Kamis, 07 Mei 2015

Kayla

Kayla menatap gusar ke halaman sekolah yang kini mulai dibasahi tetesan hujan. Memasuki bulan Januari hujan semakin menjadi-jadi. Perlahan awan hitam mulai menutupi sinar matahari seiring dengan berhembusnya angin kencang. Beberapa anak berlarian menerobos hujan atau berhimpit-himpitan memakai payung bersama. Sementara ada segelintir anak yang memilih menunggu hujan reda sambil berceloteh ria.
Kayla mendengus kesal. Dia tidak membawa payung dan kemungkinan hujan akan berhenti satu atau dua jam lagi. Perutnya melilit, pertanda penyakit maag-nya kambuh. Kayla duduk di bangku kayu di depan kantor guru seraya memegangi perutnya.
“Kok belum pulang?” terdengar suara cempreng di gendang telinga Kayla. Refleks Kayla menoleh. Di depannya sesosok tubuh jangkung tengah membungkukkan tubuhnya, sambil menatap Kayla ingin tahu. Fino.
Kayla membuang muka. Dia kembali menatap hujan yang semakin lama semakin deras, diiringi gemuruh dan kilat menyambar. Kayla menggigit bibir. Ayahnya hari ini sengaja menyuruhnya pulang cepat. Neneknya pasti akan mengomel jika dia pulang dalam keadaan basah kuyup.
“Ayo, aku antar! Payungku besar kok!”Tahu-tahu Fino sudah berdiri di tepi halaman sekolah, dengan tangan kanan yang memegangi payung.
Kayla memiringkan kepala penuh keraguan. Ditatapnya Fino yang tengah membuka payung berwarna hijau pucat itu. Jika dia tidak pulang sekarang juga Ayahnya pasti akan kecewa. Lagipula hari ini adalah hari yang penting untuknya. Ulang tahunnya yang ke-tigabelas.
Dengan sedikit enggan Kayla berjalan gontai ke arah Fino yang sedang menengadahkan tangannya di bawah air hujan.
“Hujan akan segera berhenti. Paling satu jam lagi.” gumam Fino. Kayla mencibir. Mereka berdua lalu menapaki trotoar sambil saling diam. Kayla juga tidak mengerti. Fino yang cerewet mendadak gagu begini. Sedangkan Kayla sendiri, tentunya dia memilih diam. Cap gadis anti-sosial memang sudah melekat pada dirinya. Jadi, untuk apa seorang gadis anti-sosial bersusah payah mengajak bicara orang yang kelewat ceria macam Fino? Kayla menggeleng keras.
Sejak Ibunya pergi dari rumah tiga tahun lalu Kayla mendadak menjadi gadis anti-sosial. Entah kenapa, sejak saat itu dia tidak ingin membangun hubungan dengan siapa pun, karena sedekat apa pun suatu hari nanti akan terpisah juga. Seperti dia dan Ibunya. Di kelas dia jarang berbicara. Waktunya dia dedikasikan untuk Ayahnya, yang sampai sekarang masih terpuruk karena kepergian Ibunya terlebih karena hutang-hutang yang membelit membuat Ayahnya harus bekerja siang malam demi membiayai hidup Kayla dan Nenek Kayla.
Sudah hampir lima belas menit mereka berjalan bersama. Gemuruh yang menggelegar dan percikan air hujan seakan membungkam mereka berdua. Akhirnya, mereka sampai di gang rumah Kayla.
“Antar aku sampai sini aja. Nenek bisa marah kalau tahu aku pulang sama kamu.” ujar Kayla datar. Baru saja dia melangkahkan kaki pergi ketika Fino meraih pergelangan tangannya terlebih dahulu.
“Ini bukan sinetron. Lepasin tanganku.” kata Kayla kesal.
“Rumah kamu masih agak jauh dari sini kan?” tanya Fino, masih mempertahankan tangannya. Kayla terdiam. “Kalau begitu, bawa payung ini.” Fino berucap lembut, lalu mengalihkan gagang payung ke tangan Kayla.
“Terus, kalau kamu sakit gimana?” Kayla menengadahkan kepala, menatap Fino. Aneh, kenapa mendadak dia mempedulikan Fino?
“Aku kan laki-laki. Udahlah, pulang sana. Oh iya, payung itu kamu simpen aja ya? Anggap aja hadiah ulang tahun dari aku.” Fino mengedip-ngedipkan matanya.
Sedetik kemudian Fino segera berlari menerjang hujan dengan tas selempang cokelat yang memayungi kepalanya. Kayla mematung di tempat. Fino… bocah itu tahu ulang tahunnya? Tanpa sadar kedua sudut bibir Kayla terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman.
***
Awan mendung bergerak ke arah utara. Sinar matahari perlahan-lahan mulai terlihat kembali. Rintik-rintik hujan berhenti berjatuhan dari langit. Bersamaan dengan itu, dering bel istirahat mulai menggema di setiap koridor sekolah yang lengang. Kayla berlari kecil, mencoba menerobos lautan murid yang semakin membanjir beberapa detik lalu.
Kayla lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Perpustakaan memang tempat tujuannya saat istirahat. Tempat yang tenang dan tidak terlalu ramai. Kayla baru saja meletakkan setumpuk buku ketika tiba-tiba Fino sudah ada di dekatnya.
“Tumben ke perpus.” cibir Kayla seraya memicingkan mata curiga. Pada jam-jam seperti ini Fino biasanya akan berlarian di lapangan basket bersama anak laki-laki lainnya atau sekedar makan soto di kantin sekolah.
“Di luar dingin. Lagian, aku pengen nemenin kamu.” Fino nyengir konyol.
Kayla terkesiap. Melalui kacamata minusnya Kayla menatap Fino yang kini tengah duduk santai sambil membaca buku sosiologi yang tadi dibawanya. Kayla mengerjapkan kedua matanya. Baru saja seakan ada yang aneh. Sesuatu yang menyengat sama ketika Fino tersenyum atau mengganggunya. Apa mungkin… dia menyukai Fino??
***
Untuk kesekian kalinya Fino melirik arlojinya. Dihembuskannya nafasnya berkali-kali. Matanya menyipit, mencari sesosok gadis yang seharusnya lima belas menit lalu sudah berada di sini. Ah, itu dia! Gumam Fino dalam hati. Mata bulatnya menatap ke arah Kayla yang tampak tegang, tidak seperti Kayla yang biasanya, Kayla yang tenang.
“Maaf, telat. Bukuku ketinggalan.” ucap Kayla lirih.
“Nggak apa-apa. Mau ngomongin apa?? Soal tugas kelompok seni rupa?” Fino menebak. Aneh ketika dia melihat Kayla bertingkah laku seperti ini. Kayla yang biasanya jutek dan pendiam mendadak manis seperti ini?
“Aku suka kamu.” tembak Kayla langsung. Fino memekik kaget tanpa suara. Ekspresi Kayla benar-benar berbeda dengan yang biasanya dan tadi. Kali ini kedua bola mata Kayla benar-benar menampakkan keseriusan.
“Sejak kapan kamu belajar ngelucu begini? Ini aneh!” Fino berujar, berusaha mengatasi perasaan canggungnya.
“Aku… serius.”
Fino menelan ludah. Sedetik kemudian dia tersenyum, menampakkan deretan gigi putihnya. Ditatapnya Kayla sekali lagi. Bahunya bergetar dan sorotan matanya benar-benar seakan meminta jawaban.
Fino menatap ke atas. Matahari beringsut turun, sementara langit perlahan-lahan bertransformasi menjadi jingga. Benar-benar indah, namun hatinya tidak sedang demikian. Kayla menunduk, menatap sepatunya.
“Maaf.” sepatah kata yang keluar dari bibir Fino sontak membuat Kayla mengangkat kepalanya. “Mungkin aku memang suka sama kamu. Tapi, sebagai teman.” lanjut Fino. “Kamu perlu seseorang yang lebih baik, yang lebih pintar dan keren, bukan orang yang kerjanya cuma lari-lari di lapangan basket sambil nyengir konyol.”
Kayla berusaha tersenyum. Tapi, alih-alih sebuah senyuman, air mata-lah yang keluar, menggenang di sudut matanya.
“Makasih. Aku belum pernah sebahagia ini.” Kayla berujar pelan. Baru saja, seakan sebuah beban berat telah terangkat dari pundaknya, bersamaan dengan jatuhnya air mata ke pipinya. Kayla melepas kacamatanya, lalu mengusap sudut matanya yang lembab.
Fino mengangguk, lalu menatap Kayla yang kini telah memakai kacamatanya. Sorot matanya kembali menajam. Entah kenapa, Fino lebih nyaman ketika melihat Kayla seperti itu. Dia menatap Kayla yang sudah berjalan beberapa meter di depannya.
Kebohongan baru saja diucapkannya. Fino menghela nafas.
“Aku suka kamu, Kay.” Fino bergumam, menatap sosok Kayla yang kini telah berjalan jauh di depannya. Kata itu, kata yang seharusnya dikatakannya tadi.


Cerpen Karangan: Putri Matsya Sabilla
Facebook: Phoetrie Matsya Sabilla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar