 3bulan umur status kami, tapi aku tidak mau menyudahinya karena ketidak percayaanku. Hah, aku senang dia datang pada saat aku benar-benar membutuhkannya. Dada diary, selamat malam. Selamat malam Adip, pangeranku.” Itu yang kutulis dibuka diaryku. Sebelum tidur aku menyempatkan mengirim pesan ke Adip hanya sekedar mengucapkan selamat malam.
“Titaaaaakkkkkkk, baaanggguuuuun..”, suara alarm alamiku yaitu ibuku hehe. “Iya ibuuuuu, ini titak uda bangun”, jawabku enteng. “Titak”, suara ibu memanggilku. “Iya ibu, ini titak juga udah bangun kok” teriakku dari kamar. “Bukan titak, ada adip di luar” sela ibu. “Hah, Adip” gumamku dalam hati. Tanpa aku sadari kalau aku belum mandi, dan tanpa aku sadari penampilanku sebelum bertemu pangeranku, aku langsung keluar kamar dan haha bertemu pangeranku.
“Loh nda, udah enakan? Kok jemput?” tanyaku kawatir
“Udah sayang, enggag papa dong jemput calon istri haha” jawab Adip sambil senyum-senyum enggaag jelas
“Oh ya sayang, belum mandi ya? Oh ya lagi deh, selamat pagi peri cantikku” sela Adip
“Haha, belum nda kan aku terkejut mendengar suara ibu yang mengucapka Adip diluar. Oh dag dig dug deh hatiku” jawabku alay
“Sana-sana buruan mandi, bau tau tapi tetap cantik hehe” jawab Adip dengan rayuan gombalnya.
“Iya dong nda, titakkan cantik. Kalau enggag cantik mana Pradipta Raditya mau haha. Nda, titak mandi dulu ya biar harum” ledekku.
Sungguh aku senang sekali , pagi-pagi sudah disuguhi tamu yang begitu berarti dihidupku. “Titak, buruan mandinya. Kalok udah Adip diajak sarapan. Uang sakumu ada diatas kulkas, ibu mau kepasar dulu” pamit ibu. “Iya ibuku tertersayang” ledekku.
“Nak Adip, ibuku kepasar dulu ya. Ati-ati kalau berangkat sekolah” pesan Ibu kepada Adip.
“Oya bu, ibu juga hati-hati ya” jawab Adip sopan.
“Nda, sarapan dulu yuk” ajakku.
“Ayo yang, laper” jawab Adip sambil memegangi perutnya.
“Dasar nda” jawabku sambil mengelu-elus rambut hitamnya.
Setelah selesai sarapan dan minum susu coklat kesukaan kita, kami pun segera berangkat sekolah. Dan tak lupa mengambil uang sakuku yang selalu diletakkan ibu diatas kulkas hehe. “Saatnya jam pertama dimulai, is time to begin the first lesson” bel sekolah yang berdering sebelum kita masuk kelas.
”Satu...dua...tiga...LARII!!!” suara kompakku bersama pangeran tersayangku. Kami memang tidak satu kelas, Adip kelas XII IPA 2 sedangkan aku XI IPA 1. Jadi kami harus berpisah di pertigaan lobby sekolah kita. “Da sayang, LOVE YOU” goda Adip. “I LOVE YOU too”, jawabku singkat dan segera berlari karna memang aku belum mengerjakan tugas yang gurunya super duper killer.
“Halo bebi-bebiku” sapa ku kepada para sahabat-sahabatku.
“Oyeah bebi, apa kabar” jawab Ika salah satu sahabatku.
“Kurang baik, karna aku belum menyelesaikan tugasnya Bu Killer. Buruan keluarin buku kalian” perintahku dengan wajah-wajah kebingungan.
“Selamat pagi-pagi anak-anakku” suara Bu Killer yang ternyata sudah ada di depan kelas.
“Selamat pagi Bu” teriak anak-anak satu kelas XI IPA 1.
“Tak, buruan kelarin tugasmu” bisik Ita yang tepatnya dibelakangku.
“Males ta, biarin deh kalau disuruh keluar ya keluar” jawabku santai.
“Dasar” bentak Ita sambil mendorong kepalaku kedepan.
“Kumpulkan tugas liburan kalian” perintah Bu Killer.
Aku hanya santai duduk di tempat dudukku tanpa bergerak kedepan kelas untuk mengumpulkan tugas liburan.
“Titak” sapa Bu Killer.
“Iya Bu” jawabku santai.
“Tuganya sudah dikumpulkan ?” tanya Bu Killer dengan pandangan khasnya itu.
“Maaf Bu, belum selesai” jawabku dengan keringat dinginku tapi mencoba untuk santai.
“Kumpulkan seadanya dan segera keluar dari kelas” ancam Bu Killer kepadaku.
“Iya Bu” jawabku dengan wajah sok sedih.
“Anak-anak jangan ditiru teman mu yang satu itu” suara yang Bu Killer yang masih terdengan di telingku.
Setelah mengumpulkan tugas yang belum kuselesaikan itu, aku segera keluar kelas. “Hah, pagi-pagi hari pertama masuk udah dihukum” gumamku dalam hati sambil berjalan menuju toilet yang letaknya bersebelahan dengan kelas Adip. Sebenarnya aku tidak mau melintas didepan kelas Adip karna Adip pasti sudah hafal kalau aku lagi dihukum. Dan ternyata benar, Adip melihatku.
“Pak, izin ke kamar mandi’ ijin Adip.
“Iya, jangan lama-lama kekamar mandinya” perintah guru Adip.
“Titaak” sapa Adip.
Aku hanya menoleh kebelakang tanpa memperdulikan suara Adip. Dugaanku memang benar Adip bakal memarahiku, apa mau dikata memang aku yang bersalah jadi aku hanya diam. Adip kembali ke kelasnya, aku hanya melihatnya dari belakang sampai Adip masuk kekelasnya. Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat dimulai.
Sahabat-sahabatku, menghampiriku dan mengajakku ke kantin. Setelah makan, kita kembali ke kelas. Bel pun berbunyi kembali menandakan jam ke 5 dimulai. Kali ini aku dan temantemanku mengikuti pelajaran dengan baik sampai bel pulang berbunyi.
“Bebi-bebiku aku pulang dulu ya, pusing ni” pamitku kepada sahabat-sahabatku.
“Iya tak, ati-ati. Cepet sembuh” jawab Siska kawatir.
Sekarang adalah bulan Agustus, dan besok aku akan berusia 17 tahun. Sebenarnya aku sudah merencanakan hari bahagiaku ini bersama orang-orang yang berharga dihidupku tentu saja orang tuaku, sahabatku, dan Adip pangeranku. Adip, dia adalah sesosok pangeran yang selalu memberikanku arti hidup. Dia adalah beton bagiku, sehingga aku dapat berdiri kokoh seperti ini. Dia adalah segalanya, tapi takdir berkehendak lain Adip memutuskan hubungan ini tanpa meninggalkan alasan sedikit pun. Dia hanya meninggalkan 2 pesan satu mengucapkan selamat ulang tahun dan yang kedua.
Dengan mata memerah aku menemui Ibuku dan menanyakan soal kado yang dititipkan Adip. Ibu tidak melihat mataku, Ibu mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado untukku. Setelah mengambil kado dari ibu dan Adip, aku segera ke kamar untuk melihat apa yang ada dikotak berwarna merah itu. Ternyata itu adalah foto-fotoku dan Adip yang dia buat keliping. Sungguh aku hanya dapat meneteskan air mata. Hari ini tidak masuk sekolah, aku beralasan sakit dan ibu mengijinkanku untuk tidak masuk sekolah hari ini. Aku hanya menghabiskan waktuku untuk tidur tanpa mengijinkan lambungku untuk bekerja dengan baik. Aku juga tidak mengaktifkan Hp, mengunci kamar, menutup gorden dan mematikan lampu kamar. Jam 01.02 aku terbangun dari tempat tidurku. Aku mengumpulkan semua kenanganku bersamanya, aku menempelkan semua foto yang aku punya.
Keesokan harinya, alarm alami ku berbunyi sangat keras.”Iya ibu, titak bangun”, jawabku lemas. Aku pun segera bergegas berangkat sekolah, tetapi ibu mencegahku. Ternyata ibu tau apa yang terjadi padaku. Ibu hanya berkata,”Ikhlas nak, semuanya bakal INDAH PADA WAKTUNYA”. “Iya ibu, titak tau itu. Titak berangkat ya” jawabku lemas.
Adip begitu angkuh saat bertemu denganku. Dia bukan Adip 3 bulan yang lalu. Dimana dia berada di situ pasti banyak perempuan yang mengerubunginya. Aku tak tahan dengan semua ini, aku serasa ingin menghentikan nafas ini jika tidak bersamanya lagi. Aku ingin menghentikan jam, agar aku tak terpisah darinya. Aku sangat mencintainya, aku mengharapkan dia kembali kepadaku. Aku menunggunya sampai kapan pun Adipta Praditya!!!. Dan ternyata dia memutuskanku karna ada wanita lain. Tapi aku tetap menjaga perasaan ini. Dan Tuhan tolong kembalikan lagi senyumku ini.
Oleh: Dwi Murti Agustina
Mendung masih menggulung sinar matahari pagi ini, udara begitu sejuk. Rasanya enggan untuk cepat-cepat beranjak dari tempat peraduanku. Cuaca hari ini seperti menggambarkan perasaanku hari ini, ada gurat kesedihan yang menggelayuti hatiku saat ini. Ya Tuhan kembalikanlah senyum ku yang manis seperti dulu. Kurasa kini aku tertahan, menahan luka yang amat dalam.

Beberapa hari yang lalu...
“Ting tong”, bunyi bel rumahku. “Iya sebentar” jawabku yang memang hanya ada aku di rumah. “Assalamualaikum”, suara pemuda yang tak asing lagi ditelingaku. “Waalaikimsalam”, menjawab salam dan membukakan pintu. Ternyata itu adalah pangeranku yang basah kuyup. “Loh nda, kok ujan-ujan kesini? Kenapa enggak kasih kabar dulu? Masuk nda masuk” tanyaku kawatir dan mempersilahkan pangeranku masuk rumah. Aku memang lebih sering memanggilnya dengan panggilan “NDA”. “Iya sayang tadi habis kerumah temen yang didekat sini, biasa sayang kejutan. Hehehe” jawab pangeranku sambil menggigil kedinginan.
Aku segera mengambilkan handuk dan membikinkan teh hangat. “Nda ini handuknya dan ini teh hangatnya diminum ya” perintahku. “Iya sayang makasih ya, you are my everything” kata-kata mesra Adip yang berusaha menetralkan kekawatiran. Aku dan Adip memang masih 3bulan berpacaran. Aku sangat menyayanginya begitu juga Adip. Aku berusaha mempertahankan hubungan kita ini sampai kapan pun. 16 April 2011 kita memutuskan untuk berkomitmen mengganti status lajang kita menjadi berpacaran, hihi. Setelah ibuku datang Adip berpamitan pulang, hujan pun juga sudah mulai redah.
Orang tuaku juga sudah megenal Adip, begitu juga orang tua Adip. Bahkan orang tua kita juga sudah saling mengenal. Memang Adip dan aku dulu adalah teman satu TK, jadi orang tua kita sudah saling mengenal satu sama lain.
“ter...ter...ter”, suara getar Hpku yang kuletakkan di atas meja belajarku. “PR <3”, itulah yang tertulis di layar Hpku. Dengan cepat ku membuka isi sms dari pangeran tersayangku.
From : PR <3
Sayang, aku sudah sampek di rumah, aku mau istirhat dulu boleh ya? Badanku panas, mukin karena kehujanan tadi. Sayang jangan lupa makan, jangan tidur malam-malam. Belajar ya. You are my EVERYTHING. I LOVE U titakku :*.
To : PR <3
Iya nda, nda buruan istirahat gi, besok kalo’ masih sakit enggag usah jemput aku ya. Kalok gag kuat bangun enggag usah masuk sekolah dulu ya. Iya nda, ini juga lagi makan, enggag tidur malem-malem kok nda. Belajarnya besk pagi aja, waktu sekolah :D haha. I LOVE YOU too Pradipta Raditya :*.
Aku pun membiarkan pangeranku untuk beristirahat, karena mukin dia kecapekan dan tadi juga sempat kehujanan. “Yah, sudah jam 22.00. Kok Adip enggag bangun-bangun ya?”, gumamku sambil melihat jam dinding yang terus berputar. Sebelum tidur aku takkan melupakan buku diary ku.
“Hari ini Adip datang kerumahku tanpa memberi tauku sebelumnya, sebetulnya aku senang dia datang kemari. Tapi sebenarnya aku jengkel karena dia nekat hujan-hujanan buat datang kerumah. Karna memang dia tau aku sendirian dirumah, dan akhirnya dia juga sakitkan. Malam ini tanpa smsnya, tapi aku harus percaya. Walaupun masih 3bulan umur status kami, tapi aku tidak mau menyudahinya karena ketidak percayaanku. Hah, aku senang dia datang pada saat aku benar-benar membutuhkannya. Dada diary, selamat malam. Selamat malam Adip, pangeranku.” Itu yang kutulis dibuka diaryku. Sebelum tidur aku menyempatkan mengirim pesan ke Adip hanya sekedar mengucapkan selamat malam.
“Titaaaaakkkkkkk, baaanggguuuuun..”, suara alarm alamiku yaitu ibuku hehe. “Iya ibuuuuu, ini titak uda bangun”, jawabku enteng. “Titak”, suara ibu memanggilku. “Iya ibu, ini titak juga udah bangun kok” teriakku dari kamar. “Bukan titak, ada adip di luar” sela ibu. “Hah, Adip” gumamku dalam hati. Tanpa aku sadari kalau aku belum mandi, dan tanpa aku sadari penampilanku sebelum bertemu pangeranku, aku langsung keluar kamar dan haha bertemu pangeranku.
“Loh nda, udah enakan? Kok jemput?” tanyaku kawatir
“Udah sayang, enggag papa dong jemput calon istri haha” jawab Adip sambil senyum-senyum enggaag jelas
“Oh ya sayang, belum mandi ya? Oh ya lagi deh, selamat pagi peri cantikku” sela Adip
“Haha, belum nda kan aku terkejut mendengar suara ibu yang mengucapka Adip diluar. Oh dag dig dug deh hatiku” jawabku alay
“Sana-sana buruan mandi, bau tau tapi tetap cantik hehe” jawab Adip dengan rayuan gombalnya.
“Iya dong nda, titakkan cantik. Kalau enggag cantik mana Pradipta Raditya mau haha. Nda, titak mandi dulu ya biar harum” ledekku.
Sungguh aku senang sekali , pagi-pagi sudah disuguhi tamu yang begitu berarti dihidupku. “Titak, buruan mandinya. Kalok udah Adip diajak sarapan. Uang sakumu ada diatas kulkas, ibu mau kepasar dulu” pamit ibu. “Iya ibuku tertersayang” ledekku.
“Nak Adip, ibuku kepasar dulu ya. Ati-ati kalau berangkat sekolah” pesan Ibu kepada Adip.
“Oya bu, ibu juga hati-hati ya” jawab Adip sopan.
“Nda, sarapan dulu yuk” ajakku.
“Ayo yang, laper” jawab Adip sambil memegangi perutnya.
“Dasar nda” jawabku sambil mengelu-elus rambut hitamnya.
Setelah selesai sarapan dan minum susu coklat kesukaan kita, kami pun segera berangkat sekolah. Dan tak lupa mengambil uang sakuku yang selalu diletakkan ibu diatas kulkas hehe. “Saatnya jam pertama dimulai, is time to begin the first lesson” bel sekolah yang berdering sebelum kita masuk kelas.
”Satu...dua...tiga...LARII!!!” suara kompakku bersama pangeran tersayangku. Kami memang tidak satu kelas, Adip kelas XII IPA 2 sedangkan aku XI IPA 1. Jadi kami harus berpisah di pertigaan lobby sekolah kita. “Da sayang, LOVE YOU” goda Adip. “I LOVE YOU too”, jawabku singkat dan segera berlari karna memang aku belum mengerjakan tugas yang gurunya super duper killer.
“Halo bebi-bebiku” sapa ku kepada para sahabat-sahabatku.
“Oyeah bebi, apa kabar” jawab Ika salah satu sahabatku.
“Kurang baik, karna aku belum menyelesaikan tugasnya Bu Killer. Buruan keluarin buku kalian” perintahku dengan wajah-wajah kebingungan.
“Selamat pagi-pagi anak-anakku” suara Bu Killer yang ternyata sudah ada di depan kelas.
“Selamat pagi Bu” teriak anak-anak satu kelas XI IPA 1.
“Tak, buruan kelarin tugasmu” bisik Ita yang tepatnya dibelakangku.
“Males ta, biarin deh kalau disuruh keluar ya keluar” jawabku santai.
“Dasar” bentak Ita sambil mendorong kepalaku kedepan.
“Kumpulkan tugas liburan kalian” perintah Bu Killer.
Aku hanya santai duduk di tempat dudukku tanpa bergerak kedepan kelas untuk mengumpulkan tugas liburan.
“Titak” sapa Bu Killer.
“Iya Bu” jawabku santai.
“Tuganya sudah dikumpulkan ?” tanya Bu Killer dengan pandangan khasnya itu.
“Maaf Bu, belum selesai” jawabku dengan keringat dinginku tapi mencoba untuk santai.
“Kumpulkan seadanya dan segera keluar dari kelas” ancam Bu Killer kepadaku.
“Iya Bu” jawabku dengan wajah sok sedih.
“Anak-anak jangan ditiru teman mu yang satu itu” suara yang Bu Killer yang masih terdengan di telingku.
Setelah mengumpulkan tugas yang belum kuselesaikan itu, aku segera keluar kelas. “Hah, pagi-pagi hari pertama masuk udah dihukum” gumamku dalam hati sambil berjalan menuju toilet yang letaknya bersebelahan dengan kelas Adip. Sebenarnya aku tidak mau melintas didepan kelas Adip karna Adip pasti sudah hafal kalau aku lagi dihukum. Dan ternyata benar, Adip melihatku.
“Pak, izin ke kamar mandi’ ijin Adip.
“Iya, jangan lama-lama kekamar mandinya” perintah guru Adip.
“Titaak” sapa Adip.
Aku hanya menoleh kebelakang tanpa memperdulikan suara Adip. Dugaanku memang benar Adip bakal memarahiku, apa mau dikata memang aku yang bersalah jadi aku hanya diam. Adip kembali ke kelasnya, aku hanya melihatnya dari belakang sampai Adip masuk kekelasnya. Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat dimulai.
Sahabat-sahabatku, menghampiriku dan mengajakku ke kantin. Setelah makan, kita kembali ke kelas. Bel pun berbunyi kembali menandakan jam ke 5 dimulai. Kali ini aku dan temantemanku mengikuti pelajaran dengan baik sampai bel pulang berbunyi.
“Bebi-bebiku aku pulang dulu ya, pusing ni” pamitku kepada sahabat-sahabatku.
“Iya tak, ati-ati. Cepet sembuh” jawab Siska kawatir.
From : PR <3
Aku tunggu di parkiran.
To : PR <3
Iya, aku kesana. Tunggu di tempat biasa.
Sekarang adalah bulan Agustus, dan besok aku akan berusia 17 tahun. Sebenarnya aku sudah merencanakan hari bahagiaku ini bersama orang-orang yang berharga dihidupku tentu saja orang tuaku, sahabatku, dan Adip pangeranku. Adip, dia adalah sesosok pangeran yang selalu memberikanku arti hidup. Dia adalah beton bagiku, sehingga aku dapat berdiri kokoh seperti ini. Dia adalah segalanya, tapi takdir berkehendak lain Adip memutuskan hubungan ini tanpa meninggalkan alasan sedikit pun. Dia hanya meninggalkan 2 pesan satu mengucapkan selamat ulang tahun dan yang kedua.
From : PR <3
Maaf aku tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung padamu.
Aku tidak bisa melanjutkan ini semua, maaf karna aku tidak bisa membahagiakanmu.
Kadonya aku titip kan ke ibu kamu. Tolong jgn menghubku lagi.
Dengan mata memerah aku menemui Ibuku dan menanyakan soal kado yang dititipkan Adip. Ibu tidak melihat mataku, Ibu mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado untukku. Setelah mengambil kado dari ibu dan Adip, aku segera ke kamar untuk melihat apa yang ada dikotak berwarna merah itu. Ternyata itu adalah foto-fotoku dan Adip yang dia buat keliping. Sungguh aku hanya dapat meneteskan air mata. Hari ini tidak masuk sekolah, aku beralasan sakit dan ibu mengijinkanku untuk tidak masuk sekolah hari ini. Aku hanya menghabiskan waktuku untuk tidur tanpa mengijinkan lambungku untuk bekerja dengan baik. Aku juga tidak mengaktifkan Hp, mengunci kamar, menutup gorden dan mematikan lampu kamar. Jam 01.02 aku terbangun dari tempat tidurku. Aku mengumpulkan semua kenanganku bersamanya, aku menempelkan semua foto yang aku punya.
Keesokan harinya, alarm alami ku berbunyi sangat keras.”Iya ibu, titak bangun”, jawabku lemas. Aku pun segera bergegas berangkat sekolah, tetapi ibu mencegahku. Ternyata ibu tau apa yang terjadi padaku. Ibu hanya berkata,”Ikhlas nak, semuanya bakal INDAH PADA WAKTUNYA”. “Iya ibu, titak tau itu. Titak berangkat ya” jawabku lemas.
Adip begitu angkuh saat bertemu denganku. Dia bukan Adip 3 bulan yang lalu. Dimana dia berada di situ pasti banyak perempuan yang mengerubunginya. Aku tak tahan dengan semua ini, aku serasa ingin menghentikan nafas ini jika tidak bersamanya lagi. Aku ingin menghentikan jam, agar aku tak terpisah darinya. Aku sangat mencintainya, aku mengharapkan dia kembali kepadaku. Aku menunggunya sampai kapan pun Adipta Praditya!!!. Dan ternyata dia memutuskanku karna ada wanita lain. Tapi aku tetap menjaga perasaan ini. Dan Tuhan tolong kembalikan lagi senyumku ini.
Langganan:
Postingan (Atom)