Sampai diulang kedua kali lafadz itu belum juga bergeming. suara adzan dari speaker Mushola yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari rumah sepertinya memang memaksaku untuk segera merapat. Namun rasa kantuk masih menggantung di mata, malas untuk segera bangkit dari pulau ‘kapuk’ yang mengukir sejuta mimpi itu.
Seketika itu aku teringat akan mimpiku yang baru saja terbuyarkan oleh suara babe, “siapa dia?” ucapku dalam hati.
“bangun nduk… subuhan!” suara yang tak asing lagi di telingaku kembali membuyarkan lamunanku, suara ibu sambil mengetok pintu kamar. lebih tepatnya menggedor karena muncul suara yang lebih keras dari sekedar mengetok
“Iya buk… ni dah bangun…” jawabku sembari turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
“cepetan… sudah hampir iqomah tu…”. terdengar suara ibu yang sambil berlalu.
“iya… tungguin buk…”
Dan benar baru membuka pintu depan sudah terdengar iqomah dilantunkan, tak ada kesempatan lagi untuk sholat qobliyah subuh. Aku pun bergegas mempercepat langkahku menuju mushola agar tak masbuk.
Aku bernama Ishika Nandini, sekilas mirip nama-nama pemain di film-film bollywood ya? Iya dong… begitulah nama yang disematkan padaku ini karena ibuku pecinta film india, meskipun orangtuaku asli Jawa Tulen.. dan nama itu sangat kece kata ibuku, heee. Aku biasa dipanggil Cika. Umurku sekarang sudah hampir memasuki seperempat abad tepatnya 2 tahun lagi (tapi masih keren kan kaya usia SMA pokoknya, xixii) Kata orang dan aku pun setuju, masa ini adalah masa paling kritis untuk mencapai kesempurnaan sebagai seorang perempuan, menikah. Kubilang paling kritis karena kebanyakan perempuan-perempuan di kampung yang kutempati telah menikah dengan usia yang lebih muda dari usiaku saat ini. dan tak lucu bukan kalau sampai nanti ku mendapat gelar perawan tua? (Na’udzubillah…) karena itulah lebih digenjot tirakat biar cepet dapat jawaban, amiiin… (ngarep.com)
Saat ini aku bekerja di sebuah lembaga pendidikan swasta, sudah hampir 2 tahun ini aku mengabdikan diri disana, tapi mayoritas pendidiknya cewek jadi kurang sosialisasi sama kaum Adam alhasil gini deh… (garuk-garuk kepala). Sebelum berangkat ke tempat kerja bersih-bersih rumah jadi kesibukanku setiap pagi, babe sama ibu pasti tak akan memberiku kesempatan untuk kembali meringkuk di tempat tidur selesai sholat subuh. Pernah suatu ketika ibuku ngomel tak berujung pangkal gara-gara aku telat bangun sampai tak sadar goreng tempenya gosong.
“Buk… Cika berangkat ya…”
“iya… hati-hati…” Tak lupa ku cium tangan lembut namun kokoh itu.
“Assalamu’alaikum…”
“wa’alaikumussalam… jangan ngebut bawa motornya…” pesan ibu yang satu itu tak pernah ketinggalan.
Ku jalankkan motor itu dengan pelan karena waktu masih menunjukkan pukul 06.45 sementara jam masuk kerjaku masih pukul 07.30 tak sampai 30 menit untuk sampai di tempat kerjaku, karena jarak tempuh yang lumayan padat itulah memaksaku berangkat lebih awal. Sepanjang jalan aku teringat tentang mimpiku semalam, heran sekali rasanya memimpikan seseorang yang belum pernah bertemu ataupun kenal sebelumnya, ah siapa dia?
Dalam mimpi itu sebuah adegan romantis terjadi, saling menatap seperti adegan Kajool dan Shakh rukh khan di film-film yang pernah diperankannya. Laki-laki itu berwajah oval, badannya tegap, rambutnya lurus hanya itu yang bisa kuingat, yang pasti aku tak pernah bertemu sebelumnya.
Dia menatapku dengan mata yang tajam dan penuh cinta, diam tanpa suara. Aku pun menatapnya dan mencoba menggapai wajahnya dengan kedua tanganku, sepertinya dalam mimpi itu aku telah mengenalnya dan bahkan sangat dekat dengannya.
Teeeet teeettt…
“Astagfirulloh…” pekik ku. Sebuah mobil membunyikan klakson tepat di sampingku, rasanya mau copot jantung ini (lebay…)
“huh… hampir saja…” kataku dalam hati, sebuah mobil grandmax melaju kencang sementara aku baru menyadari kalau motorku melaju bukan di sebelah kiri lagi melainkan sudah hampir di tengah badan jalan. Untunglah masih selamat sampai tujuan… bisa menjalankan tugas dengan baik dan semoga tak ada komplain dari atasan.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, di ruang tamu yang sederhana dan tak terlalu luas itu ibu sedang ngobrol dengan Babe, keliahatannya ada hal penting yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya nguping di balik pintu kamar. Namun kemudian Babe memanggilku.
Sebuah obrolan yang membuatku mati kutu, bingung harus berbuat apa atau menjawab apa. karena tak ada jawaban yang kurasa pantas untuk kuutarakan.
“Cika, bapak mau tanya sama kamu, kamu ini kan sudah dewasa, apakah kamu sudah siap untuk menikah?”
Ternyata masalah ini yang akan mereka bahas. Sudah dong be… itu yang saat ini sedang kuusahakan, ah, babeku ini bikin malu aja, bisikku dalam hati.
“hmmmm, menurut babe?” jawabku menyelidik
“ditanya kok malah balik nanya. kalau babe sih merasa memang sudah waktunya kamu ini berrumahtangga. sudah punya calon belum? kalau ada bawa ke rumah. kalau belum bapak ada calon buat kamu.”
Gleekk…tidak tau lagi mau ngomong apa. hanya pertanyaan singkat yang kembali kuucapkan
“siapa dia be?”
“dia anak teman bapak”
hmmm… gimana ne teman-teman? tak tahu harus mengiyakan atau menolak begitu saja.
“nggak tahu lah be, lihat nanti saja, aku pikir-pikir dulu” jawaban yang ngambang tak jelas dan tak berdasar yang keluar.
Aku pun segera pamit kembali ke kamar, ada perang batin yang berkecamuk antara ketidak percayaanku pada diriku sendiri dan kehendak hati. Ada rasa senang karena akan ada setitik harapan yang mungkin bisa menjadi jawaban. Ada juga rasa khawatir kalau-kalau tak sesuai dengan kriteria hati.
Sungguh terjadi sebuah konspirasi hati kata Vikynisasi, hehee huss serius nih…
Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan, rasa nyaman segera menjalar ke sendi tubuh, juga merelaksasi otot-otot yang kaku akibat aktifitas seharian yang padat. Doa sebelum tidur mengantarku berlayar pada dunia mimpi yang terkadang seram, dan kadang membuai pada keindahan yang tak pernah ada pada alam nyata.
—
Kuhentikan motor tepat di depan rumah yang masih sedikit asing bagiku, entah melalui jalan mana aku sampai disana, dan entah itu di wilayah mana yang pasti masih bagian dari negara Indonesia Raya. dan yang kutahu rumah itu tak banyak berbeda dengan rumah-rumah pada umumnya di daerah yang kutempati. Kuparkirkan motor di pinggir jalan depan rumah itu, namun ku tak beranjak turun dari motor masih setia nangkring di atas jok motor yang agak keras itu. Sepertinya aku sedang menunggu seseorang keluar dari rumah asing itu.
Dan benar tiba-tiba seorang laki-laki dengan tubuh tinggi besar memakai celana jeans dan kaos berkerah keluar dan menyapaku dengan senyum yang entah itu manis, kecut, apa pahit. aku pun membalasnya dengan senyuman. sepertinya aku punya janji dengannya. Namun entah kemana dan mau apa, dia masih saja berdiri di depan pintu seakan mempersilahkan diriku untuk masuk namun ku menolaknya.
Pandanganku kemudian kabur beserta rumah dan segala pemandangan yang ada di sekitarnya termasuk cowok yang semula berdiri di depan rumah itu. tubuhku menggeliat dan samar-samar kubuka mataku, suasana redup kamarku yang hanya menyalakan penerang berupa lampu tidur langsung bisa ku kenali. ya, sekarang aku tengah berada di kamarku sendiri. tepatnya di atas kasur. Aku hanya bermimpi. dan lagi-lagi muncul serbuan pertanyaan “siapa dia?”
Kulirik jam dinding yang berada di dinding samping tempat tidurku, masih menunjukkan pukul 02.45. Angin malam yang dingin membelai wajah ketika kubuka pintu dapur yang menghubungkan ke kamar mandi. Kuusap wajah, tangan dan seluruh bagian anggota yang harus dibasuh dalam rangkaian wudhlu, rasa segar menjalar seakan membangunkan sel-selku yang masih ingin meringkuk dalam hangatnya selimut. setelah selesai wudhlu aku pun langsung kembali ke kamar untuk menunaikan qiyamul lail.
Dalam setiap sujudku ku panjatkan seluruh hajatku, kusampaikan segala yang menjadi unek-unek, agar dimudahkan seluruh urusanku, diridhoi dan diberkahi. Tak lupa juga kutanyakan siapa dia yang sering mampir dalam mimpiku dan diam tanpa kata.
“Rabb… apakah ini sebuah petunjuk dariMu? jika memang benar tunjukkan ia dalam nyataku. Rabb, dengan segala ilmuMu kumohonkan pilihan yang terbaik dari sisiMu, jika apa yang menjadi kehendak ayahku adalah baik untukku, agamaku dan kehidupankku dunia maupun akhirat, maka tetapkanlah hatiku untuk menerima, dan berkahilah kami. Namun jika hal itu tidak baik untukku agamaku, dunia dan akhiratku maka jauhkanlah ia dariku dan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. dan jadikan aku ikhlas menerima setiap ketetapanMu. Amiin…”
—
“Maaf Be… Cika tidak bisa menerimanya. Cika sudah istikharoh agar Allah memantapkan hati Cika, namun sampai sekarang Cika lebih yakin untuk menjawab tidak Be…” Aku menunduk tak berani menatap wajah Babe, aku yakin beliau kecewa denganku, terdengar beliau menarik nafas dengan berat. Berbagai argumen diungkapkannya untuk meyakinkanku namun hatiku tetap tak bisa menerima.
“Apa boleh buat kalau memang itu keputusanmu. Babe hanya inginkan kebahagiaanmu namun jika ini bukan hal yang bisa membuatmu bahagia, berarti ada hal lain yang akan datang membawa kebahagiaan itu.” kata-kata Babe benar-benar membuatkku terharu
“Cika minta maaf Be…” kupeluk erat Babe dengan bulir-bulir airmata yang terus mengalir. Babe pun mengusap kepalaku dengan penuh cinta.
‘Ya akan ada kebahagiaan lain yang akan datang’ bisik hatiku membenarkan ucapan Babe.
“Kau kah itu?” mataku menerawang pada bait-bait mimpi. ada satu keyakinan yang menguatkanku untuk menunggu sosok itu dalam nyataku.
Tidak ada yang menjamin ia benar-benar ada dan nyata namun tak ada yang tak mungkin. Dan aku percaya ada rencanaNya yang indah dalam setiap Doaku, termasuk untuk mengetahui siapa dia.
Cerpen Karangan: Lylik Choir
Blog: Lilikchoir89.blogspot.com
Facebook: Lylikchoir[-at-]yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar