Selasa, 26 November 2013

Cemburu

Aku sulit mengerti kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ada di dekatnya.
Aku tidak habis pikir, atau entah aku cemburu…

Setiap hari ada saja perhatianku padanya. Tidak adakah sesuatu yang membuatku merasa ada yang perlu dikerjakan selain memikirkannya?
Aku yang cepat mengambil keputusan terlalu gegabah dan membuatmu kecewa..
Dua hari lalu, seseorang mengetuk pintu dan mengatakan ‘ini maksudnya apa? this is ending?’ dan dia terhenyak saat aku membalik badan dan menutup pintu kembali.
Bulan menyaksikan itu, kemudian hening sampai hari ini..
Selalu aku dengar berita bahagia darinya, mulai rumor tentang dia menjalani kasih dengan gadis yang cantik sampai bahagia dan hampir dijodohkan dengan gadis manis yang orang tuanya menjadi pengusaha sukses.
Aku tidak masalah dengan hal itu sampai aku menemukan sesuatu yang lain saat dia jalan 10 langkah di depanku dengan menggandeng tangan seseorang seakan tak mau lepas.
Saat ini aku menyesal dan ingin kembali di hari itu. Aku tak mau kalau di hari kemudian aku tak bisa melihatnya dan tak pantas merindukannya..
Tangan indah itu menggandeng lengannya yang terlihat cocok dari sini. Temanku, Windi, sudah mengingatkanku sejak tadi untuk berhenti mengikutinya, tapi entah kenapa aku terus mengikuti kemana arah wanita itu menggandeng tangannya dan berharap dia melepaskannya segera. Dua menit setelah aku sadar tak mungkin terlepas, aku berjalan berlawanan arah dan kembali pulang diantar Windi.
Pagi ini aku terlambat, mataku benar-benar ingin tertutup, kantukku tak terbendung setelah semalam tak bisa aku pejamkan mata ini untuk beristirahat sejenak. Windi, aku sempat melihat wajahnya khawatir saat aku terbangun dari tidurku di ruang kesehatan dan pandanganku terlihat bingung.
“Kamu tadi lari-lari, terus bilang pengen tidur, untung pak Wahyu gak masuk, aku anter kesini deh.” Katanya.
Aku tersenyum, tapi dia masih khawatir, aku tau dia mengkhawatirkan aku dari kejadian semalam.
Di kantin pada jam istirahat ini aku akhirnya dapat kesadaran juga setelah tidur hampir 3 jam di ruangan serba putih tadi. Dari tempatku duduk, kira-kira empat bangku dari sini, aku lihat laki-laki yang mengetuk pintu rumahku waktu itu sedang bersama teman-temannya dengan canda tawa mereka seperti biasa. Masih ada tanya, ‘mudahnya aku dilupakan?’ hah.. aku memang yang bersalah. Aku sendiri yang bersikap seolah-olah itu akhir.
Tapi, senyummu dari sini saja sudah membuat aku sadar kenapa wanita-wanita itu selalu ingin dekat dengan laki-laki seperti kamu…
Laki-laki di kantin tadi, laki-laki yang dengan senyumnya membuat wanita ingin dekat itu berdiri dan bersandar pada pintu mobilnya. Seragam putih abunya membuatnya terlihat lebih berwarna bukan hanya dari senyumnya, ‘Dida!’ sapa temannya yang langsung melambaikan tangan tanda ia akan pulang mendahului Dida yang dibalas Dida dengan senyum dan lagi-lagi aku berpikir ingin memiliki senyum itu lagi.
Dida menundukkan wajah sesekali dan melirik ke arah pintu masuk sekolah, seakan menunggu seseorang keluar dari situ, dan benar saja ada yang menghampirinya. Kulihat senyumnya yang manis mengikuti kedatangan wanta itu, tapi sedikit tersirat kecewa.
Sayangnya aku melihat ekspresinya ini hanya dari kejauhan, tepatnya dari arah luar gerbang sekolah…
Esoknya masih seperti kemarin, aku masih ingin melihat Dida, sosok yang selalu senyum dihadapanku, membuatku bahagia tapi aku mengecewakannya karena suatu hal bernama ‘cemburu’. Selama aku bersama Dida, aku benar-benar merasa apa itu arti bahagia, apa itu arti bersama, tapi tidak aku bawa rasa terima atas itu karena kesan yang terlihat di mataku itu semua bukan atas dasar sayangnya. Aku yakin itu setelah melihat dia selalu tersenyum juga di hadapan wanita lain.
Mobil yang akan menjemputku tiba sekitar 40 menit lagi, hah.. sudah bosan aku menantikannya. Sudah lima menit aku menunggu, ’35 menit lagi’ pikirku. Saat-saat menunggu ini terusik saat aku sadar ada yang memperhatikanku dari jauh, mata itu tak lepas memandangiku sejak tadi, seperti menunggu, tapi aku tak menghiraukannya karena malu dan tau itu Dida.
Melihatku dari jauh mungkin tak memuaskannya, akhirnya ia mulai bergerak mendekatiku. Aku benar-benar terusik, tak nyaman dan ingin sekali bergerak menjauh, tapi perasaan mencegah dan aku diam.
“Mau pulang sama aku?” sapanya, lagi-lagi dengan senyum.
“Iya” jawabku singkat.
Dida sedikit menunduk, mungkin ia sadar saat ini aku tak nyaman lagi berada di dekatnya. Saat ini rasanya mungkin seperti cermin yang kupandangi setiap sore yang ada bayangan senja di alam sebrang yang dia tampilkan itu, berambang, tidak jelas dimana tapi itu bukan disini.
Sudah sepuluh menit sejak aku menjawab ‘iya, kami tidak mengatakan satu katapun sampai akhirnya Dida membuka pembicaraan dengan bertanya,
“Masih mau nunggu? atau pulang bareng aku?” kali ini ekspresinya datar.
“Nunggu” jawabku yang masih memikirkan ego.
Kaget aku saat Dida tiba-tiba menggenggam tanganku dan membawaku yang terpaksa mengikuti langkahnya.
Di halaman belakang sekolah, dia menghentikan langkahnya, dia sedikit menundukan wajah lagi, mungkin malu atau ragu atau juga sedang memikirkan awal pembicaraan yang baik denganku. Aku yang melihat wajahnya yang menunduk dengan ekspresi wajahnya yang seperti itu, tak mau lagi menahan untuk tak bicara ‘kenapa’. Dida kembali menemukan nada bicara dan percaya dirinya untuk bicara.
“Setiap hari aku harus khawatir sama kamu, tapi aku baru tau kenapa, dan aku disini mau minta maaf, selain maaf belum ada yang bisa aku bilang lagi”
“Memang aku juga yang berlebihan”
“Jadi?”
“Aku juga minta maaf”
Ekspresi wajah Dida berubah bahagia setelah mendengar kalimat terakhir yang aku katakan.
Seketika aku berpikir, Dida tidak pernah ingin aku jauh dariku.
Tapi Dida tidak lagi menampakkan wajah khawatirnya walaupun aku pergi mulai berjalan meninggalkannya. Mungkin itu berarti dia yakin aku juga masih merasakan hal yang sama dengannya.
Istirahat hari ini terasa sangat ringan dari kemarin, aku benar-benar merasa ini istirahat yang paling istimewa walaupun aku sadar hanya beberapa menit saja luang waktu untuk sejenak bersantai ini.
Dari sini aku melihat Dida dengan ekspresi bahagianya setelah memasukkan bola ke ring. Dida tidak lagi tersenyum dengan sedikit corak wajah tak bahagia, aku yakin setelah ini Dida akan kembali pada ekspresinya saat dia bersamaku.
Tapi aku lupa, wanita yang pernah digandengnya, siapa?
Sampai Windi mengingatkan aku tentang itu dilorong sekolah saat kami berjalan menuju pulang.
Aku menghela nafas dan mengingatnya lagi…
Hah, aku tidak percaya, bahagiaku terusik lagi.
Baru beberapa menit lalu aku mendengar Windi mengingatkanku akan hal itu, aku lihat Dida tersenyum di depan wanita yang waktu itu kulihat sedang menggandeng tangannya.
Hari ini aku tersadar lagi dan pergi menjauh tanpa berani menatap Dida lagi.
Setelah hari yang membuatku bungkam lagi itu, tidak pernah ada lagi kontak mata ataupun komunikasi antara Dida dan aku. Tapi ekspresinya tidak lagi seperti gundah. Wajahnya kali ini tetap bahagia seperti setelah mendengar aku meminta maaf padanya, seolah tidak ada lagi yang perlu dicemaskannya dan aku baik-baik saja.
Aku berpikir lagi, ini bukan berarti dia bahagia karena aku memaafkanya atau karena aku meminta maaf padanya, tapi ini karena ada sesuatu yang lebih membahagiakan dari itu.
Aku takut, takut sekali, takutku belum terbayar bahkan sekalipun aku mendengar aku lulus dari ujian nasional.
Hari ini, sudah dua bulan setelah hari-hari yang mengambang itu. Sudah kuduga Dida memang tidak lagi mau aku menjadi khawatirnya. Semua khawatirnya tentangku, membatasinya untuk bebas. Aku sadari itu setelah aku tak lagi melihatnya sampai hari ini.
Aku tak tau dimana dia, apa kabarnya saat ini, apa yang sedang dia lakukan, bahkan Windi yang selalu mudah mendapat info pun masih belum tau dimana Dida.
Tapi aku yakin Dida bahagia, karena terakhir kali aku melihatnya begitu.
Dida tidak lagi di sampingku, Dida tidak tahu ada dimana, tapi aku masih ditemani bayang-bayangnya. Malam ini aku ada janji dengan Windi setelah dia mengirim pesan singkat yang isinya membuatku penasaran untuk datang ke tempat kami biasa bersantai, cafe dekat taman kota ini.
Dalam perjalananku ke cafe itu, aku melihat wanita yang digandengnya waktu itu yang sampai saat ini membuatku cemburu. Wanita yang dengan wajah menunggu, bersandar di kursi taman kota.
Sejenak aku berpikir, wanita itu ada disini, Dida pasti disini juga. Sedang berpikir seperti itu, Dida datang dan menghampirinya. Seperti sebelumnya Dida tersenyum duduk di dekatnya dengan kemudian memasang wajah sedih dan menenangkan wanita di sampingnya.
Aku tau ada masalah yang membuat Dida memasang wajah itu. Aku memang selalu tak berpikir panjang, malah semakin ingin mendekat dan mengetahui isi pembicaraan mereka, tapi kemdian aku diingatakn Windi lagi dengan pesan singkatnya yang membuat handphone ku bergetar.
Kembali aku menuju cafe di dekat taman kota ini.
Aku benar-benar malu, aku gugup, kali ini aku diluar kendali, aku ingin menangis, Windi kemudian menenangkanku setelah sebelumnya ia mengatakan,
“Dida itu punya sepupu dan wanita yang sama Dida itu pacar sepupunya”
Aku menyesal dengan ucapanku dikala rintik hujan membasahi Aku dan Dida di tengah lapangan basket hari itu, aku tau aku kalah dengan emosi yang terbungkus cemburu sampai Dida seperti mematung setelah aku melepas satu tangannya yang memegang pundakku yang kemudian berucap “Dida, kita putus” setelah itu dengan mata berkaca aku meninggalkan Dida.
Dida, aku menyesal, aku ingin hari itu kembali, hari dimana rintik hujan itu beramai-ramai menghentikan aku tuk berucap hal yang menghentikan kebersamaan kita. Sekarang aku yang berekspresi mematung menggantikan Dida di hari itu. Tapi aku yakin penyesalan ini tidak akan mengembalikan senyummu seperti saat maafku terucap atau bahkan seperti saat kita bersama.
Haha, sudah sampai dimana kita? Jika ini sandiwara, sudah sampai di episode berapakah?
Yang jelas, aku berpikir, sepertinya ini episode terakhir dari kepastian hubunganku dengan Dida.
Aku di fakultas seni, dan Dida di Fakultas Kedokteran. Aku baru tahu itu setelah dua bulan kami ada di Universitas yang sama.
Masih saja ada yang menggangguku, tentang apa kabarnya senyum Dida itu?
Apakah sudah dimiliki wanita lain?
Hari ini aku di rumah, ditinggal mama dan papa yang terbang ke Bali untuk bisnis dan berlibur.
Dua hari ini aku tidak mengisi waktu dengan kuliahku sampai Windi pun lelah mengingatkanku untuk berhati-hati dengan kehadiranku karena kuis minggu depan.
Acara televisi hari ini tidak ada yang menghibur, bahkan lawakan yang dulu hanya dengan melihat pemerannya saja sudah membuatku tertawa tidak lagi ada daya tariknya. Mataku hanya tertarik melihat acara televisi yang kupindah-pindah sampai teralihkan aku sejenak karena pintu rumah yang diketuk dengan cukup keras. Kakak memang selalu seperti itu kalau pintu rumah terkunci.
“Hai” sapa orang dibalik pintu saat aku membukakan pintu untuknya.
Kupikir kakaku yang setiap malam baru pulang berolahraga untuk membuat badannya berotot itu kala mama bertanya kenapa malam-malam, tapi ini sosok lain.
“Dida?” tanyaku heran yang kusembunyikan perasaan bahagia di kedalaman hati.
“Apa kabar?” tanyanya yang masih selalu didampingi dengan senyumnya.
“Kenapa kesini?”
“Haha, gak bisa tahan kangen lagi”
Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas aku tau, dia sedang berusaha menjelaskan perasaannya padaku melalu kata-kata yang dengan hati-hati dipasangkannya untuk menjadi kalimat yang baik kudengar sehingga aku tak menutup pintu lagi seperti malam itu.
“Aku boleh masuk?”
“Disini aja”
Aku takut jika aku dan Dida berpindah dari tempat saat kami memulai bicara, akan canggung untuk memulai pembicaraan lagi, terlebih lagi itu di dalam rumahku, di ruang tamu yang pastinya aku harus duduk didekatnya berhadapan atau di sampingnya.
Dida meyakinkan aku dengan senyumnya kemudian memegang tanganku, menarikku ke dalam dan duduk.
“Ganti baju, aku tunggu!” perintahnya dan aku turuti.
Aku masih mengutamakan egoisku, tak mau Dida berpikir aku berpenampilan baik hanya untuk membahagiakannya. Sepuluh menit dia menunggu. Aku menghadiahinya penampilan sederhanaku saja, tidak sesederhana dipandangannya karena wajahnya kemudian tersenyum menyambut aku hadir kembali di hadapannya tanpa mengenakan pakaian santai untuk di rumah lagi.
Aku digandengnya, jari-jariku digenggam erat jari tangannya, membuatku yakin ini Dida yang masih sayang aku.
Aku digandengnya sampai di halaman dekat rumah. Di halaman ini dulu dia pernah memintaku menjadi seseorang dengan sebutan ‘kekasih’ untuknya, “Aku gak punya bahasa yang lebih manis, tapi God never know that i love you, ah sorry, God ever know that i love you” katanya dulu.
Kujawab “yes, I never know, but in the end I ever know and I love you too”
Dan Dida mengulangi hari itu dengan kata yang lebih manis.
“Sorry, sebenernya malu, tapi, haha.. I LOVE YOU again”
Aku tak bisa menjawabnya kali ini, ucapannya terlalu manis, aku hanya tersenyum, membuka jalan kemabali menuju kebersamaan dengan Dida, dan aku yakinkan, aku tak mau lagi melepasnya hanya karena cemburu…
Sepotong ingatan yang kujadikan memory terindah tanpa resiko yang akan membuatnya kembali biru…
Cerpen Karangan: Nanda Utamidewi

Sabtu, 02 November 2013

TAKUT JATUH CINTA

TAKUT JATUH CINTA
Karya Nur Faida

Pasti kalian sudah bisa nebak jalan cerita inikan! Begini waktu aku kelas 2 SMP aku tak tahu kenapa dan kebodohanku bisa – bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu dia memiliki wajah tampan dengan kulit yang putih mulus , hidung mancung dan bibir yang seksi. Dulu diriku mengira dia juga menyukainya tapi nyatanya tidak.aku sangat bodoh sekali karena waktu itu aku yang tak punya malu malah menembaknya, tolol bangetkan aku. Semenjak itu mataku terbuka lebar bahwa aku tak pentas menyukai seorang cowok seperti itu ditambah kepopulerennya sekolah , aku sadar tiada orang yang menyukaiku karena gimana tidak aku itu orangnya pesek,kulitku hitam ditambah ku jerawatan lagi tapi itu waktuku masih SMP. Tak pernah lagi ku berharap dan memberikan hatiku pada seseorang karena takutku yang hanya ada di otakku sekarang hanya 1 “MEMBANGGAKAN ORANGTUAKU”

O iya, sebelumnya kuperkenalkan diriku dulu yah. Aku bernama Mimi Niamin dengan kulit putih dan muka yang bersih tanpa jerawat. sekarang ku kelas 2 di suatu sekolah SMA di Bandung. Aku sebenarnya tinggal di Makassar tetapi aku pindah rumah karena Ayahku dan Ibuku udah cerai , aku ikut sama Ayahku maka akupun tinggal di Bandung sedangkan ibuku tinggal di rumah mamanya di Makassar bersama adik laki – lakiku yang sekarang berumur 12 tahun. Aku pindah bertepatan setelah hal memalukan itu. Pasti semua teman – temanku mengira aku pindah sekolah karena kejadian itu tetapi itu tidak benar walau begitu aku sedikit senang bercampur sedih karena disisi lain aku bisa kabur dari kejadian itu tetapi disisi lainnya keluargaku sudah hancur. Tapi ada hal yang membuatku senang karena ibu tiriku itu ternyata sangat baik , dia selalu mau mendengar curhatanku walau begitu aku lebih sayang ibu kandungku dan hari ini aku ingin minta izin sama ibu tiriku dan ayah bahwa aku ingin tinggal di rumah nenekku. sebenarnya Ayahku melarangku karena takut nanti terjadi apa –apa padaku tapi aku bersikeras karena sudah lebih 3 tahun aku tidak pernah bertemu ibuku jadi ayahkupun mengizikanku tinggal di Makassar walau hanya 2 minggu.,
Takut Jatuh Cinta
^In Makassar^
“Wahh..! Makassar sudah berubah nih”ujarku yang sudah berada di luar bandara Hassanudin sambil memegang tas besar.

Kulihat Taksi tidak jauh dari aku , maka akupun melangkah kakiku menuju taksi itu dan tidak butuh 10 langkah aku sudah sampai disana.
“Mau naik taksi dek.!”tanyax padaku maka akupun tersenyum simpul sambil mengangguk menandakan bahwa aku memang ingin naik taksi , pak sopir pun mengambil tasku dan menyimpannya di bagasi lalu akupun masuk ke dalam Taxi, di dalam Taxi pak sopir itu bertanya padaku “Mau kemana dek?” akupun menajwab sambil tersenyum “ Jalan Sunu”jawabku singkat dan Taxi pun meluncur menuju kesana.
Akupun sampai di mana rumah nenekku berada, dimana ibuku dan adikku tinggal tak lupa aku membayar biaya Taxi dulu.
“Ini mas uangnya , kembaliannya di ambil saja”ujarku lalu menuju ke rumah nenekku.

Di depan ruma nenekku aku langsung saja mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan tak butuh waktu lama pintu itu terbuka.
“Rudi!”ujarku kaget sambil membulatkan mataku karena yang membukakan pintu itu sosok cowok Cinta pertamaku,Kenapa ini! Kenapa dia berada di rumah nenekku. Astaga , ini sungguh menyebalkan sekali. Rasanya kepalaku puyeng bener karena saat melihat Rudi aku jadi teringat kejadian itu, ingin rasanya ku kabur mendapati Rudi berada di rumah nenekku tetapi ku terlalu kangen sama Ibuku dan Adikku jadi nggak jadi deh.
Rudi juga tak kalah kagetnya melihatku berada di sini “Mimi!”

Hening tak ada yang berbicara tapi itu tak berlangsung lama karena adikku Didi memecahkan kehinangan itu di balik pintu “Kak Rudi , siapa yang....”belum selesai Didi bicara sambil memegang cemilan dan dia mendapatkan aku berada di depan pintu , Didipun sontak memelukku karena gimana tidak? 3 tahun we...! ehrr.. pastilah adikku kangen denganku.
“Kakak, kenapa kakak baru datang. Aku sungguh sangat kangen sama kakak”ujarnya kegirangan melihatku berada disini
“Maaf yah Didi”pintaku sambil melihat kedepan dimana berada Rudi yang sedang memperhatikanku dengan reaksi yang sulit ku tebak
“Kak , ayo masuk! O iya , kakak masih kenalkan Rudi teman kelas kakak waktu SMP”ujarnya meyuruhku masuk sambil bertanya padaku
“Yah”ujarku sangat singkat dan dingin.

^Flashback^
Di dalam kelas yang masih ada banyak sisiwa
“Mimi,lohh pikir ulang dulu deh! Gue takut loh napa – napa”ujar Rini sahabatku khawatir denganku
“Rin , ku sudah tidak tahan”ujarku sambil menitikkan air mata
“Tapi Mimi , loh taukan Rudi itu. Ku mohon jangan lakukan itu !jangan gegabah Mi. Aku takut sekali”ujarnya menyuruhku mempertimbangkan bahwa aku akan menembak Rudi
“Kamu tak perlu khawatir Rin, gue nggak gak apa – apa kok!”ucapku lalu menuju ke Pintu kelas dimana Rudi berada
“Rudi , jujur aku sangat menyukaimu!”ujarku saat keluar main dimana Rudi yang baru saja mau keluar ke kelas dengan Nino sahabatnya. Sungguh aku tidak tahan sekali menyimpan perasaanku lebih 2 tahun
“Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Buang – buang tuh perasaan loh. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah”ujar Rudi dengan kalimat pedas padaku sambil memasang muka jijit. Di dalam kelasku semuanya ribut karena kelakuanku.
Aku tak menyangka apa yang dikatakannya itu , air mataku pecah akupun langsung keluar dari kelas disusul Rini mengekorku.Ku sekarang berada di belakang Lab Bahasa Indonesia sambil menangis dan terus menangis dan Rinipun mengahmpiriku “Mi, gue kan udah bilang. Ku mohon berhentilah menangis , jangan hanya karena cowok seperti dia kau jadi seperti ini. Masih banyak kok cowok di dunia ini!”selanya padaku sambil memelukku menyuruhku menghentikan tangisanku tetapi bukannya tangisanku berhenti tapi aku lebih menangis lagi.
“Mi , gue mohon jangan menangis!”pintanya padaku yang tak henti – hentinya menangis “Ren, makasih yah kau selalu membantuku di dalam suka dan duka”ujarku menghentikan tangisanku dan Renipun tersenyum mengembang “Itulah gunanya sahabat Mimi”
***

Aku duduk di ruang tamu , bisa kulihat Rudi meminta izin pada Didi untuk pulang.
“Di , gue pulang dulu yah. Nggak enak nih ada kakak loh”ujar Rudi pada adikku dengan memegang kaset bola
“baiklah kalo gitu , aku mengerti kok maksud kakak”ujarnya
“Okayy, gue duluan dulu yah.”ujar Rudi permisi sama Didi

Didi menemani Rudi pulang sampai di depan rumah dan tak lama kemudian Didipun kembali di susul ibuku yang baru pulang dari pasar.
“Ibu...!aku kangen banget sama ibu”ujarku dan langsung berdiri dari tempat dudukku
“Mimi...!”ujar ibu kegirangan dan langsung menuju ke aku lalu memelukku
Aku begitu senang sekali bisa bertemu ibuku begitupula dengan adikku. Ku lihat ibu mengalami perubahan dengan dirinya. Wajah ibu berubah menjadi pucat dan keriput dan adikku berubah menjadi anak remaja yang gagah dan tampan.

Didi membawakan barangku ke kamar tamu dan aku mengekor mengikutinya. Di dalam kamar ku hempaskan diriku di tempat tidur dan adikku duduk di sampingku.
“Di , kenapa Rudi tadi disini?”ujarku bertanya penasaran
“Tadi aku sama kak Rudi lagi main Playstasion kak. kenapa kakak nanya – nanya?”jawab Didi dan bertanya padaku
“ tidak apa – apa kok”ujarku takut karena nanti adikku curiga padaku
Keesokan harinya aku olahraga pagi di taman kota Makassar sebenarnya adikku mau menemaniku tapi karena hari ini dia sekolah jadi Didi tidak bisa.

Di taman , ku berlari pagi mengelilingi taman sambil membawa tas ransel berisi Leptop dan saat asyik – asyiknya aku berlari ada seorang cowok yang menabrakku dari depan memakai baju putih abu – abu dengan 5 buku tulis dipegangnya terjatuh.
“Maaf, gue nggak nggak sengaja”ujar cowok itu tapi aku tak melihat mukanya dengan jelas lalu diapun mengambil bukunya yang terjatuh “aku kok yang salah. Sini aku bantu”ujarku dan akupun membantunya mengambil bukunya yang terjatuh dan tak sengaja mataku dengan cowok itu bertemu dan akupun tahu siapa cowok itu.
“Rudi!”ujarku kaget karena aku bertemu lagi dengan Rudi. Mengapa ini terjadi lagi? Bisa gila aku lama – lama karena bertemu terus dengan Rudi. Semenjak Rudi menolakku aku jadih trauma untuk menyukai seseorang sampai sekarang dan entah kenapa sekarang perasaan cintaku pada Rudi kembali lagi. Ini sungguh sangat menyebalkan -__- aku pun berlari dengan cekatan sambil menitikkan air mata meninggalkan Rudi yang juga kaget melihatku bertemu denganku lagi.

Ku berlari secepatnya karena ketakutan , setiap kali ku lihat Rudi kalimat itu terbayang – bayang di otakku “Hah.. nyadar dongg luu tuhh nggak selevel sama gue! Ngaca dulu dong. Apa gue harus beliin dulu lohh kaca baru nyadar. Lebih baik loh kasih perasaan itu sama tempat sampah ajah” kalimat pedas yang di dengar oleh semua temanku di kelas. Rasanya sakit banget saat menginggat itu.
“Mimi, maafin gue soal dulu! Gue mohon Mi”teriak Rudi memohon sambil berlari mengejarku
Akupun mempercepat lariku dan kebetulan saat itu aku melihat mobil pete – pete, aku langsung saja masuk dalam mobil itu dan menyuruhnya cepat jalan.
Mobil pete – pete itu berjalan, air mataku berjatuhan terus menerus membasahi pipiku yang agak putih. Diriku sekarang memang udah berubah , aku jadi putih dan mukaku sekarang sudah tidak ada jerawat lagi itu semenjak ibu tiriku selalu membawaku kepertawatan kulit jadi aku menjadi lebih cantik.

Di dalam mobil pete – pete ku baru sadar kalau penumpangnya hanya aku bersama seorang cowok yang pakaian sekolahnya mirip dengan Rudi.
“Mimi..!loh Mimikan”ujarnya bertanya padaku
“Yah..”jawabku dan saat itu ku perhatikan muka cowok itu dan menghentikan tangisanku. Disitu aku baru sadar bahwa cowok itu adalah Nino sahabat Rudi.
“hai Nino”ujarku menyapa dan bukannya membalas sapaanku tapi Nino malah bertanya “Mi , loh napa menangis! Apa karena Rudi . tadi gue lihat koh kamu sama Rudi berlari – larian”
Saat dia katakan itu , aku menangis lagi.Jantungku sesak banget , rasanya kepalaku puyeng benar dan belum sempat ku jawab pertanyaannya aku langsung jatuh pingsan.

^Rumah Nenek^
Mataku terbuka sedikit – demi sedikit di atas ranjang tidurku. Kulihat Rudi menitikkan air mata berada di sampingku dan saat dia melihatku mataku sudah terbuka diapun tersenyum senang melihatku.
“Mi, loh udah sadar”gumam Rudi padaku
“Kenapa loh ada disini. Loh keluar sana. Gue benci sama loh”teriak diriku yang kesal sekali.
“Mi, gue minta”belum sempat Rudi selesai aku langsung mem berontak dan lebih keras berteriak “Gue bilang loh keluar!”
Mamaku dan adikku begitupula dengan nenekku menyuruhku tenang tapi ku lebih memberontak dan saat Rudi keluar dari kamarku ditemani Didi akupun tenang. aku memang orang tidak baik , tapi ku tak bisa melupakan semuanya. Hatiku sakit sekali, sulit ku maafkan Rudi.

Satu minggu kemudian , aku duduk sendiri di taman memperhatikan mobil maupun motor berlalu lalang ditemani burung – burung berkicaun dan pohon – pohon yang menari – nari memberi semangat diriku. Aku yang terlalu fokus memperhatikan keindahan taman tidak sadar bahwa Rudi sudah berada di sampingku.
“Mimi”ujar Rudi yang membuatku kaget mendengar perkataanya, sontak saja ku berdiri dan bersiap untuk lari tapi tanganku ditahan olehnya dan Rudi langsung memelukku “Mi , gue mohon maafin gue. Loh tau smenjak kejadian itu gue baru sadar kalo gue itu mencintai lohh, saat tiada loh , gue tidak bisa menyukai siapapun. Hidup gue rasanya nggak berarti, Hanya loh yang ada di hati gue. Gue mohon maafin gue Mi , gue memang udah terlambat tapi bisakah kau mendengarkannya”
“Loh bohong Rudi, loh pasti suka gue setelah melihatku sekarangkan”ujarku tak percaya mendengar perkataannya “Gue nggak bohong, tatap mata gue. Tatap...?”ujarnya menyuruhku menatap matanya , akupun menatap matanya dan kulihat tiada tanda kebohongan darinya.
“Mi , maafin gue yah. Gue sayang banget sama loh. Jangan lagi menghindar dai gue, ku mohon! Dulu dan sekarang tiada bedanya loh. Gue tetap sayang loh gimanapun dirimu. Gue suka lohh dari dalam diriloh bukan diluar loh”ujarnya yang membuatku menitikkan air mata.
“Yah, gue juga sayang sama loh”ujarku
Hariku penuh dengan tawa yang indah tiada lagi kesedihan semenjak Rudi berada di sampingku. Cinta pertamaku itulah menjadi cinta terakhirku. Aku sangat menyayanginya, perasaanku yang sudah ku pendam 6 tahun tidak sia – sia.
RUDI.. I LOVE YOU:)

SEBATAS RASA UNTUK KITA

SEBATAS RASA UNTUK KITA
Karya Najla Putri Mawaddah
Ingin ku berlari jauh
Namun aku tak mampu
Bersembunyi darimu
Selaluku tepis bayanganmu
Tapi luka semakin menganga dalam kalbu
Kubiarkan semua apa adanya
Meski ku semakin larut dalam harapan hampa
Aku tunggu ketulusanmu
Walau harus selamanya
Aku memendam rindu. . .

Mungkin itulah sebuah curahan hatiku ini, yang dilanda kesedihan karena cinta. Padahal ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Namun, cintaku aneh. Mencintai dia, yang mempunyai saudara kembar yang membenciku. Ya, sosok yang aku cintai itu mempunyai saudara kembar. Namanya Angga dan Anggi. Anggalah yang aku cintai. Dia telah berhasil menarik hati ini, untuk mencintainya. Sedangkan Anggi. Huft, dari tatapannya aja, aku sudah bisa menilai, kalau dia membenciku. Entah aku sendiri juga nggak tau, apa salahku.
Sebatas Rasa Untuk Kita

Angin berhembus, menerpa wajahku dan menusuk tubuhku yang dibalut jilbab. Aku terus terduduk di rumput, sambil menatap gunung yang menjulang tinggi dari kejauhan mataku.
Pikiranku teringat pada kenangan masa SMP dulu.

Sampai di perpus. . .
“Nil? Loe dicariin orang tuh!” lapor Icha, sahabatku.
“Siapa?” tanyaku cuek.
“Hmm… siapa ya?” Icha pura-pura mikir, sambil menggodaku. Aku mengangkat satu alis.
Icha melihat sesuatu. “Sama dia!” tunjuk Icha pada Angga, yang baru menginjakkan kaki di perpus. Aku bengong. Benarkah yang dikatakan Icha ini? Angga menatapku sambil tersenyum. Hatiku entah mengapa, jadi cenat-cenut. Akhir-akhir ini, semenjak sering bertemu Angga selalu perhatian dan rajin ke perpus. Aku cuek, tidak mengubris. Toh pekerjaanku sebagai anggota perpus, masih menumpuk.
“Aku bantuin ya?” tawar Angga, dengan senyum tulus. Ia sedikit salting.
Tak kuat menahan senyum, akhirnya aku tersenyum juga buat dia. “Up to you.” Jawabku.

Dan benar saja. Angga membantuku. Ia tata rapih buku-buku yang berantakkan. Aku tersenyum melihatnya.
“Cie… cie…” goda Faris. Sahabat Angga. Aku dan Angga masa bodo. Memang persamaan kita disekolah itu, sama-sama cuek. Namun, walau Angga cuek, tapi banyak saja cewek-cewek yang mendekatinya.
Aku tersadar, sambil tersenyum mengingat itu. Mataku tetap menatap pemandangan gunung di kejauhan. Pikiranku kembali teringat kenangan masa SMP.

Waktu itu, aku sakit di sekolah. Perutku sakit dan kepalaku terasa pusing. Akhirnya aku dibawa ke ruang uks, dirawat oleh anak PMR kelas delapan. Tiba-tiba datang salah satu anak PMR, bernama Sufi.
“Kak, dapat surat nih!” katanya sedikit menggoda.
“Dari siapa?” tanyaku. Keningku berkerut bingung.
“Sufi udah janji, sama orangnya, nggak bakal ngasih tau namanya ke kakak. Maaf ya kak!” terangnya.
Aku heran, namun langsung kubuka saja surat itu, dengan perasaan campur aduk.

Mengenalmu
Anugerah dalam hidupku
Memilikimu
Itu yang selalu ku harapkan
Membiarkanmu berlalu
Tanpa sepatah kata pun
Yang terucap dari bibirku
Adalah suatu kebodohan dihidupku
Karena telat bagiku menyadari
Kau sangat berarti di dalam hidupku
Hanya secercah penyesalan
Yang bisa ku rasakan
Disaat ku kehilanganmu
Dan menyadarinya…
Semoga kamu cepat sembuh…
Keningku berkerut lagi membaca surat itu. Namun aku terharu dengan kata-kata di surat ini. Aku menatap kearah jendela yang tidak tertutup gorden. Tiba-tiba sosok yang aku rindukan selama seminggu ini, muncul. Angga. Ya, dia sedang berjalan disitu. Mataku menatapnya, hingga dia menoleh dan menatapku. Tatapan yang sulit untuk dilukiskan. Aku gugup. Segera saja, ku tundukkan kepalaku. Dan sekarang aku merasa ia telah pergi. Hari-hari ini juga, aku merasa dia menjauh dan menghindariku. Setiap bertemu, dia selalu melempar pandangan kearah lain. Dia juga sudah jarang ke perpus. Ada apa ini? Kenapa dia berubah seperti itu?

Tapi, setiap aku kenapa-napa, dia masih menunjukkan sikap perhatiannya. Seperti aku sakit sekarang. Dia menghampiriku dan ikut membawaku ke UKS. Setelah itu, ia pergi entah kemana. Aku tertidur di UKS. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang. Aku merasakan gerak-geriknya.
“Nggak tega juga, melihat kamu sakit begini. Kamu tau, aku memang cowok nggak jentel. Bertemu kamu aja, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku harap kamu cepat sembuh ya. Aku bawakan sesuatu buat kamu!” Ucap seseorang itu, terdengar seperti suara cowok. Dia menyentuh keningku, dan langsung beranjak pergi. Mataku terbuka sedikit. Sungguh aku kaget. Aku tak menyangka. Ku kucek-kucek lagi penglihatanku. Namun itu nyata. Sosok itu adalah Anggi. Cirri-ciri fisiknyalah yang membuat ku yakin. Tatapanku beralih pada meja yang ada disampingku. Ada kantong plastik yang berisi makanan. Aku jadi bingung dibuatnya.
Hari-hari itu, kulalui dengan sebuah kebingungan. Namun, tiba-tiba aku tertampar oleh sebuah luka. Aku mendengar dari sahabatku, Angga sudah punya pacar. Sakit rasanya. Dari situ, entah ada rasa kecewa yang mendalam, hingga membuatku berniat untuk melupakannya dan melupakan rasa yang dulu memenuhi hatiku.
***

“Ukhti, Nila?” panggil adik kelasku, Zahra.
Aku menoleh ke asal suara. Seketika pikiranku buyar. “Madza?” tanyaku.
“Ukhti, mudifah!” jawabnya memberitahu.

Aku heran. Baru seminggu kemarin aku dijenguk, tapi sekarang di jenguk lagi. Ada apa gerangan? Ya. Aku memang melanjutkan studyku di sebuah Pondok Pesantren. Semua itu, dengan niat menuntut ilmu dengan mengharap ridho Allah dan untuk membahagiakan orang tuaku. Walau telah lama ditambah jauh. Tapi, tetap saja sebuah kenangan masa SMP masih teringat dibenakku.
“Oh, na’am. Syukron, Zahra!” balasku.

Zahra tersenyum. Aku segera bangun dari duduk. “Mudifah, aina?” tanyaku lagi.
“Masyroh.” Jawabnya.
Ternyata aku di jenguk di trimbun. Dengan langkah cepat, kuhampiri keluargaku disana.
***

Di samping kanan, dekat saung. Ada sebuah mobil. Tapi bukan mobil, yang biasa di pakai keluargaku. Mobil itu, merek kijang innova silver, bukan avanza silver.
“Nila!” panggil ayahku.
Aku tersenyum. “Ayah?” ku hampiri ayah dan mamaku. Ku cium punggung tangan mereka dan pipi mereka. “Kok cepat banget mudifahnya?” tanyaku, yang sedari tadi, keheranan.
“Ada yang mau bertemu kamu, sayang!” terang mamaku, sambil tersenyum misterius.
Keningku berkerut bingung. “Man, ma?”

Pintu mobil terbuka. Lalu keluarlah sosok Ibu dan Bapak paruh baya. Aku langsung mencium punggung tangan mereka. Mereka tersenyum ramah padaku.
“Kamu cantik sekali, nak!” puji sosok Ibu paruh baya itu.

Aku hanya bisa tersenyum. “Terima kasih, Bu!”
“Bu, Pak! Lebih baik kita duduk disini dulu, sambil menunggu Nila dan Angga berbicara.” Jelas ayahku, yang dibalas langsung dengan anggukkan mereka berdua.
Aku kaget bukan main, mendengar perkataan ayahku tadi.

Hah? Angga? Apakah aku salah dengar? Angga ada disini? Jadi, Ibu bapak ini, orang tuanya Angga… dan … Anggi?
“Assalammualaikum!” sapa Angga, yang baru keluar dari mobil.

Aku makin kaget, ketika Angga sudah ada dihadapanku. Satu tahun lebih kita tidak bertemu. Kini, kita bertemu di suasana berbeda. Angga terlihat lebih dewasa, memakai celana jeans hitam, dengan kemeja biru dongker.
“Wa… waalaikum salam.” Balasku gugup, sambil menunduk memainkan ujung kerudungku.
Angga tersenyum. “Kamu kaget ya, dengan kedatanganku ini. Aku ngerti kok. Karena suatu sebab, aku dan orang tuaku menemuimu disini.” Terangnya.
Aku mendongak. “Untuk apa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Anggi.” Jawabnya singkat, namun mampu membuatku bagai tersengat aliran listrik.
***

Malu juga, berbicara dengan Angga di depan santri-santri yang juga sedang di jenguk oleh orang tuanya. Banyak yang ingin tau, sekedar bolak-balik, dan menatap. Aku risih. Lalu Angga mengajakku untuk bergabung dengan orang tua kita. Aku masih tertegun. Rasanya seperti mimpi Angga ada disini.
“Kamu kaget ya Nak, kami datang kesini?” ucap ayahnya Angga ramah. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.
“Sayang, kali ini mama sama ayah, mengizinkan kamu untuk pulang.” Ucap ayahku.
“Pulang? Lho, memangnya kenapa, Yah?” tanyaku heran.
“Kami sama-sama sudah mengerti soal ini. Ini soal rasa, nak! Kamu sudah menanjak dewasa sekarang. Angga pun begitu. Wajar jika misalnya kamu sedikit berkorban untuk orang yang menyayangimu!” terang mamaku.
Sumpah. Aku benar-benar nggak mengerti dengan perkataan mama ini. Tanpa disuruh, mamanya Angga menjelaskan. Dan penjelasan ini, mampu membuatku menitikkan air mata.
***

Di rumah sakit, didalam kamar cempaka dua. Mataku terpaku pada satu titik. Anggi. Sosok yang dulu terlihat kuat, dewasa, dan ceria. Kini menjadi sebaliknya. Gerimis juga hati ini melihatnya.
“Kanker darah yang dideritanya, sudah stadium lanjut. Dokter hampir pasrah dengan kondisinya ini yang semakin parah. Kamu tau, dia selalu mengigau menyebut namamu.” Terang Angga, yang duduk di seberangku. Kini, mataku berani menatapnya, walau sebentar. Mataku kembali menatap Anggi yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit.
“Benarkah yang dikatakan kamu ini, Angga? Sejujurnya, aku merasa Anggi membenciku.” Terangku.

Angga menggeleng kuat. “Tidak, Nil! Itu nggak benar. Anggi sebenarnya menyukaimu! Dia menyayangimu. Hanya saja, dia tidak tau, harus bagaimana menunjukkannya.”
Benarkah yang dikatakan Angga ini, Ya Allah! Ucapan Angga begitu meyakinkan. Tiba-tiba, jari jemari Anggi bergerak. Aku terkejut, namun lega.
“Nil… Nila…” lirih Anggi membuatku terkejut.
“Aku, disini Gi!” ucapku.

Mata Anggi melirik ke arahku. Ia tersenyum tulus. Hatiku bergetar. Ku balas senyuman itu. “Ma… ma… afkan… ak… ku…”
“Maaf? Untuk apa? Bagiku, kamu nggak pernah salah!” balasku, bingung.
“Ma… af. Jika se… la… ma… i… ni. Aku, mendiamimu! A… ku, men…yanyangimu, Nil!”

Hah? Anggi? Apa yang kamu katakan ini? Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku membisu.
“Wa… lau, ter… lambat ta… pi a…ku lega, Nil! Ma… ka… sih, u… dah mau nengok a… ku! Hhh…”
Grafik pendetak jantung, yang tadinya naik turun, kini berubah lurus beraturan. Itu adalah tanda, bahwa Anggi…
Ya Allah, aku mohon, izinkan Aku untuk melihat senyumannya lebih lama lagi! Aku mohon, kembalikan lagi nafas hidupnya, Tuhan!
Aku menangis. Baru kali ini, aku merasakan kehilangan. Walau sudah lama tak bertemu, Anggi tetap menjadi sebagian dari kisahku di masa SMP dulu. Ya Allah, ku mohon bahagiakanlah Dia di sisi-Mu!
***

Ku berjongkok di dekat pusara bernisan Anggi. Air mataku membulir. Disampingku, ada Angga yang dengan setia menemani. Kini tinggallah kami berdua yang menemani Anggi di rumah barunya.
“Kenapa kamu ninggalin aku, Gi! Kita belum lama berbicara, tapi kenapa kamu udah langsung ninggalin aku begitu saja. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih sama kamu waktu di UKS itu! Tapi aku selalu berdoa buat kamu, supaya kamu bahagia disana!” Ku elus lembut nisan Anggi. Aku masih terisak.
“Nil… kita pulang yuk?” ajak Angga, yang sedari tadi diam saja melihatku terisak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Kamu baik-baik disini ya, Gi! Kita harus pulang. Kita akan selalu berdoa untukmu!” ucap Angga. Suaranya terdengar berat.
***

“Nil?” panggil Angga dari belakang.
Sedari tadi, di perjalanan pulang, aku memang berjalan membelakangi Angga. Langkahku terhenti, ketika mendengar dia memanggilku. Aku menoleh. Kini tinggal jarak kira-kira sekitar satu meter yang membatasi kami.
“Ada apa?” tanyaku.
“Masih ingatkah kamu, dengan surat yang aku titipkan sama Sufi?”
Aku mengangguk. Sedikit terkejut mendengarnya. “Jadi, surat itu darimu?” tebakku, walau sangat yakin.

Angga mengangguk kuat. Ia terduduk di bangku yang ada di sampingnya. Kepalanya tertunduk. “Sudah lama, aku mencintaimu, Nil!” meluncurlah juga sebuah kalimat yang Angga pendam selama hampir dua tahun ini. Aku kaget bukan main. Tak menyangka, ternyata sosok yang mengajari aku jatuh cinta, juga mencintaiku.
“Maaf jika aku lancang dan baru mengatakannya sama kamu. Waktu itu, aku bimbang. Karena aku harus memilih diantara dua pilihan. Anggi yang semakin parah, atau cintaku. Aku sudah tau sejak lama, kalau Anggi menyukaimu. Walau dia tidak pernah melihatkannya. Buku diarynyalah yang memberitahuku. Disaat itu juga, aku mengalah. Kesembuhan Anggi dan kebahagiaan Anggilah yang aku utamakan, dari pada cintaku!” Terang Angga panjang lebar.

Aku terperangah mendengar penjelasan itu. “Lalu, kenapa kamu melampiaskannya dengan pacaran?” tanyaku akhirnya.
“Selama ini, aku tidak pernah pacaran, Nil! Tika hanyalah teman. Nggak lebih. Semua itu hanyalah gossip biasa.”
“Lalu, apa maumu sekarang?”
“Kejujuranmu.”
“Aku juga mencintaimu, Ga!” balasku akhirnya. Angga menatapku. Ia tersenyum mengembang. “Tapi aku nggak mau, cinta ini membawaku dalam kemaksiatan dan kesesatan.” Lanjutku.

Angga paham. “Sudah lama, aku memahamimu, Nil! Aku mencintaimu, karena Allah!”
“Dan karena Allah-lah, aku ingin tidak menjalin hubungan special denganmu!”
“Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Hati ni, untuk kamu!”

Aku terharu mendengarnya.
“Lalu bagaimana dengan cinta ini?” lanjut Angga.
“Kita tunggu sampai waktunya tiba. Aku yakin, kalau kita jodoh, pasti Allah akan mempersatukan kita.” Jawabku yakin.
Angga tersenyum dan mengangguk yakin. Kami percaya. Pasti, jika Allah berkehendak kami jodoh, kami akan disatukan. Dan pasti Allah akan selalu menuntun hati kami. Ya Allah, mungkin seperti inilah SEBATAS RASA UNTUK KITA!