Adik perempuanku selalu belajar dengan rajin. Ingin bertemu Presiden,
katanya. Walaupun baru kelas III SD, setiap aku bangun pagi buta untuk
belajar, Adik ngotot ingin belajar juga. Ketika aku tidak membangunkan
karena tidak tega mengganggu tidur pulasnya, Adik malah marah besar
bahkan disertai isak tangis. Entah apa motifnya. Karena ingin
menyaingiku atau mungkin kata-kata Ayah yang telah memacu semangatnya.
Waktu itu, satu tahun yang lalu saat Ayah baru pulang kerja. Seperti
biasa, Ibu, Aku dan Adik menunggu Ayah tercinta di ruang tengah sambil
nonton TV bersama. Saat Ayah memasuki ruangan, kami menyambut dengan
bergantian menceritakan apa yang kami lakukan seharian itu.
“Yah… tadi Kakak ketemu Bapak gubernur, Kakak juga bisa salim* sama
foto-foto…” Senyum bangga Ayah membuatku yang meskipun telah memasuki
kelas I SMA, semakin manja.
“Eh iya, Kakak menang apa?” Tanya Ayah ramah.
“Lomba Karya Tulis Ilmiah, Yah… Tingkat Provinsi… Seneng deh bisa
ngobrol sama Bapak Gubernur langsung, nggak cuma lihat dari TV…” Jawabku
ria.
“Wah, Kakak memang juara, hebat!” Puji dari Ayah.
“Adik juga bisa kan, Yah? Ketemu Bapak Presiden malahan!” Celetukan Adik sering membuatku geli.
“Mimpi…” Gurauku menggoda Adik.
“Siapa bilang. Adik bisa kok. Orang biasa menegur sapa karena apa?
Karena kenal kan? Begitu juga dengan Presiden. Adik bisa bertemu dengan
Presiden, kalau Presiden mengenal Adik. Presiden akan mengenal Adik,
kalau Adik memperkenalkan diri. Karena itu, Adik harus belajar dengan
rajin. Supaya bisa mengenalkan diri ke Presiden melalui
prestasi-prestasi yang berhasil Adik raih. Oke, Sayang…” Sambil mengelus
rambut Adik, Ayah selalu bisa menjawab pertanyaan Adik dengan bijak.
Sejak malam itu, perubahan Adik sangat drastis. Semakin giat belajar.
Semangatnya begitu menggebu sampai membuat Ibu cemas. Hem, bertemu
presiden? Mungkin tidak ya? Untuk bertemu Walikota yang tetangga satu
perumahan saja susahnya minta ampun, apalagi bertemu Presiden…
Tapi, kata menyerah tidak tersirat sedikitpun di wajah Adik. Adik tetap
belajar dan belajar. Nilai akademiknya pun melonjak. Bakat menjadi
mayoret drum band di SDnya juga terasah dengan baik. Berbagai kejuaraan
mulai dari lomba antar sekolah, karnaval 17 Agustus, peringatan HUT
kota, sampai HUT Bhayangkara disabet grupnya. Adik berambisi mencetak
prestasi yang membuat Presiden menoleh padanya.
Melihat kesungguhan Adik, Ayah mempunyai rencana. Liburan sekolah
kali ini, keluarga kami pergi ke suatu tempat yang Ayah rahasiakan. Di
sepanjang jalan, Adik memandangi pepohonan yang bergerak berlawanan arah
malalui kaca mobil hasil kerja keras Ayah. Adik nampak heran, kemana
mobil yang dikendarai Ayah ini akan berhenti.
“Kita mau kemana sih, Yah?” Di puncak keingin tahuannya, Adik bertanya.
“Ke rumah Presiden” Jawab ayah singkat.
“Yang bener, Yah?” Timpalku tak percaya.
“Lho, masak bohong?” Ayah balik Tanya untuk meyakinkan.
“Horreee…” Sorak Adik bahagia.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Banyak dipajang foto, semerbak
wangi bunga dan kerumunan orang, pasti itu kesan pertama Adik. Ayah
mengajak kami duduk, kemudian dua buku kecil dipindah tangankan kepadaku
dan Adik. Ayah mencium kening kami berdua, membuat rasa sayangku
semakin melimpah. Tak lama setelah itu, Ayah membelai rambut Adik.
“Sayang, disini raga soseorang yang dulu pernah menjadi Presiden
dimakamkan. Adik harusnya senang bisa berkunjung ke rumah terakhirnya
dan bisa mendo’akannya. Ayah senang tahu Adik belajarnya
sungguh-sungguh, tapi kalau berlebihan juga tidak baik. Adik mengerti
kan?” Pelan-pelan Ayah menjelaskan maksudnya.
Anggukan Adik menjawab pertanyaan Ayah. Bersama-sama, kami membuka buku
Yasin dan Tahlil yang Ayah berikan. Ayah memimpin kami berdo’a. Ibu,
Aku, dan Adik dengan khusyu’ mendo’akan mantan Presiden yang pernah
berjasa untuk negeri ini.
Sesampainya kembali di mobil, Adik menghampiri Ayah.
“Jadi baru bisa ke rumah Presiden kalau Presidennya sudah wafat ya,
Ayah?” Kali ini Ayah bingung menjawab pertanyaan polos Adikku.
*mencium tangan dalam silaturrahmi Islam
Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar