Angin berhembus
bersayup sayup, batang batang pohon melambai lambai, dedaunan yang basah dan
gemercik hujan yang perlahan mereda, saksi buta dari apa yang terjadi hari ini,
dia yang ku tunggu, setitik cahaya harapan yang kembali bersinar terang baru saja
menghilang di hadapanku, perlahan ia melangkah memasuki sebuah gang kecil
dengan beberapa anak tangga yang melarang kendaraan kami ini melintasi jalan yang
sama, aku berusaha mengejarnya bersama dengan eful, sebisa mungkin kami harus
bisa menjaga jarak, sampai nanti kami tahu dimana rumah nya dan barulah aku
akan menghampirinya untuk menyerahkan apa yang telah semalaman tadi ku tulis,
sebuah surat singkat berisikan rangkaian kata yang entah untuk apa ku tulis
saat itu, mungkin inilah cinta monyet masa SMP yang membutakan atau bahkan
cinta yang membodohi diri kita sendiri hingga mau saja untuk melakukan apapun.
Sepertinya akan ada masa dimana kita ingat sebuah cerita cinta yang
memalukan, menyenangkan, mengharukan dan bahkan menyakitkan di masa muda, di mana kelak ketika kita sampai di masa tua
nanti kita akan mengingatnya dan menyadari betapa rindunya kita pada masa itu,
bahkan mungkin kita akan menyadari bahwa betapa bodohnya kita di masa itu, mungkin memang itulah yang banyak orang sebut dengan cinta itu buta.
“hari ini langit
tertata dengan indah, bulan bersinar dilengkapi senyumannya dan perlahan waktu
akan memaksa sang surya muncul dari upuk timur menandakan tugas para bintang
telah usai, sebelum sang surya bersinar,di sebuah tempat yang pernah kita
datangi sekuncup bunga akan mekar, mawar merah yang amat kau sukai, bunga yang
perlahan merkah seperti apa yang aku rasa saat ini, entahlah tapi aku hanya
ingin kita bisa melihatnya berdua, merawatnya dan saling mengenal lebih jauh”
Kata itulah yang ku tulis semalam dalam kertas yang ku genggam saat ini.
Selepas sari menghilang dari pandangan kami, eful segera menyalakan mesin sepeda motor nya, dan menuju sebuah jalan yang bisa kami lalui untuk menjegat sari.