Rabu, 26 Agustus 2015

Deep In My Heart Part 3 Daun yang Gugur



          
Add caption
 
Baiklah semuanya mungkin sampai disini saja rapat kita hari ini, sebelum pulang alangkah baiknya kita berdoa sesuai kepercayaan masing masing, berdoa dipersilahkan”
“selesai, ucapkan salam”
Itulah kata yang selalu ku dengar dan ku ingat setah rapat berakhir, terkadang bila orang bertanya padaku “eh tadi rapat yang dibahas apa?” jawabanku pasti simple “gatau” Cuma satu kata itu yang selalu ku lontarkan, karna jujur saja, jarang sekali aku menyimak rapat, aku lebih suka langsung terjun kelapangan dari pada membahas semuanya dengan kata kata yang menurutku tidak terlalu penting, ya itulah aku yang sekarang yang perlahan mulai bosan dengan kata kata, apalagi kata kata manis yang pasti berujung memuakkan atau bahkan menyakitkan.
Satu persatu orang di ruangan ini mulai menghilang tapi tidak semuanya lenyap begitu saja, karna masih ada saja yang diam di ruangan ini walaupun ada beberapa yang langsung pulang, tapi ada juga yang menaruh tas mereka di ruangan ini lalu mencari jajanan terlebih dahulu ke kantin, atau bahkan ada juga yang masih duduk di ruangan hanya untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan waktu dengan teman teman satu organisasi, salah satunya adalah aku.
Pada saat rapat tadi aku memperhatikan seseorang yang membuatku heran, namanya fatma setahuku dia orang yang periang bagai sebuah pohon setengah baya yang rindang dan di penuhi daun daun hijau yang segar lalu tertiup angin dan melambai lambai, dia selalu tersenyum riang setiap saat apalagi bila sedang bersama ke 5 teman teman nya yang terbilang sangat kocak dan mengasyikan, tapi baru kali ini aku melihat auranya amat berbeda, sedari tadi dia hanya melamun dan terdiam dengan muka yang agak kusut seperti memikirkan banyak hal, dia seperti sedang dihadapkan pada sebuah masalah besar, tapi entahlah aku tidak terlalu yakin. Akhirnya aku coba memberanikan diri untuk menghampirinya saja, agar rasa penasaranku tak berlarut larut pikirku,

“hey ma”
“fatma”
aku mencoba menghampirinya dan memanggilnya, tapi fikirannya dia seperti sedang berada di tempat lain dan tidak menyadari bahwa aku memanggilnya,  lantas aku coba sekali lagi untuk memanggilnya sembari menepuk pundaknya
“hey ma, fatma”
“eh ga, maaf maaf aku ga nyadar kamu manggil” serentak dia trerkejut
“ ya ia lah orang kamu dari tadi melamun terus, kamu keliatannya lagi stress, ga biasanya? Ada apa ma? Lagi ada masalah?”
“eh eng engga ko, perasaan aku biasa aja, mungkin itu itu perasaan kamu aja” jawab nya terbata bata,
“ehh ma tapi bener loh dari tadi kau ngelamun mulu, ada apaan sih?”
Tanya teman nya aprilia, tapi kami sering memanggilnya uwek, setahu ku dia di panggil uwek karena dia sangat suka bebek, entahlah apa yang membuatnya begitu suka pada unggas yang satu itu, aku pun bingung tak begitu mengerti tapi sepertinya itu tidak begitu penting.
“alah palingan galau, hahahah. Cerita dong ma.”
 Lontar temannya satu lagi, namanya endah tapi kamu sering panggil dia uju, entahlah apa hubungan nya uju dan endah tapi itulah dia, cewe kocak yang fikirannya selalu kemana mana, oh iya ada 1 lagi teman fatma yang sama melanturnya seperti uju, namanya Fatimah tapi kami sering panggil dia dede, nah kalo yang ini di panggil dede karna dia emang yang paling muda, jadi kami sering panggil dia dede.
“pasti masalah dia lagi ya ma, udah mending kamu gak usah fikirin dia, belum tentu dia juga fikirin kamu loh”
tegas try, salah satu teman dekat fatma juga, mungkin di antara semuanya dialah yang paling dewasa dan lebih anggun, tidak seperti uju dan dede yang terkadang tomboy seperti laki laki, atau uwek yang terkadang seperti anak kecil, tapi sepertinya perbedaan ini lah yang membuat mereka selalu ceria sepanjang saat dan kebersamaan mereka seakan tidak tergoyahkan,
“engga ko bukan apa apa” jawab fatma
“aduh aduh ma, sama cowo ko galau, kalo tuh cowo macem macem hajar aja, ia kan ju”
“hahah ia de bener banget itu, cowo itu jangan di diemin kalo macem macem”
Dede dan uju pun mencoba menghiburnya dengan sedikit guyonan tapi hal itu justru membuat fatma semakin merasa terganggu,
“udah deh yah aku capek, lagian nenek suruh aku jangan pulang kesorean, aku duluan ya, gapapa kan?”
fatma pun bergegas mengambil tasnya  dan coba menghindari kami, biarpun teman teman nya belum menjawab fatma pergi begitu saja, dan serentak uwek dan try mengambil tas mereka dan mengejar fatma, sedangkan uju dan dede pun diam saja seperti orang yang tak perduli, tapi sebenarnya mereka ber 2 lah yang paling mengerti keadaan fatma.
“eh de, ju, ko ga ikut pulang?” tanyaku
“santai aja kali, kita berdua beda arah jadi ga pulang barengan sama mereka ber 3 palingan kalo barengan Cuma sampe pertigaan bawah aja” jawab uju dengan intonasi bicaranya yang sedikit unik,
“lagian aku nunggu dulu alay jemput, ngapain punya pacar kalo ga antar jemput hahahaha, angkutan umum jaman sekarang kan mahal jadi sebagai calon ibu yang baik kita harus bisa ngirit ngirit pengeluaran ia kan de hahahaha”
Canda uju itu lah yang membuat suasana menjadi mencair, dan sedikit lebih tenang,
“eh de kalo kamu pulang ke arah bawah kan?” Tanya ku pada dede
“ia ga emang kenapa?” jawab dede dengan heran
“ah engga, kalo gitu kamu mu pulang kapan? Kita ke bawah sama sama, aku ga ada temen”
“oh gitu, yaudah pulang sekarang aja yu”
“oke”
“eh ju duluan ya”
“oke gih sana pada pergi jauh, oh ia hati hati selamet di jalan ya hahahah”
Akhirnya aku dan dede pun pulang bersama karna memang kami se arah, di perjalanan dede banyak bercerita tentang fatma dan kekasihnya, dari dede aku tau bahwa fatma berpacaran dengan laki laki yang 1 tahun lebih tua darinya namanya iki dia sekolah di SMA yang berbeda, jadi fatma dan iki hanya bisa berkomunikasi lewat hp saja, mereka juga jarang bertemu, tapi belakangan ini sikap pacarnya berubah, dan itulah yang buat fatma jadi sedikit murung, dan tidak biasanya fatma sampai seperti ini, dia juga sama sekali tidak mau bercerita pada teman teman nya, walau sebenarnya dede lah orang yang paling dekat dengan fatma bahkan mereka selalu bersaing ber 2, bersaing di bidang belajar, adu ketekunan dan banyak lagi, bahkan mereka selalu curhat masalah penting hanya ber 2 saja, saking dekatnya orang tua mereka juga sudah saling mengenal satu sama lain.
Akhirnya aku putuskan untuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya pada fatma, entah ada angin apa tapi kejadian tadi membuatku penasaran, aku pun mendapat nomor handphone fatma dari dede, dan malam harinya ku coba untuk mengirimnya pesan, tapi tak juga kunjung dapat balasan. Hingga setelah beberapa hari ku tunggu tapi tak juga ada balasan aku mencoba menyerah, aku fikir mungkin dia ingin menyimpan dan menyelsaikan masalahnya sendirian lagi pula apa urusannya juga aku perduli padanya, tapi ternyata tuhan memiliki cerita yang berbeda, saat itu sepulang sekolah aku berniat untuk pergi ke kantin sebelum pulang karna rasanya tenggorokan ku ini amat kering dan minta di siram segelas jus segar, di perjalanan ke kantin aku  melihat fatma duduk sendirian di depan kelasnya dan kebetulan kelasnya tepat berada di depan kantin sekolah hanya saja posisi yang saja yang berbeda, kantin menghadap kelas sedangkan kelas menghadap kearah yang berbeda, saat itu aku heran bukan main, mengapa bisa dia sendirian, lantas kemana teman temannya? Biasanya meeka kan seperti perangko yang saling menempel satu sama lain, aku tak begitu menghiraukan hal itu dan saat itu juga aku bergegas pergi ke kantin membeli 2 botol air mineral, dan mencoba menghampiri fatma,
“hey, lagi lagi ngelamun, nih” sambil ku sodorkan sebotol air mineral yang barusaja ku beli
“eh kamu ga, siapa juga yang ngelamun, apaan ini? Aku ga haus ah”
“idih jelas jelas kamu lagi ngelamun ma, yakin gak haus, udah pegang dulu aja nih” kembali aku berikan sebotol air mineral itu
“ah ngga juga, yaudah deh kalo kamu maksa” akhirnya fatma pun mau mengambil air mineral yang ku berikan tapi hanya menaruh botol itu disampngnya saja.
“yaudah, mau kamu ngelamun atau ngga, atau merenung mungkin aku ga peduli, tapi hal yang buat kamu ngelamun itu yg buat aku peduli sama penasaran, cerita dong ma”
Fatma pun hanya terdiam seperti tidak memperdulikanku, aku pun terus menunggunya dan sedikit bertanya terus menerus padanya, akhirnya setelah beberapa lama dia mulai buka mulut dan mau bercerita pada ku
“tapi kamu janji ya jangan bilang siapa siapa”
“yaelah aku ini cowo, mana mungkin mulut ku ember, tenang aja kamu bisa percaya sama aku ko”
Akhirnya fatma mulai bercerita perlahan, saat itu juga ada yang ku sadari, bahwa sebuah hubungan tanpa masalah itu hanya omong kosong, fatma terus bercerita padaku, tentang hubungannya dan apa yang sekarang ia rasakan saat itu, aku sendiri sedikit mengerti bagaimana rasanya saat pasangan kita mulai berubah menjadi orang lain seperti ega, yang tiba tiba saja berubah dan meninggalkanku dulu, sejak saat itu kami mulai saling berbagi cerita, saling memberi nasihat, sering menghabiskan waktu bersama, tak jarang aku ikut gila gilaan bersama ke 4 temannya yg  menurutku sangat luar biasa, bahkan aku sampai ikut ikutan berkumpul bersaman anak anak PMR dan menjadi anggota yang tidak resmi, semua itu karna fatma ketuanya jadi apa boleh buat aku pun perlahan masuk ke dunianya, banyak hal yang aku dapatkan dari kebersamaan kami, keceriaan, persahabatan, kebersamaan, dan banyak lagi hal lain yang luar biasa, tak terasa sudah 3 minggu lebih aku bergabung dengan para wanita gila ini, dan perlahan keceriaan fatma mulai kembali dan semuanya berlalu amat cepat, di satu sisi aku mulai merasa memiliki keseharian baru di sekolah, seperti ada yang mengisi kekosonganku dan yang terpenting adalah si periang perlahan kembali.
Tapi itu tak lama, sampai pada suatu saat seseorang merenggut keceriannya lagi, di hari itu aku ingin mencoba mengajak fatma dan teman temannya pergi kekantin, sepulang sekolah aku segera menuju ke kelasnya, tapi apa yang ku lihat membuatku mengurungkan niat ku, uwek, uju, dede, dan try tengah duduk seperti merenung di depan kelas fatma, dan di dalam kelas si periang tengah menangis sendirian, entah apa yang terjadi padanya dan entah apa yang membuatku perduli padanya tapi apa yang ku lihat saat itu membuatku bisa merasakan kesakitan yang ia tanggung sendirian, akhirnya aku mencoba masuk tapi teman teman fatma menahanku, lagi pula mereka bilang bahwa pintunya dikunci dari dalam, aku coba menanyakan pada teman temannya, apa yg sebenarnya terjadi, tapi tak ada yang tau apapun. Setau mereka setelah fatma menelpon pacarnya ia tiba tiba menangis dan jadi seperti ini,  kini aku hanya bisa melihatnya dari balik jendela di luar kelasnya, sampai akhirnya aku memutuskan mencoba sesuatu yang sedikit aneh dan gila, tapi aku fikir ini akan berhasil,
Aku mengambil buku dari tasku, dan aku tuliskan sesuatu disana, lalu ku sobek kertas itu, aku remas hingga bentuknya seperti bola, lalu aku lempar kan ke meja fatma lewat celah fentilasi udara di atas pintu, awalnya dia tidak menghiraukannya, tapi aku terus mencobanya, sampai akhirnya dia coba mengambil salah satu kertas yang mendarat tepat di depannya dan mulai membaca
“di kecewakan? Kehilangan? Apa kecewa mendatangimu?
Jika sakit menangislah, biarkan air mata menjagamu,
Lepaskan, jangan menyimpannya, menagislah.
Sampai kau tau dan menyadari berapa banyak kau telah di sakiti,
Bila takada yang bisa kau ajak berbagi maka menangislah.
Dan kau tak akan tau bahwa air matamu hanya terbuang sia sia”
“sadarilah”
 “menangislah hingga kamu tak tau apa gunanya kami, yang menunggu ceritamu untuk berbagi di sini”
Itulah hal yang ku tulis, kata yang berasal dari bait bait lagu yang ku pikir memang cocok untuk saat seperti ini. Akhirnya fatma menoleh pada kami yang hanya bisa melihatnya dari jendela, aku pun menuliskan lagi 1 kalimat dan kembali melemparkanya pada fatma,
“kamu bilang cinta itu seperti pohon yang kita tanam dan rawat sendiri, kita sirami, kita pupuk,  hingga ia tumbuh berbunga dan berbuah, tapi saat semakin ia tinggi semakin keras pula angin yang menerpa, tapi masih ada tanah tempat akar akar pohon itu berpegang erat, dan kami mau jadi tanah yang bisa menopang pohon itu, kemarilah biar kita tanggung semuanya bersama sama”
dia pun mengambil kertas terakhir yang ku lempar dan membacanya, ia pun bangkit dari duduk nya dan membuka pintu lalu memeluk ke 4 sahabatnya sambil menangis,
Di satu sisi aku senang akhirnya dia mau keluar dan berbagi bersama temannya, tapi di satu sisi aku tak mau berada disini dan merusak momen mereka ini, aku putuskan untuk pergi kekantin saja, lagi pula perutku sudah berontak menagih jatahnya sedari tadi.
15 menit sudah aku duduk di sini di depan kantin sekolah sembari menyantap mie instan pesananku yang baru saja datang, sebelum sempat ku menghabiskan makanan ku dede memanggilku dan meminta aku mengikuti dia, tapi aku tidak menghiraukannya, hingga akhirnya uju lah yang datang menyeretku, aku heran bukan main, ada apa sampai mereka menyeretku seperti ini. Ternyata mereka memintaku menghampiri fatma karna sedari tadi dia tak juga kunjung mau buka mulut, dia Cuma bilang hal hal yang tidak perlu saja, tanpa aku sadari ternyata try, uju, uwek, dan dede meninggalkan kami berdua saja, dengan alasan yang beragam dan amat tak bisa dimengerti dengan akal sehat, akhirnya aku pun mengajak fatma pulang, sebelum itu dia sempat sedikit bercerita terlebih dahulu, itu pun setelah aku mati matian bertanya dan akhirnya dia mau buka mulut, lantas kami pun pulang bersama hingga akhirnya arah yang memisahkan kami,
Matahari yang sedari tadi bersinar di cakrawala kini mulai kelelahan dan menghilang, bintang bintang pemalu mulai menampakkan kecantikan dan keanggunan mereka di kaca langit malam, sang bulan merenung di atas sana dan tak begitu menunjukan sinarnya, aku sendiri terduduk menatap mereka disini, semenjak ega pergi aku selalu melakukan hal ini, bahkan sebelum ke mengenal ega aku sering menatap langit malam, entahlah tapi hal itu membuatku tenang, tapi malam ini berbeda, aku masih memikirkan yang tadi sore fatma katakana padaku, dia bilang bahwa sepulang sekolah tadi ia berencana menelpon kekasihnya dan mengajak nya bertemu untuk menanyakan kejelasan hubungan mereka, tapi apa lah dayanya, ternyata yang mengangkat telpon fatma itu seorang wanita dan mengaku kalau dia adalah pacar iki, fatma sangat terpukul lalu menutup telpon nya, dan tak lama iki menelpon fatma dan dengan mudah dan sepelenya iki mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
Angin malam yang berhembus, bulan yang tak menampakan diri, dan bintang bintang yang entah, itu yang ku lihat di cakrawala malam ini, sedari tadi aku tak bisa berhenti memikirkan masalah yang dihadapi oleh fatma, bila aku jadi dia lantas apa yang akan aku perbuat?
 Apa aku akan sekuat dia?
Pohon rindang yang bediri kokoh dan anggun kini tengah berada di musim kemarau panjang, daun nya mulai menguning satu persatu, dan batang nya mulai mongering pula, akankah dia bisa bertahan? Semoga saja hujan segera turun dan memberinya kelanjutan hidup.
 Ega dulu melakukan hal yang sama padaku, dia juga memilih laki laki lain, bedanya aku yang memutuskan megakhiri semuanya, tapi apa yang fatma alami lebih menyakitkan daripada apa yang ku alami, dan akhirnya terlintas di benakku untuk menghiburnya saja, karna itulah yang dulu ku butuhkan juga saat dulu ega tak lagi bersamaku tapi tak ada satupun orang yg perduli padaku, maka dari itu aku ingin mencoba menghiburnya saja agar dia tidak merasa apa yang kurasa dulu, sesegera mungkin ku ambil ponselku dan mengirim fatma pesan singkat, dan dengan cepat aku dapatkan balasan, aku pun  mencoba terus memperpanjang percakapan jarak jauh ini, banyak hal yang kami bahas, dari hobi, kegiatan, keluarga, kesukaa, dan banyak lain nya, bahkan hal hal yang tidak penting turut meramaikan hasana pesan singkat kami, sampai akhirnya waktu menyadarkan kami bahwa tubuh kami sudah pada batasnya dan harus beristirahat dan mata seolah meminta jatahnya untuk beristirahat  tapi sebelum dia mengakhiri percakapan kami, aku coba mengajaknya berangkat bersama besok tapi dia tidak kunjung membalas, akhirnya aku putuskan untuk tidur dan menaruh ponselku.
Pagi telah kembali, sang surya memberikan sapa yang indah dan sinarnya membuat ku terbangun, bergegas ku lihat jam di kamarku, aku terkejut begitu melihat jarum jam menunjukan pukul 06.19, lantas aku sesegera mungkin bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi, setelah selsai mandi dan membereskan kamarku aku segera meraih tas punggungku dan sesegera mungkin melangkahkan kaki untuk berangkat kesekolah, tanpa sedikitpun menghiraukan perutku yang sedari kemarin sore belum terisi apapun. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan angkutan umum, di perjalanan aku mencoba sedikit melirik ponselku, barang kali ada yang menghubungi, dan ternyata itu hanya anganku saja, seperti biasanya ponsel ini seperti tidak berguna lagi karena tak ada satupun pesan atau pemberitahuan apapun. Setelah 45 menit perjalanan akhirnya aku sampai di pertigaan sekolah, masih sekitar 150 meter lagi perjalanan yang harus ku tempuh, dan itu semua hanya bisa ku tempuh dengan berjalan kaki atau naik ojek, seperti biasa aku lebih memilih berjalan kaki karna sekaligus untuk olah raga pikirku, biarpun sedikit melelahkan tapi tak apalah itu semua sudah menjadi hal rutin yang kulakukan setiap harinya, hanya saja ada yang berbeda di hari ini, yaitu jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 07.04, hanya tinggal 11 menit lagi bel sekolah pasti berbunyi dan aku akan terlambat, maka aku mencoba untuk berjalan lebih cepat  dan sedikit berlari lari kecil namun baru saja beberapa langkah aku berjalan ada seseorang yang memanggil ku, akhirnya aku pun menoleh, dan ternyata itu fatma, dia segera menghampiriku, ternyata dia juga terlambat datang karna terjebak macet, akhirnya kami putuskan untuk sesegera mungkin sampai ke sekolah, meski kami berdua harus berlari tapi tak ada lagi yang bisa kami perbuat, mungkin itu lah salah satu perjuangan seorang pelajar, meskipun guru sering mengatakan “tiada kata terlambat untuk menuntut ilmu” tapi tetap saja bila terlambat datang kesekolah pasti dapat hukuman.
Sampai juga kami di gerbang SMA tercinta, tepat sebelum bel berbunyi yang menandakan bahwa guru akan segera keluar dari markasnya dan mulai menyerang kami dengan materi dan rumus rumusnya, di gerbang sekolah aku dan fatma berpisah karena kelas kami terletak di tempat yang berbeda dan memang terpisah lumayan agak jauh, sesampainya di depan kelas kulihat semua temanku masih asyik bermain, ada yang mengobrol, bermain hp, bermain komputer, aja juga yang menonton TV, tidak seperti biasanya kelas ini berpencar, biasanya mereka selalu duduk membentuk lingkaran yang tidak sempurna dan berpusat pada beberapa anak wanita yang mengerjakan pr ditengah, itu lah kami dengan kekompakan yang terbilang sangat kompak apa lagi dalam hal mencontek sepeti itu, pastilah kami sangat handal, oh ia aku duduk di kelas ipa B dan kelasku terbilang kelas unggulan maka dari itu fasilitas kelas ku lengkap seperti ini, meski terbilang unggulan tapi hanya fasilitas dan kebersamaanlah yang membuat kami unggul, bila masalah otak dan nilai kami sama saja dengan murid lainnya.
Aku pun segera masuk dan mengambil kursi lipat lalu menaruh tas ku disana, setelah 5 menit  ternyata guru yang mengajar di jam pelajaran pertama ini belum datang juga, aku sedikit agak tenang dan sesegera mungkin mengeluarkan buku PR ku, jujur saja aku belum mengerjakan PR karna aku paling sulit bila harus belajar di rumah, jadi setiap pagi begitu aku sampai aku selalu langsung mengerjakan PR atau bahkan bila terdesak aku hanya menyalin pekerjaan temanku saja tapi bukan cuma aku yang seperti itu, kedua teman baik ku pun sama saja, karna kegilaan itu kami bertiga sering di juluki sebagai “three idiot” kelakuan dan kegilaan kami di kelas memang sedikit janggal tapi kami selalu lolos dari masalah, begitu baru saja aku membuka buku PR ku dan hendak mengerjakannya ketua kelasku datang membawa buku paket, dia bilang guru yang harusnya mengajar di jam pertama ini sedang sakit dan tidak bisa hadir jadi dia memberikan tugas mencatat saja, betapa lega nya hatiku begitu mendengar pengumuman itu, karna aku tak perlu terburu buru mengerjakan atau sebut saja menyalin PR temanku, dan aku bisa sedikit bersantai.
Hari ini cuaca begitu pasan, mentari mungkin sedang tak bersahabat dengan awan sehhingga dia bermain sendirian saja di cakrawala, waktu tak terasa sudah menunjukan pukul 13.00 dan beberapa menit lagi bel pulang akan segera berbunyi, tapi aku tak bisa langsung begitu saja pulang karna hari ini jadwal untuk ekstrakulikuler PMR berlatih, dan entah dari mana dan bagai mana aku jadi anggota disana, mungkin karna aku sering bersama fatma dan kelompoknya jadi aku ikut terbawa bawa mengikuti ektrakulikuler ini.
Akhirnya bell pulang pun berkumandang dan itu artinya para guru harus kembali kemarkas mereka, sekaligus melenyapkan penderitaan akan angka dan teori yang mencengkram kehidupan kami sebagai pelajar setiap harinya, aku segera merapikan buku dan alat tulisku lalu memasukannya kedalam tas, sejenak aku merasa ada yang aneh dengan tubuh ku, tapi mungkin itu hanya perasaan ku saja, lantas aku pun segera menggendong tas punggung ku dan segera bangkit dari tempan duduk ku, tapi begitu aku setengah berdiri perutku seolah ada yang menusuk, hingga membuat aku kembali terduduk, sebenarnya kenapa ini, tidak biasanya perutku kesakitan seperti ini, ternyanya aku baru menyadari bahwa tadi pagi aku tak sempat sarapan karna terburu buru, dan pada jam istirahat pun aku tidak keluar karna harus mengerjakan pr yang belum sempat ku kerjakan. Perlahan aku mencoba bangkit tapi sakit itu semakin menjadi, lama kelamaan aku tak perduli lagi dengan rasa sakit ini dan mencoba untuk bangun, perlahan aku berjalan ke kantin dan membeli beberapa makanan di sana, setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa aku harus segera ke tempat kumpul anak anak PMR, tapi aku tidak bisa kesana bila perutku masih berontak seperti ini, dan aku putuskan untuk diam di kantin saja sambil mengistirahatkan perut ku dan berharap rasa sakit nya sesegera mungkin hilang.
2 jam sudah aku masih terduduk di sini menahan sakit, hanya ibu kantinlah yang sesungguhnya tau apa yang ku rasa saat ini, dan baru saja aku berfikir untuk pulang fatma dan ke 4 sahabatnya pun datang bersamaan, tanpa tau apa apa uju dan dede mengajak ku bercanda dan mereka bernyanyi nyanyi ria, tapi dalam keadaan seperti ini mana bisa ku layani candaan mereka, dan dalam waktu yang hampir bersamaan uwek bertanya padaku, suaranya tak begitu terdengar jelas karna suara uju dan dede lebih nyaring,

“tadi kenapa gak kumpul ga?” Tanya uwek padaku
“hah? Apaan wek ga kedengeran,”
“Tadi kenapa gak ikut kumpul”
Suara itu datang dari arah yang berbeda dari tempat uwek berdiri, dan setelah beberapa saat aku baru sadar kalo itu seara fatma yang ada di belakangku,
“oh itu, tadi sakit perut jadi gak ikut kumpul, soalnya males”
“ah sakit apa males” ledek uju padaku
“gatau hahahahaha” jawabku sekenanya,
“sakit perut kenapa emangnya ?” Tanya dede padaku
“eh itu tadi pagi kesiangan jadi lupa sarapan, jadinya gini deh”
“kamu kenapa ga sarapan? Jangan di biasaain ga baik tau” 
fatma pun mengoceh sedikit tak begitu jelas, karna dia berbicara tanpa melirik sedikitpun kearah ku, dia malah asik membumbui makanan nya yang baru selesai di masak, tapi entah kenapa, karna kehadiran orang orang gila ini sakit perut ku mendadak tak terasa lagi, dan kami pun akhirnya berbincang bincang dan sedikit bercanda tawa sambil menyantap makanan yang tadi kami pesan.
Langit biru yang tercemar, Cahaya sang surya yang mulai memudar, warna kuning terang kemerahan yang membuat langit begitu cepat berubah warna, tak terasa sore telah tiba, canda dan tawa kami pun mulai reda setelah sekian lama berada di kantin ini, langit yang berubah menjadi kuning kemerahan seolah menandakan waktu berpisah telah tiba, akhirnya kami mulai bergegas untuk membereskan tas masing masing dan segera pulang, di perjalanan kami berpencar seperti biasa, fatma, uju, try, dan uwek pulang bersama karena mereka memang satu arah, sedangkan uju menunggu alay menjemput seperti biasanya, aku kebetulan pulang bersama dede lagi, karna memang satu arah, perpisahan seperti ini memang sudah biasa ku alami karna memang setiap pulang bersama mereka kami harus berpisah, tapi ada yang aneh dengan sore ini, seolah aku masih merindukan candaan mereka, di perjalanan dede sedikit meledek ku, dia bilang akhir akhir ini sikap ku sedikit berubah, yang tadinya pendiam dan sering menyendiri kini telah berubah jadi sesosok makhluk yang entah mengapa selalu melontarkan kata dan tingkah yag menggelitik kulit perut, dan perlahan aku memang merasakan perbedaan itu, seolah aku yang sekarang memiliki 2 peranan dalam hidup, menjadi orang yang pendiam dan sedikit bicara di luar, dan menjadi orang konyol di organisasi, tapi hal itu justru yang mulai membangun kembali mentalku yang sempat jatuh karna cinta, sekarang setiap malam aku seolah tak sendirian lagi, selalu ada teman untuk berbagi cerita dan berbagi masukan, bahkan sampai membahas segala hal yang menyenangkan dan semua itu berjalan begitu cepat seolah tak ada jeda untuk bersedih dalam kebersamaan kami, seperti langit di malam ini, sang bulan yang bersinar di sertai lengkungan manis senyum nya, bintang bintang yang menari nari dengan cahaya indah disamping nya, bahkan hembusah angin malam yang melambai semakin menyejukkan hati, awan tak lagi berani menutupi kebahagiaan yang di lukiskan tuhan di cakrawala malam ini, sungguh indah semua yang tuhan lukiskan di sana, tapi aku tak bisa berlama lama menikmati keindahan malam karena kasur dan selimut sudah menyiapkan pelukan hangan mereka yang akan membawaku ke alam mimpi, alam yang rutin ku kunjungi dan kujelajahi setiap malam nya, akan tetapi sebelum itu aku coba untuk melihat hp ku untuk menyetel alaram, tapi ternyata ada yang membuatku mengalihkan niat itu, disana tertulis 2 pesan masuk, aku coba membukanya dan ternyata oprator yang mengirim ku pesan itu, padahal aku sedikit senang dan berharap itu pesan dari fatma, tapi ternyata oprator lebih perhatian dan ramah padaku, karna sering sekali dia mengirim pesan hanya karna untuk mengucap kan terimakasih, padahal aku tidak melakukan apapun hanya mengisi pulsa rutin karna aku memang memerlukannya, tapi apa daya oprator memang terlalu baik dan perhatian, tapi sayangnya dia tidak hanya baik pada satu orang tapi banyak orang, mungkin dia tipe yang kurang setia pikirku, baru saja beberapa detik aku menaruh hp ku seketika itu hp ku bergetar menandakan sms masuk, pikiran ku tak lagi berpikir yang aneh aneh dan hanya menyangka bahwa oprator pasti mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat, aku segera melihat ponselku dan ternyata benar, disana ada sebuah pesan, dan bertuliskan

 “selamat malam, udah tidur ya? Selamat beristirahat”
Tapi ada yang beda begitu aku baca pengirimnya, dan itu bukan dari oprator, tapi dari fatma, aku sedikit terkaget begitu membacanya, dan tumben sekali dia mengirim pesan seperti ini, biasanya hanya ledekan dan curhatan dia yang mengisi hasana percakapan pesan kami, tapi malam ini berbeda sekali, akhirnya aku segera membalas pesan darinya, tapi setelah setelah 10 menit tak kunjung ada balasan juga, akhirnya ku mengim nya pesan lagi
“gak di bales cerewet kamu ma, di bales malah di tinggal tidur, salah apa aku sama kamu ma -_-, yaudah lah ya selamat istirahat aja embem”
Setelah pesan terkirim aku memutuskan untuk kembali lagi ke pelukan kasur dan selimut hangatku, dan sesegera memesan tiket  menuju dunia mimpi.
Embem, sebuah panggilan yang entah mengapa aku gunakan untuk meledek fatma mungkin karna dia sedikit tembem, padahal panggilan itu adalah panggilan ku pada ega dulu, meski di satu sisi aku merasa ada yang berbeda dengan hati ku, tapi hal itu tidah begitu jelas, apa hati ini bahagia? Atau hati ini bersedih? Yang jelas dia tak lagi merasakan sakit, dan perlahan mulai menggebu gebu seperti dulu, sejak bertemu fatma dan teman teman nya hati ku perlahan berubah bahkan sikap ku juga ikut berubah, entah mengapa malam malam yang biasanya terasa hampa dan kosong seolah menjadi malam yang begitu indah, padahal tak ada yang berubah dengan malam malam ku ini, semua masih sama seperti malam malam ku sebelumnya, tapi seakan ada hal baru yg membuatku semakin merasakan hal yang aneh dan sepertinya hatiku ini malah meyukainya.
Pohon yang kekeringan mungkin kini menjadi semakin rapuh, kemarau yang tak kunjung berakhir membuat daun yg menguning kini telah perlahan berjatuhan, ranting yang semakin rapuh tak mampu menopang beban lagi, daun daun yang berguguran berserakan di tanah, setelah pohon itu mencapai batasnya ternyata tuhan memberinya hadiah luar biasa atas kesabarannya, hujan yang deras kini menyiraminya, tunas baru mulai tumbuh, dan dau yang gugur mrnjadi pupuk bagi benih benih di masa yang akan datang, sungguh rencana tuhan memang tak bisa di tebak, setiap alurnya begitu sempurna.
Tubuh yang sedari tadi kelelahan tak kunjung mau beristirahat, mata yang hampir menutup  jadi terbuka lebar, perjalanan menuju alam mimpi sepertinya akan tertunda malam ini, pikiran ku terus melayang kemana mana, meski tubuh sudah terbaring di pelukan hangat sang selimut tapi mata ini masih teguh terbuka menatapi langit lagit kamar, pikiran yang kelelahan malah memikirkan kembali kejadian tadi sore, ketika kami berpisah, ketika aku dan fatma berpisah sepulang sekolah, seolah aku melihat sosok lain di diri fatma saat dia pergi dan melambaikan tangan nya, dia mengingatkan ku pada sosok wanita yang dulu pernah ku kagumi saat ku masih duduk di kelas 1 SMP, ya sekarang aku ingat, namaya sari, sosok wanita tekun yang ku kagumi, dan karna nya aku banyak melakukan hal hal yg terbilang konyol, bahkan sampai sampai aku akrab dengan tukang ojek karnanya, tukang ojek itu masih sangat ku ingat, dia sebaya dengan ku tapi mungkin dia 2 thn lebih tua, namanya eful, aku selalu mengingatnya karna hampir setiap hari dia menagantarku melakukan hal hal gila, dan mungkin dia satu satunya selain tuhan yang menjadi  saksi kegilaan ku saat SMP.
Segala ingatan ku tentang sari akhirnya membuat ku bangkit dari tempat tidurku, aku bermaksud mencari cari sebuah buku binder, buku itu adalah buku yang sangat berarti bagiku aku menjaganya dari pertama aku masuk ke sekolah dasar, dan setiap ada hal yang menyenangkan ataupun hal yang menurutku akan menjadi sejarah dalam hidupku, pasti akan ku simpan benda yang membuatku mengenang hal itu di sana, akhirnya binder itu ku temukan juga setelah beberapa menit mencari.
Debu kotor yang menghiasi binder kini sudah ku musnahkan, lantas aku segera membuka halaman pertama, dan di sana terselip sebuah kertas dengan coretan tinta warna merah terang yang menghiasi baris demi baris dalam kertas itu, rangkaian huruf yang berjajar, tanda titik dan koma yang seolah menyuruhku beristirahat membaca dan mengenang semua kejadian yang ku alami dahulu ,rangkaian kata yang begitu jelas di beberapa bait awal dan kalimat yang membuat semua kenangan masa itu terbayang dengan jelas
“aku tau, aku mengerti, aku juga hargai semua ini, tapi, kehadiran kamu malah buat aku terdesak, keluarga ku melarang aku untuk terlalu dekat dengan laki laki (sampai sekarang aku masih berfikir kalo kata yang ini hanaya alasan saja), dan tolong mulai sekarang kamu jangan ganggu hidup aku lagi, lebih baik kamu menjauh bukan karna aku gak mau kita berteman tapi aku gak mau malah buat kamu tersiksa aku ingin focus pada study ku {dan ini satu lagi alasan yang menurutku sedikit menggelitik}”
Itulah tulisan yang tertera di kertas itu, bekas tetesan air hujan yang membuat beberapa huruf memudar juga ikut menghiasi kertas nya, tulisan ini akhirnya membuat aku mengingat semuanya hal konyol yang dulu kulakukan, memang memilukan, tapi itu dulu, sekarang kenangan ini malah bisa membuatku tertawa lepas,
Semua kenangan itu dimulai saat aku menyadari satu hal dalam hidup, yaitu cinta tapi aku pikir ini bukan seperti cinta yang belakangan ini ku rasa, ini lebih cenderung bisa di sebut cinta monyet masa SMP,
Saat itu hujan turun lebat, bell pulang telah bordering 5 menit yang lalu, aku pun sedang menunggu eful menjemput ku, rencananya hari ini kami mau mengikuti sari dan mencari tau dimana rumahnya, hingga akhirnya sari pun lewat dihadapanku tapi dia segera menaiki angkutan umum yang segera berangkat, hati ku bertambah gelisah karna takut kehilangan jejak namun setelah 7 menit mobil itu berlalu  eful segera datang dengan motornya, lantas kami segera bergegas, walau air hujan melarang kami untuk berangkat tapi itu bukan alasan yang bagus untuk melewatkan hari ini, akhirnya setelah eful memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi kami melihat angkutan umum yang sepertinya di naiki sari tadi, dan eful memperdekat jarak kami namun sayang setelah ku perhatikan sari tidak ada di mobil itu, seketika mobil itu berhenti dan ada seorang penumpang yang turun, setelah kuperhatikan orang itu, dia memakai tas kuning, baju putih, rok biru dan memakai kerudung, akhirnya harapan ku mulai tumbuh setelah ku perhatikan lagi ternyata itu dina teman sari padahal aku sangat berharap kalo itu sari jadi aku bisa segera melanjutkan rencanaku tapi ternyata semua tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, akhirnya aku menyuruh eful bergegas, siapa tau dia di angkutan umum yang lain.
Gemuruh petir di langit kelabu awan mendung yang menari dilangit, dan hujan rintik rintik yang sepertinya menggambarkan apa yang kurasakan saat ini, tiupan angin kencang menyerbu kami   yang sedang melaju kencang membuat harapan semakin membeku, taka da harapan lagi mungkin, karena tak juga ke lihat sosok sari di beberapa mobil yang telah kami dahului hingga akhirnya kami sampai di terminal terakhir, menandakan kami telah sampai di ujung jalur lalu lalang angkutan umum tadi, tapi meski aku telah sampai di sini sari tak juga menunjukan batang hidungnya, aku dan eful akhirnya memilih berteduh di warung yang ada di samping terminal dan memesan beberapa minuman panas.
Menyerah, mengapa aku tidak menyerah lalu pulang saja? Lagi pula hujan sedikit mulai reda, dan hari mulai mendekati gelap, itulah yang terlintas di lamunanku saat itu, akan tetapi teriakan eful menyadarkan lamunan ku,
“woy liat itu, tuh yang baru turun”
jelas eful dengan tangan yang menunjuk pada seseorang yang baru saja turun dari mobil angkutan umum
“apaan? Mana?”
tanyaku sembari menengokkan kepala pada mobil yang baru sampai dan berhenti di terminal ini.
“tuh itu, itu sari kan?”
“sari…” dengan pelan ku ucap namanya sambil tertegun seolah tak percaya bahwa cahaya harapan yang sudah padam dan membeku kini bersinar terang dan begitu hangat.
“udah nanti aja bengong nya, dia masuk gang tuh, motor gaakan masuk lewat situ, kita muter lewat jalan satunya, cepet naik”
“bentar aku bayar dulu!!!,”
“Udah ayo cepetan sebelum dia ngilang lagi”










BERSAMBUNG<<<<<<<<<<
Catatan :               Alur dan tema cerita di ambil dari kisah nyata dan fiktif yang dipadukan, cerita mengalami sedikit perubahan dan nama tokoh di samarkan, bila ada kesamaan nama dan tempat itu hanya ketidak sengajaan kami pihak penulis.
Terimakasih dan nantikan kelanjutan ceritanya hanya di
 Deep in My Heart part 4 “Tunas yang Baru” diDeep in My Heart part 4 “Tunas yang Baru”

2 komentar: