Kamis, 07 Mei 2015

You’re Sky, I’m Earth

Kau langit yang tak mungkin tersentuh oleh gapaian tanganku
Di sini, bumi, tempatku berpijak
Hanya berandai-andai setiap menatapmu
Kau yang jauh di sana
Akankah bisa bersatu?
Nya, lihatlah ke blkg…
Mendapati Short Message Service yang baru dibukanya, Anya membalikkan badannya, mencari sosok yang mengirimi pesan tersebut kepadanya. Sebuah blitz seketika menimpa wajahnya, silau. Terlihat senyum simpul yang mengembang dalam wajah di balik kamera digital yang baru saja membidik. Dasar Benny. Anya menimpalinya dengan senyuman manis.
“Ayo, bergayalah.” Benny Mengangkat kameranya siap memotret kembali.
Malu-malu, Anya dalam balutan seragam abu-abu putihnya mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Ben, aku juga mau donk.”
Seorang gadis lain datang langsung berpose di depan Benny, membelakangi bangku Anya.
“Tapi bukan di sini. Di luar, lebih bagus pencahayaannya.”
Benny mengangkat bahunya. “Baiklah. Fani”. Dia bangkit dari bangkunya menyusul Fani yang berjalan dahulu. Tangannya melambai saat melewati bangku Anya. Keduanya menghilang di balik pintu.
Terdengar suara pintu yang tergeser, diikuti derap langkah kaki-kaki memasuki toilet. Riuh suara gadis-gadis itu.
“Sudah kubilang kan, produk itu tidak cocok denganmu. Lihat, wajahmu sekarang.” Seru gadis dengan suara manja.
“Ah, mana kutahu. Tante Mega yang memberiku cuma-cuma, siapa yang tak mau. Lagian kau tahu sendiri kan bagaimana aku ingin terlihat putih dan bersih.” Timpal gadis lain bersuara cempreng.
“Lain kali, turuti ucapanku. Begitukan hasilnya?”
Sesaat sunyi senyap. Menyisakan suara gemericik air.
“Hmm… aku sangat iri dengannya.” Gadis cempreng itu berkata.
“Siapa?”
“Kau tahu sendiri, gadis tercantik di SMA ini, kalau bukan Fani.”
“Kau benar, ia betul-betul cewek idaman. Cantik, kaya, pintar, ketua pemandu sorak dan seorang model pula. Ahh, mengapa semua kesempurnaan Tuhan berikan kepadanya.”
“Tapi, Tuhan adil.” Kali, gadis lain nimbrung bicara. Suaranya tenang berbeda dengan kedua lainnya. “Soal cinta, ternyata Fani masih belum berhasil mendapatkan hati Benny.”
Seseorang menggerutu, suaranya cempreng.
“Bagaimana berhasil, jika gadis jelek itu selalu di samping Benny. Apa sih spesialnya dia? Sampai-sampai si tampan itu juga mendekatinya. Aku rela, dia bersanding dengan Fani. Tapi dengan Anya, aku sangat tidak terima.”
“Aku sendiri juga tidak mengerti. Apa sih yang dilihat darinya. Pendek, berkacamata, dan kucir kudanya yang selalu bikin aku tidak nyaman tiap melihatnya.” Ujar gadis centil.
Tiba-tiba bel berdering. Percakapan mereka terhenti. Pelajaran selanjutnya akan dimulai.
Pintu toilet kembali tergeser, gadis-gadis itu keluar dengan suara riuhnya kembali. Tertutup kembali. Sepi. Meninggalkan suara tetes air yang mengalir dari kran wastafel yang tidak sepenuhnya tertutup rapat. Dari ujung kamar toilet, terdengar suara air yang terbilas. Pintunya terbuka. Seorang gadis keluar. Kacamata yang selalu bertengger di atas hidungnya, dilepasnya. Matanya menatap bayangannya sendiri dalam cermin panjang yang mengisi sepanjang dinding.
“Kurasa benar” dia mendesah.
Tiba-tiba terdengar lagu Mata Aimashou- Seamo. Anya segera mengambil ponsel genggamnya, ada SMS masuk. Segera dibukanya.
Pastikan kau datang ya. Sebentar lagi akan datang kiriman. Ku harap kau memakainya nanti. Aku akan senang melihatmu di sana. Sampai ketemu. Let’s party.
Anya melepaskan tatapannya dari layar laptop di hadapannya. Matanya menerawang ke jendela. Korden putih yang menghiasi jendela itu bergerak-gerak terhembus angin, membuka cakrawala di luar. Langit terlihat cerah, biru menenangkan. Menyeduhkan mata yang memandang. Namun bagi Anya. langit siang itu mendung. Saat ini dunianya berkubang dalam kegalauan.
Apa yang harus kulakukan? Aku harus bagaimana, Ben? Kalau kau terus begini, kau membuatku tidak nyaman…
Seharian HP-nya sudah puluhan penuh SMS dan miss-called Benny. Menyerah akhirnya Anya memutuskan untuk datang. Kurasa semuanya akan baik-baik saja. Aku cuma cukup datang dan setelah itu pergi.
“Anya.” Suara itu memanggilnya.
Anya menoleh, melihat seseorang dalam balutan jas putih berjalan menerobos kerumunan ke arahnya. Kafe besar itu ramai, bukan karena para pengunjung yang ingin menikmati secangkir kopi atau steak daging domba, namun oleh para remaja yang mengobrol riuh dalam pesta ulang tahun. Suara musik mengalun dalam keindahan sang malam.
Anya menahan napasnya sejenak. Lalu perlahan-lahan ia mengembuskannya ketika Benny datang menghampiri.
“Aku tahu, kau pasti datang.” Senyum Benny lebar.
“Kau benar-benar cantik sekali malam ini, Anya.”
Tiba-tiba seseorang berseru memanggil Benny. Mereka menoleh. Di seberang ruangan, seseorang melambai. Benny membalas dengan lambaiannya tangannya pula. Lalu beralih menatap Anya.
“Kau tak apa, kutinggal sebentar.”
Anya menggangguk. “Baiklah.”
Setelah melihat sosok Benny menghilang di antara kerumunan orang-orang, Anya berjalan ke arah meja yang berisi banyak kudapan.
“Hei, Anya,” sapa Nita dengan suara cemprengnya saat Anya berdiri mengambil salah satu kue dengan pinggiran krim untuk dimakannya.
Anya menoleh. Geng tiga cewek yang menyebut diri mereka, wondergelis, muncul di hadapannya.
“Woo, lihat si bebek buruk rupa malam ini seperti angsa putih.”
Terdengar suara “wuuu” mengekor dari dua cewek lainnya. Ketiganya seakan senang. namun Anya tak menghiraukan. Ia memilih mengisi piringnya dengan kue-kue. Daripada menanggapi ocehannya, lebih baik mengisi perut yang kelaparan sedari sore.
“Namun sayangnya sang pangeran tidak tertarik padanya. Dia lebih memilih bicara dengan putri yang sejati.”
Kali ini, Anya menghiraukan. Mata Anya dilayangkan ke seberang ruangan. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Sesak.
“Serasi sekali mereka. Si tampan Benny dan si cantik Fina” Sanjung Feli, dengan suara yang terkesan manjanya.
“Kau tahu, langit sangat jauh dengan bumi. Biarkan ia bersanding dekat dengan sang bintang yang berkilau. Itu akan terlihat sangat cantik. Jadi, kuharap menyingkirlah kau”.
Nita menyunggingkan senyum sini, “Sangat mudah seperti angin… fiuuuhhh.” Tangannya mengibas kasar mengarah ke piring Anya.
“Ups, aku tidak sengaja.” Nita mengalihkan pandangannya ke arah lain, seakan tak berdosa. Gaun Anya kini pun penuh noda krim.
“Itu memang pantas bagimu.” Sambung Nita.
Suara tawa ketiganya membahana.
“Kau sungguh memalukan, Nita.”
Benny berseru, dia berjalan cepat menghampiri mereka.
“Kukira ku sudah berubah, tapi tidak. Aku tahu kau yang menyebar gossip itu. Aku tak suka kau mengejek Anya.”
“Tapi, Ben. Aku tak suka dia selalu berada di sisimu.”
“Itu menurutmu, tapi aku mencintainya.”
Mata Nita terbelalak. Tak percaya. Feli dan Reta –cewek satunya-. Seluruh ruangan hening. Tak ada percakapan.
Benny langsung mengandeng Anya. Membawanya keluar dari pesta.
Di luar udara berhembus dingin. Tiada suara. Hening.
“Maafkan mereka.” Benny membuka mulutnya.
Anya menunduk. Kepalanya menggeleng.
“Mereka tak salah, aku yang salah memposisikan diri. Dari awal seharusnya aku tak di sini.”
Anya tak berani menatap Benny. “Maafkan aku,” Kakinya melangkah pergi.
Tiba-tiba tangan Benny memegang siku Anya, menahannya untuk tidak pergi. “Ini juga berat bagiku. Jangan pergi dariku. Tetaplah di sisiku.”
Kaki Anya tertahan. Napasnya tercekat kembali.
“Kau tak perlu sempurna. Adanya kau, sudah melengkapi hidupku. Apa yang kukatakan tadi di dalam, tulus. Maafkan aku yang selama ini tidak tegas dalam hubungan ini. Aku sungguh mencintaimu, Anya”.
Malam itu langit terlihat cerah disinari rembulan. Bersih tanpa bintang-bintang yang berkelip menghiasinya seperti malam-malam sebelumnya. Menjadi saksi akan dua insan remaja berpelukan, mengikat kasih. Tanpa perbedaan di antaranya.
Cerpen Karangan: April Santoso
Facebook: April La Lotus

Kayla

Kayla menatap gusar ke halaman sekolah yang kini mulai dibasahi tetesan hujan. Memasuki bulan Januari hujan semakin menjadi-jadi. Perlahan awan hitam mulai menutupi sinar matahari seiring dengan berhembusnya angin kencang. Beberapa anak berlarian menerobos hujan atau berhimpit-himpitan memakai payung bersama. Sementara ada segelintir anak yang memilih menunggu hujan reda sambil berceloteh ria.
Kayla mendengus kesal. Dia tidak membawa payung dan kemungkinan hujan akan berhenti satu atau dua jam lagi. Perutnya melilit, pertanda penyakit maag-nya kambuh. Kayla duduk di bangku kayu di depan kantor guru seraya memegangi perutnya.
“Kok belum pulang?” terdengar suara cempreng di gendang telinga Kayla. Refleks Kayla menoleh. Di depannya sesosok tubuh jangkung tengah membungkukkan tubuhnya, sambil menatap Kayla ingin tahu. Fino.
Kayla membuang muka. Dia kembali menatap hujan yang semakin lama semakin deras, diiringi gemuruh dan kilat menyambar. Kayla menggigit bibir. Ayahnya hari ini sengaja menyuruhnya pulang cepat. Neneknya pasti akan mengomel jika dia pulang dalam keadaan basah kuyup.
“Ayo, aku antar! Payungku besar kok!”Tahu-tahu Fino sudah berdiri di tepi halaman sekolah, dengan tangan kanan yang memegangi payung.
Kayla memiringkan kepala penuh keraguan. Ditatapnya Fino yang tengah membuka payung berwarna hijau pucat itu. Jika dia tidak pulang sekarang juga Ayahnya pasti akan kecewa. Lagipula hari ini adalah hari yang penting untuknya. Ulang tahunnya yang ke-tigabelas.
Dengan sedikit enggan Kayla berjalan gontai ke arah Fino yang sedang menengadahkan tangannya di bawah air hujan.
“Hujan akan segera berhenti. Paling satu jam lagi.” gumam Fino. Kayla mencibir. Mereka berdua lalu menapaki trotoar sambil saling diam. Kayla juga tidak mengerti. Fino yang cerewet mendadak gagu begini. Sedangkan Kayla sendiri, tentunya dia memilih diam. Cap gadis anti-sosial memang sudah melekat pada dirinya. Jadi, untuk apa seorang gadis anti-sosial bersusah payah mengajak bicara orang yang kelewat ceria macam Fino? Kayla menggeleng keras.
Sejak Ibunya pergi dari rumah tiga tahun lalu Kayla mendadak menjadi gadis anti-sosial. Entah kenapa, sejak saat itu dia tidak ingin membangun hubungan dengan siapa pun, karena sedekat apa pun suatu hari nanti akan terpisah juga. Seperti dia dan Ibunya. Di kelas dia jarang berbicara. Waktunya dia dedikasikan untuk Ayahnya, yang sampai sekarang masih terpuruk karena kepergian Ibunya terlebih karena hutang-hutang yang membelit membuat Ayahnya harus bekerja siang malam demi membiayai hidup Kayla dan Nenek Kayla.
Sudah hampir lima belas menit mereka berjalan bersama. Gemuruh yang menggelegar dan percikan air hujan seakan membungkam mereka berdua. Akhirnya, mereka sampai di gang rumah Kayla.
“Antar aku sampai sini aja. Nenek bisa marah kalau tahu aku pulang sama kamu.” ujar Kayla datar. Baru saja dia melangkahkan kaki pergi ketika Fino meraih pergelangan tangannya terlebih dahulu.
“Ini bukan sinetron. Lepasin tanganku.” kata Kayla kesal.
“Rumah kamu masih agak jauh dari sini kan?” tanya Fino, masih mempertahankan tangannya. Kayla terdiam. “Kalau begitu, bawa payung ini.” Fino berucap lembut, lalu mengalihkan gagang payung ke tangan Kayla.
“Terus, kalau kamu sakit gimana?” Kayla menengadahkan kepala, menatap Fino. Aneh, kenapa mendadak dia mempedulikan Fino?
“Aku kan laki-laki. Udahlah, pulang sana. Oh iya, payung itu kamu simpen aja ya? Anggap aja hadiah ulang tahun dari aku.” Fino mengedip-ngedipkan matanya.
Sedetik kemudian Fino segera berlari menerjang hujan dengan tas selempang cokelat yang memayungi kepalanya. Kayla mematung di tempat. Fino… bocah itu tahu ulang tahunnya? Tanpa sadar kedua sudut bibir Kayla terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman.
***
Awan mendung bergerak ke arah utara. Sinar matahari perlahan-lahan mulai terlihat kembali. Rintik-rintik hujan berhenti berjatuhan dari langit. Bersamaan dengan itu, dering bel istirahat mulai menggema di setiap koridor sekolah yang lengang. Kayla berlari kecil, mencoba menerobos lautan murid yang semakin membanjir beberapa detik lalu.
Kayla lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Perpustakaan memang tempat tujuannya saat istirahat. Tempat yang tenang dan tidak terlalu ramai. Kayla baru saja meletakkan setumpuk buku ketika tiba-tiba Fino sudah ada di dekatnya.
“Tumben ke perpus.” cibir Kayla seraya memicingkan mata curiga. Pada jam-jam seperti ini Fino biasanya akan berlarian di lapangan basket bersama anak laki-laki lainnya atau sekedar makan soto di kantin sekolah.
“Di luar dingin. Lagian, aku pengen nemenin kamu.” Fino nyengir konyol.
Kayla terkesiap. Melalui kacamata minusnya Kayla menatap Fino yang kini tengah duduk santai sambil membaca buku sosiologi yang tadi dibawanya. Kayla mengerjapkan kedua matanya. Baru saja seakan ada yang aneh. Sesuatu yang menyengat sama ketika Fino tersenyum atau mengganggunya. Apa mungkin… dia menyukai Fino??
***
Untuk kesekian kalinya Fino melirik arlojinya. Dihembuskannya nafasnya berkali-kali. Matanya menyipit, mencari sesosok gadis yang seharusnya lima belas menit lalu sudah berada di sini. Ah, itu dia! Gumam Fino dalam hati. Mata bulatnya menatap ke arah Kayla yang tampak tegang, tidak seperti Kayla yang biasanya, Kayla yang tenang.
“Maaf, telat. Bukuku ketinggalan.” ucap Kayla lirih.
“Nggak apa-apa. Mau ngomongin apa?? Soal tugas kelompok seni rupa?” Fino menebak. Aneh ketika dia melihat Kayla bertingkah laku seperti ini. Kayla yang biasanya jutek dan pendiam mendadak manis seperti ini?
“Aku suka kamu.” tembak Kayla langsung. Fino memekik kaget tanpa suara. Ekspresi Kayla benar-benar berbeda dengan yang biasanya dan tadi. Kali ini kedua bola mata Kayla benar-benar menampakkan keseriusan.
“Sejak kapan kamu belajar ngelucu begini? Ini aneh!” Fino berujar, berusaha mengatasi perasaan canggungnya.
“Aku… serius.”
Fino menelan ludah. Sedetik kemudian dia tersenyum, menampakkan deretan gigi putihnya. Ditatapnya Kayla sekali lagi. Bahunya bergetar dan sorotan matanya benar-benar seakan meminta jawaban.
Fino menatap ke atas. Matahari beringsut turun, sementara langit perlahan-lahan bertransformasi menjadi jingga. Benar-benar indah, namun hatinya tidak sedang demikian. Kayla menunduk, menatap sepatunya.
“Maaf.” sepatah kata yang keluar dari bibir Fino sontak membuat Kayla mengangkat kepalanya. “Mungkin aku memang suka sama kamu. Tapi, sebagai teman.” lanjut Fino. “Kamu perlu seseorang yang lebih baik, yang lebih pintar dan keren, bukan orang yang kerjanya cuma lari-lari di lapangan basket sambil nyengir konyol.”
Kayla berusaha tersenyum. Tapi, alih-alih sebuah senyuman, air mata-lah yang keluar, menggenang di sudut matanya.
“Makasih. Aku belum pernah sebahagia ini.” Kayla berujar pelan. Baru saja, seakan sebuah beban berat telah terangkat dari pundaknya, bersamaan dengan jatuhnya air mata ke pipinya. Kayla melepas kacamatanya, lalu mengusap sudut matanya yang lembab.
Fino mengangguk, lalu menatap Kayla yang kini telah memakai kacamatanya. Sorot matanya kembali menajam. Entah kenapa, Fino lebih nyaman ketika melihat Kayla seperti itu. Dia menatap Kayla yang sudah berjalan beberapa meter di depannya.
Kebohongan baru saja diucapkannya. Fino menghela nafas.
“Aku suka kamu, Kay.” Fino bergumam, menatap sosok Kayla yang kini telah berjalan jauh di depannya. Kata itu, kata yang seharusnya dikatakannya tadi.


Cerpen Karangan: Putri Matsya Sabilla
Facebook: Phoetrie Matsya Sabilla

Buku Harian Mereka

7 agustus 2007
Tampangnya sok banget ! penampilannya berantakan dan sepertinya typical cowok berandal. Baru hari ini berpapasan langsung dengannya dan dari penampilannya yang seperti tadi, ingatanku kembali akan desas desus yang kudengar dari sahabatku Artemis dan memang telah beredar semenjak hari pertamanya masuk ke sekolah ini. Ia pindah dari sekolah lamanya di Bandung lantaran mencelakakan teman perempuannya hingga tewas. Entah diapakan. Benar benar tipe cowo blacklist yang harus di hindari tapi ……..
7 agustus 2007
Shovia ?? pasti bukan !
Hanya satu hal yang membuat mereka mirip…….. sorot matanya………
Menarik
8 agustus 2007
Pemuda blacklist kemarin , Orion 12 ipa 7
8 agustus 2007
Shovia, maksudku perempuan yang mirip Shovia itu, Athena 12 ipa 6
10 oktober 2007
Crowded ! pemuda berantakan itu baru dua bulan sekolah di sini tapi sudah mulai berani berulah. Apa apaan dia seenaknya nonjok orang di kantin tadi. Suasana bener bener jadi crowded. Tolol. Korbannya si culun Dodi. Heran, apasih yg ada di otak cowo blacklist itu ! ga bisa ya pilih lawan yang sepadan dan bukan cowo cupu culun kacamataan. Hah blacklist parah !
10 oktober 2007
Masuk BK dan dapat skorsing 3 hari ( maaf shov……….. )
Si culun itu yang rese. Kamuflase culun tapi mesum. Di balik kacamata kudanya dia malah jelalatan liatin badan Athena. Tonjok sekali langsung pingsan. Cemen !
Ekspresi Athena langsung jutek. Tapi cantik………….
18 september 2007
Lagi lagi cowo blacklist bikin ulah. Kali ini hukumannya bukan skorsing tapi bantuin bu Ria ngajar fisika. Sesuatu yang sangat absurd mengingat fisika itu susah dan bu Ria itu angker banget but kelihatannya dia enjoy di bantu ngajar sama cowok blacklist. Hukuman yang aneh. Satu hal baru yang ditemukan: dia punya otak. Dan untuk kesetaraan yg hampir sama antara ia dan bu Ria: otaknya brilian.
18 september 2007
Dua jam tadi bisa satu kelas sama Athena dengan cara yg konyol. Besok besok lagi ah
26 desember 2007
Liburan. Off to Bandung. Shovia, maaf ya ga bisa sesering dulu. Liburan ini akan jadi pengganti waktu yg hilang belakangan ini
30 desember 2007
Ternyata suatu keputusan yg tepat banget ngabisin liburan di Bandung sekalian nyekar ke makam Amih.. satu hal yang bikin surprise: Orion
30 desember 2007
Hari ketiga ke tempat Shovia. Satu hal yang bikin surprise: Athena…..
3 januari 2008
Terlalu banyak hal yang telah terjadi. Orion, ia tak seburuk yang orang kira…
3 januari 2008
Athena telah mengetahui terlalu banyak. Sepertinya sudah terlalu jauh untuk dapat membuang perasaan ini…
1 april 2008
Jadian sama Orion….
1 april 2008
Athena perempuan yang baik… saya menyayangi dan akan menjaganya, seperti pinta Shovia……
20 mei 2008
Orion brengsek ! udah di larang berantem dan nyelesain masalah pake kekerasan eh tapi masih aja di lakuin. Arggggggggggh
20 mei 2008
Athena terlalu cantik…. Walaupun udah berpakaian sopan tetep aja ada yang jelalatan liatin badannya. Didiemin malah ngelunjak. Tonjok ajalah biar dia rasa !
10 juli 2008
Aku tau Orion tadi mencuri dengar ketika Hades memintaku meninggalkan Orion dan menjadi pasangannya. Hades memang baik. Ia typical pria yang lembut dan perhatian. Berbeda dengan Orion yang memang kasar dan seenaknya sendiri. Semua orang pun mempertanyakan hal apa gerangan yang membuatku bersikeras mencintai Orion. Aku hanya dapat tersenyum bangga dan menjawabnya secara diplomatis “aku memiliki mutiara berharga kendati semua orang menganggapnya batu tua tak ada harganya”
10 juli 2008
Athena bodoh. Ada kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik tapi malah tetep bertahan. Terimakasih karna kasih sayang ini ya . . .
………………………………..
“mba, mau langsung ke Jakarta apa mampir makan dulu?”
“Masya Allah pak Rahmat ini bikin kaget saja”
“maaf yo mba, abis dari tadi mba Artemis bacanya serius banget.. baca apa sih mba ?”
“Cuma buku biasa ko pak. Yaudah beli bunganya tolong dua ya pak… hari ini kayaknya mau nyekar ke makam temen dulu sebelum ke Jakarta lagi”
“baik mba….”
Aku tertegun memikirkan ucapan supirku barusan, “mba Artemis bacanya serius banget, baca apa sih mba?” . aku terlalu egois untuk melisankan keterangan tentang buku ini karena ini adalah buku favorit ku dan sudah hampir 4 tahun aku memilikinya.. aku mengagumi bait kata perkata yang penulisnya tuturkan, mengagumi setiap gores lekuk tulisannya, mengagumi setiap ekspresinya. 4 tahun bersama membuatku hafal betul bagaimana letak cerita yang penulisnya sematkan…
Pekerjaanku di Bandung kali ini tak begitu menyita perhatian serta waktu yang teramat sangat dan mengunjungi peristirahatan teman lama sembari menyapanya dengan sebait lantunan doa mungkin ide yang bagus. Aku begitu tergelitik dengan ingatan ingatan akan jawaban diplomatis yang selalu di lontarkan Athena mengenai cintanya terhadap Orion “aku memiliki mutiara berharga kendati semua orang menganggapnya batu tua tak ada harganya”… Athena benar. Kini aku mengerti bahwa Orion memang istimewa. Baik Athena maupun Orion saling mencintai dan memiliki dengan caranya masing masing. Hades seharusnya melihat keduanya bahagia dan tak digelapkan mata oleh kecintaan yang pada akhirnya mencelakakan cintanya sendiri..
………………
Pemakaman ini sedang tak terlalu ramai dan cuaca pun masih bersahabat. Memikirkan bahwa sekarang aku sedang melangkahkan kaki perlahan menuju peristirahatan terakhir yang abadi milik sahabatku tersayang membuatku rindu setengah mati dengan candanya yang begitu riang. Begitu tiba aku melihat ada yang tampak aneh dari kedua makam ini. Bunga di atas pusaranya masih baru. Sepertinya ada seseorang yang telah datang belum lama ini. Dengan refleks kuarahkan pandanganku kesegala arah mencari kemungkinan siapa gerangan orangnya dan aku mendapati sosoknya. Aku tidak mungkin lupa karena iapun tak banyak berubah. Ia Hades. Tak salah lagi, ia Hades. Aku tau ia mencintai Athena dengan cinta yang teramat sangat dan hari ini pun masih aku dapati hal itu.
………
aku memiliki mutiara berharga kendati semua orang menganggapnya batu tua tak ada harganya
Jakarta, 4 maret 2012
Buku harian mereka
Nama Penulis: Resi Rizki Amelia

Kamu

Mungkin, aku memang bukan yang terbaik untukmu —bukan sama sekali. Tetapi aku bersikeras untuk mampu mempertahankanmu dalam mengoyakan masa depan kita. Menjiwai tanpa batas naluri keingkaran yang kita miliki. Menempuh ruang yang tak bisa kita goreskan sama sekali.
Aku percaya, akan ada suatu hari nanti. Dimana kita menembus ruang tersebut dan membiarkan kita menempatinya. Aku percaya bahwa semuanya tak akan menjadi sia-sia belaka. Membiarkan dinding kosong dan rapuh tak terurus.
Aku mengamati bagian-bagian kata dari Ghie yang dikirim lewat message. Semua yang dia untai membuatku semakin memburu keindahannya. Bagaimana bisa rasa itu hadir dalam batas kata-kata tanpa pernah bertemu dengannya?
“Namanya juga cinta, mau gimanapun elo ngelupainnya. Lo bakalan inget dia terus!” Kana langsung membuyarkan pengamatanku pada message Ghie.
“Siapa juga yang mau ngelupain dia. Gue lagi berbunga-bunga liat smsnya dia.” Ku sodorkan ponselku di hadapannya, agar Kana percaya bahwa aku tidak ingin melupakan Ghie.
Memang tidak! Siapa yang ingin melupakan seseorang yang begitu romantis dan memberikan derasan kepercayaan bahwa jarak bukan alasan untuk tidak menjadi sepasang kita. Semua akan selalu terkenang menjadi impian dalam harapan. Ghie satu-satunya orang yang membuatku berada di garis start dan melaju bersama-sama pada garis finish.
“Lo belum pernah ketemu dia tapi lo bisa jatuh cinta ya sama dia? Aneh.” Ucapnya sembari menyeruput cokelat panas yang telah dia pesan sepuluh menit yang lalu.
Tahu apa mereka tentang kita?
Sore yang tampak begitu memikat, meredamkan cahaya menyengat menjadi bersahaja. Sudut-sudut jendela kafe telah dipenuhi oleh sepasang muda-mudi menikmati suasana sambil bersantai-santai. Beberapa diantaranya terlihat begitu bahagia menatap pasangannya seraya menyeruput secangkir cokelat panas yang meleleh di mulutnya.
Aku akui, aku menginginkan moment seperti itu. Bersama Ghie menghabiskan waktu lalu bercengkrama dengan hangatnya senja dan membiarkan aku terlupa dengan letihnya kehidupan. Aku menginginkannya—setidaknya sampai pada suatu hari nanti.
“Lo pengen kaya dia ya?” Kana menebak pikiranku lewat tatapanku yang tak henti-hentinya menatap sepasang kekasih berada di seberang mejaku.
“Naluri anak muda Na.” Jawabku sambil terkekeh
Kana menggelengkan kepala, dalam pikiran Kana banyak ucapan yang tak dia lontarkan untuk menyadarkanku bahwa Ghie adalah ‘teman pena’ yang tak tahu apakah dia benar-benar baik atau hanya keisengan belaka. Dan semua itu sudah kuterka apa yang berada di pikiran Kana, dia menginginkan aku mencintai seseorang yang wajar dan berada dalam kota yang sama.
“Lo kaya nggak ada cowok lain aja.” Kana menopang kepala dengan tangannya, menatapku dengan penuh harapan untuk menyadarkanku dari semuanya.
“Yang lain emang banyak Na, kalo cinta? Cinta kan nggak tertebar dimana-mana. Yang ngasih kan Tuhan Na, gue gak minta. Gue mah bersyukur aja dan jalanin sama dia. Gue yakin! Gue—”
“Udah udah! Iya gue ngerti. Tapi kalo sampe tuh cowok menghilang tanpa jejak. Ngeblock sosmed, ganti nomer terus pindah rumah jangan nangis loh!” ancamnya.
Aku hanya bergidik sambil tersenyum lepas padanya. Yah, namanya juga jatuh cinta. Semua orang yang berusaha untuk menjadi penyelamat tiap sepasang kekasih yang memutuskan untuk berkomitmen adalah mereka yang tak pernah mengerti bagian dengan cara lain yang disebut dengan indah dalam semu.
Kebisuan Kata
Ku ketuk ponsel pada dahiku, ku eratkan jemariku memeluk ponsel yang tak berbunyi sama sekali. Hampir seharian —aku terlalu malu untuk memulai sesuatu yang semestinya aku yang mulai. Aku terlalu pengecut untuk bertanya Lagi apa Ghie? / Kok nggak ada kabar sih? Atau sekedar menyapa namanya saja.
Dengan perasaan cemas, aku membuka twitter dan mencari user-nya. Kulihat timeline-nya sama sekali tidak ada tweet dia hari ini. Dia benar-benar menghilang seperti tertelan bumi. Membiarkanku harus berdamai dengan hati berkali-kali. Aku terus berpikir positif, mungkin dia sedang tidak ada pulsa atau mungkin tengah sibuk mengurusi kegiatan kampusnya.
Ketika ku terjaga dalam kesunyianku, ponselku berbunyi. Cepat-cepat kubuka dan ternyata dari Ghie. Wajah sumringahku terpancar beserta tulisan loading yang membuka smsnya. Tetapi ternyata sedikit demi sedikit aku membacanya, rasa tertusuk itu menyergap kekhawatiranku yang telah menjadi bisu.
Maaf untuk kesekian kalinya, semua perjalanan ini telah ditakdirkan untuk kita. Aku hanya berharap kita terus berdo’a tanpa mengharapkan lagi apa yang belum pasti. Maaf sekali lagi, berikan manfaat waktumu dipergunakan sebaik mungkin, bukan menggenggam ponsel dan merayu dalam sms. Semangat buat masa depanmu!
Aku ingin marah! Aku ingin berteriak! Aku ingin memaki diri kita! Mengapa seperti ini? Mengapa tidak kita bicarakan bagaimana kita mempertahankan ini semua? Mana janji kita? Mana kepercayaan kita akan suatu hari nanti? Dimana letak salahnya kita!
Air mataku telah membasahi wajahku dengan derasnya, mengapa aku terlalu bodoh untuk terlalu percaya hanya pada kata-kata yang diuntai. Ternyata memang benar apa yang dilihat oleh Kana, mereka yang memberikan pencerahan menggunakan cara berpikir adalah mereka yang memutar otak dengan logika bukan terlena pada perasaan seperti aku yang tengah mengalaminya.
Kamu kenapa bilang kayak gitu, aku masih sayang sama kamu — Aku mencoba untuk memperbaiki semuannya dan mengirimkan sms untuk menjawab semua kalimat Ghie.
Kamu itu orang yang setia. Sayang kalo kesetiaan kamu dipergunakan untuk orang yang nggak pernah ketemu kamu — balasnya.
Ku hembuskan nafasku perlahan untuk memberikan ketenangan dalam hati. Hatiku terasa sakit meskipun aku tak pernah bertemu dengannya lalu melihat seperti apa dan bagaimana. Perkenalan dengannya yang hanya terpaut sebulan, membuat separuh hatiku benar-benar berada bersamanya.
Aku berusaha tegar dan menerimanya, memang yang tak bisa tersentuh dan tak bisa digenggam dengan erat akan terlepas dengan mudah lalu menghilang tanpa jejak. Dan sekarang aku memilih menghapus nomor ponselnya lalu mengganti nomor ponselku bahkan memblock sosmed agar dapat melupakannya sehingga terbiasa tanpa ada rajutan kata-kata lagi.
Kenangan Itu..
Masih ingatkah kamu tentang janji yang mempersatukan kita? Tentang kenangan gerbang yang indah di pelupuk mata? Aku masih menguncinya dengan rapat lalu membiarkan hatiku menempati yang terindah hingga detik ini.
Semua perkenalan ini, semua perjanjian ini hanya mampu menembus rasa keegoisanku. Membiarkan aku menunggumu dalam ingatan bahkan membiarkanku membunuh kebahagiaan.
“Apa gue bilang! Lo sih ngeyel gue kasih tau dari dulu.”
Aku bertekuk lutut melemaskan semua beban yang hinggap dalam tubuhku, andai saja aku berpikir logika seperti mereka yang masih mencoba untuk memikirkan masa depan, mungkin aku tak akan terlena pada bualan janji-janji Ghie.
“Namanya juga cinta Na.”
“Hah! Cinta? Itu yang dimaksud cinta? Nggak pernah ketemu lo bilang cinta? Sumpah! Lo orang aneh yang pernah gue temuin.” Kana mengaduk-aduk cokelat panas untuk yang kesekian kalinya.
Kafe cokelat yang menjadi teman sepi bahkan kebahagiaanku menjadi saksi bagaimana aku dapat merasakan hal tak mengenakan yang selalu ku tepis dalam pikiranku, bagian ku anggap baik adalah bagian mengkhianati, sepertinya aku yang menghianati karena terlalu percaya dengan seseorang yang tak pernah ku temui sama sekali.
“Sekarang lo udah ngertikan? Gimana rasanya kalo cinta itu belum pernah lu temuin sama sekali. Sebenarnya lo itu bukan ngerasain cinta, tapi ngerasain terhanyut pada puitisnya. Coba lo bayangin, kalo seandainya dia bapak-bapak yang nyamar jadi anak muda dan dia ngambil keputusan kaya gini karena ketahuan anak istri, lo bisa apa?”
Aku tak berkutik mendengar ucapannya, bisa jadi seperti itu. Mengapa aku tak sejauh itu berpikir? Mengapa aku terhanyut pada kata-kata? Ah! Sepertinya memang aku tak pantas berlarut-larut dalam kesenduan bahkan kesendirian. Tapi aku tak munafik! Aku masih mencintainya. Entah rasa cinta yang seperti apa, aku merasa kehilangan.
Sejauh apapun kamu menempatiku pada posisi yang terlewat sedikitpun, aku mencoba untuk tetap bertahan. Membiarkanmu menyadari arti hadirku sesungguhnya. Tanpa bisa membunuh harapan pada semesta.
Biarlah kamu membuatku berlumur pada kesakitan. Karena sesungguhnya cinta adalah yang benar-benar memahami bagaimana merasakan sakit yang tak kunjung lenyap. Bukan membuat bahagia menjadi sepi, membuat ketenangan menjadi gundah.
“Dan biarkan cinta memihak padamu yang sesungguhnya mengisyaratkan kebaikan hati. Karena sesungguhnya cinta takkan terletak di hati yang salah.”
Aku mendengar suara seseorang di balik punggungku mengucapkan untaian kalimat yang sangat kukenali. Perlahan-lahan kubalikkan tubuhku untuk menatap seseorang yang tengah berdiri di belakangku.
“Naomi Natasya..” dia menyebut namaku sambil tersenyum dengan hangat.
Aku menatapnya. Sepertinya aku mengenali pria berbadan tegap dengan alis tebal, membuat dirinya semakin tampan. Poni rambut untuk menutupi dahinya, tertiup oleh angin yang masuk dari jendela kafe, memperjelas tatapan kedua matanya.
Kana berdiri dan mendekati pria tersebut, “Maaf ya Sya, gue ngerahasiain ini dari lo. Ini surprise buat orang yang benar-benar mencintai dengan tulus.” Ucapnya terkekeh.
“Maaf Sya, kalo waktu itu aku sms kaya gitu sama kamu. Aku mau tau apa kamu bener-bener takut kehilangan aku. Dan ternyata…” Pria tersebut menggantungkan kalimatnya, memancarkan lesung pipit lalu membuat kedua pipinya memerah.
“Aku sayang banget sama kamu Sya…” Pria tersebut merentangkan tangannya ingin memelukku.
Dengan perasaan yang tak bisa kujelaskan satu persatu, aku berdiri dan langsung memeluk tubuhnya yang hangat. Membiarkanku menenggelamkan semua rasa kecewa, merubah cara pandangku tentangnya. Aku melupakan semuanya bahwa cara perkenalan yang baik adalah berjabat tangan lebih dulu, tetapi aku merasakan pertemuan ini adalah pertemuan yang berulang-ulang dan aku berhak memeluknya.
“Aku juga sayang sama kamu Ghie, jangan pernah tinggalin aku sendirian lagi.”
Cerpen Karangan: Risty Putri Indriani
Facebook: Risty Putri Indriani

Catatan Untuk Dia


Minggu,9 Oktober 2011, 

04:47 siang
Baru saja aku terbangun dari tidur nyenyakku, lalu aku melihat jam dinding telah menunjukan pukul 04:38 siang, seketika aku langsung teringat kalau hari ini aku ada sebuah rencana, rencana yang mungkin bisa mempengaruhi masa depan ku kelak. Sebuah rencana yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan, bahkan aku tidak tahu langkah pertama apa yang harus aku ambil untuk rencana ini. satu hal yang aku ingat saat itu adalah aku telah meniatkan rencana ini secara matang, yang tidak mungkin kalau aku batalkan.
Ini adalah rencana dimana aku akan mengungkapkan seluruh perasaan hatiku ke kamu, perasaan yang telah tumbuh disaat pertama kali ku melihat wajahmu, melihat manis senyummu, bahkan melihat indah cara kamu melangkah.
Dan hari ini, semua rencana itu akan aku kerjakan…
“Hallo..” sahut aku dari Hp
“iya,” jawab kamu di ujung sana.
“Euis, ada yang pengen aku omongin ni,” aku melanjutkan pembicaraan.
“ngomong apaan?” tanya kamu.
“tapi aku malu mau ngomongnya,”
“kenapa malu? gak papa ngomong aja”
“gimana ya,” aku semakin gugup “emm… Euis…”
“iya kenapa?”
“udah lama aku..” aku menarik nafas sejenak “..suka sama kamu,”
“ya terus,”
“Euis suka juga gak sama Irvan?” tanya aku dengan bodoh
Suasana hening sejenak
“iya aku juga suka sama Irvan”
Dari kalimat terakhir yang terucap oleh mulut kamu, dan setalah Hp dimatikan, dengan resmi kita berdua pun dinyatakan berpacaran. Tidak ada kata romantis saat itu, tidak ada sepucuk bunga mawar, yang ada hanya kata-kata aneh yang aku ucapkan sebagai tanda kalau kita telah resmi barpacaran. Mungkin bagi kamu ini adalah cara yang aneh untuk dimulainya sebuah hubungan yang bisa dibilang sakral.
Aku kembali melihat jam dinding yang sekarang telah menunjukan pukul 04:37 siang.
Ini semua tentang kita…
Tentang hubungan kita…
Dan tentang khayalan kita untuk masa depan…
Selama ini kamu tahu, bahkan aku juga tahu, kalau aku bukanlah seorang yang mempunyai banyak kata puitis yang bisa membuat kamu menangis akan romantisme yang tercipta. Aku hanyalah seorang aneh yang selalu berusaha membuat kamu tertawa akan kegilaan ku. Aku sadar kalau setiap wanita selalu membutuhkan perhatian dari pasangannya, dan kamu adalah wanita. Tapi sayangnya, aku merupakan pasangan yang menurut kamu tidak pernah memberikan perhatian lebih kepada kamu, bahkan kamu berfikir kalau aku adalah seorang pasangan yang cuek. Tapi kamu harus tahu, kalau sebenarnya aku lebih memperhatikan kamu dibanding siapapun.
Kamu sering bilang ke aku, kalau aku harus berubah, kamu ingin aku tidak terlalu cuek dan tidak terlalu dingin bila di samping kamu. Kamu bilang seperti itu hingga 3x atau 5x bahkan sampai belasan kali. Dan setiap yang kamu ucapkan, aku selalu berusaha mewujudkannya, aku mencoba hingga 3x atau 5x bahkan belasan kali, sebanyak yang kamu pinta. Tapi kamu tahu, aku juga tahu, aku selalu gagal. Aku tidak bisa menjadi seseorang yang kamu inginkan, semakin aku coba, semakin aku kembali menjadi diriku sendiri. hingga pada akhirnya, walaupun hanya sedikit, aku bisa memberikan kamu kebahagiaan dengan caraku sendiri.
Kamu juga termasuk wanita yang selalu ingat akan suatu momen, baik itu momen indah ataupun buruk yang telah kita lewatkan. Kalau kamu sedang teringat oleh satu momen pasti kamu selalu bartanya pada ku “kamu ingat gak waktu itu…” dan aku selalu balik nanya ke kamu “yang mana itu…”. biasanya kalau aku seperti itu, kamu selalu bilang ke aku kalau aku ini pikun. Juga setiap kita sedang pergi main, kamu selalu menanyakan tempat yang dulu pernah kita kunjungi “bodoh kamu inget gak tempat itu?” atau “liat doh, dulu kita pernah kesitu ya?”. dan seperti biasa aku selalu balik nanya “yang mana itu…”. kadang pernyataan aku itu membuat kamu kecewa, kamu pasti berspekulasi kalau aku ini orang yang “masa bodo”, yang selalu lupa dengan momen-momen yang telah kita lalui. Tapi sejujurnya aku tidak pernah melupakan itu, bahkan aku lebih mengingat segala sesuatunya dibanding kamu, bahkan dari hal yang paling detail sekalipun. Aku ingat kalau kita pernah kehabisan bensin saat bermain, dan kita berdua terpaksa mendorong motornya sampai ke tempat penjualan bensin terdekat. Atau aku ingat kita pernah hujan-hujanan berdua di atas motor. bahkan aku ingat wangi aroma parfum yang kamu pakai disaat kita pergi nonton untuk pertama kalinya. Aku ingat semua.
Dan selanjutnya…
Kita selalu berkhayal, bila suatu saat nanti ketika kita telah bekerja satu sama lain, Kita akan menyisikan setiap gaji kita untuk membeli rumah, rumah pribadi yang nantinya akan kita tempatkan berdua, rumah yang bakal menjadi simbol kerukunan kita, dan rumah yang akan menyajikan kenyamanan saat kita berada di dalamnya. Yang pasti, ketika kita telah menempatkan rumah tersebut, status kita pun secara otomatis akan berubah. Dari berpacaran berganti menjadi menikah. Suatu hubungan yang sangat mengikat dari sebelumnya, yang begitu rentan akan konflik yang nantinya akan terjadi. Hubungan yang tidak cukup dengan kejujuran saja, tetapi harus didasari oleh kesabaran. Namun aku percaya, kamu juga percaya, seberapa besar konflik yang akan terjadi kepada kita nanti, kita pasti akan bisa melewatinya dengan mudah.
Akhirnya…
Catatan singkat ini sekarang telah ada di tangan kamu, entah telah kamu baca secara keseluruhan atau tidak, aku tidak tahu. Tapi sampai saat ini, disaat kita telah berpacaran lama sekali, aku masih tidak mengerti mengapa kata-kata yang awalnya begitu singkat dan sederhana bisa membuat hubungan berjalan begitu lama, lama sekali.
Cerpen Karangan: M. Irvan Tanjung