Di depan almari lusuh yang jarang dibuka, aku duduk ternganga melihat
tumpukkan buku menyambut dengan penuh kerendahan hati. Walaupun aku
telah mengucilkan buku-buku ini sampai berdebu, kumal, bau, bahkan
tulisannya kabur, tak sekalipun buku-buku ini menolak untuk kubuka
kembali. Menggambarkan padaku bagaimana bentuk cinta yang bertepuk
sebelah tangan itu.
Memasuki kelas XII SMA. Aku merasa saatnya mengulas kembali
pelajaran-pelajaran masa lalu yang mulai tenggelam dalam ingatan. Dan
dari dalam almari ini, satu per satu kusisihkan buku yang kiranya akan
kubutuhkan untuk memutar kembali memori itu.
Sibuk memilah-milah, sebuah buku tebal bersampul kombinasi biru –
putih memantulkan cahaya tepat jatuh di retina mataku. Membuat
perhatianku beralih tertarik mengambilnya. Saat kubuka, berderet foto
3X4 separuh badan menghiasi lembar demi lembar.
Benar dugaanku. Ini album kenangan yang kuperoleh selulus dari SMP. Lucu
juga mengulas tokoh-tokoh yang kini digantikan tokoh-tokoh baru dalam
hidup.
Asyik bernostalgia, tiba-tiba foto gadis cantik nampak kurang ramah
mengingatkanku pada sesuatu. Dengan bergegas tanganku membuka halaman
yang, yah, tetap sama! Kolom yang seharusnya ditempati oleh seseorang
itu kosong, tak ada foto, tak ada kata yang disampaikan.
Tak kusangka keputusanku ketika SMP dulu akan menjadi pangkal jalan
cerita pendek yang terukir indah namun menyesakkan. Tidak dapat Aku
tahan, kenangan yang berjubel di otakku pun meronta keluar menjadi
kilasan-kilasan peristiwa dengan alur tak tentu.
Sepulang sekolah waktu itu, ketika masih SMP, Aku memutuskan untuk
ikut teman-teman main ke rumah Ila – teman sekelasku yang meskipun baru
beberapa minggu naik ke kelas IX, kami sudah akrab -.
Di situlah Aku mengenal Deni. Sepupu Ila yang berandal, yang membuat
anak-anak nakal enggan mengganggu Ila kalau tdak ingin dihajarnya, yang
satu sekolah dan seangkatan denganku, hanya saja yang tidak satu kelas.
Aku dan teman-teman bersepeda keliling desa. Sungguh, tak bisa
kubayangkan indahnya suasana kala itu. Berboncengan memenuhi jalan
dengan senda gurau tiada putus, hamparan sawah dengan rumah-rumah tidak
terlalu padat, jalanan teduh karena pepohonan yang lebat, dengungan
radio yang dibawa Ila, serta punggung di hadapanku yang tidak begitu
kukenal. Entah mengapa Deni memaksaku untuk tidak menolak diboncengnya
walau Aku bersikeras tak mau.
Rombongan yang hari itu juga kami namai dengan Ontel’s club istirahat
di tepi sungai jernih. Sungai yang menurutku satu-satunya masih alami
di kota kami. Sungai yang ketika itu juga Aku sayangkan mungkin empat
atau lima tahun lagi alirannya keruh dan dipenuhi sampah.
Sungai yang curam itu memikat kami turun, Menikmati suasana dengan
duduk-duduk di batu dan merendam kaki di air yang dangkal. Di satu batu
paling besar, Aku duduk menyinggung Deni. Aku menghadap Ila, Deni
menghadap Asrul – temannya -.
Tak tau awalnya, Aku dan Deni yang duduk saling memunggungi tiba-tiba
saja mengobrolkan topik yang tidak kuduga. Tentang keluarganya, dirinya,
serta kehidupannya yang tidak banyak orang tau. Itulah awal Aku
memahami Deni, berandal dewasa yang berani, tegar, dan menyenangkan.
Suatu hari sepulang sekolah, masih ketika SMP, namun bedanya telah
mengenal Deni, sekelompok siswa tidak biasanya nongkrong di jalan yang
biasa Aku lewati menuju halte. Tentu semua itu ada hubungannya denganku.
Melihat penampilannya, Aku yakin selain buku yang walau cuma satu, di
dalam tas oknum pelajar-pelajar itu berisi pula batang-batang rokok,
korek, bahkan mungkin barang haram dosis rendah seperti cim*ng, pil yang
disebut pil kucing, dan apalah lagi namanya. Salah satu budaya yang
diberdebatkan tidak pantas berkembang di kalangan pelajar seumuranku.
Dan seseorang menarik ranselku di jalan tidak jauh dari halte itu.
Membuyarkan lamunan tentang gerombolan di depanku seketika itu juga.
“Ila akan mengantarmu sampai rumah. Ila bawa motor hari ini.” Tanpa
menoleh, Aku mengabaikan kata-kata itu dan terus berjalan tanpa ragu.
Tapi dia tidak menyerah, Dia menggenggam erat lenganku hinga sekuat
apapun berusaha, Aku tidak mampu melepas kain lengan bajuku yang
menempel di jari-jarinya.
“Jangan harap aku akan membiarkanmu menghadapi mereka.” Ucapnya mantap membuatku berbalik arah.
“Kenapa harus takut? Aku melakukan hal yang benar! Apa aku mesti diam
saja melihat teman akan digebugin di depan mataku? Sekarang apa? mereka
tak terima aku menghentikan tindakan anarkis itu? Pengecut sekali Asrul
yang untuk menghadapi gadis lemah sepertiku saja membawa teman segitu
banyak.”
“Kamu bukan gadis lemah biasa, Rin. Kamu gadis baik-baik yang tidak
bermental tempe. Itu yang membuat mereka bertingkah berlebihan.”
Cengkeramannya merenggang.
“Kali ini turuti Aku!” Memegang kedua pundakku.
“Kamu bukan lari dari masalah, tapi aku yang membantumu
menyelesaikannya. Mereka lebih dari yang kamu kira. Mereka sedang emosi.
Mereka tidak akan segan melakukan hal konyol yang mereka inginkan,
percayalah!” Katanya pelan mencoba membaca pikiranku.
Setelah cukup lama beradu argumen, akhirnya Aku kalah dan Deni
berhasil meyakinkanku kalau mereka tidak akan menyakitinya. Dia kenal
baik dengan teman-teman Asrul yang juga temannya. Lebih-lebih Aku hanya
gadis rumahan yang tidak begitu mengenal watak mereka.
Mereka yang menganggap Aku ikut campur urusan Asrul. Asrul yang hendak
melancarkan pukulan pada teman – yang Aku kenal sebagai kutu buku –
hanya karena tidak mau memberi uang yang Asrul inginkan.
Entah apa yang Deni lakukan, esok harinya Aku merasa aman dan lega
karena tidak melihatnya babak belur dan Asrul bersikap normal. Hari
membuatku semakin akrab dengan striker andalan tim sepak bola sekolah
sekaligus per*kok aktif yang sulit dihentikan itu.
Ingat gadis di album kenangan yang menurutku kurang ramah? Dia sering
melabrakku dengan alasan tidak suka melihat kedekatanku dengan Deni.
Berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke mukaku, mengobrak-abrik barang di
meja sekolahku, mendorongku sampai hampir jatuh, dan menghujatku dengan
berbagai olokan yang jelek sekali.
Aku bukannya peduli malah keheranan melihatnya. Tak disangkal Deni
memang keren, tak cocok disebut be-ran-dal, wajar jika cewek-cewek
termasuk Indah – cewek tenar dengan gaya supermodel – gila dibuatnya.
Indah kalang-kabut ketika Deni menghampirinya hanya untuk mengatakan,
“Arin, adekku. Kau mengganggunya berarti kau ada urusan denganku.”
Sejak saat itu Deni menjagaku seperti seorang kakak. Apa karena lupa
dengan namaku, dia biasa menyapaku, “Dhek…”. Yang aneh, Memet – teman
belakang bangkuku – libur menjailiku kalau ada Deni. Dan yang lebih aneh
lagi, saingan-saingan Deni manjadikanku sasaran empuk memancing
kemarahannya.
Begitu besar pengaruh Deni. Kadang Aku ini kawan yang seolah spesial,
kadang juga seakan terancam. Teman-temanku menilai, Aku dan Deni berada
di jalan yang berbeda dan bertentangan. Sehingga salah jika Aku – siswi
kepercayaan lembaga – bergaul dengan berandal yang selalu menjadi pusat
pengawasan para guru, terutama guru BK. Padahal, sama sekali tidak.
Menurutku Deni jauh lebih baik dari yang mereka sangka.
Tiga dalam diri Deni yang jarang Aku temukan pada berandal lain
yaitu: satu, tidak lupa pada Sang Pencipa, dua, berbakat – hanya saja
masalahnya lebih diungggulkan orang dari pada bakat-bakatnya -. Dan,
pernah – satu kali – Aku melihat Deni memakai baju Taqwa bersarung
berangkat Shalat Jum’at di Masjid. Aku yang sedang kerja kelompok di
rumah Ila waktu itu, pangling – tak percaya -. Aku menemukan satu lagi
dari Deni yang mungkin semua orang juga tahu. Dia tampan, menduduki
kategori ketiga.
Seminggu setelah lulusan SMP. Aku menerima saran Asrul – teman yang pernah membenciku – untuk datang ke rumah Ila.
Disana Aku melihat Ila dan yang lainnya sedang menatapi mobil pick up
milik kakak Deni. Mobil bak itu mengangkut motor rongsokan yang pernah
dengan terpaksa Aku naiki karena sampai sore sepulang sekolah tidak
kunjung ada kendaraan umum mengantarku pualng.
Masih jelas bagaimana Deni membawa motor gagah yang nyaman itu.
Membuatku ingin berseru “Don’t try it at home” pada bocah-bocah kecil
yang terpesona melihat caranya mengendarai begitu menawan dan brutal.
Tapi seperti yang dia katakan, “Aku akan berusaha tidak membawamu dalam bahaya.” Aku percaya.
Pick up itu bergerak menjauh. Jauh sekali sampai hanya berupa titik lalu hilang. Spontan Aku menghampiri Ila.
“Ila, kamu tega ya?” Kekecewaan luar biasa tidak dapat Aku tutupi.
“Tega kata kamu? Kau tau apa, Rin? Apa kamu tau Aku yang heran melihat
Deni begitu terbuka padamu atau Deni yang ingin tau seseorang seperti
dia ingin tau segalanya tentangmu? Apa kamu pernah melihat Deni mer*kok
di sampingmu padahal sebelum mengenalmu tidak terbesit sedikitpun di
fikirannnya untuk berhenti mer*kok? Atau Deni berkelahi saat ada kamu?
Pasti tidak! Aku tau. Deni tidak ingin membawa sesuatu yang buruk
untukmu. Dia tidak ingin mengacaukanmu. Dan sekarang, kenapa aku tidak
memberitahumu soal rencana Deni ini? Deni tidak ingin kau melihatnya
begitu sedih karena harus meninggalkan rasa yang tak biasa untukmu. Dia
terlalu takut kehilanganmu…” Ila berbicara sangat menggebu membuat
jantungku berdegub tak teratur dan tak mampu membendung air mata lebih
lama.
“Deni pasti kembali ‘kan La’?” Tanyaku memotong bentakan Ila.
“Deni bilang dia tidak janji.”
Sedikit Aku bongkar tentang Deni. Dia tumbuh dewasa hanya dengan
tatahan* kakak lelaki satu-satunya. Ibunya meninggal ketika Deni baru
bisa menjalani hidup dengan merangkak. Dan hari itu, Deni beserta
kakaknya berniat menemani Ayah mereka, eks narapidana yang tingggal di
suatu pulau dengan alasan yang sulit Aku ceritakan karena terlalu
panjang.
“Walaupun dalam memainkan bola kehidupan kamu tidak seahli memainkan
bola sepak di lapangan, tidak ada yang tau esok nanti kamu menghasilkan
gol secantik yang biasa kamu cetak menembus gawang pertahanan lawan. Iya
‘kan Den?” Kata hatiku itu dulu pernah asal-asalan Aku sampaikan pada
Deni sehabis menyaksikannya berlaga di liga antar sekolah.
Aku ingat respon Deni waktu itu. Dia membalasku dengan senyuman tidak
sekaku biasanya sambil mengangkat kedua alisnya. Jawabannya itu mungkin
artinya, “Ya, siapa tau!”.
Itulah puncaknya. Deni pergi. Tidak untuk selamanya namun tidak pula
untuk kembali. Tanpa memberi apa-apa. Tidak bualan-bualan indah yang
menyesatkan, tidak barang mahal yang kurang berguna, tidak foto yang
kadang membuat bosan, bahkan sekedar mengisi di album kenangan pun,
tidak. Dia hanya memberi moment-moment indah yang serasa akan kuingat
sampai memoriku tak sanggup menampungnya.
Dia membuatku pernah merasakan kerinduan tak berarah. Bukan kerinduan
teman lama pada best friendnya, adik pada Sang kakak, mungkin bukan
pula seperti kerinduan kutu buku pada gunungan buku-buku tebal, per*kok
pada asap yang mengepul, atau kerinduan menyakitkan seorang pecandu pada
barang haram yang membuatnya s*kaw. Entah semacam apa. Tak terucap
seperti buah dari rasa yang tertinggal.
Namun, kini Aku sadar. Rasa itu tak sepatutnya tepupuk terlalu dalam
benak Muslim yang belum dewasa menafsirkannya apalagi belum dapat
mengimplementasikan denan benar.
Aku hapus memori yang sempat meresahkanku bersamaan dengan
tertutupnya album kenangan yang melebar di kedua telapak tanganku.
Sekarang, tidak ada kerinduan yang tak punya arah, dan semua ini bukan
lagi rasa yang tertinggal.
Aku bangkit dari dudukku. Mengambil Wudlu’ kemudian Shalat. Di sela-sela sujud, kalbuku berserah,
“Al-Haq, Yang Maha Benar, hamba mohon ampun, sesungguhnya Engkaulah cinta sejati setiap umat.”
*Melatih anak agar bisa berjalan dengan memegang kedua tangannya
Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar